Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Hilman terkekeh, kali ini tawanya terdengar sangat tulus. "Karena kamu terlalu berani, Nay. Kamu menguji imanku setiap detik. Aku harus galak supaya aku nggak khilaf dan langsung menghalalkanmu saat itu juga. Ternyata, kamu jauh lebih 'berbahaya' setelah dewasa."
Nayla tersenyum lebar, rasa bangga dan haru bercampur jadi satu. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Hilman. "Berarti Mas Hilman ini sebenarnya secret admirer aku ya? Wah, keren juga ya aku, bisa bikin Gus idola pesantren galau selama tujuh tahun."
Hilman merangkul bahu Nayla, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kasih. "Sekarang bukan rahasia lagi. Sekarang kamu sudah di sini, jadi milikku seutuhnya."
Tepat saat suasana sedang sangat romantis, tiba-tiba pintu kamar diketuk dua kali.
"Nduk Nayla, Mas Hilman... ini Umi bawakan jamu pemulihan," suara Umi Sarah terdengar dari balik pintu.
Nayla langsung menjauh dari Hilman, wajahnya panik. "Aduh, jamu? Pahit nggak ya, Mas?"
Umi masuk membawa nampan berisi segelas cairan berwarna cokelat pekat yang aromanya sangat menyengat—perpaduan kunyit, sirih, dan rempah rahasia.
"Ini diminum ya, Nduk. Biar perihnya cepat hilang, lukanya cepat kering, dan nanti malam badannya segar lagi kalau Mas-mu minta 'jatah' lagi," ucap Umi Sarah tanpa dosa sambil meletakkan jamu itu di meja.
Hilman langsung menutupi wajahnya dengan telapak tangan, sementara Nayla menatap gelas jamu itu dengan ngeri.
Nayla menelan ludah melihat cairan pekat di dalam gelas itu. Aromanya saja sudah menusuk hidung, apalagi rasanya. Namun, demi menyenangkan hati ibu mertuanya dan demi "kesehatan" dirinya sendiri, Nayla mencoba memberanikan diri.
"Iya, Umi... pahit banget kayaknya ya? Tapi demi Umi, Nayla minum deh," ucap Nayla sambil meraih gelas itu dengan tangan sedikit gemetar.
Ia melirik ke arah Hilman yang masih menutupi wajahnya karena malu dengan ucapan Umi Sarah soal "jatah" malam nanti. Sifat iseng Nayla pun kembali muncul. Sebelum meminum jamunya, ia menoleh ke arah Umi Sarah dengan cengiran lebar.
"Bdw Umi... kalau Nayla rajin minum jamu begini, Umi mau cucu berapa dari kami? Biar Nayla ada persiapan nih," tanya Nayla tanpa dosa.
"Uhuk! Uhuk!"
Hilman yang baru saja ingin meredakan rasa malunya, kini malah tersedak salivanya sendiri. Ia menatap Nayla dengan mata melotot, tak menyangka istrinya akan se-frontal itu bertanya soal cucu di depan ibunya sendiri.
Umi Sarah justru tertawa renyah, beliau sangat menyukai kejujuran menantunya yang unik ini. "Ya Allah, Nduk... semangat sekali. Kalau Umi sih terserah Gusti Allah, tapi kalau bisa ya yang banyak, biar pesantren makin ramai. Kenapa? Kamu sudah siap jadi Ibu?"
Nayla melirik Hilman yang wajahnya sudah merah padam sampai ke leher. "Nay sih siap aja Umi, asalkan Mas Hilman-nya nggak gampang 'tumbang' kalau Nay ajak olahraga malam," goda Nayla sambil mengedipkan sebelah mata ke arah suaminya.
"Nayla! Jaga bicaramu di depan Umi," tegur Hilman dengan suara parau, benar-benar mati kutu.
Umi Sarah hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil menuju pintu. "Sudah-sudah, Umi mau ke dapur lagi. Jangan lupa jamunya dihabiskan ya, biar nanti malam Mas-mu nggak kasihan lihat kamu jalan pelan-pelan lagi."
Setelah Umi keluar, kamar kembali hening. Nayla menatap gelas jamu itu, lalu menatap Hilman. "Mas... suapin. Pahit banget ini, kalau Mas yang suapin mungkin rasanya jadi rasa cokelat."
Hilman menghela napas pasrah, ia mengambil alih gelas itu. Dengan telaten, ia meniup jamu yang masih hangat dan mulai menyuapi Nayla sesendok demi sesendok. Nayla meminumnya sambil terus meringis, sesekali lidahnya menjulur karena rasa pahit yang luar biasa.
Begitu gelas kosong, Hilman meletakkannya di meja samping tempat tidur. Ia kemudian menarik tubuh Nayla agar bersandar di dadanya.
"Mas... beneran mau punya anak banyak?" bisik Nayla pelan, suaranya melembut.
Hilman terdiam sejenak, ia mengelus rambut Nayla yang terurai. "Mas mau kita belajar bareng dulu, Nay. Mas mau kamu bahagia dulu sama Mas. Tapi kalau memang Allah kasih cepat... Mas akan jadi Ayah yang paling bahagia di dunia."
Nayla tersenyum haru, ia memeluk pinggang Hilman erat. Di kamar lama Gus Hilman yang penuh kenangan itu, mereka akhirnya tertidur bersama, memulihkan tenaga sebelum kembali ke rumah Pak Lurah sore nanti.