"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Alkan adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Alkan, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31
Pagi itu, suasana di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika mendadak berubah dari formal menjadi mencekam. Alkan berdiri di depan layar monitor raksasa di War Room, sementara puluhan staf ahli tertunduk lesu. Fitnah tentang "Nepotisme Akademik" semalam ternyata hanyalah umpan untuk serangan yang lebih besar: Situs resmi pemerintah sedang diserang oleh kelompok peretas internasional.
"Prof, sistem kita di-breach! Mereka mengganti halaman depan situs dengan foto pernikahan Anda dan tulisan 'Keadilan untuk Mahasiswa Tertindas'," lapor seorang staf dengan suara gemetar.
Alkan menatap layar itu datar. "Bagus. Selera desain mereka buruk sekali. Pakai font Comic Sans? Itu kejahatan estetika yang lebih parah daripada peretasan itu sendiri."
Di tengah suasana yang tegang, Sasya datang ke kantor membawa bekal makan siang—dan Aidan yang sedang rewel. Ia masuk tepat saat Alkan sedang memberikan instruksi teknis yang sangat rumit.
"Mas, ini Aidan nggak mau diam. Katanya dia mau ikut coding," ujar Sasya, mencoba mencairkan suasana meskipun ia sendiri cemas melihat wajah suaminya yang serius.
Alkan menoleh, lalu menggendong Aidan yang langsung berusaha meraih kabel keyboard. "Aidan, jangan sekarang. Kamu belum punya sertifikasi cyber security. Nanti kalau kamu pencet Enter, satu kementerian bisa libur nasional."
Para staf yang tadi tegang mulai menahan tawa. Alkan kembali menatap layar. "Oke, semuanya kembali fokus. Sasya, kamu duduk di kursi saya. Kalau ada hacker yang masuk lagi, tolong kamu omeli pakai nada suara kamu kalau lagi marah sama saya. Saya yakin mereka bakal langsung log-off karena ketakutan."
"Mas Alkan!" Sasya mencubit pinggang Alkan, membuat suasana makin riuh oleh tawa kecil para staf.
Tiba-tiba, layar berubah merah. Si peretas mengirimkan pesan langsung ke layar Alkan: "Serahkan kode enkripsi satelit, atau kami bongkar data pribadi istrimu!"
Alkan terdiam. Suasana kembali mencekam. Ia menarik napas panjang, jemarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tak masuk akal.
"Kalian salah alamat," gumam Alkan.
Bukannya memberikan kode, Alkan justru meluncurkan program balik yang ia beri nama "The Sleeping Wife". Dalam sekejap, layar si peretas di seberang sana terkunci, dan yang muncul adalah video rekaman Alkan yang sedang menggendong Aidan sambil bernyanyi lagu pengantar tidur yang sangat sumbang.
"Saya berikan kalian senjata pemusnah massal: suara saya saat menyanyi. Nikmati telinga kalian yang berdenging," ujar Alkan ke arah mikrofon.
Dua menit kemudian, peretasan berhenti total. Si peretas sepertinya lebih memilih menyerah daripada harus mendengar Alkan menyanyi lebih lama lagi.
Sore harinya, Alkan mengadakan konferensi pers mendadak. Ribuan wartawan berkumpul, siap mencecar soal tuduhan nepotisme. Alkan berdiri di podium, sementara Sasya berdiri di sampingnya dengan anggun.
"Banyak yang bilang saya menikahi mahasiswi saya demi riset," Alkan memulai. "Itu salah besar. Saya menikahi Sasya karena hanya dia yang sanggup meng-enkripsi hati saya yang sebelumnya cuma berisi angka-angka kaku."
Ia kemudian membuka sebuah slide raksasa. "Dan soal video viral semalam, kami sudah melacak pengirimnya. Ternyata dia adalah mantan pelamar beasiswa yang saya tolak karena dia menulis 'Python' dengan huruf 'Y' di tengah, bukan 'i'. Saya tidak bisa memercayakan masa depan bangsa pada orang yang typo nama bahasa pemrograman."
Gerrr! Seluruh ruangan wartawan meledak dalam tawa. Fitnah itu runtuh seketika oleh kejujuran dan humor Alkan yang cerdas.
Malam itu, mereka kembali ke rumah dinas. Aidan sudah tertidur pulas di tangan pengasuh. Alkan dan Sasya masuk ke kamar, menutup pintu rapat-rapat dari hiruk-pikuk dunia politik.
Sasya melepaskan blazernya, menatap Alkan dengan tatapan bangga. "Mas hebat tadi. Terutama bagian nyanyi itu. Aku hampir pingsan dengarnya."
Alkan tertawa, menarik pinggang Sasya hingga mereka beradu napas. "Itu strategi psikologis, Sya. Musuh paling kuat pun akan tumbang kalau dengar suara sumbang suami kamu ini."
Ketegangan seharian itu mendadak berubah menjadi gairah yang membara. Alkan mencium Sasya dengan penuh kemenangan. Ia mengangkat tubuh istrinya ke atas tempat tidur, tidak membiarkan ada satu detik pun terbuang.
"Malam ini, nggak ada menteri, nggak ada profesor," bisik Alkan di telinga Sasya, tangannya mulai membuka kancing kemejanya sendiri dengan tergesa. "Cuma ada laki-laki yang sangat lapar akan istrinya."
Penyatuan mereka malam itu terasa sangat liar namun penuh cinta. Di tengah gempuran dunia yang mencoba menjatuhkan mereka, Alkan dan Sasya justru semakin kokoh. Lenguhan Sasya yang panjang dan bergetar menjadi tanda bahwa sistem cinta mereka telah mencapai titik stabil paling puncak. Alkan tidak berhenti hingga Sasya mencapai kepuasan berkali-kali, merayakan setiap jengkal kemenangan mereka dengan keringat dan gairah yang tak ada habisnya.