NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan dengan Keluarga Nadira

Dua bulan setelah malam itu, Leonardo membuatku terkejut dengan pengumuman yang tidak terduga.

"Kita ke Jakarta minggu depan," ucapnya saat sarapan.

Aku hampir tersedak kopi. "Apa? Jakarta? Kenapa?"

Leonardo meletakkan cangkirnya dengan tenang. "Karena sudah lama kau tidak bertemu orang tuamu. Dan aku pikir... aku pikir kau butuh itu."

Aku menatapnya dengan mata lebar. "Kau... kau serius?"

"Sangat serius," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Tapi dengan beberapa syarat."

Tentu saja ada syarat.

"Apa?" tanyaku sambil meletakkan garpuku.

"Kita hanya di sana dua hari," jelasnya. "Kau boleh bertemu mereka tapi dengan pengawalan. Marco dan sepuluh orang akan ikut. Dan kau tidak boleh bicara apapun tentang... tentang kehidupan kita yang sebenarnya."

Dia menatapku dengan tatapan serius.

"Kalau mereka tanya kenapa kau berubah, kau bilang kau baik-baik saja. Kalau mereka tanya apa kau bahagia, kau bilang ya. Kalau mereka mencoba bujuk kau untuk tinggal..."

Dia berhenti. Rahangnya mengeras.

"Kau akan bilang tidak. Karena kau sudah punya kehidupan baru di sini. Bersamaku."

Aku menunduk. Menatap piring di depanku.

"Dan kalau aku tidak bisa berpura-pura?" tanyaku pelan.

Leonardo berdiri. Berjalan ke belakangku. Tangannya menyentuh bahuku.

"Maka mereka yang akan bayar harganya," bisiknya di telingaku. "Aku tidak mau ancam kau lagi, Nadira. Aku berharap kau sudah paham tanpa perlu aku bilang."

Ancaman yang dikemas dengan lembut. Tapi tetap ancaman.

"Aku... aku mengerti," bisikku.

"Bagus." Dia mencium puncak kepalaku. "Siapkan dirimu. Kita berangkat Jumat."

Perjalanan ke Jakarta terasa sangat panjang walau dengan jet pribadi.

Leonardo duduk di sampingku sepanjang penerbangan. Tangannya menggenggam tanganku. Sesekali dia berbisik kata-kata menenangkan saat dia lihat aku gelisah.

"Kau akan baik-baik saja," ucapnya. "Ini cuma dua hari. Lalu kita pulang."

Pulang. Dia bilang pulang. Bukan kembali ke Lugano. Tapi pulang.

Seolah vila itu sudah jadi rumahku.

Dan yang menakutkan... mungkin memang sudah.

Kami mendarat di Jakarta sore hari. Udara panas dan lembab langsung menyerang saat keluar dari pesawat.

Mobil-mobil sudah menunggu. Tiga mobil hitam dengan kaca gelap.

Leonardo dan aku di mobil tengah. Marco di mobil depan. Sepuluh pengawal di mobil belakang dan samping.

Seperti konvoi presiden.

Kami menuju ke apartemen di Jakarta Selatan. Tempat dimana ayah dan ibu sekarang tinggal sejak Leonardo "bebaskan" mereka.

Apartemen mewah di lantai dua puluh. Pemandangan kota yang indah. Furniture mahal. Semua dibayar Leonardo.

Sangkar emas versi mereka.

Kami sampai sekitar pukul enam sore. Leonardo mengantar aku sampai ke depan pintu apartemen.

"Aku akan tunggu di lobi," ucapnya sambil mengusap pipiku. "Kau punya tiga jam. Setelah itu kita harus kembali ke hotel."

"Kau... kau tidak ikut masuk?" tanyaku.

Dia menggeleng. "Ini waktu keluargamu. Aku tidak mau ganggu. Tapi ingat..."

Dia menunjukkan earpods kecil di telingaku yang dia pasangkan tadi di mobil.

"Aku akan dengarkan semua percakapan," bisiknya. "Jadi berhati-hatilah dengan kata-katamu."

Tentu saja dia sadap.

Dia tidak pernah benar-benar percaya.

Aku mengangguk. Lalu mengetuk pintu.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Ibu berdiri di sana. Rambutnya sudah lebih beruban dari terakhir kali kulihat. Wajahnya lebih kurus. Tapi matanya... matanya masih sama.

Mata yang penuh kasih sayang.

"Nadira..." bisiknya dengan suara bergetar.

Lalu dia langsung memelukku. Pelukan yang sangat erat. Pelukan yang sudah lama tidak kurasakan.

Dan aku menangis. Menangis sejadi-jadinya di pelukan ibu.

"Ibu..." isakku. "Aku kangen..."

"Ibu juga kangen sayang," balasnya sambil mengusap rambutku. "Ibu sangat kangen."

Kami berdiri di sana beberapa menit. Hanya berpelukan sambil menangis.

Sampai suara ayah terdengar dari dalam. "Siapa itu, Diana?"

Ibu melepaskan pelukannya. Mengusap air mataku dengan lembut.

"Ayahmu ada di dalam," bisiknya sambil tersenyum walau matanya masih basah. "Dia sudah tunggu sejak pagi."

Kami masuk. Dan aku melihat ayah duduk di sofa. Dia juga terlihat lebih kurus. Lebih tua. Tapi senyumnya masih sama saat melihatku.

"Nadira," panggilnya sambil berdiri. Merentangkan tangannya.

Aku berlari memeluknya. Dan dia memelukku dengan erat sambil berbisik. "Ayah kangen kamu, nak."

"Aku juga kangen ayah," balasku sambil menangis lagi.

Kami duduk di ruang tamu. Ibu membawakan teh dan kue-kue kecil.

Untuk beberapa menit pertama, kami hanya bicara tentang hal-hal ringan. Tentang cuaca. Tentang apartemen baru mereka. Tentang tetangga yang ramah.

Tapi lama-lama, pertanyaan yang aku takutkan mulai datang.

"Nadira," ucap ayah sambil menatapku dengan serius. "Kamu... kamu baik-baik saja?"

Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja, yah."

"Kamu terlihat berbeda," ucap ibu dengan nada khawatir. "Lebih... kurus. Dan matamu... ada kesedihan di matamu."

Aku memaksa tersenyum. "Aku cuma lelah perjalanan, bu. Tidak apa-apa."

Ayah dan ibu saling menatap. Ada kekhawatiran jelas di wajah mereka.

"Nadira," ucap ayah pelan. "Kalau ada masalah... kalau suamimu tidak memperlakukan kamu dengan baik... kamu bisa pulang. Kamu bisa tinggal di sini sama kami."

Aku menggeleng cepat. Terlalu cepat.

"Tidak. Leonardo baik padaku. Dia... dia mencintaiku."

"Tapi kenapa kamu terlihat seperti ini?" tanya ibu sambil memegang tanganku. "Kamu dulu ceria. Selalu tertawa. Sekarang... sekarang kamu seperti boneka yang dipaksa tersenyum."

Air mataku hampir jatuh tapi kutahan.

"Aku cuma... aku cuma perlu waktu untuk beradaptasi," jawabku. "Kehidupan di sana berbeda. Tapi aku baik-baik saja. Sungguh."

Ayah berdiri. Berjalan ke jendela sambil menatap keluar.

"Apa dia mengurungmu?" tanyanya tanpa menoleh. "Apa dia menyakitimu? Apa dia..."

"TIDAK!" potongku terlalu keras. "Tidak. Dia tidak lakukan itu semua. Dia... dia menjagaku. Melindungiku."

"Melindungi atau mengurung?" tanya ayah sambil berbalik menatapku. "Ada bedanya, Nadira."

Aku terdiam. Tidak tahu harus jawab apa.

Ibu mendekat. Duduk di sampingku. Memelukku dari samping.

"Sayang," bisiknya. "Kalau kamu mau pulang, kami akan lindungi kamu. Kami akan cari cara. Kami tidak peduli dia orang sekaya atau sekuat apapun. Kamu anak kami. Dan kami akan lakukan apapun untuk..."

"Kalian akan mati," potongku dengan suara datar.

Hening.

Ibu melepaskan pelukannya. Menatapku dengan mata lebar.

"Apa?" bisiknya.

Aku menatap mereka berdua. Air mataku akhirnya jatuh.

"Kalau aku tinggal di sini, kalian akan mati," ucapku dengan suara bergetar. "Leonardo tidak akan biarkan aku pergi. Dan kalau kalian coba lindungi aku, kalian coba sembunyikan aku, kalian coba apapun... dia akan bunuh kalian."

Ayah melangkah mendekat. "Nadira, dengarkan ayah. Kita bisa laporkan dia ke polisi. Kita bisa..."

"Polisi tidak bisa apa-apa," potongku sambil menggeleng. "Dia punya koneksi kemana-mana. Dia bisa buat siapapun hilang tanpa jejak. Dia sudah bunuh... dia sudah bunuh banyak orang yang coba ganggu dia."

Aku menatap mereka dengan tatapan putus asa.

"Jadi kumohon," isakku. "Kumohon jangan coba selamatkan aku. Aku sudah memilih untuk tinggal bersamanya. Aku sudah terima kehidupanku. Dan kalian... kalian harus terima juga."

Ibu menangis. "Tapi kamu anak kami... kami tidak bisa biarkan kamu menderita..."

"Aku tidak menderita," balasku sambil mengusap air mataku. "Aku... aku sudah terbiasa. Dan Leonardo... dia tidak seburuk yang kalian pikir. Dia... dia cuma tidak tahu cara mencintai dengan benar."

Kata-kata yang keluar seperti pembelaan. Padahal aku sendiri tidak yakin aku percaya.

Tapi aku harus bilang begitu. Untuk keselamatan mereka.

Ayah jatuh duduk di sofa. Wajahnya hancur.

"Ini semua salah ayah," bisiknya. "Kalau ayah tidak terlilit hutang... kalau ayah tidak lemah... kamu tidak akan harus menikah dengan orang seperti dia..."

"Bukan salah ayah," ucapku sambil berjongkok di depannya. Memegang tangannya. "Bukan salah siapapun. Ini... ini sudah takdir."

Aku tersenyum walau hati hancur.

"Dan aku... aku sudah damai dengan takdir ini," lanjutku. "Jadi kumohon. Hidup kalian dengan tenang. Nikmati apartemen ini. Nikmati hidup kalian tanpa hutang. Itu yang bisa buat aku bahagia."

Ibu memelukku dari belakang. Menangis di bahuku.

"Kami mencintaimu, sayang," isaknya. "Kami sangat mencintaimu."

"Aku juga mencintai kalian," balasku sambil memeluk mereka berdua. "Makanya aku harus kembali padanya. Supaya kalian tetap aman."

Kami berpelukan sambil menangis selama yang terasa seperti berjam-jam.

Tapi waktu tiga jam cepat berlalu.

Ponselku bergetar. Pesan dari Leonardo.

"Waktunya habis. Turun sekarang."

Aku melepaskan pelukan. Berdiri sambil mengusap air mata.

"Aku harus pergi," ucapku.

"Sudah?" tanya ibu dengan nada kecewa. "Kamu baru datang..."

"Aku... aku akan datang lagi," balasku walau tidak yakin itu benar. "Aku janji."

Ayah berdiri. Memelukku satu kali lagi.

"Apapun yang terjadi," bisiknya di telingaku. "Kamu selalu punya rumah di sini. Selalu."

Aku mengangguk tanpa bicara. Karena kalau aku bicara, aku akan menangis lagi.

Ibu mengantarku ke pintu. Memelukku dengan erat.

"Jaga dirimu, sayang," bisiknya. "Dan kalau suatu hari kamu butuh kami... kami akan ada. Apapun risikonya."

"Jangan," bisikku. "Kumohon jangan ambil risiko apapun. Janji padaku."

Ibu menatapku dengan mata basah. Lalu mengangguk pelan.

Aku keluar dari apartemen dengan hati hancur.

Leonardo sudah menunggu di depan lift. Dia langsung memelukku saat melihat wajahku yang basah air mata.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil mengusap punggungku.

Aku mengangguk sambil menanam wajah di dadanya.

"Aku... aku bilang semuanya seperti yang kau mau," bisikku. "Aku bilang aku harus tinggal bersamamu. Aku bilang mereka tidak boleh coba selamatkan aku."

Leonardo mencium kepalaku. "Aku tahu. Aku dengar semuanya."

Tentu saja dia dengar.

"Kau melakukan dengan baik," bisiknya. "Aku bangga padamu."

Kami masuk lift. Turun ke lobi. Masuk ke mobil.

Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, Leonardo terus memelukku. Membiarkanku menangis di bahunya tanpa bicara apapun.

Dan malam itu, di kamar hotel mewah yang terasa dingin walau AC nya mati, Leonardo memelukku sambat berbisik.

"Terima kasih," ucapnya. "Terima kasih sudah memilih aku."

Tapi aku tidak memilih.

Aku dipaksa memilih.

Dipaksa memilih antara kebebasanku atau nyawa orang-orang yang kusayangi.

Dan aku memilih nyawa mereka.

Walau itu artinya aku harus mati perlahan di pelukan monster ini.

Sementara itu, di apartemen Jakarta, ayah dan ibu duduk di sofa sambil berpelukan.

"Kita harus lakukan sesuatu," ucap ayah dengan nada putus asa. "Kita tidak bisa biarkan dia hidup seperti itu."

"Tapi dia bilang..." ibu menangis. "Dia bilang kita akan mati kalau coba selamatkan dia..."

"Aku tidak peduli," balas ayah sambil berdiri. "Dia anak kita. Dan aku lebih baik mati daripada lihat dia menderita."

Dia berjalan ke kamar. Membuka laptop.

"Aku akan cari cara," bisiknya. "Aku akan cari orang yang bisa bantu. Entah polisi. Entah organisasi perlindungan. Entah siapapun."

Ibu mengikuti. "Gunawan, kumohon pikirkan ini baik-baik..."

"Aku sudah pikirkan," potongnya. "Dan aku putuskan. Nadira anak kita. Dan kita akan selamatkan dia. Apapun yang terjadi."

Tapi yang mereka tidak tahu...

Leonardo sudah pasang kamera tersembunyi di apartemen itu.

Dan di hotel, Leonardo duduk sambil menonton live feed dari laptop Andrey.

Dia melihat ayah Nadira membuka laptop. Melihat dia mulai mencari kontak organisasi perlindungan wanita.

Leonardo tersenyum.

Senyum yang dingin.

"Bodoh," bisiknya sambil menutup laptop. "Sangat bodoh."

Dia menatapku yang sudah tertidur kelelahan di tempat tidur.

"Tapi tidak apa-apa," bisiknya pelan. "Aku akan beri mereka kesempatan terakhir. Kalau mereka tetap coba ganggu... aku akan tunjukkan apa konsekuensinya."

Dia berbaring di sampingku. Memelukku dari belakang.

"Kau sepenuhnya milikku sekarang," bisiknya di telingaku walau aku tidak dengar. "Bahkan keluargamu sudah tidak bisa ambil kau dariku. Karena kau sendiri yang bilang pada mereka untuk tidak coba."

Dia mencium bahuku.

"Permainan sudah berakhir, Nadira," bisiknya. "Dan aku yang menang. Sepenuhnya."

Dan memang benar.

Leonardo sudah menang.

Tidak hanya mengurung tubuhku.

Tapi juga mengurung jiwaku.

Mengurung keluargaku.

Mengurung semua yang kusayangi dalam jaringan ancaman dan ketakutan.

Sampai tidak ada jalan keluar lagi.

Untuk siapapun.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!