NovelToon NovelToon
MIDNIGHT DEAL: ANTARA HATI DAN KONSPIRASI

MIDNIGHT DEAL: ANTARA HATI DAN KONSPIRASI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Wanita perkasa / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romansa / Rebirth For Love
Popularitas:698
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.

​Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.

​Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Tatapan di Lantai 50

​Pukul tujuh malam. Lantai 50 Dewangga Tower tidak lagi tampak seperti kantor, melainkan sebuah ruang pameran kemewahan yang sunyi. Ryuga Soobin Dewangga berdiri di depan cermin besar di ruang istirahat pribadinya, merapikan dasi silk hitamnya dengan gerakan kaku.

​Pikirannya tidak tenang. Kehadiran Sheila di Jakarta adalah gangguan, tapi keberadaan Kiara di sisinya adalah teka-teki yang jauh lebih sulit dipecahkan.

​Tok, tok.

​Pintu terbuka. Kiara masuk, dan untuk pertama kalinya, Ryuga merasa napasnya tertahan di tenggorokan.

​Wanita itu mengenakan backless dress berwarna biru dongker yang memeluk tubuhnya dengan sempurna—elegan namun tetap memberikan ruang untuk bergerak. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya. Tidak ada senjata yang terlihat, namun aura "maut" itu tetap ada di balik kecantikannya.

​"Anda menatap saya terlalu lama, Pak Ryuga. Apa ada yang salah? Apa gaun ini terlalu mencolok untuk ukuran seorang asisten?" tanya Kiara sambil membetulkan anting peraknya.

​Ryuga berdeham, memalingkan wajah ke arah jendela. "Biasa saja. Aku hanya memastikan kau tidak memakai sepatu yang bisa membuatmu jatuh saat kita harus lari dari kejaran wartawan."

​"Tenang saja. Hak sepatu ini bisa dilepas dalam satu detik dan berubah menjadi senjata tumpul jika perlu," balas Kiara santai, membuat Ryuga mendengus geli—sebuah reaksi langka yang bahkan tidak disadari oleh pria itu sendiri.

​Gala Dinner – 20.30 WIB

​Lampu kristal raksasa di ballroom hotel bintang lima itu memantulkan cahaya ke arah para sosialita dan petinggi bisnis. Ryuga berjalan masuk dengan Kiara di lengannya. Semua mata tertuju pada mereka. Ryuga yang biasanya datang sendirian dan dingin, kini membawa wanita yang tampak begitu serasi di sisinya.

​"Ingat, Kiara. Jangan jauh-jauh dariku. Di sini banyak serigala berjas," bisik Ryuga tepat di telinga Kiara, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

​"Saya rasa saya lebih khawatir pada serigala yang sedang memegang lengan saya sekarang," canda Kiara pelan.

​Langkah mereka terhenti ketika seorang wanita dengan gaun merah menyala dan senyum manipulatif menghadang jalan mereka. Sheila.

​"Soobin, sayang... lama tidak bertemu," suara Sheila terdengar seperti madu yang beracun. Ia mengabaikan Kiara dan langsung menyentuh dada Ryuga dengan manja. "Kau tampak jauh lebih... menarik dari terakhir kali kita bertemu di Paris."

​Ryuga tidak bergerak, tapi rahangnya mengeras. "Sheila. Aku tidak menyangka kau punya cukup nyali untuk kembali ke sini setelah apa yang terjadi."

​Sheila tertawa kecil, matanya melirik Kiara dengan tatapan merendahkan. "Oh, siapa asisten cantik ini? Apa kau sekarang mulai menyukai tipe wanita yang 'biasa' saja, Soobin?"

​Sebelum Ryuga sempat menjawab, Kiara melangkah maju satu senti, memberikan senyum profesional yang paling tajam. "Nama saya Kiara Adiningrat, asisten strategi Pak Ryuga. Dan tugas saya bukan hanya mengatur jadwalnya, tapi juga memastikan 'gangguan' yang tidak relevan tidak membuang-buang waktunya. Senang bertemu Anda, Nona Sheila."

​Sheila mengerutkan kening, merasa terintimidasi oleh ketenangan Kiara. "Berani sekali kau—"

​"Sheila, cukup," potong Ryuga dingin. Ia secara impulsif menarik pinggang Kiara lebih dekat ke arahnya—sebuah gerakan protektif yang membuat seisi ruangan berbisik. "Kami punya urusan lebih penting. Permisi."

​Teras Balkon – 22.00 WIB

​Ryuga butuh udara segar. Ia berdiri di balkon yang menghadap ke arah kota, sementara Kiara tetap waspada di dekat pintu kaca.

​"Anda cemburu?" tanya Kiara tiba-tiba, memecah keheningan.

​Ryuga menoleh cepat. "Apa? Jangan konyol."

​"Tatapan Anda saat melihat Sheila tadi... itu bukan tatapan rindu. Itu tatapan waspada. Tapi saat seorang pengusaha muda tadi mencoba mengajak saya berdansa, Anda meremas gelas sampanye Anda sampai hampir pecah. Itu namanya cemburu, Pak Ryuga Soobin."

​Ryuga terdiam. Ia tidak bisa membantah fakta bahwa hatinya terasa panas melihat pria lain menatap bahu terbuka Kiara. Ia melangkah mendekati Kiara, memojokkan wanita itu ke pagar balkon. Tatapannya dalam dan gelap, mencerminkan langit Jakarta malam itu.

​"Aku hanya tidak suka barang milikku disentuh orang lain," bisik Ryuga rendah.

​"Saya bukan barang milik Anda," balas Kiara, napasnya mulai tidak beraturan karena jarak mereka yang sangat dekat.

​"Kau asistenku. Nyawamu ada di tanganku, dan jam tanganku ada di tanganmu," Ryuga mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. Slow burn itu kini berubah menjadi api yang nyaris membakar. "Itu artinya, kau milikku dalam setiap kesepakatan yang kita buat."

​Tepat saat suasana semakin intens, ponsel Kiara bergetar hebat.

​Sub-Plot: Komedi Dino

​Dino [WA]: "KIARA! MATI AKU! Aku tertangkap basah sedang memotret Bramasta yang sedang bertransaksi narkoba—eh bukan, sepertinya itu koper berisi uang di parkiran belakang! Tolong aku! Aku sedang bersembunyi di dalam tong sampah besar!"

​Kiara langsung mendorong dada Ryuga pelan. "Maaf, Bos. Sepertinya momen romantis ini harus ditunda. Sahabat bodoh saya baru saja masuk ke sarang serigala."

​Ryuga menghela napas frustrasi, tapi matanya kembali tajam. "Dino? Di mana dia?"

​"Parkiran belakang. Bramasta ada di sana."

​Ryuga merapikan jasnya. "Ayo. Sepertinya malam ini tidak akan berakhir dengan dansa, tapi dengan aksi pengejaran."

Pelarian dan Detak yang Berpacu

​Ryuga tidak membuang waktu. Ia menyambar tangan Kiara dan menariknya menuruni tangga darurat, menghindari kerumunan wartawan di lobi utama. Gerakannya cepat dan terarah, menunjukkan bahwa di balik sikap dinginnya, ia memiliki insting pelindung yang kuat.

​"Pak Ryuga, lepas! Saya bisa lari sendiri dengan hak tinggi ini!" protes Kiara sambil berusaha mengimbangi langkah lebar Ryuga.

​"Diam dan ikuti saja, Kiara. Kita tidak punya waktu untuk debat soal emansipasi sekarang," sahut Ryuga tanpa menoleh. Genggamannya pada tangan Kiara mengerat—bukan karena ingin menyakiti, tapi seolah ia takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Kiara akan menghilang di balik bayang-bayang konspirasi ini.

​Area Parkir Belakang – 22.15 WIB

​Suasana parkiran belakang sangat sunyi, hanya terdengar suara mesin pendingin besar yang menderu. Di sudut dekat bak penampungan limbah, mereka melihat sebuah mobil hitam mewah dengan pintu terbuka. Bramasta berdiri di sana, berbicara dengan nada rendah pada seorang pria bertato.

​Dan benar saja, sebuah tangan yang memegang kamera DSLR gemetar menyembul dari balik tong sampah besar di dekat mereka. Itu Dino.

​"Dasar bodoh," desis Kiara. Ia sudah bersiap untuk menerjang keluar, namun Ryuga menahannya. Tubuh Ryuga menempel rapat di punggung Kiara agar mereka tetap tersembunyi di balik pilar.

​"Jangan gegabah. Mereka bersenjata," bisik Ryuga di telinga Kiara. Hembusan napasnya membuat Kiara mematung. Aroma sandalwood yang maskulin menyergap indra penciumannya, bercampur dengan ketegangan yang memuncak.

​Tiba-tiba, ponsel Dino berbunyi nyaring. Sebuah nada dering konyol lagu anak-anak yang lupa ia matikan.

​“Oh, no!” gumam Dino pelan dari balik tong sampah.

​Bramasta dan anak buahnya menoleh serempak. "Siapa di sana?! Periksa!" perintah Bramasta dengan suara menggelegar.

​"Sial," umpat Ryuga. Ia menatap Kiara, matanya bertemu dengan mata wanita itu dalam sepersekian detik. Sebuah komunikasi tanpa kata terjalin. "Kau ambil yang di kiri, aku yang kanan."

​"Pak Ryuga, Anda bisa berkelahi?" Kiara mengerutkan kening.

​Ryuga tersenyum miring—sebuah senyum yang tampak berbahaya sekaligus sangat tampan di bawah lampu merkuri parkiran. "Aku tidak hanya menghabiskan waktu dengan melukis, Kiara. Aku juga punya guru privat untuk membela diri sejak usiaku tujuh tahun."

​Tanpa aba-aba, Ryuga melesat keluar dari bayangan. Sebelum anak buah Bramasta sempat menarik senjata, Ryuga memberikan pukulan jab yang telak ke rahang lawan. Di sisi lain, Kiara melakukan tendangan melingkar yang menjatuhkan senjata dari tangan pria bertato itu.

​"Dino! Lari ke mobil!" teriak Kiara.

​Dino keluar dari tong sampah dengan wajah pucat pasi, memeluk kameranya seolah itu adalah bayi yang baru lahir. "Aku pergi! Aku pergi! Pak CEO, tolong jangan biarkan wajah tampanku ini lecet!"

​Bramasta yang melihat Ryuga, hanya bisa terpaku dengan wajah merah padam. "Ryuga! Kau akan menyesali ini!"

​"Kita lihat saja siapa yang akan menyesal, Paman," balas Ryuga dingin. Ia menyambar tangan Kiara lagi, membawanya masuk ke dalam mobil sport-nya yang sudah siap di jalur keluar.

​Saat mobil melesat pergi meninggalkan parkiran, adrenalin masih memompa kencang di nadi mereka. Di dalam kabin yang tertutup, keheningan kembali tercipta, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ryuga masih belum melepaskan tangan Kiara.

​Tangan mereka saling bertaut di atas tuas persneling. Dinginnya telapak tangan Ryuga bertemu dengan hangatnya tangan Kiara. Detak jantung mereka berdua terasa lebih keras daripada suara mesin mobil.

​"Tangan Anda... gemetar," ucap Kiara pelan, menatap tautan tangan mereka.

​Ryuga langsung menarik tangannya kembali, berdeham canggung sambil menatap lurus ke jalanan malam yang basah. "Itu karena adrenalin. Jangan terlalu percaya diri."

​Kiara tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia tahu, di balik tembok es itu, Ryuga Soobin Dewangga baru saja membiarkan satu retakan lagi terbuka untuknya.

1
Inonk_ordinary
recomended untuk orh2 yg udah jenuh dg cerita yg ngambang. alur nya gak jelas dan yokoh yang itu2 aja
Inonk_ordinary
ya ampuuunnn bagus bangeettt,,pengambaran tokoh nya tu jelas bgt,,kaya ada didepan mata aku...wooooww daebaakkkk
nhatvyo24: terima kasih banyak ka ☺️ semoga suka ceritanya 🙏
total 1 replies
🔵✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴅ'ғᵗⁱᵃʳᵃ🌹🎀👥
hemmm.. bilang aja kamu terpesona Ryu🤭 dan seiring waktu hubungan itu akn berkembang.. hadech mantan datang, hempaskan aj.
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?
🔵✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴅ'ғᵗⁱᵃʳᵃ🌹🎀👥
wah sejauh ini ceritanya menarik, penulisannya juga bagus jadi enak bacanya. lanjutlah ..
nhatvyo24: terima kasih ka 🙏
total 1 replies
Inonk_ordinary
okee,,sebelom baca aku follow yaaa
nhatvyo24: 😄🤭 terimakasih ka🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!