Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan Pertama
Bulan kesembilan adalah waktu yang penuh kecemasan. Reza telah resmi berhenti menjadi sopir borongan Bang Jago. Dengan tabungan yang ia kumpulkan dari ribuan kilometer aspal, ia menyewa sebuah rumah petak kecil yang lebih layak di dekat pasar induk. Ia tidak ingin Anya terus menumpang di rumah Ibu Budi saat bayinya lahir nanti.
Reza mulai merintis usahanya sendiri: "Kurir Jujur ". Modalnya hanya satu motor (yang akhirnya ia beli dari Budi dengan harga persahabatan) dan sebuah komitmen bahwa ia akan mengantar apa saja, kapan saja, tanpa pungli.
"Za, sepertinya sekarang..." Anya merintih di suatu Selasa malam yang dingin.
Reza yang sedang menghitung nota pengiriman langsung melompat. Ia tidak panik. Hidup di jalanan telah melatih jantungnya untuk tetap stabil di bawah tekanan. Ia menggendong Anya ke dalam mobil sewaan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.
Di bidan desa yang diterangi lampu kuning temaram, Reza menggenggam tangan Anya sekuat tenaga. Ia melihat perjuangan seorang wanita yang dulu hanya tahu cara berbelanja di mal, kini berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan sebuah nyawa.
"Ayo, Anya! Kamu sudah melewati Gery, kamu sudah melewati masa aman, ini cuma satu langkah lagi!" bisik Reza di telinga Anya.
Tepat pukul 03.15 pagi jam yang sama saat Reza biasanya memulai mesin truknya sebuah suara melengking memecah kesunyian Bogor. Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat.
Bidan menyerahkan bayi itu kepada Reza. Tangan Reza yang kasar, penuh bekas luka knalpot dan kapalan, bergetar saat menyentuh kulit bayi yang begitu lembut. Ia menangis. Bukan tangisan karena gagal mati, bukan tangisan karena hutang, tapi tangisan karena ia baru saja melihat alasan paling nyata untuk tetap bernapas.
"Siapa namanya, Za?" tanya Anya dengan suara lemah namun bahagia.
Reza menatap gelang tali kuning di pergelangan tangannya, lalu menatap putranya. "Namanya Fajar Satria . Fajar karena dia lahir di saat kegelapan paling pekat berakhir. Satria karena dia akan belajar menjadi pelindung, bukan penindas."
Minggu-minggu pertama menjadi ayah adalah babak baru yang lebih melelahkan daripada rute Bogor-Semarang. Reza bekerja belas jam sehari. Pagi hari ia mengantar sayuran ke pelanggan pasar, siang hari ia menjadi kurir paket ekspres, dan malam hari ia menjaga Fajar agar Anya bisa istirahat.
Namun, kejujuran Reza mulai membuahkan hasil. Para pedagang pasar lebih suka memakai jasa Reza karena barang mereka tidak pernah berkurang satu ons pun. Bisnis "Kurir Jujur" mulai kewalahan.
Suatu sore, Budi datang berkunjung dengan membawa dua kardus besar. "Woi, Mas Drama! Eh, sekarang sudah jadi Mas Bos ya?"
"Jangan mengejek, Bud. Masih cari makan di aspal juga," sahut Reza sambil menggendong Fajar yang sedang tertidur.
Budi duduk di teras kecil itu. "Aku serius, Za . Di Jakarta, teman-teman kurir banyak yang tanya soal sistem kerja kamu. Mereka bosan ikut perusahaan besar yang potongannya gila-gilaan. Gimana kalau kita bikin koperasi kurir? Kamu yang pegang logistiknya, aku yang cari orangnya."
Reza terdiam. Otak startup-nya yang dulu sempat mati, tiba-tiba berdenyut kembali. Tapi kali ini, ia tidak ingin membangun startup untuk mencari valuasi miliaran rupiah atau pamer di depan investor. Ia ingin membangun sesuatu yang nyata untuk orang-orang seperti dia: orang-orang yang hanya punya motor dan kejujuran untuk bertahan hidup.
"Boleh, Bud. Tapi syaratnya satu," kata Reza tegas.
"Apa?"
"Setiap kurir harus punya asuransi kecelakaan dan tidak ada bunga pinjaman kalau mereka butuh uang darurat. Kita tidak mau ada 'Gery-Gery' lain di dalam organisasi kita."
Budi menjabat tangan Reza dengan mantap. "Setuju."
Di dalam rumah, Anya keluar membawa dua gelas teh hangat. Ia melihat suaminya sedang merencanakan sesuatu yang besar. Ia tahu, pria yang dulu ingin gantung diri dengan tali jemuran kuning itu kini telah benar-benar mati. Pria yang ada di depannya sekarang adalah seorang ayah, seorang pemimpin, dan seorang kurir harapan bagi banyak orang.
Malam itu, sebelum tidur, Reza melepas gelang tali kuningnya yang sudah mulai pudar warnanya. Ia tidak membuangnya. Ia menyimpannya di dalam kotak kayu kecil di atas lemari.
"Sudah tidak dipakai lagi?" tanya Anya.
"Peringatannya sudah masuk ke sini," Reza menunjuk dadanya. "Aku tidak butuh tali untuk mengingat bahwa aku berharga. Aku hanya butuh kalian."
Babak baru kehidupan mereka baru saja dimulai. Dari sebuah kamar apartemen yang kosong, menuju sebuah rumah yang penuh dengan suara tangis bayi dan rencana masa depan. Hidup memang konyol, tapi Reza akhirnya mengerti: Tuhan tidak menyelamatkannya lewat seorang malaikat, melainkan lewat sepotong ayam geprek dan seorang kurir yang tidak mau berhenti mengetuk pintu.
Membangun sesuatu dari reruntuhan ternyata jauh lebih memuaskan daripada membangun sesuatu dari tumpukan modal investor yang tidak punya hati. Dalam waktu enam bulan, koperasi Kurir Jujur bukan lagi sekadar obrolan di teras rumah. Dari satu motor bebek milik Budi, kini ada tiga puluh motor yang setiap pagi berbaris rapi di depan gudang kecil yang Reza sewa di pinggiran Bogor.