Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Badai bernama Liandra.
Hutan itu tidak lagi sunyi bagi Haikal.
Setiap daun yang bergeser, setiap ranting patah, setiap perubahan tanah—semuanya berbicara.
Haikal berdiri di tengah jalan tanah dengan napas terkendali paksa. Wajahnya kosong, namun matanya… tajam dan gelap. Tidak ada kepanikan di sana. Tidak ada teriakan lagi.
Yang tersisa hanya modus tempur.
Ia berjongkok, menyentuh tanah.
Jejak kaki.
Minimal tiga orang. Berat badan berbeda. Langkah teratur. Bukan warga desa. Bukan orang awam.
“Gerakan cepat. Terlatih,” gumamnya dingin.
Haikal melepas jaket militernya, menyobek bagian dalamnya, mengikat bahu yang memar tanpa ekspresi. Rasa sakit diabaikan—tubuhnya sudah terlalu terbiasa dengan luka.
Ia mengangkat motor itu sekilas, memastikan tidak bisa digunakan. Lalu meninggalkannya begitu saja.
Prioritasnya satu.
Lian.
Ia masuk ke dalam hutan, mengikuti jejak itu tanpa ragu.
Langkahnya senyap. Nafasnya diatur. Pendengarannya terbuka penuh. Setiap detik ia membaca lingkungan—arah angin, tanah lembap, dedaunan yang masih segar terinjak.
Mereka membawa Lian.
Itu berarti:
Mereka tidak membunuh
Mereka punya tujuan
Dan waktu sangat terbatas
Haikal mempercepat langkah.
Satu jam kemudian, ia menemukan sesuatu.
Sepotong kain.
Haikal berhenti.
Matanya menajam saat mengenali warna itu—kain jilbab Lian. Robek di ujungnya, sengaja ditinggalkan atau terlepas saat perlawanan.
Tangannya mengepal keras.
Namun wajahnya tetap tenang.
“Dia melawan,” katanya pelan.
Dan entah mengapa—itu membuat dadanya sedikit lebih kuat.
Haikal melanjutkan.
Dua jam.
Hutan berubah semakin rapat. Tanah mulai menurun. Suara air samar terdengar.
Sungai.
Mereka mencoba menghilangkan jejak.
Haikal tersenyum tipis—dingin, nyaris tidak manusiawi.
“Kesalahan.”
Ia menuruni sungai, membaca pola arus, lalu menyeberang bukan di titik jejak hilang, tapi dua puluh meter ke hilir.
Dan benar saja—jejak itu muncul kembali.
“Amatir.”
Ia meraih pisau kecil tersembunyi di sepatu militernya. Mata Haikal kini gelap sepenuhnya.
Radio komunikasinya akhirnya menemukan sinyal lemah.
—Krrt—
Haikal mengangkatnya.
“Bravo Satu ke Markas. Kontak darurat. Istri saya diculik. Dugaan kelompok bersenjata. Lokasi koordinat hutan sektor timur desa. Saya bergerak sendiri.”
Suara di seberang terdiam sesaat.
“Bravo Satu, ulangi. Anda sendirian?”
“Saya tidak menunggu,” jawab Haikal datar.
“Jika mereka melukainya—saya akan menghabisi semuanya.”
Hening.
Lalu suara tegas menjawab,
“Bantuan dalam perjalanan. Jangan bertindak ceroboh.”
Haikal mematikan radio.
“Sudah terlanjur,” gumamnya.
Senja mulai turun saat ia melihatnya.
Pondok kayu tua.
Asap tipis keluar dari cerobongnya. Dua orang bersenjata berjaga di luar.
Haikal berjongkok di balik semak.
Menghitung.
Dua di luar.
Minimal satu di dalam.
Lian kemungkinan disimpan hidup—mereka butuh dia.
Tangannya mengencang di pisau.
Tidak ada negosiasi.
Penjaga pertama jatuh tanpa suara—pisau Haikal menancap tepat di titik leher, cepat, bersih.
Penjaga kedua sempat menoleh.
Namun terlambat.
Haikal menghantam rahangnya, membanting tubuh itu ke tanah, memutar lehernya dengan satu gerakan tajam.
Krak.
Sunyi kembali.
Haikal berdiri di depan pintu pondok.
Napasnya tenang. Matanya kosong.
Ia mendorong pintu—
Dan berhenti.
Matanya bertemu pemandangan yang membuat seluruh kendali dirinya nyaris runtuh.
Lian.
Duduk di lantai. Tangan terikat. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, namun matanya—
Masih hidup.
Masih berani.
Lian mendongak.
Mata mereka bertemu.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup untuk membuat Haikal hampir kehilangan dirinya.
Lian membuka mulut—hendak memanggilnya.
Haikal menggeleng pelan.
Ssst.
Matanya berkata: Aku di sini. Percaya padaku.
Dan tepat saat itu—
Seseorang di belakang mengokang senjata.
Haikal berputar.
Mode tentara aktif sepenuhnya terkunci.
Tidak ada ampun.
Tidak ada ragu.
Hanya satu pikiran yang berdenyut di kepalanya:
Tak seorang pun boleh menyentuh istrinya lagi.
-----
Darah menetes dari pelipis Haikal.
Bukan karena luka yang parah—melainkan karena satu tebasan yang sengaja ia terima demi menjatuhkan lawannya lebih cepat. Tubuh terakhir ambruk ke tanah dengan suara berat. Hutan kembali sunyi, hanya napas Haikal yang terdengar, terkontrol, stabil.
Lalu—
“Tahan!”
Suara itu memecah udara.
Haikal berhenti.
Tubuhnya berputar perlahan.
Dan dunia seolah berhenti berputar bersamanya.
Di ambang pondok, seorang pria berdiri. Wajahnya kasar, matanya tajam. Tangannya menggenggam pistol—moncongnya menempel tepat di pelipis Lian.
Lian.
Istrinya.
Wajahnya pucat, napasnya tertahan, namun matanya tetap menatap lurus ke depan. Tidak menangis. Tidak berteriak.
Hanya berdiri—menjadi sandera.
Haikal membeku.
Untuk pertama kalinya malam itu, senjata bernama Haikal berhenti berfungsi.
“Jatuhkan pisaumu,” ujar pria itu dingin.
“Satu gerakan salah—otaknya berceceran.”
Haikal menelan napas.
Pisau itu jatuh ke tanah dengan suara logam pelan.
Lalu perlahan—sangat perlahan—ia mengangkat kedua tangannya.
Telapak terbuka.
Tidak mengancam.
Tidak melawan.
Matanya tak lepas dari Lian.
“Jangan sentuh dia,” suara Haikal rendah, serak, namun penuh tekanan.
“Ambil aku. Bukan dia.”
Pria itu tertawa kecil.
“Kau pikir aku bodoh? Kau senjata hidup. Dia—” moncong pistol menekan lebih kuat “—kelemahanmu.”
Lian melihat itu.
Dan sesuatu di dalam dirinya meledak.
Dalam satu gerakan cepat—tidak ragu—Lian menendang kaki pria di sampingnya. Tendangan itu tidak sempurna, tapi cukup membuat pria itu terkejut dan meringis kesakitan.
“Brengsek—!”
Detik itu juga—
Pria bersenjata utama mengumpat dan menendang tubuh Lian keras.
Tubuh Lian terlempar ke tanah. Punggungnya menghantam lantai keras. Nafasnya terhempas keluar. Wajahnya meringis, tangannya refleks melindungi perutnya.
Namun pistol itu—
Tidak pernah turun.
Moncongnya tetap diarahkan ke kepala Lian yang kini terbaring.
Haikal melihat semuanya.
Dan hampir kehilangan akalnya.
“JANGAN—!” suara Haikal meledak, tak terkendali untuk pertama kalinya.
Ia melangkah maju satu langkah.
“BERHENTI DI SITU!” teriak pria itu.
“Langkah lagi—dia mati.”
Haikal berhenti.
Rahangnya mengeras.
Tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena amarah yang ditahan paksa. Matanya merah, napasnya berat.
Lian mengangkat wajahnya perlahan.
Matanya bertemu Haikal.
Dan meski sakit menjalar ke seluruh tubuhnya—Lian tersenyum tipis.
Senyum yang membuat dada Haikal terasa dihantam palu.
“Mas…” suara Lian pelan, bergetar, namun jelas.
“Jangan… turuti mereka.”
“Diam!” pria itu menekan pistol lebih keras.
Haikal menggeleng.
“Lian…” suaranya runtuh.
“Dengar aku. Aku di sini. Lihat aku.”
Matanya tidak lepas dari Lian.
Ia berbicara bukan sebagai tentara.
Bukan sebagai senjata.
Tapi sebagai suami.
“Aku janji,” katanya pelan namun tegas,
“tidak ada yang akan menyakitimu. Percaya padaku.”
Lian menatapnya lama.
Lalu mengangguk kecil.
Kepercayaan mutlak.
Pria bersenjata tertawa sinis.
“Romantis sekali. Sayang, cerita kalian berhenti di sini.”
Jarumnya bergerak.
Pelatuk mulai ditekan.
Dan pada detik sepersekian itu—
Haikal menurunkan tangan kirinya perlahan, nyaris tak terlihat.
Bukan menyerang.
Bukan melawan.
Melainkan mengalihkan.
Matanya menyipit.
Tubuhnya siap.
Karena Haikal tahu—
Ia mungkin akan mati.
Tapi istrinya tidak.
Dan jika ia harus melanggar setiap perintah, setiap protokol, setiap batas—
Maka malam ini, hutan ini, dan pondok ini…
Akan menjadi kuburan mereka.
Dua pria yang tadi tumbang—
Kini bangkit.
Napas mereka masih terengah, mata penuh amarah. Tanpa aba-aba, mereka menerjang Haikal dari belakang, tangan kasar mengunci lengannya, menekan bahunya ke bawah.
Cekraman kuat.
Profesional.
Mereka tahu cara menahan seorang prajurit.
Namun yang mengejutkan—
Haikal tidak melawan.
Tidak memberontak. Tidak menendang. Tidak menggunakan teknik balasan apa pun.
Ia membiarkan.
Tubuhnya kaku, rahangnya mengeras, matanya hanya tertuju pada satu sosok di depan sana.
Lian.
“Bagus,” ujar salah satu dari mereka sinis.
“Prajurit patuh.”
Haikal menelan napas.
Jika ia bergerak sekarang—peluru itu akan menembus kepala istrinya.
Ia memilih diam.
Dan tepat saat ketegangan menekan udara hingga nyaris tak bisa dihirup—
Terdengar tawa.
Bukan tawa nyaring.
Bukan tawa gila.
Melainkan tawa lirih… pelan… hampir seperti desahan napas yang pecah.
Semua kepala menoleh.
Lian.
Bibirnya berdarah. Garis merah tipis mengalir dari sudut bibirnya—bekas pukulan saat ia melawan sebelum dibawa ke tempat ini. Wajahnya pucat, napasnya tidak stabil.
Tangannya terikat.
Namun kedua tangannya—yang terikat itu—melindungi perutnya.
Seolah di sana ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada rasa sakitnya sendiri.
Namun Lian tertawa.
Tawa kecil yang bergetar.
Haikal membeku.
“Lian…” suaranya hampir tak terdengar.
Tawa itu berhenti perlahan. Lian mengangkat wajahnya. Matanya bertemu Haikal—mata yang sudah terlalu sering menahan luka, terlalu lama menunggu, terlalu terbiasa diam.
“Aneh ya…” ucap Lian pelan.
“Masih hidup… setelah sejauh ini.”
Salah satu pria mengernyit.
“Diam kau!”
Namun Lian tidak berhenti.
Ia menelan darah di bibirnya, lalu tersenyum tipis—senyum yang tidak waras, tidak takut, dan tidak tunduk.
“Aku pikir…” napasnya bergetar,
“aku bakal mati duluan sebelum ketemu suamiku lagi.”
Haikal menggeleng keras.
“Jangan bicara begitu.”
Lian tertawa lagi—lebih pelan dari sebelumnya.
“Mas,” katanya lembut,
“aku nunggu kamu dua tahun enam bulan.”
Sunyi.
Bahkan hutan seperti berhenti bernapas.
“Aku nunggu tanpa tau kamu hidup atau mati,” lanjut Lian.
“Aku nunggu sambil pura-pura kuat. Pura-pura baik-baik saja.”
Tangannya—yang terikat—menekan perutnya sedikit lebih erat.
“Kalau hari ini aku mati,” katanya lirih,
“setidaknya aku tau…”
Ia menatap Haikal.
“Suamiku masih hidup.”
Salah satu pria mencengkeram rambut Lian kasar.
“Mulutmu—!”
“LEPASKAN DIA.”
Suara Haikal pecah.
Bukan teriakan.
Melainkan perintah dingin yang lahir dari titik paling gelap dalam dirinya.
Pria itu terkekeh.
“Kau tak punya kuasa di sini.”
Belum sempat tawa itu selesai—
BRAKK!
Kepala Lian menghantam wajah pria itu dengan sundulan keras.
Bunyi tulang beradu terdengar jelas.
Lian sendiri terhuyung—kepalanya berdenyut hebat, pandangannya berkunang. Darah di bibirnya makin banyak. Tapi ia tidak jatuh.
Tangannya memang terikat.
Namun tubuhnya—bebas.
Dengan satu gerakan cepat, Lian memutar tubuhnya, memanfaatkan keseimbangan pria itu yang goyah. Lututnya menghantam paha lawan, lalu bahunya menghantam dada pria itu.
DUAK!
Tubuh pria itu terbanting keras ke tanah.
Semua terjadi terlalu cepat.
“Kurang ajar—!” seseorang berteriak.
Haikal membeku.
Matanya melebar.
Itu bukan gerakan orang awam.
Itu bukan reaksi panik.
Itu insting petarung.
Lian berdiri terengah. Tangannya masih terikat, napasnya berat, kepala pusing bukan main—namun matanya tajam, hidup, dan marah.
Ia menatap mereka satu per satu.
“Kesalahan kalian,” ucap Lian lirih tapi jelas,
“adalah berpikir aku kelemahan suamiku.”
Ia menunduk, meraih pistol yang terlepas dari tangan pria itu. Dengan cekatan—meski tangan masih terikat—ia memutar pergelangan, menjepit gagang pistol di antara jari dan telapak.
Gerakan yang tidak asing.
Ia berdiri tegak.
Menatap lurus ke mata mereka.
“Aku Humairah Liandra,” katanya tenang.
“Mahasiswi barbar. Kepala tawuran.”
Haikal menahan napas.
“Dan aku—” Lian mengangkat pistol itu,
“bukan kelemahan suamiku.”
Matanya berkilat dingin.
“Aku kekuatannya.”
DOR!
Satu tembakan.
Peluru menembus kepala pria itu tanpa ragu.
Tubuh itu roboh seketika.
Sunyi.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bernapas dengan benar.
Darah mengalir ke tanah hutan yang lembap.
Lian berdiri di sana—tubuh kecil dengan tangan terikat, pistol masih terangkat, dadanya naik turun keras.
Haikal menatapnya seperti baru pertama kali melihat istrinya.
Bukan sebagai wanita yang ia lindungi.
Tapi sebagai partner hidup yang siap berdiri di neraka bersamanya.
Dan untuk pertama kalinya—
Musuh-musuh itu sadar.
Mereka tidak menculik kelemahan seorang tentara.
Mereka menculik badai.