Di dunia yang mengandalkan kekuatan sebagai hal utama, Yan Jian— seorang Tuan Muda yang terlahir tanpa memiliki Roh Bela Diri. Namun, di saat ia benar-benar berada pada titik terendah, ia mendapatkan kepercayaan dari Permaisuri Es, sehingga Permaisuri Es pun mengorbankan dirinya untuk menjadi Roh Bela Diri Yan Jian.
Setelah mendapatkan Roh Bela Diri Permaisuri Es dan Salju, Yan Jian pun bertekad untuk membalaskan dendamnya terhadap kedua pamannya yang telah membunuh orang tuanya. Namun, perjalanannya di dunia kultivasi tidaklah mudah. Berulang kali terjatuh dan hampir mati.
Bagaimana kisah Yan Jian untuk bertahan di kerasnya kehidupan ini? Yuk, ikuti keseruan petualangan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
"Jian ... dia ...!?" gumam Xiao Yu, bingung.
Di dalam Arena Pertarungan. Liu Gu memandang Yan Jian dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang menilai.
Raut Wajah Liu Gu menyeringai, kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, sehingga wajahnya benar-benar berada di depan wajah Yan Jian.
"Apa ini? Hanya seorang bocah lemah tingkatan ranah ketiga ... ingin melawanku? Ha haa!" Liu Gu kembali bangkit dan melangkah mundur sembari dua kali memutar badannya, menunjukan sikapnya yang sangat meremehkan pemuda di depannya.
Namun, ia kembali memalingkan pandangannya, mengarah kepada Yan Jian. Lalu, ia pun bertanya; "Bocah kecil, nyalimu sungguh besar! Siapa namamu?" Liu Gu bertanya dengan nada yang sangat sombong.
Yan Jian terdiam selama beberapa detik, dia bingung harus menggunakan identitas aslinya atau identitas samarannya. Namun, suara Xiao Yu saat itu benar-benar menggema di kediaman Keluarga Liu, membuat Yan Jian pun tak mempunyai pilihan lain, dan kali ini, ia pun menggunakan nama aslinya.
"Lembah hitam, Yan Jian!" ucap Yan Jian dengan tegas, memperkenalkan dirinya sembari menumpukkan kedua tangannya di depan dada.
Liu Gu terkejut! Kedua sudut matanya melebar. Dan Shi Wang juga terkejut, tetapi dia tidak berkomentar apapun, hanya menunjukan ekspresi wajahnya yang sinis, seolah-olah tengah menyembunyikan maksud tersembunyi.
"Lembah Hitam? Hm! Menarik!" kata Liu Gu, kembali memandang Yan Jian dengan tatapan yang menilai, "Kau sungguh ingin bertarung denganku?" tanya Liu Gu, lagi. Mencoba meyakinkan tantangan Yan Jian.
Yan Jian pun menjawabnya; "Ya, benar! Tapi, aku ingin mengajukan satu syarat kepada Tian Muda Liu Gu! Semoga Tuan Muda berkenan menyetujuinya." ucap Yan Jian dengan sangat ramah.
Liu Gu melipat sebelah tangannya di dada, dan sebelah tangannya di topang dengan telapak tangannya yang memegangi dagunya sendiri. Lalu, ia pun berjalan mendekati Yan Jian.
"Syarat apa yang kau maksud, bocah kecil?" tanya Liu Gu dengan nada yang dingin.
Yan Jian mendecih, "Cih! Berhenti berkata kalau aku bocah kecil! Seharusnya, usia kita hanya berbeda dua sampai tiga tahun saja!" ujar Yan Jian. Perkataannya membuat Liu Gu merasa kesal dan mengepalkan tinjunya dengan kuat.
"Baiklah! Syarat yang ingin aku ajukan adalah pedang di tanganmu!" telunjuk Yan Jian mengarah kepada Pedang di tangan Liu Gu, "Kalau aku menang, pedang itu harus menjadi milikku!" sambung Yan Jian.
Liu Gu melirik pedangnya, kemudian kembali menatap Yan Jian.
"Ini adalah Pedang Terlarang! Tentu saja aku akan memberikannya, karna memang ini adalah salah satu hadiah untuk sang juara. Namun, bisa atau tidaknya kamu mendapatkan pedang ini, itu semua tergantung pada kemampuanmu sendiri, tapi, aku rasa kamu tidak akan berhasil." ucap Liu Gu, masih percaya diri bahwa Yan Jian tidak akan mampu mengalahkannya.
Yan Jian pun segera menggambar segaris senyuman tipis, lalu berbicara; "Kalau begitu ... mohon bimbingannya, Tuan Muda Liu Gu!" ucap Yan Jian. Dia tidak sedikitpun menunjukan rasa takut terhadap Liu Gu.
"Cih! Aku tidak akan berbelas kasih!" sahut Liu Gu dengan nada yang sinis.
Tiba-tiba! Nona Muda Liu Qingchen berbicara, "Namamu ... Yan Jian, kan?" tanya Liu Qingchen dengan nada yang dingin.
Yan Jian pun menatap Liu Qingchen, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Yan Jian, hormat kepada Nona Liu!" ucap Yan Jian, memberi salam hormat kepada Liu Qingchen.
Liu Qingchen terdiam selama beberapa detik, lalu ia pun berbicara; "Aku tidak peduli kau akan menang atau kalah dalam pertarungan ini. Tapi, baik menang ataupun kalah, aku bersedia menjadi wanitamu!"
Pernyataan Liu Qingchen dengan nada yang tegas itu membuat semua orang terkejut! Bahkan Liu Gu pun sontak menoleh ke arah Liu Qingchen, menatapnya dengan sangat serius.
"Adik, omong kosong apa yang kau bicarakan?" bentak Liu Gu. Tetapi Liu Qingchen acuh tak acuh, tidak mendengarkannya. Melainkan ia pun melepaskan topi berkerudung yang menyembunyikan wajahnya.
Semua orang tahu, Liu Qingchen tidak pernah memperlihatkan wajahnya terhadap dunia luar, bahkan hanya beberapa generasi muda yang mengetahui wajah asli Liu Qingchen sebagai sesama generasi muda Keluarga Liu. Namun, dia pernah berkata bahwa dia akan melepaskan topi berkerudung nya di saat dia telah menetapkan pilihan hatinya untuk seorang laki-laki.
Itu membuat Yan Jian terkejut, Kepala Keluarga Liu dan istrinya terkejut, bahkan semua orang ikut terkejut.
Yan Jian membelalakkan matanya, menatap Liu Qingchen. Namun, ia segera menyesuaikan dirinya dan tersenyum sembari menumpukkan kedua tangannya di depan.
"Suatu kehormatan bagiku, menerima tawaran dari Nona Liu. Tapi ... aku ingin fokus untuk bertarung terlebih dahulu, soal tawaran Nona Liu ... akan aku pikirkan kembali." kata Yan Jian dengan sangat ramah.
Liu Qingchen pun tersenyum, memperlihatkan kecantikan dan keanggunan nya yang sangat sempurna. Kemudian dia berjalan ke depan; menempatkan dirinya tepat di hadapan Yan Jian.
Mereka saling menatap satu sama lain, namun itu membuat Yan Jian merasa canggung hingga bertingkah aneh.
"A— a, ha haa! Sebaiknya kita mulai, Tuan Muda Liu!" Yan Jian melangkah mundur dan melirik Liu Gu.
"Hm! Apakah aku sangat menakutkan? Sehingga kamu terus menghindar dariku, Jian!" ucap Liu Qingchen dengan nada yang nakal.
"Ah, tidak! Bukan begitu mak ... sudku ...!?" perkataan Yan Jian terhenti di saat Liu Qingchen tiba-tiba meletakkan telunjuknya di bibir Yan Jian. Membuat raut wajah Yan Jian seolah-olah terbangun, kedua matanya melebar, terkejut.
Yan Jian berdiri mematung di saat Liu Qingchen melepaskan telunjuknya yang menempel di bibir Yan Jian. Namun, tiba-tiba Liu Qingchen mengecup bibir Yan Jian dengan bibir tipisnya yang merah merona dan begitu lembut.
Suasana itu menjadi semakin hening. Semua orang menahan nafasnya, bahkan orang tua Liu Qingchen pun terkejut.
seorang Xiao Lang kaisar tempur masa kalah sama raja tempur.
sudah jekas tingktan nya lebih tinggi Kaisar tempur dri raja tempur.!!
Raja tempur itu kan di bawah Kaisar tempur,masa menghadapi 2 orang raja tempur kalah si Xiao kang yg tingktan nta Kaisar tempur yg lebih tinggi.
Seru dan sangat mudah dimengerti alurnya Thor. Tapi agak lambat buat naikin kekuatannya Yan Jian. Semangat thor