NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamuan Diana

Antusiasme adalah bensin yang membakar akal sehat Bimo hari ini. Undangan makan malam dari Diana terasa seperti sebuah medali kemenangan. Setelah seminggu melakukan pendekatan yang lihai, Diana akhirnya mengundangnya ke rumah sebuah lampu hijau yang bagi pria seperti Bimo berarti satu hal: penaklukan.

Bimo tidak ingin datang dengan tangan kosong. Berdasarkan informasi yang ia gali secara halus dari rekan sekantor, ia tahu Diana adalah seorang ibu tunggal dengan satu anak perempuan berusia enam tahun. Maka, sore itu ia sibuk memilih hadiah. Sebuah buket bunga lili putih yang elegan untuk Diana, dan sebuah boneka beruang besar dengan gaun merah jambu untuk anaknya.

"Kamu harus tampil sempurna, Bim. Ini kesempatannya," gumam Bimo di depan cermin, merapikan kerah kemeja slim-fit hitamnya yang memberikan kesan misterius namun mapan.

Ia merasa tubuhnya sangat stabil.

Makan Malam yang Menyesakkan

Rumah Diana berada di sebuah kompleks asri. Suasananya hangat, dengan aroma lilin aromaterapi yang menenangkan. Diana menyambutnya dengan gaun tidur berbahan sutra tipis yang ditutupi oleh outer transparan pakaian yang menurut Bimo terlalu berani untuk sekadar makan malam di rumah.

"Wah, Bimo... kamu perhatian sekali. Lihat, Sayang, Om Bimo bawa boneka buat kamu," ujar Diana kepada putrinya yang manis.

Pertemuan itu berjalan sangat lancar. Bimo menunjukkan sisi kebapakannya yang palsu, bercanda dengan anak Diana hingga anak itu tertidur di sofa. Namun, di balik sikap ramahnya, batin Bimo adalah sebuah medan perang.

Diana duduk di hadapannya, menyesap wine merah dengan tatapan yang sangat provokatif. Cahaya lampu ruang makan yang temaram membuat kulit Diana yang putih tampak bersinar. Setiap kali Diana tertawa dan sedikit menunduk, memperlihatkan garis kerah bajunya yang rendah, jantung Bimo berdegup kencang.

Zrett...

Desir itu muncul kembali. Rasa hangat mulai menjalar di area bawah.

"Mbak, permisi... kamar mandinya di mana ya? Saya mau cuci muka sebentar, sepertinya pengaruh wine-nya mulai terasa," Bimo berbohong, suaranya sedikit parau.

"Oh, lurus saja ke arah dapur, sebelah kiri ya, Bim," jawab Diana dengan senyum penuh arti.

Di dalam kamar mandi, Bimo segera mengunci pintu. Ia menyalakan keran air dingin sekuat mungkin. Wajahnya pucat pasi, pelipisnya dibasahi keringat dingin. Ia membuka celananya dengan terburu-buru. Ia melihat kulitnya mulai memerah, urat-urat di sana tampak menonjol dan berdenyut tidak wajar tanda bahwa ulat sengkolo itu mulai terbangun karena gairah yang ia tahan sejak tadi.

"Sial! " bisik Bimo sambil mengguyur area sensitifnya dengan air dingin yang banyak.

Dinginnya air membantu sesaat. Gairahnya sedikit surut karena rasa takut. Ulat-ulat yang tadinya hampir meletus dari pori-pori perlahan-lahan surut kembali ke dalam jaringan daging. Bimo menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri selama sepuluh menit sebelum akhirnya keluar dengan wajah yang dipaksakan ceria.

Tawaran yang Menjadi Kutukan

Malam semakin larut. Hujan mulai turun membasahi bumi Jakarta, menciptakan suasana yang semakin intim di dalam rumah.

"Bim, hujannya deras sekali. Sudah lewat tengah malam juga. Bahaya kalau kamu pulang pakai motor. Gimana kalau... kamu bermalam di sini saja?" Diana berdiri, berjalan mendekati Bimo, lalu melingkarkan tangannya di leher Bimo.

Aroma parfum Diana yang bercampur dengan bau alkohol membuat pertahanan Bimo hancur total. Ia merasa inilah saatnya. Ia merasa tidak mungkin kutukan itu bisa menang melawan hasratnya yang sudah di ubun-ubun.

"Boleh, Mbak. Saya juga khawatir kalau harus menerjang hujan," jawab Bimo, tangannya mulai merangkul pinggang Diana.

Diana menuntunnya ke kamar utama. Kamar itu beraroma mawar yang sangat pekat. Diana melepaskan outer-nya, menyisakan pakaian dalam yang sangat sensual, nyaris seperti bikini. Ia menatap Bimo dengan pandangan lapar.

"Aku ganti baju sebentar ya, Bim..."

Saat melihat Diana berdiri di depan cermin, membelakangi dirinya dengan siluet tubuh yang begitu sempurna, gairah Bimo meledak tanpa kendali. Imajinasi kotornya bekerja secepat kilat.

Duar!

Bukan ledakan kenikmatan yang ia rasakan, melainkan rasa sakit yang luar biasa. Seolah-olah ada seribu kawat berduri yang ditarik paksa dari dalam kemaluannya.

"ARGH!" Bimo mengerang, ia jatuh berlutut di lantai sambil memegang bagian bawahnya.

"Bimo? Kamu kenapa?" Diana berbalik dengan panik.

Bimo tidak bisa melihat apa-apa selain rasa sakit. Di bawah kain celananya, ia merasakan dagingnya mulai robek. Ia membayangkan ulat-ulat itu sedang berpesta pora, menggigit setiap saraf dengan gigi-gigi gaib mereka. Ia tahu, jika ia melanjutkan satu detik saja di kamar ini, kejadian di hotel melati akan terulang dan kali ini di depan Diana, wanita yang ingin ia taklukkan.

"Mbak... maaf... saya... saya tiba-tiba ingat kompor di rumah belum mati! Saya harus pulang!" Bimo merancu, kalimatnya tidak masuk akal.

"Hah? Kompor? Tapi kan hujan deras, Bim!"

Bimo tidak peduli. Dengan gerakan kikuk dan wajah yang menahan tangis kesakitan, ia menyambar kunci motor dan jaketnya. Ia berlari keluar dari kamar, melewati ruang tamu, dan menerjang hujan deras yang mengguyur di halaman rumah Diana. Ia meninggalkan Diana yang berdiri terpaku dengan rasa bingung dan tersinggung yang luar biasa.

Hujan, Dingin, dan Kesadaran yang Tertutup

Bimo memacu motornya di tengah badai hujan malam itu. Air hujan yang dingin menusuk tulang setidaknya membantu memadamkan "api" di selangkangannya. Begitu gairahnya hilang karena rasa takut dan dinginnya hujan, ulat sengkolo itu kembali ke mode pasif. Sakitnya mereda, menyisakan rasa perih yang tumpul.

Sesampainya di kontrakannya yang sepi, Bimo langsung melempar jaketnya yang basah kuyup ke lantai. Ia duduk bersandar di pintu, menangis tersedu-sedu. Tubuhnya menggigil, namun hatinya lebih menggigil lagi.

"Kenapa... kenapa setiap kali aku mau bersenang-senang, ini selalu terjadi?" raungnya.

Ia merasa dikutuk. Ia merasa alam semesta sedang mempermainkannya. Ia berpikir tentang penyakit medis, ia berpikir tentang kutukan dari tempat hiburan malam, namun satu nama yang seharusnya ia ingat justru ia tepis jauh-jauh.

"Nggak mungkin karena Ratih. Perempuan bodoh itu nggak mungkin bisa begini. Dia cuma buruh cuci, dia nggak punya kekuatan apa-apa," gumam Bimo, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Bimo belum menyadari bahwa justru "buruh cuci" itulah yang telah mencuci bersih keberuntungannya. Ia tidak sadar bahwa ketulusan yang ia injak-injak telah berubah menjadi racun yang kini mengalir di setiap pembuluh darahnya.

Mata di Balik Kegelapan

Di seberang jalan, dari balik jendela lantai dua yang gelap, Ratih berdiri mematung. Payung hitamnya masih basah, bersandar di pintu. Ia melihat Bimo pulang dengan keadaan hancur, basah kuyup, dan berjalan pincang masuk ke dalam kontrakannya.

Ratih tidak perlu masuk ke dalam untuk tahu apa yang terjadi. Ia tahu Bimo baru saja mengalami "kegagalan" yang paling memalukan dalam hidupnya.

"Baru permulaan, Bimo," bisik Ratih. Suaranya dingin, nyaris tak terdengar di antara suara sisa hujan. "Kamu akan terus mencoba mencari penggantiku, dan setiap kali kamu mencoba, tubuhmu akan menolaknya dengan rasa sakit yang tak terbayangkan. Kamu akan hidup sebagai pria yang paling haus di tengah lautan air."

Ratih menutup gorden kamarnya. Ia tahu Bimo kini sedang menderita kehancuran mental. Pria itu mulai meragukan kejantanannya, meragukan kewarasannya, dan mulai hidup dalam ketakutan terhadap pikirannya sendiri.

Di dalam kamar yang gelap, Bimo meringkuk di atas kasur tanpa mengganti bajunya yang basah. Ia takut untuk tidur, karena ia tahu dalam mimpi pun, nafsu bisa muncul, dan ulat-ulat itu akan kembali berpesta.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!