Ini adalah memoar hidup aku. Segala hal yang aku ceritakan di sini adalah kejadian nyata yang pernah aku alami. Nama tokoh aku samarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang bersangkutan. Aku menulis ini karena aku pelupa, jadi aku cuma enggak mau suatu saat apa yang aku ceritakan di sini aku lupakan begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Tabu
Ani...
Panggil saja begitu.
Di mataku, gadis itu adalah perempuan pertama yang membuatku merasa menjadi seratus persen pria dewasa. Hubungan kami cukup aneh. Enggak ada kesepakatan pacaran, enggak ada ungkapan cinta, atau bahkan kata sayang.
Pertemuan pertamaku dengan perempuan itu lumayan kocak. Setelah beberapa lama kami SMS-an, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Berbekal sepeda motor pinjaman, aku memberanikan diri menemui Ani.
Kebetulan, jarak rumahnya cuma sekitar tiga puluh menit dari minimarket tempat aku bekerja. Jadi, dia yang memilih tempat pertemuan. Aku sendiri enggak terlalu hafal daerah situ.
Kesan pertamaku, aku kira dia masih anak SMA. Yup, usianya memang tujuh tahun di atas aku, tapi wajah dan bentuk tubuhnya lebih mirip anak SMA. Awalnya aku agak bingung. Sempat aku bilang, “Kamu bohongin aku, ya? Kamu bilang usia kamu jauh lebih tua dari aku, tapi kok kelihatannya enggak gitu?”
Dan dia cuma ketawa. Katanya, aku orang ke seratus yang bilang begitu ke dia.
Di pertemuan pertama itu, aku cukup kikuk. Ini pertemuan pertamaku dengan perempuan dewasa. Tapi Ani selalu terlihat berusaha membuatku nyaman.
Awalnya, dia berusaha menempel padaku, layaknya orang pacaran. Tapi karena dia tahu aku terlihat enggak nyaman, akhirnya dia mulai memosisikan diri supaya enggak terlihat terlalu intim. Memang agak aneh, tapi dulu aku cukup naif soal hal beginian.
Kenapa aku canggung sama Ani?
Jelas. Aku datang menemuinya cuma berbekal sepeda motor, sementara dia datang membawa mobil. Aku langsung merasa minder. Ketimpangan ekonomi itu nyata banget. Tapi dia selalu pintar menempatkan posisinya, berusaha supaya aku tetap nyaman.
Hubunganku dengan Ani jadi semakin dekat setelah pertemuan itu. Kami jadi lebih sering bertemu, sekadar makan bareng, atau keliling kota dengan mobilnya. Yup, dia yang nyetir, karena aku memang enggak bisa nyetir mobil sampai sekarang... hahaha.
Sampai di titik...
Ini pertama kalinya aku melakukan seks secara nyata. Bukan sekadar SMS seks, tapi seks beneran. Awalnya aku enggak pernah mikir ke arah sana. Lagian, aku cukup naif waktu itu.
Sampai suatu hari aku libur. Aku enggak pulang ke rumah, masih di minimarket. Karena tahu aku libur, Ani mengajakku keluar. Jadi, dengan modus aku pulang ke rumah... biar anak-anak yang lain enggak curiga... dia menjemputku.
Dia bilang, “Temenin aku nginep di hotel. Aku lagi suntuk di rumah.”
Dengan polosnya, aku mengiyakan tanpa mikir aneh-aneh, karena aku dulu memang sepolos itu.
Di kamar hotel, awalnya kami enggak ngapa-ngapain. Sampai dia mulai bertanya,
“Emh... boleh minta tolong enggak? Kan kita lagi berdua saja, nih, di hotel.”
Dari kata-kata sederhana itu, aku langsung sadar. Aku yang masih kikuk, langsung mengerti.
Akhirnya... untuk pertama kalinya, aku bener-bener menyentuh tubuh perempuan.
Tapi kalau kupikir-pikir lagi, itu bukan seks yang normal. Itu lebih seperti aku dijadikan objek pemuas nafsunya.
Gini...
Awalnya dia cuma mengajak kissing, tapi kemudian berlanjut lebih jauh. Dia mulai minta aku meraba dadanya dan bagian intimnya. Aku, dengan polosnya dan rasa penasaran seorang pria, menuruti saja kemauannya.
Sampai puncaknya, dia menyuruh aku menjilat bagian intimnya. Rasanya aneh, baunya asing, aku hampir muntah. Tapi dia bilang, “Tahan, dong. Jangan muntah di ranjang.”
Aku pengen berhenti karena enggak enak, tapi Ani malah menjepit kepalaku pakai kakinya.
Semua berakhir ketika dia klimaks.
Di mataku sekarang, itu bukan seks normal. Aku sama sekali enggak dapat kepuasan. Ini lebih mirip aku lagi diperkosa.
Dan hari-hariku dengan Ani dihabiskan dengan hal-hal seperti itu. Segala macam gaya pemuasan nafsu perempuan pernah aku coba. Semuanya muncul begitu saja dari ide-ide liarnya Ani.
Sampai suatu saat aku mulai berontak. Aku menuntut juga ke Ani. Aku juga pengen dipuasin, bukan cuma dia. Dan... dia akhirnya melakukan hal itu.
Di titik ini, aku mulai kalap...
Hal-hal yang sangat liar, seperti aku melakukan pembalasan dendam. Tapi... aku enggak yakin apakah ini pantas diceritakan atau enggak. Aku mikir berkali-kali sebelum menulis ini.
Jadi...
Aku bener-bener memuaskan fantasi aku pada tubuh Ani. Seks yang kasar, tali, pentungan, dan kekerasan. Intinya, ini seks yang sangat tabu. Ini bener-bener menyimpang.
Aku melakukan itu... ke Ani.
Setelah itu, pandangan Ani ke aku berubah. Seperti ada rasa takut yang dalam banget. Aku juga mulai posesif ke Ani. Aku mulai merasa memiliki tubuhnya.
Akhirnya, konflik demi konflik terjadi. Setiap konflik selalu berakhir dengan seks yang penuh kekerasan.
Aku yang awalnya bener-bener polos, semuanya berubah. Bukan aku yang memulai, dia yang mengawali. Tapi aku pikir, dia sedang membangunkan macan yang sedang tidur.
Sampai akhirnya, Ani juga mulai menikmatinya. Dia mulai berfantasi lebih liar dari aku.
Tapi aku selalu punya batasan. Seliar apa pun seks yang aku lakukan sebelum menikah, pantang buat aku memasukkan bagian intimku ke dalam dirinya. Ini prinsipku sebagai pria. Agak naif memang, tapi aku tahu aku enggak mau merusak masa depan perempuan dengan membuat dia hamil di luar nikah.
Hubunganku dengan Ani enggak berjalan terlalu lama. Akhir dari hubungan ini adalah sesuatu yang cukup menyakitkan.
Jadi, kira-kira sudah lebih dari satu bulan aku sama dia enggak saling bersentuhan. Tiba-tiba saja dia mengajak ketemuan. Bukan di hotel atau di rumahnya, tapi di sebuah kafe. Dia mengenakan dress yang cukup tertutup, enggak biasanya.
Dengan nada yang cukup berat, dia bilang,
“Aku hamil,” sambil menunjukkan perutnya yang belum terlalu membuncit.
Aku kaget bercampur marah.
“Loh... siapa yang menghamili kamu? Bukannya aku enggak pernah masukin kamu?”
Sambil nangis, dia bilang kalau yang menghamili dia adalah cowoknya. Yang punya status kurang lebih sama seperti aku.
Aku kecewa parah.
Tapi waktu itu, dengan pikiran yang kacau, aku malah bilang, “Kalau cowok itu enggak mau nikahin kamu, biar aku yang nikahin kamu.”
Dia menggeleng.
Katanya, seminggu dari sekarang, cowoknya itu... yang menghamili dia... mau ketemu orang tua dia untuk tanggung jawab.
Aku patah hati... lagi dan lagi.
Meski hubunganku dengan Ani tanpa ada pernyataan pacaran atau bahkan ungkapan cinta, jujur saja, setelah beberapa kali berhubungan, aku mulai merasakan perasaan memiliki dan cinta.
Rupanya, pertemuan itu adalah perpisahan kami.
Aku yang sangat kecewa, marah, bercampur cemburu, bingung, dan dengan pikiran penuh gejolak... aku minta seks ke dia untuk terakhir kalinya.
Kali ini, aku bener-bener masukin dia. Aku keluarin di dalam. Aku melanggar prinsipku sendiri.
Aku mikir berkali-kali buat menceritakan ini. Aku malu, aku takut. Ini sesuatu yang seharusnya enggak pernah aku lakukan.
Tapi pada akhirnya, aku jatuh juga ke dosa ini.
Setelah malam terakhir itu, aku enggak pernah dengar lagi kabar dari Ani sampai hari ini aku menulis ini. Aku cuma berharap yang terbaik buat kehidupannya.
Meski aku kecewa dan marah, aku enggak pernah benci sama Ani.
Kalau Vati adalah perempuan yang pertama kali mengajariku segala hal tentang seks, Ani adalah perempuan yang pertama kali membuatku mempraktikkannya.
Hari-hari itu sudah berlalu sekarang.
Bahkan beberapa waktu yang lalu, aku sempat bener-bener melupakan sosok Ani. Bahkan wajahnya secara detail pun sudah agak lupa.
Yang aku ingat, dia perempuan dewasa yang bertubuh anak SMA.
---
Kalau kalian suka, kalian bisa mentraktirku kopi, dengan mengklik link di profilku, atau search link ini di browser kalian https://trakteer.id/lilbonpcs thanks sudah mengapresiasi karya ini...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥