Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 : Saat Kami Harus Diam.
[PoV Yu Yan]
Aku berlari.
Aku tidak tahu sudah berapa lama. Kakiku sakit. Dadaku sakit. Napasku bunyinya aneh, seperti aku menelan udara panas. Dunia di depanku terasa sempit, cuma ada punggung orang di depan dan tanah di bawah kakiku.
Tas di punggungku memukul-mukul punggungku setiap kali aku melangkah. Rasanya berat sekali, padahal aku tahu isinya tidak banyak. Tali tasnya menggesek bahuku. Perih. Aku ingin menariknya, tapi tanganku tidak mau menurut.
Aku takut kalau aku berhenti, aku akan jatuh.
Dadaku terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang berputar-putar di dalam, membuatku mual. Rasanya tidak seperti sakit biasa. Lebih seperti … tidak enak. Aku hampir ingin muntah.
Tapi aku terus berlari.
Di depanku ada Bibi Lin Jie. Dia berlari cepat, tapi kelihatannya tidak capek. Kakinya melangkah di batu dan akar tanpa tergelincir, seperti tanahnya patuh padanya. Kadang dia menoleh ke belakang, matanya cepat melihat kami, lalu dia berlari lagi.
Di belakangku, aku mendengar napas Ibu Shen. Bunyi napasnya berat, seperti orang yang sedang menahan tangis, tapi kakinya tidak berhenti.
Aku menoleh sedikit.
Ibu Shen berlari sambil menggendong Shen Yu. Shen Yu kecil dan hangat, dibungkus kain di dadanya. Kepala Shen Yu menempel di bahunya. Shen Yu tidak bergerak. Terlalu diam. Aku ingin menyentuhnya, memastikan dia baik-baik saja, tapi aku tidak berani berhenti.
Wajah Ibu Shen basah oleh keringat. Rambutnya menempel di wajahnya. Tapi matanya … matanya seperti batu. Keras. Tidak goyah.
“Jangan berhenti…” katanya pelan, terputus-putus. “Sedikit… lagi…”
Aku mengangguk, meski aku tidak tahu apakah dia melihatku.
Kami sudah jauh dari sungai. Kakiku sekarang menginjak batu. Batu dingin. Licin. Aku hampir jatuh beberapa kali, dan setiap kali itu terjadi, jantungku terasa meloncat ke tenggorokan.
Aku tidak tahu kenapa kami naik ke tempat berbatu ini. Aku hanya ingat Bibi Lin Jie bilang ini lebih aman. Aku tidak benar-benar mengerti apa itu jejak atau aura. Aku hanya tahu kami tidak boleh ditemukan.
Tiba-tiba, Bibi Lin Jie berhenti.
Tangannya terangkat.
Aku hampir menabraknya dan berhenti mendadak. Kakiku gemetar. Aku menutup mulutku sendiri karena napasku terlalu keras.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Lalu aku mendengar suara.
Langkah kaki.
Dari bawah. Banyak. Bunyi sepatu di batu. Bunyi tanah tergeser. Suara orang dewasa.
Perutku langsung terasa dingin, seperti diisi air.
“Sudah dekat,” bisik Bibi Lin Jie. Suaranya pelan sekali.
Aku tidak tahu siapa mereka, tapi aku tahu mereka itu menakutkan.
“Apa yang kita lakukan?” tanya Bibi Lin Mei. Suaranya tegang, tapi tidak gemetar.
Bibi Lin Jie melihat ke samping, ke arah batu besar dan semak gelap. Ada lubang kecil di sana. Gelap.
“Ada gua kecil,” katanya. “Masuk ke sana.”
“Tempatnya sempit …” Ibu Shen berbisik.
“Tidak apa. Kita sembunyikan diri.”
Bibi Lin Jie membuka tasnya. Dia mengeluarkan kertas-kertas kecil. Warnanya kusam, tapi ada gambar aneh di atasnya yang berkilau sedikit.
Dia memberi satu ke Ibu Shen. Satu ke aku.
Yang terakhir, dia mendekat dan menempelkan kertas itu ke dahiku.
Dingin.
Aku terkejut. Dingin itu masuk ke kepalaku, lalu ke dadaku. Rasanya seperti aku ditutup selimut dingin. Aku masih ada, tapi juga seperti … lebih kecil. Lebih jauh.
Di dalam diriku, sesuatu masih berdenyut pelan. Aku tidak tahu apa itu. Aku hanya tahu itu ada sejak lama.
“Masuk ke gua,” kata Bibi Lin Jie. “Diam. Jangan keluar, apapun yang terjadi.”
Dia melihat Ibu Shen lama sekali.
“Aku akan membuat mereka pergi ke arah lain.”
“Jie!” suara Ibu Shen pecah.
Bibi Lin Jie tersenyum. Senyumnya lembut, seperti saat dia bilang aku pintar menggambar.
“Jaga Shen Yu,” katanya pelan. “Tolong.”
Lalu dia pergi.
Aku melihat punggungnya turun ke bawah batu, dan tiba-tiba dia tidak ada.
Dadaku terasa sesak. Aku ingin memanggilnya, tapi suaraku tidak mau keluar.
Ibu Shen menarik tanganku. Tangannya hangat tapi gemetar.
“Ayo.”
Kami masuk ke dalam gua.
Gelap.
Gelap sekali.
Udara di dalam bau tanah basah. Aku harus membungkuk. Bahuku menyentuh batu kasar. Aku tidak suka rasanya.
Kami duduk rapat-rapat. Tidak ada ruang. Ibu Shen duduk di depan, punggungnya menutup pintu gua. Shen Yu dan aku di belakangnya. Aku bisa merasakan punggungnya naik turun saat dia bernapas.
Dia mengeluarkan selimut tipis dan menutupi kami. Selimutnya hangat. Aku menggenggam ujungnya erat-erat.
Di luar, suara langkah kaki makin dekat.
Ada suara orang bicara. Suaranya kasar. Ada yang tertawa.
Aku menahan napas. Tanganku gemetar. Aku menekan wajahku ke punggung Ibu Shen.
Dia tidak bergerak.
Shen Yu tetap diam. Napasnya kecil sekali, hampir tidak terasa.
Aku menutup mata.
Aku menunggu.
Aku tidak tahu menunggu apa. Aku hanya tahu aku harus diam.