Niatnya mulia, ingin membantu perekonomian keluarga, meringankan beban suami dalam mencari nafkah.
Namum, Sriana tak menyangka jika kepergiannya mengais rezeki hingga ke negeri orang, meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil – bukan berbuah manis, melainkan dimanfaatkan sedemikian rupa.
Sriana merasa diperlakukan bak Sapi perah. Uang dikuras, fisik tak diperhatikan, keluhnya diabaikan, protesnya dicap sebagai istri pembangkang, diamnya dianggap wanita kekanakan.
Sampai suatu ketika, Sriana mendapati hal menyakitkan layaknya ditikam belati tepat di ulu hati, ternyata ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isyt : 35
Suara Sri terbata-bata, hilang timbul ditelan isak tangisnya yang tak kunjung reda. “Eka minjem paspor dan KTP ku, terus ajuin pinjaman ke rentenir yang suka ngasih pinjaman dengan bunga besar. Dia kena tipu sahabatnya yang ngajak bisnis jualan emas dari Arab _”
“Dasar pekok (bodoh). Otak mu ditaruh di mata kaki, iya Sri?!” Triani langsung emosi dia rebut ponsel Agung.
“Kok ada mbak Triani, kalian lagi dimana?” nada Sri terdengar terkejut, polos.
“Ndak penting. Sekarang bilang, berapa Eka kurang ajar itu ajuin pinjaman pakek datamu!” Triani menggeram, wajahnya memerah.
“Dua puluh lima ribu dolar Hongkong, cicilan perbulannya $5.500 per bulan selama enam kali. Eka kehabisan uang, takut di pecat sama bos nya. Dia mohon-mohon ke aku sambil nangis, minta tolong dibantu dulu sampai punya uang untuk mengganti. Soalnya, Eka juga ada hutang di bank resmi _”
“Dasar idiot! Bisa-bisanya minjemin paspor buat hutang uang. Benda itu nyawamu di luar negeri!” dia membentak adik sepupunya.
Yang lainnya ikut nyimak sambil menahan geram, bibir bergerak mengumpati Sriana. Mereka tidak paham tentang pinjam meminjam menggunakan paspor.
“Aku kasihan sama dia, soalnya Eka sering ngasih makanan, kemarin aja sewaktu kami liburan di Macau, pakaian yang tak pakai dikasih sama dia_”
Lagi-lagi ucapan Sriana di potong Triani. “Dia baik karena ada maunya! Kamu itu udah dibodohi, dasarnya memang udah bodoh ya tambah bodoh! Ini pasti karma, balasan dari Tuhan lantaran kamu sudah zalim ke aku. Sampai dipecat sama majikan, nikmatilah balasan sepadan ini Sri! Rasakan … kuwalat kamu itu!!”
Triani membanting ponsel di atas meja, langsung diambil Agung yang mulai dapat membaca situasi. “Terus gimana kami disini Sri? Aku ndak mau tahu, kamu harus tetep kirim uang seperti biasanya!”
“Aku bakalan tetap kirim Mas. Cuma tiga juta yang bisa aku kasih – untuk bayar hutang bank dengan jaminan sertifikat rumah, lebihnya buat keperluan Septian dan Ambar Ratih _”
“Mana bisa kayak gitu Sri! Jatah ibuk, sama bapak gimana?!” Wiyah berteriak. Panggilan itu di loudspeaker.
“Tolong mengerti dulu Buk, keadaanku lagi genting. Pinjaman itu disertai nomor telepon rumah majikan, kalau ndak tak bayar ya bakalan diteror. Sampai ketahuan, abis aku didepak dari sini _”
“Tolol! Dungu! Demi teman ndak jelas itu kamu mengabaikan keluargamu sendiri Sri! Kok … ihh!” Wiyah meninju meja, dia terlanjur emosi.
‘Kalian bukan keluargaku. Seharusnya aku sudah kaya kalau ndak dibodohi, diperas. Rasakan sekarang akibatnya!’ Sri tersenyum culas, ia menatap cermin kamar mandi.
“Ini cuma tiga bulan Buk. Eka janji bakalan ganti kalau hutang di bank resminya lunas. Nanti aku transfer dobel ke kalian, sekalian uang cuti sama tiket pesawat. Untuk sementara waktu, tolong diakali sendiri dulu,” ia memberi angin segar.
“Tiga juta mana cukup _”
Giliran Sriana yang menyela kalimat suaminya. “Mas, bukannya kamu bilang kalau bisnis bibit ikan mulai mendatangkan keuntungan, ya pakai uang itu dulu. Lagian tanggungan hutang tetap tak bayar, ya pintar-pintar kalian mengatasinya. Berhemat lah ….”
“Halo, halo, halo … ha ha ha.” Dia terpingkal-pingkal sambil menahan dingin luar biasa sampai giginya bergemeletuk. Panggilan telepon diputus oleh Agung.
Demi menyempurnakan drama, Sriana mandi air dingin agar badannya menggigil dan suaranya bergetar.
Cepat-cepat wanita yang cuma memakai handuk itu membaluri badannya dengan fresh care agar hangat.
“Tiga bulan, mungkin terasa singkat. Namun teruntuk manusia gila itu pasti sangat menyiksa. Bingung bayar cicilan bank, ndak bisa gaya menggunakan uang hasil keringat lku. Mampus kalian!” sambil pakai baju, Sriana terus bergumam.
Dia tidak takut kalau semisal Agung mangkir bayar cicilan bank mengataskan namanya. Suami durjananya itu pasti berpikir pakai logika, semisal sengaja – mau tinggal dimana mereka seandainya rumah disita.
Sriana pun akan menitipkan uang ke Wulan, untuk jaga-jaga bila Agung memang nekat tidak membayarkan cicilan hutangnya.
***
“Ya ampun, lantas gimana caranya bayar cicilan bank yang hampir delapan juta itu? Terus jatah bulanan ku piye?” Dwita mengusap kasar wajahnya. Hilang sudah raut pongah, berganti nelangsa kebingungan.
Triani yang kepalang emosi, bergegas mau memaki dan mempermalukan Eka dengan berkomentar buruk di akun media sosialnya.
“Su Asu!” makinya kala melihat kolom komentar ditiadakan, dan Eka tidak bisa ditandai.
Agung menghisap dalam-dalam sebatang rokok, dia seperti orang frustasi. Delapan juta itu bukan nominal kecil, sementara penghasilan karaoke nya belum stabil masih naik turun. Terkadang bisa sepuluh juta, di waktu tertentu hanya di bawah lima juta. Itu masih pendapatan kotor, belum dipotong biaya listrik, gaji tiga orang pekerja.
Es kelapa muda tak lagi manis, rasanya hambar. Sisa mie kuah dan goreng sudah kehilangan aromanya. Wajah-wajah congkak, berubah menjadi berekspresi bingung, menahan geram.
Bahkan Eli yang semula diperhatikan, diperlakukan layaknya putri raja, suaranya bagaikan angin lalu. Dia diabaikan.
“Kamu percaya kalau Sri beneran ditipu, Mbak? Bukan akal-akalan dia?” tanya Dwita, dia meragu.
Triani menjelaskan dengan nada lirih sembari mengurut pelipis yang berdenyut-denyut. “Di Hongkong itu gampang banget pinjem uang. Pakai KTP saja bisa ajuin 10 juta rupiah, apalagi paspor – puluhan juta pun tembus. Terlebih si bodoh itu meminjamnya di lintah darat bukan bank resmi.”
"Eka memanfaatkan keluguan Sriana, dibawanya jalan-jalan ke luar Hongkong biar Sri mengambil paspor yang dipegang majikan. Rencana lonte satu memang kotor banget," hatinya kesal luar biasa.
Nyatanya memang seperti itu, banyak juga para pahlawan devisa yang kena tipu teman maupun saudaranya sendiri. Data diri mereka dipinjam untuk mengajukan hutang. Bahkan ikut menjadi saksi, setelah uang cair – si peminjam enggan membayar. Maka yang akan ditagih ialah si pemilik paspor, telepon rumah majikan di teror.
Rata-rata majikan Hongkong paling anti melihat pembantunya terlibat hutang bank. Banyak yang dipecat karena kasus itu.
***
Eka terkikik mendengar cerita Sriana lewat sambungan telepon. Mereka sedang melakukan video call sambil masak untuk makan malam.
“Anaknya nenek Tapasya inbok aku, mbak Sri. Tak bacakan ya, mau dengar ndak kamu …?”
.
.
Bersambung.
mampus kau trii apa yg dlu kau oeras dri sri berblik pada mu lelaki mokondo aja kau tamoung kau banga2kan sekrang mampus kauu
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣