Seribu tahun setelah Era Kegelapan yang hampir menghancurkan tatanan alam semesta, Yun Tianxing—kultivator tertinggi dan penjaga keseimbangan antara Dunia Bawah dan Dunia Dewa—menemukan dua artefak legendaris: Darah Phoenix Abadi dan Jantung Naga Suci. Dalam upaya untuk memperkuat diri agar bisa mengantisipasi ancaman tersembunyi, ia memakan jantung naga dan meminum darah phoenix. Namun, kombinasi kekuatan kedua makhluk mistik tersebut terlalu besar untuk tubuhnya, menyebabkan guncangan hebat yang mengancam nyawanya. Sebelum meninggal, ia menciptakan sebuah benih ajaib, memasukkan seluruh energi Qi dan pengetahuan kultivasinya ke dalamnya.
Benih itu jatuh ke Dunia Fana dan memasuki tubuh Haouyu, putra mahkota Kekaisaran Lian yang baru lahir. Tak lama kemudian, kekaisaran keluarga Lian runtuh akibat peperangan besar dengan klan musuh. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyerahkan dia kepada seseorang untuk membawanya meninggalkan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 PELARIAN MELALUI SUNGAI
Haouyu mengangguk perlahan. Dia telah mendengar bisikan tentang pertempuran di utara dan melihat wajah ibunya yang penuh kesedihan setiap malam. Ia merasakan kekuatan yang ada di dalam dirinya mulai bergerak lebih cepat dari biasanya, seolah-olah merespons kegelisahan dan bahaya yang mengancam kekaisaran.
“Saya harus melakukan sesuatu,” gumam Haouyu dengan suara rendah namun penuh tekad.
Beberapa hari kemudian, kabar terakhir datang dari utara—Kota Ping’an telah jatuh sepenuhnya. Pasukan Hounu sedang bergerak cepat menuju ibu kota, dan pasukan kerajaan yang tersisa sedang berjuang untuk memperlambat langkah mereka. Kaisar Lian Chengyu telah terluka parah dan sedang dalam perawatan di markas sementara, namun dia memerintahkan agar semua upaya difokuskan untuk melindungi ibu kota dan putranya.
Di istana, suasana menjadi sangat tegang. Pasukan pengawal sedang mempersiapkan pertahanan terakhir, sementara rakyat mulai dievakuasi melalui jalur rahasia. Permaisuri Lin Meiying berdiri di kamar tidur Haouyu, sedang memasukkan beberapa barang penting ke dalam sebuah tas kecil—sebuah kalung dengan lambang kerajaan, beberapa pil obat penyembuh, dan sebuah surat yang telah dia tulis untuk anaknya.
“Haouyu, sayang,” ucap Permaisuri dengan suara lembut saat melihat anaknya masuk ke kamar. “Ada sesuatu yang harus saya katakan padamu.”
Haouyu melihat wajah ibunya dan merasakan bahwa sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi. Dia berdiri dengan tegap, siap menerima apa pun yang akan dikatakan ibunya.
“Pasukan Hounu akan segera tiba di sini,” lanjut Permaisuri, menahan air mata. “Kita tidak bisa bertarung melawan mereka lagi. Oleh karena itu, kamu harus pergi—menyembunyikan diri dan hidup untuk masa depan kekaisaran.”
“Tapi ibu dan ayah?” tanya Haouyu dengan suara bergetar, mata sudah mulai berkaca-kaca. “Saya tidak ingin pergi sendirian!”
“Kita akan melakukan yang terbaik untuk bertahan hidup,” jawab Permaisuri dengan lembut, menyentuh pipi anaknya. “Ayahmu sedang berjuang untuk kita, dan saya juga akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi kekaisaran. Tapi kamu adalah harapan kita, Haouyu. Kamu harus hidup dan tumbuh menjadi orang yang kuat, sehingga suatu hari nanti kamu bisa membangun kembali apa yang telah hancur.”
Pada saat itu, suara lonceng peringatan mulai berbunyi di seluruh istana—pasukan Hounu telah mencapai gerbang luar ibu kota. Suara tembakan dan teriakan mulai terdengar dari kejauhan.
“Waktunya telah tiba,” ucap Perdana Menteri Li Weng yang baru saja masuk ke kamar dengan wajah serius. “Kami telah menyiapkan perahu kecil di tepi sungai selatan istana. Kakek Chen Long—seorang teman lama saya yang tinggal di desa terpencil di hilir sungai—akan menjemputmu dan merawatmu.”
Permaisuri Lin Meiying segera membungkus Haouyu dengan sebuah mantel tebal dan memberikan tas kecil kepadanya. Dia kemudian menarik anaknya ke dalam pelukan yang erat, menangis dengan bebas.
“Jangan pernah melupakan siapa kamu, Haouyu,” bisiknya di telinga anaknya. “Kamu adalah putra mahkota Kekaisaran Lian, dan kamu memiliki kekuatan besar di dalam dirimu. Gunakan kekuatan itu untuk kebaikan dan untuk melindungi orang-orang yang lemah.”
Setelah itu, Jenderal Zhang Wei masuk ke kamar dengan tergesa-gesa. “Yang Mulia, pasukan musuh sudah memasuki bagian luar kota! Kita harus segera mengirim Putra Mahkota pergi!”
Dengan hati yang berat, Permaisuri melepaskan pelukan dan melihat anaknya dengan mata penuh cinta dan harapan. Haouyu menatap ibunya dengan tegas, menahan air mata. Ia mengambil tas dan mengikuti Jenderal Zhang Wei keluar dari kamar, dengan Perdana Menteri Li Weng mengikutinya dari belakang.
Di luar, langit sudah mulai gelap karena asap dari kebakaran yang membakar bagian luar kota. Mereka berlari melalui koridor yang sunyi dan taman yang sekarang sepi, menuju gerbang belakang istana yang mengarah ke sungai. Saat mereka mencapai tepi sungai, sebuah perahu kecil sudah menunggu di sana, dengan seorang lelaki tua dengan wajah keriput namun mata yang kuat berdiri di atasnya—itulah Kakek Chen Long.
“Ini dia, Chen Long,” ucap Perdana Menteri Li Weng dengan suara rendah. “Jaga dia dengan baik. Dia adalah satu-satunya harapan kita.”
Kakek Chen Long mengangguk dengan serius, melihat Haouyu dengan mata penuh rasa hormat. “Aku akan menjaganya seperti anakku sendiri, Tuan Li. Janjiku.”
Haouyu berbalik untuk melihat ibu kota yang mulai terbakar di kejauhan. Dia melihat nyala api yang menjulang tinggi dari arah istana dan merasakan rasa sakit yang mendalam di hatinya. Namun dia juga merasakan kekuatan yang ada di dalam dirinya mulai bangkit—cahaya keemasan muncul di dahinya dengan jelas, memberikan sedikit penerangan di tengah kegelapan.
“Baiklah, kita harus pergi sekarang,” kata Kakek Chen Long dengan lembut, membantu Haouyu naik ke dalam perahu.
Dengan satu lompatan ringan, Kakek Chen Long memasuki perahu dan mulai mengayuh dayung dengan kuat. Perahu meluncur dengan cepat di atas permukaan sungai yang tenang, menjauh dari ibu kota yang sedang terbakar. Haouyu duduk di bagian belakang perahu, menatap jauh ke belakang ke arah istana hingga tidak terlihat lagi. Di dalam hatinya, dia membuat sumpah untuk sendiri—ia akan tumbuh menjadi orang yang kuat, menemukan kebenaran tentang kekuatannya, dan suatu hari nanti akan kembali untuk membangun kembali kekaisaran dan membalas dendam atas penderitaan rakyatnya.
Sementara itu, di istana yang sedang terbakar, Permaisuri Lin Meiying berdiri di atas tembok tinggi istana, menatap arah sungai di mana anaknya telah pergi. Di sisinya berdiri Perdana Menteri Li Weng dan para prajurit yang masih setia. Suara langkah kaki pasukan Hounu sudah terdengar semakin dekat.
“Semoga Tuhan melindungi kamu, sayang,” bisik Permaisuri dengan suara lembut, sebelum berbalik untuk menghadapi musuh yang datang dengan wajah penuh keberanian.
Di kejauhan, Khan Batu berdiri di atas bukit melihat ke arah istana yang terbakar dengan senyum puas di wajahnya. Namun matanya tiba-tiba melihat secercah cahaya keemasan yang muncul dari arah sungai, jauh di hilir. Ia mengerutkan kening dengan curiga.
“Apa itu?” bisiknya dengan suara rendah.
“Sangat mungkin itu adalah putra mahkota yang melarikan diri, Khan,” jawab seorang jenderal di sisinya. “Haruskah saya mengirim pasukan untuk mengejarnya?”
Khan Batu berpikir sejenak sebelum menggeleng. “Tidak perlu. Dia masih muda dan tidak berdaya sekarang. Biarkan dia hidup—biarkan dia merasakan kesedihan dan kehilangan sebelum kita menghancurkannya nanti. Itu akan membuat kemenangan kita lebih manis.”
Dengan itu, ia berbalik dan berjalan menuju istana yang terbakar, siap untuk mengambil alih apa yang tersisa dari Kekaisaran Lian. Namun dia tidak tahu bahwa dia telah membiarkan harapan terakhir kekaisaran lolos—sebuah benih kekuatan yang sedang tumbuh dan akan suatu hari nanti menjadi ancaman terbesar bagi rencananya untuk menguasai dunia.
...~BERSAMBUNG~...