mengisahkan perjalanan Liu Wei, seorang pemuda yang kehilangan desa dan keluarga karena serangan kelompok jahat Pasukan Bayangan Hitam. Setelah bertemu Chen Mei dari Sekte Bintang Penyusun, ia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang terpilih yang bertugas menjaga keseimbangan alam semesta.
Dengan membawa Pedang Angin Biru pusaka keluarga dan Kalung Panduan Bintang, Liu Wei harus mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam yang dipimpin oleh Zhang Feng menangkap mereka semua dan mendapatkan Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Perjalanan penuh bahaya menantinya, di mana ia harus menguasai kekuatan batinnya dan menyatukan kekuatan rekan-rekannya untuk menghadapi ancaman kegelapan yang semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 28
Armada ekspedisi Federasi Alam Semesta melaju dengan lancar melalui wilayah yang belum pernah ditempuh, menerbangkan jalur baru melalui celah-celah ruang-waktu yang telah distabilkan oleh teknologi gabungan dari berbagai peradaban. Setelah tiga minggu perjalanan, mereka mencapai sistem bintang yang terletak di bagian terdalam alam semesta yang bisa dijangkau—sebuah klaster bintang dengan warna keemasan yang dikenal oleh peradaban kuno sebagai “Kehidupan Awal”.
Saat mereka memasuki sistem, kapal utama yang dipimpin oleh Xiao Ming mulai mendeteksi sinyal energi yang sangat kuat dan unik. Sinyal tersebut tidak seperti apa pun yang pernah mereka temui sebelumnya—bersih, murni, dan penuh dengan getaran kehidupan yang luar biasa. “Ini adalah sinyal yang kita cari,” ucap Xiao Ming dengan suara penuh semangat kepada kru kapal. “Berkat dokumen kuno dari Verdania, kita tahu bahwa di sini ada sesuatu yang penting bagi asal-usul seluruh alam semesta.”
Mereka mengarahkan kapal ke sumber sinyal, yang terbukti berasal dari sebuah planet yang mengambang di antara dua bintang kembar. Planet ini tidak memiliki orbit tetap seperti planet lain, melainkan mengapung dengan lembut di ruang angkasa, dikelilingi oleh cincin kristal yang bersinar dengan warna-warni. Mereka memberinya nama “Prima”—yang berarti awal atau asal-usul.
Ketika mereka mendarat di permukaan Prima, mereka terpesona oleh keindahan yang luar biasa. Tanah berwarna keemasan ditutupi oleh tumbuhan yang tidak dikenal dengan bunga yang memancarkan cahaya lembut. Udara sangat segar dan penuh dengan energi kehidupan yang membuat setiap makhluk yang menghirupnya merasa lebih kuat dan jernih pikirannya.
Di tengah planet tersebut, mereka menemukan sebuah struktur besar yang terbuat dari kristal transparan—seolah terbentuk secara alami dari energi alam semesta. Di dalam struktur itu, ada sebuah sumber cahaya yang begitu murni sehingga membuat mereka tidak bisa melihat langsung ke dalamnya. Elder Moss dari Verdania, yang ikut dalam ekspedisi, menyentuh permukaan kristal dengan lembut. “Ini adalah sumber dari semua energi kehidupan di alam semesta,” bisiknya dengan kagum. “Kita telah menemukan tempat di mana segalanya dimulai.”
Mereka memasuki struktur kristal dengan hati-hati, dan di dalamnya menemukan ruang besar yang penuh dengan gambar-gambar yang muncul dan hilang di dinding kristal. Gambar-gambar tersebut menunjukkan sejarah alam semesta dari awal hingga kini—bagaimana energi primordial terbentuk, bagaimana planet-planet dan peradaban muncul, dan bagaimana kegelapan hampir menghancurkan segalanya sebelum akhirnya disembuhkan.
“Lihatlah itu,” ucap Zorak, menunjuk ke salah satu gambar yang menunjukkan sekelompok makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan energi primordial. “Ini adalah peradaban pertama—yang disebut ‘Pencipta Cahaya’. Mereka adalah yang pertama kali memahami cara mengendalikan energi alam semesta dan membangun dasar bagi semua peradaban selanjutnya.”
Dari gambar-gambar tersebut, mereka juga menemukan bahwa Bintang Penyusun di langit Bumi bukanlah kebetulan. Ia adalah salah satu dari seratus bintang yang ditempatkan oleh Peradaban Pencipta Cahaya di berbagai bagian alam semesta—sebagai penjaga dan sumber kebaikan yang akan membantu peradaban tumbuh dan berkembang dengan benar.
“Kita tidak pernah menyangka bahwa kita adalah bagian dari rencana yang begitu besar,” ucap Lin Lin dengan suara lembut. “Bintang Penyusun di Bumi adalah saksi dari harapan Peradaban Pencipta Cahaya untuk masa depan alam semesta.”
Namun, di tengah kegembiraan menemukan asal-usul alam semesta, tim mendeteksi adanya gangguan energi di sekitar sistem. Sebuah armada besar kapal dengan bentuk yang tidak dikenal muncul dari celah ruang-waktu baru yang terbentuk. Kapal-kapal tersebut tidak membawa tanda perdamaian apa pun, dan energi yang mereka pancarkan adalah campuran antara kegelapan yang sudah lama mereka yakini telah hilang dan energi baru yang tidak dikenal.
“Siapa mereka?” tanya Li Na dengan waspada, sambil mengaktifkan sistem pendeteksi kapal. Sebuah pesan kemudian diterima melalui sistem komunikasi, dengan suara yang dingin dan tanpa emosi: “Kita adalah ‘Penguasa Keseimbangan’. Kita telah mengamati alam semesta dan menyimpulkan bahwa pertumbuhan yang tidak terkendali akan menyebabkan kehancuran. Kita akan mengembalikan keseimbangan dengan menghapus sebagian peradaban yang dianggap terlalu kuat dan mengganggu keseimbangan alam semesta.”
Xiao Ming segera mengambil kendali situasi. “Kita tidak akan membiarkan mereka melakukan itu,” ucapnya dengan tegas. “Keseimbangan tidak dicapai dengan menghapus kehidupan—melainkan dengan kerja sama dan saling menghormati antar peradaban.”
Pertempuran segera meledak, tetapi berbeda dengan pertempuran yang pernah mereka alami sebelumnya. Penguasa Keseimbangan tidak menggunakan kekerasan semata, melainkan teknologi yang bisa mematikan sumber energi dari peradaban target tanpa membunuh makhluk hidup. Beberapa kapal dari armada ekspedisi mulai kehilangan daya, dan sistem pertahanan mulai lemah.
“Kita perlu mengubah strategi!” teriak Zhang Tao, yang sedang mengawasi sistem energi kapal. “Kekuatan fisik tidak akan berhasil melawan mereka. Kita perlu menunjukkan kepada mereka bahwa keseimbangan yang mereka cari bisa dicapai dengan cara yang lebih baik.”
Xiao Ming mengangguk dan segera berkomunikasi dengan seluruh armada. “Semua unit, kumpulkan energi kebaikan kalian dan arahkan ke kapal utama! Kita akan menggunakan kekuatan dari sumber Prima untuk menunjukkan kepada mereka makna keseimbangan yang sebenarnya!”
Semua kru dan prajurit dari berbagai peradaban bekerja sama, menyatukan energi mereka dan mengirimkannya ke kapal utama. Energi tersebut kemudian dicampur dengan energi murni dari sumber Prima, menciptakan pancaran cahaya yang begitu indah dan kuat sehingga mampu menembus setiap kapal Penguasa Keseimbangan.
Cahaya tersebut tidak menyebabkan kerusakan, melainkan menyajikan gambar-gambar kepada mereka—gambar bagaimana peradaban bekerja sama bisa menciptakan keseimbangan yang lebih baik, bagaimana keberagaman membuat alam semesta lebih kaya, dan bagaimana setiap peradaban memiliki peran penting dalam keseluruhan sistem alam semesta.
Pemimpin Penguasa Keseimbangan, yang dikenal sebagai “Hakim Zeta”, muncul di layar komunikasi dengan wajah yang penuh kebingungan. “Ini tidak sesuai dengan data yang kita kumpulkan,” ucapnya dengan suara yang lebih lembut. “Kita selalu berpikir bahwa keseimbangan hanya bisa dicapai dengan kontrol dan pembatasan.”
“Keseimbangan yang sebenarnya adalah tentang menghormati setiap bentuk kehidupan dan memungkinkannya untuk tumbuh sesuai dengan alamnya,” ucap Xiao Ming dengan suara yang penuh pemahaman. “Mari kita bekerja sama untuk menemukan cara untuk menjaga keseimbangan alam semesta tanpa harus menghapus kehidupan apa pun.”
Setelah beberapa saat berpikir, Hakim Zeta mengangguk. “Kita bersedia untuk mendengarkan dan belajar,” ucapnya. “Mungkin kita telah salah dalam cara kita melihat dunia.”
Armada Penguasa Keseimbangan kemudian bergabung dengan ekspedisi, dan mereka bersama-sama melakukan penelitian di planet Prima. Mereka menemukan bahwa keseimbangan alam semesta bukanlah tentang menjaga segala sesuatu tetap sama, melainkan tentang memungkinkan sistem alam semesta untuk berkembang dan beradaptasi dengan cara yang sehat.
Kabar tentang temuannya segera menyebar ke seluruh Federasi Alam Semesta. Para pemimpin dari berbagai peradaban berkumpul di Prima untuk membahas bagaimana menerapkan prinsip-prinsip baru ini dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menyepakati untuk membentuk Dewan Keseimbangan Alam Semesta, yang terdiri dari perwakilan dari berbagai peradaban termasuk Penguasa Keseimbangan, untuk memastikan bahwa alam semesta tumbuh dengan sehat dan seimbang.
Xiao Ming dan teman-temannya berdiri di puncak struktur kristal di Prima, melihat ke arah alam semesta yang luas. Mereka tahu bahwa tantangan akan terus muncul, tetapi dengan pemahaman baru tentang asal-usul dan makna keseimbangan, mereka siap menghadapinya bersama seluruh alam semesta.
“Alam semesta adalah sebuah sistem yang hidup dan terus berkembang,” ucap Xiao Ming kepada teman-temannya. “Kita adalah bagian dari sistem tersebut, dan tugas kita adalah untuk menjaga agar ia tumbuh dengan penuh kebaikan dan harapan. Ini adalah warisan yang kita terima dari Peradaban Pencipta Cahaya, dan ini adalah warisan yang kita akan lanjutkan bagi generasi mendatang.”
Dengan mata yang penuh semangat dan hati yang terbuka, mereka bersiap untuk melanjutkan petualangan mereka menjelajahi alam semesta, membawa dengan mereka pesan tentang kerja sama, keseimbangan, dan kebaikan yang tak terbatas.