Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Restu di Bawah Pohon Pinus
Tiga bulan telah berlalu sejak malam berdarah di puncak bukit. Luka-luka fisik di tubuh Devan sudah mengering, meninggalkan bekas-bekas perjuangan yang kini ia pandang sebagai medali kehormatan seorang pelindung. Rumah kayu mereka pun telah direnovasi; tidak ada lagi jejak kaca pecah atau kayu yang hangus. Sebaliknya, rumah itu kini dipenuhi dengan aroma cat baru dan kehangatan yang lebih nyata.
Pagi itu, udara Bandung terasa sangat bersahabat. Lia duduk di teras, perutnya sudah sangat besar—memasuki bulan kedelapan. Ia mengenakan gaun putih longgar yang membuatnya tampak seperti malaikat di tengah perkebunan teh yang menghijau.
Di sampingnya, Devan sedang sibuk merakit sebuah ranjang bayi dari kayu jati yang ia kerjakan sendiri di sela-sela kesibukannya mengelola bengkel restorasi kecilnya yang mulai ramai pelanggan.
"Devan, istirahatlah sebentar. Kopimu sudah dingin," panggil Lia sambil tersenyum.
Devan menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu menghampiri Lia. Ia berlutut di depan istrinya, menempelkan telinganya ke perut Lia yang bulat sempurna. "Si kecil sedang apa? Sepertinya dia sedang berlatih menendang motor bayangannya."
Lia tertawa kecil sambil mengusap rambut Devan. "Dia hanya bersemangat karena hari ini adalah hari besar, Devan. Apa kamu sudah siap?"
Hari ini bukan sekadar hari biasa. Hari ini adalah hari di mana Pak Gunawan, ayah Lia, akan datang berkunjung untuk pertama kalinya sejak mereka pindah ke lereng bukit ini. Devan merasa lebih gugup menghadapi calon mertuanya daripada saat ia harus menghadapi moncong pistol Reno. Baginya, restu Pak Gunawan adalah potongan terakhir dari teka-teki kehidupan barunya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan perak berhenti di halaman. Pak Gunawan turun dengan setelan rapi, namun wajahnya tampak jauh lebih santai dibandingkan saat terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit. Ia membawa beberapa kantong besar berisi perlengkapan bayi dan makanan.
Devan segera berdiri dan menyambutnya dengan hormat. "Selamat siang, Om. Silakan masuk."
Pak Gunawan tidak langsung masuk. Ia berdiri di halaman, menatap sekeliling rumah yang asri dan bengkel kecil Devan yang tertata rapi.
Ia kemudian menatap Devan, dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah mencari sisa-sisa "Serigala Hitam" dalam diri pria di depannya. Namun, yang ia temukan hanyalah seorang pria sederhana dengan tangan yang sedikit kotor karena kayu, namun dengan tatapan mata yang sangat jujur.
"Kamu membangun semua ini sendiri, Devan?" tanya Pak Gunawan, suaranya berat namun tidak lagi mengintimidasi.
"Iya, Om. Pelan-pelan saya coba bangun masa depan yang layak untuk Lia dan anak kami," jawab Devan rendah hati.
Pak Gunawan berjalan menghampiri Lia yang hendak berdiri menyambutnya. "Jangan bangun, Lia. Duduk saja. Kamu sudah besar sekali." Ia mencium kening putrinya dengan penuh kasih.
Sore itu, mereka bertiga duduk di bawah pohon pinus besar yang ada di samping rumah. Pak Gunawan menyesap kopi buatan Devan dan menatap matahari yang mulai tergelincir ke balik bukit.
"Devan," Pak Gunawan memulai pembicaraan setelah keheningan yang cukup lama. "Sejujurnya, dulu aku sangat membencimu. Aku menganggapmu sebagai penyakit yang akan menghancurkan hidup putriku. Aku melihatmu sebagai simbol kekacauan yang tidak punya tempat di dunia orang-orang baik."
Lia menahan napas, tangannya menggenggam jemari Devan di bawah meja.
"Tapi," lanjut Pak Gunawan, "selama tiga bulan ini, aku diam-diam mengirim orang untuk melihat bagaimana kamu hidup di sini. Aku mendengar bagaimana kamu membantu warga desa memperbaiki mesin mereka tanpa biaya yang mahal. Aku melihat bagaimana kamu menjaga Lia di tengah badai yang menyerangmu dari masa lalu. Dan yang paling penting... aku melihat binar mata Lia yang tidak pernah kulihat sebelumnya."
Pak Gunawan meletakkan cangkir kopinya, lalu menatap Devan dengan tatapan yang sangat dalam. "Kamu sudah membuktikan bahwa pria sejati bukan diukur dari berapa banyak orang yang ia pimpin, tapi dari berapa besar tanggung jawab yang ia pikul untuk orang yang ia cintai. Kamu sudah melepas jaket kulitmu, dan kamu sudah menjadi pelindung yang sesungguhnya."
Pak Gunawan merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru merah. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin emas kuno yang sangat indah.
"Ini cincin mendiang ibunya Lia," ucap Pak Gunawan dengan suara bergetar. "Dia berpesan agar cincin ini diberikan kepada pria yang benar-benar layak menjaga putri kami. Selama ini aku menyimpannya karena aku pikir tidak akan ada pria yang cukup baik. Tapi hari ini, aku tahu aku salah."
Pak Gunawan menyerahkan kotak itu kepada Devan. "Nikahi putriku secara resmi. Bukan di bawah bayang-bayang atau dalam pelarian. Nikahi dia dengan penuh kehormatan. Aku akan menjadi saksimu, dan aku akan memberikan restu penuhku."
Lia menangis haru, ia memeluk ayahnya dengan erat. Devan sendiri merasa seolah ada beban ribuan ton yang terangkat dari bahunya. Ia menerima cincin itu dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Om. Saya berjanji, nyawa saya adalah jaminannya untuk kebahagiaan Lia," ucap Devan dengan suara yang tersedat oleh emosi.
"Panggil aku 'Ayah', Devan. Kamu adalah bagian dari keluarga ini sekarang," ujar Pak Gunawan sambil menepuk bahu Devan.
Malam itu, lereng bukit terasa jauh lebih indah. Keheningan malam tidak lagi terasa mencekam, melainkan damai. Devan dan Lia duduk di teras, menatap bintang-bintang sambil merencanakan pernikahan mereka yang akan diadakan bulan depan—tepat sebelum si kecil lahir.
"Hanya keluarga dan teman dekat, ya?" bisik Lia.
"Dan Baron. Dia harus melihat mantan ketuanya ini memakai kemeja pengantin," canda Devan.
Mereka tertawa bersama. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi musuh yang mengintai, dan tidak ada lagi rasa takut. Hanya ada masa depan yang terbentang luas, seputih gaun pengantin yang sedang diimpikan Lia. Restu telah didapat, masa lalu telah tuntas, dan perjalanan menuju pelaminan kini tinggal menghitung hari.