NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: GALA IBLIS

#

Arjuna berdiri di depan cermin, tangannya gemetar pasang dasi untuk kali keempat. Kenapa dasi ini susah sekali dipasang dengan benar? Kenapa tangan biasanya bisa pukul orang sekarang gak bisa pasang sepotong kain?

"Biar aku bantu," kata Pixel sambil dekatin dia. Tangan temannya itu cekatan ngerapiin dasi yang udah berantakan. "Kau terlalu tegang. Napas yang dalam. Santai."

"Gimana aku bisa santai?" Arjuna menatap mata Pixel lewat cermin "Sebentar lagi aku akan ketemu monster yang bunuh ratusan orang. Monster yang ambil Sari. Dan aku harus pura pura jadi investor sopan yang cuma mau networking?"

"Ya," jawab Pixel sambil step back, cek penampilannya. "Persis seperti itu. Kau sudah latihan tiga bulan untuk ini. Kau bisa."

Arjuna natap dirinya lagi di cermin. Jas hitam yang pas di badan. Kemeja putih yang dikancingkan rapi, Dasi biru gelap yang sekarang udah lurus. Sepatu kulit mengkilap. Rambut yang disisir rapi ke belakang pakai gel.

Dia hampir gak kenal orang yang natap balik.

"Pasanganmu sudah datang," kata Hendrawan dari ruang tamu. "Dia nungguin di bawah."

Arjuna turun ke lobby apartemen. Di sana berdiri seorang wanita muda, mungkin umur duapuluh lima-an. Cantik. Rambut panjang diikat setengah, gaun merah yang elegan tapi gak terlalu menor. Dia tersenyum pas lihat Arjuna.

"Tuan Arka?" suaranya lembut tapi ada sesuatu di matanya yang terlihat... kosong. Seperti dia udah terbiasa jadi apapun yang kliennya mau. "Saya Lila. Senang bertemu anda."

"Lila," Arjuna jabat tangannya. Tangannya lembut, dingin "Terima kasih sudah mau menemani saya malam ini."

"Tentu," jawabnya sambil kaitkan tangannya ke lengan Arjuna dengan gerakan yang udah dilatih. Natural tapi dipaksain. "Pak Hendrawan sudah jelasin apa yang harus saya lakukan. Saya akan jadi pasangan yang baik. Senyum, ngobrol ringan, gak tanya yang gak perlu ditanya."

"Sempurna," gumam Arjuna.

Mereka naik mobil yang udah standby, Mobil mewah yang Hendrawan sewa untuk malam ini. Driver pakai seragam lengkap, profesional, gak banyak ngomong. Mungkin juga orang bayaran Hendrawan.

Perjalanan ke hotel cuma duapuluh menit tapi terasa seperti dua jam. Arjuna gak bisa diem. Kaki terus gerak gerak, tangan terus ngepal dan buka lagi. Lila ngeliatin tapi gak bilang apa apa.

"Ini pertama kalinya?" tanyanya akhirnya.

"Pertama kalinya apa?"

"Datang ke gala kaya gini. Kelihatan dari cara anda gugup."

Arjuna gak tau harus jawab apa. Dia gak bisa bilang yang sebenarnya, tapi dia juga gak pinter bohong.

"Ya," akhirnya dia bilang. "Pertama kali."

"Jangan khawatir," Lila senyum. Senyum yang udah dia latih untuk menenangkan klien yang gugup. "Saya akan bantu anda. Cuma ikuti langkah saya dan jangan terlalu banyak mikir. Orang orang di sana lebih tertarik sama diri mereka sendiri daripada perhatiin orang lain."

Mobil berhenti di depan hotel termewah di kota. Grand Mahakam Hotel. Lima belas lantai kaca yang mengkilap. Pintu masuk dengan karpet merah yang panjangnya puluhan meter. Fotografer di kanan kiri yang motret setiap tamu yang datang.

"Kita turun," kata Lila sambil tunggu driver bukain pintu,

Arjuna turun, hulurkan tangannya buat bantu Lila turun. Flashlight kamera langsung menyala. Dia harus paksa diri untuk gak tutup mata. Harus paksa diri untuk tersenyum.

"Tuan Arka! Lihat kesini!"

"Tuan Arka dengan siapa anda malam ini?"

Pertanyaan pertanyaan yang dia abaikan. Lila pegang tangannya lebih kuat, bisik "jalan terus. Jangan berhenti."

Mereka masuk ke lobby yang megah. Lantai marmer yang mengkilap bersih. Lampu kristal raksasa yang bergantung dari langit langit. Tangga lebar dengan pagar emas yang naik ke lantai dua dimana ballroom berada.

Di tangga itu, berdiri dua orang penjaga dengan jas hitam. Mereka cek undangan setiap tamu yang mau naik.

Arjuna keluarkan undangannya, serahkan dengan tangan yang berharap gak kelihatan gemetar.

Penjaga itu liat undangan. Liat Arjuna. Liat undangan lagi, Lalu dia scan barcode di undangan itu pakai alat kecil.

Detik detik menunggu terasa seperti abadi. Kalau undangan palsu terdeteksi sekarang, semua rencana hancur sebelum mulai.

"Tuan Arka Wicaksono dan pasangan," baca penjaga itu. Lalu dia senyum, balikin undangan. "Selamat menikmati gala, Tuan."

Arjuna bisa napas lagi.

Mereka naik tangga. Di atas, pintu ballroom sudah terbuka. Musik orkestra mengalun keluar. Suara orang ngobrol dan ketawa terdengar meriah.

Arjuna melangkah masuk dan..

Dan dia hampir berhenti napas.

Ballroom itu seperti istana. Plafon tinggi dengan lukisan malaikat dan awan. Lampu kristal dimana mana yang bikin ruangan terang tapi tetap elegan. Meja meja bundar dengan taplak putih bersih dan bunga mawar merah di tengahnya. Panggung besar di depan dengan podium untuk pidato nanti.

Dan orang orang. Ratusan orang. Semua pakai baju mahal. Jas dengan merek yang harganya seharga mobil. Gaun dengan perhiasan yang berkilau lebih terang dari lampu. Ini dunia yang Arjuna gak pernah liat. Dunia yang gak pernah dia bayangin ada.

"Wow," bisik Lila. "Ini.. ini lebih megah dari yang aku pikir."

"Ya," gumam Arjuna sambil mata terus scan ruangan. Nyari satu orang. Satu wajah yang dia hapal di luar kepala meski udah tiga bulan gak ketemu.

Sari.

Dimana dia?

"Ayo kita ambil minum dulu," kata Lila sambil tarik tangannya ke arah meja minuman.

Arjuna ikutin sambil mata tetap waspada. Di saku jasnya ada earpiece kecil yang nyambung ke Pixel yang sekarang ada di ruang kontrol keamanan sebagai "teknisi". Dia gak bisa bicara di sini terlalu banyak orang. Tapi dia bisa dengar.

"Aku sudah masuk," suara Pixel pelan di telinganya. "Sekarang lagi pasang device. Butuh lima menit."

Arjuna ambil gelas sampanye dari pelayan yang lewat. Pura pura minum padahal cuma bibir yang menyentuh gelas, Dia gak boleh mabuk malam ini. Gak boleh lengah sedikitpun.

"Kau kenal seseorang di sini?" tanya Lila.

"Tidak," jawab Arjuna. "Aku baru di kota ini. Masih nyari koneksi."

"Maka sekarang waktu yang tepat," Lila senyum sambil tunjuk sekelompok pria yang lagi ngobrol deket jendela. "Itu Pak Hendra, direktur bank terbesar. Di sebelahnya Pak Budi, pemilik perusahaan konstruksi. Kau mau aku kenalin?"

"Nanti," kata Arjuna. Matanya nangkep sesuatu. Seseorang.

Di ujung ruangan, dekat panggung, berdiri seorang pria.

Tinggi. Mungkin seratus delapan puluhan. Postur atletis yang kelihatan bahkan lewat jas mahal yang dia pakai. Rambut hitam disisir rapi, sedikit memutih di pelipis yang bikin dia terlihat distinguished. Wajah tampan dengan rahang tegas dan mata yang... mata yang dingin meski dia tersenyum.

Adrian Mahendra.

Kaisar Kelam.

Monster yang Arjuna buru selama ini.

Dan dia berdiri di sana. Santai. Ngobrol sama menteri sambil ketawa. Seperti dia bukan pembunuh ratusan orang. Seperti dia bukan monster.

Arjuna rasakan marah naik dari perutnya, panas, membakar. Tangannya ngepal begitu kuat sampai kuku mencakar telapak tangannya sendiri. Dia mau jalan kesana. Mau teriak. Mau pukul wajah pria itu sampai...

"Arjuna," suara Pixel di earpiece. Keras. Peringatan. "Jangan. Jangan lakukan apapun. Tahan."

Arjuna ambil napas dalam. Satu. Dua. Tiga. Perlahan tangannya mengendur.

"Kau baik baik saja?" tanya Lila sambil pegang lengannya. "Mukamu merah."

"Aku baik," bohong Arjuna. "Cuma panas di sini."

Lalu dia lihat dia.

Sari.

Berdiri di samping Adrian dengan gaun putih yang cantik. Rambutnya diikat tinggi. Makeupnya sempurna. Dia tersenyum sambil ngobrol dengan istri menteri.

Tapi matanya...

Matanya kosong.

Arjuna rasakan dadanya sakit. Bukan sakit fisik, tapi sakit yang lebih dalam. Sakit yang bikin dia pengen robek dadanya sendiri dan keluarin hatinya yang terasa dicabik cabik.

Itu Sari. Sari yang dia kenal. Sari yang dia sayang. Tapi juga bukan Sari. Ini versi Sari yang udah dipoles. Yang udah dibentuk ulang jadi apa yang Adrian mau.

"Device terpasang," suara Pixel. "Aku sekarang punya akses ke sistem keamanan mereka. Dan Arjuna... ada sesuatu yang kau harus tau."

"Apa?" bisik Arjuna pelan sambil pura pura ngobrol sama Lila.

"Sari... Sari yang hack sistem Axion sekarang. Dari ballroom. Entah dia pakai apa tapi aku detect ada upaya infiltrasi dari dalam ruangan ini. Dan signature nya... itu pasti Sari."

Arjuna menatap Sari lagi. Gadis itu sekarang megang gelas wine, ngobrol dengan menteri. Tapi tangan satunya di saku gaun, ada sesuatu di sana, mungkin ponsel kecil atau device lain.

Dia lagi nyabotase sistem Adrian.

Dia gak menyerah.

"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya," suara dari speaker. "Silahkan duduk. Acara akan segera dimulai."

Orang orang mulai bergerak ke meja masing masing. Arjuna cek nomor di undangannya. Meja duapuluh tiga. Di tengah ruangan.

Sari ada di meja satu. Tepat di depan panggung. Bersama Adrian.

Arjuna duduk dengan Lila. Di meja mereka ada lima orang lain. Pengusaha dan pasangan mereka. Mereka ngobrol ramah, perkenalan, nanya tentang bisnis Arjuna. Dia jawab dengan jawaban yang udah dia hapalin. Perusahaan teknologi. Baru balik dari Singapura, Cari investasi di Indonesia.

Tapi pikirannya gak di sana. Pikirannya di meja satu. Di Sari yang duduk dengan punggung tegak, senyum sempurna, matanya yang kosong.

"Dan sekarang," suara MC dari panggung. "Mari kita sambut tuan rumah malam ini. Pengusaha sukses, dermawan, dan inspirasi bagi kita semua. Tuan Adrian Mahendra!"

Tepuk tangan riuh. Adrian berdiri, senyum lebar sambil lambaikan tangan. Dia naik ke panggung dengan langkah percaya diri orang yang tau dunia ada di genggamannya.

"Selamat malam semuanya," suaranya dalam, karismatik. Suara yang bikin orang mau dengerin. "Terima kasih sudah datang ke gala amal ini. Malam ini kita tidak hanya merayakan kesuksesan tapi juga berbagi kepada mereka yang membutuhkan."

Dia bicara tentang program amal. Tentang sekolah yang dia bangun. Rumah sakit gratis, Beasiswa untuk anak miskin. Semua kebohongan yang terdengar begitu meyakinkan sampai Arjuna hampir mau muntah.

Ini monster yang sama yang bakar desanya. Yang bunuh ratusan orang. Yang perdagangkan manusia seperti barang. Tapi di sini dia pahlawan. Di sini dia dewa.

"Dan aku ingin memperkenalkan seseorang yang sangat spesial," lanjut Adrian. Dia natap ke Sari yang masih duduk. "Putriku yang tercinta. Sari, sayang, naik ke sini."

Sari berdiri. Jalan ke panggung dengan langkah anggun. Adrian peluk dia, cium keningnya dengan lembut.

"Ini putriku Sari," kata Adrian bangga. "Dia akan membantu aku menjalankan yayasan amal kita. Dia punya hati yang baik. Persis seperti... seperti almarhum ibunya."

Arjuna gigit bibir dalem sampai berdarah. Almarhum ibunya? Ibu Sari yang dia jual sendiri? Yang mungkin masih hidup di suatu tempat, jadi budak orang?

Kebohongan. Semua kebohongan.

Pidato selesai. Makan malam dimulai. Hidangan mewah disajiin satu per satu. Arjuna gak bisa makan. Setiap suapan terasa seperti pasir di mulutnya.

"Tuan Arka," suara dari belakangnya. Dalam. Akrab. "Boleh aku duduk sebentar?"

Arjuna noleh dan...

Dan jantungnya berhenti.

Adrian Mahendra berdiri di sana. Senyum ramah di wajahnya. Mata yang... yang seperti liat lewat Arjuna. Lewat topengnya.

"Tentu," kata Arjuna sambil paksa suaranya tetap stabil. "Silahkan, Tuan Mahendra."

Adrian duduk di kursi kosong sebelah Arjuna. Lila dan tamu lain langsung diem, kagum ada orang seimportant Adrian duduk di meja mereka.

"Aku lihat kau dari tadi," kata Adrian sambil ambil gelas wine. "Wajah baru. Belum pernah lihat kau di acara-acara seperti ini sebelumnya."

"Saya baru pindah ke Indonesia," jawab Arjuna. Setiap kata harus dia paksa keluar. "Dari Singapura. Masih nyari koneksi."

"Singapura," Adrian mengangguk. "Kota yang bagus. Bersih. Teratur. Terlalu teratur mungkin. Aku lebih suka sini. Lebih... dinamis."

"Dinamis," ulang Arjuna. Kata code untuk korup dan kacau.

"Ya," Adrian senyum sambil minum. "Kau tau, kau mengingatkan aku pada seseorang."

Darah Arjuna membeku. "Siapa?"

"Teman lama," jawab Adrian sambil natap Arjuna lebih dalam. Terlalu dalam. "Teman yang dulu sangat dekat denganku. Tapi kemudian dia... dia memilih jalan yang berbeda. Jalan yang salah."

"Apa yang terjadi padanya?"

"Dia mati," kata Adrian datar. "Bersama semua orang yang dia sayangi, Karena dia lupa satu aturan penting dalam dunia ini."

"Aturan apa?"

Adrian condong lebih dekat. Bisik di telinga Arjuna dengan suara yang bikin bulu kuduk berdiri.

"Jangan pernah khianati aku."

Lalu dia berdiri. Tepuk bahu Arjuna dengan tangan yang terasa seperti cakar. "Selamat menikmati malam ini, Tuan Arka. Semoga kita bisa bekerjasama suatu hari."

Dia pergi. Kembali ke mejanya. Kembali ke Sari yang senyum sambut dia.

Arjuna gak bisa gerak. Gak bisa napas. Pria itu tau. Entah bagaimana dia tau.

"Arjuna," suara Pixel panik di earpiece. "Sari baru aja kirim file ke server external. File besar. Dan... dan sistemnya lagi trace darimana file itu dikirim. Kalau mereka tau itu dari Sari..."

"Kita harus keluarin dia sekarang," bisik Arjuna.

"Belum!" Pixel terdengar desperate. "Belum waktunya! Kalau kau gerak sekarang..."

Tapi Arjuna gak dengerin lagi. Dia lihat Sari berdiri. Jalan ke arah pintu samping yang menuju balkon. Sendirian.

Ini kesempatan.

Mungkin satu satunya kesempatan.

Dia berdiri. "Maaf," kata dia ke Lila. "Aku perlu ke toilet sebentar."

Dia jalan. Gak ke toilet. Tapi ke pintu samping. Ke balkon dimana Sari baru keluar.

Jantungnya berdegup begitu kencang sampai terasa mau meledak. Tangannya gemetar. Kakinya hampir gak bisa jalan.

Tapi dia tetap jalan.

Karena di ujung balkon itu...

Di ujung balkon itu ada Sari.

Dan dia gak akan sia siakan kesempatan ini.

Bahkan kalau itu artinya dia harus mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!