Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Liar di New Jersey
Guzzel merasa dunianya telah runtuh menjadi puing-puing tak berbentuk. Keheningan di rumahnya setelah kepergian Max terasa lebih menyakitkan daripada bentakan pria itu. Ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Kebenaran harus disampaikan, meski Max mungkin tidak akan pernah mau mendengarnya lagi.
Malam itu, Max tidak pulang ke apartemennya. Dia memacu mobilnya keluar dari Manhattan, menuju sebuah lintasan balap liar di pinggiran New Jersey.
Mesin Aston Martin-nya meraung, membelah angin malam yang dingin, seirama dengan detak jantungnya yang dipenuhi amarah.
Di sana, di tengah kerumunan orang yang haus adrenalin dan aroma ban terbakar, Max mencoba membunuh sosok "Lia" di dalam kepalanya. Dia menenggak wiski langsung dari botolnya di pinggir lintasan, mengabaikan beberapa wanita berpakaian minim yang mencoba mendekatinya.
Biasanya, dia akan menatap mereka dengan jijik, tapi malam ini, dia hanya merasa hampa.
"Hei, Max! Kau mau turun ke lintasan atau hanya ingin mati perlahan dengan botol itu?" teriak salah satu pembalap liar yang mengenalnya.
Max tidak menjawab. Dia melempar botolnya ke aspal hingga hancur berkeping-keping, lalu masuk ke dalam mobil. Dia butuh rasa takut. Dia butuh sesuatu yang lebih kuat daripada rasa sakit dikhianati. Dia menginjak gas sedalam mungkin, membiarkan mobilnya melesat di antara beton-beton tua, berharap kecepatan bisa menghapus bayangan Guzzel dari ingatannya.
Tapi setiap kali dia memejamkan mata, yang muncul adalah pesan-pesan Lia: "Aku mencintaimu, V. Kau adalah pria paling lembut yang pernah kukenal."
"Bohong!" raung Max di dalam kemudi. "Semuanya bohong!"
Sementara itu, di kamarnya, Guzzel tidak berhenti bergerak. Matanya sembab, tapi jemarinya terus menari di atas kertas putih. Dia tidak bisa menjelaskan ini lewat telepon mungkin Max telah memblokirnya. Dia tidak bisa bicara langsung, Max akan mengusirnya. Satu-satunya cara adalah menulis.
Dia menulis dengan tangan yang gemetar, air mata sesekali menetes membasahi tinta hitamnya.
Untuk Maximilien,
Aku tahu saat ini namaku adalah racun bagimu. Aku tahu kau merasa aku telah menertawakanmu. Tapi demi Tuhan, Max, dengarkan satu hal ini, Aku tidak pernah tahu siapa kau pada awalnya.
Saat kita bertemu di Veloce, aku benar-benar hanya mencari seseorang untuk berbagi cerita. Aku tidak tahu 'V' adalah Maximilien Vance, pria dingin dari Columbia. Aku jatuh cinta pada jiwamu, pada kata-katamu, jauh sebelum aku menyadari bahwa pria itu adalah kau.
Kejadian di perpustakaan, saat kau menceritakan tentang buku tua itu... saat itulah aku tersadar. Jantungku hampir berhenti ketika aku menyadari bahwa pria yang aku cintai di dunia maya adalah pria yang selalu menghindariku di dunia nyata.
Aku ingin jujur, Max. Sumpah. Tapi setiap kali aku melihat tatapan bencimu di kampus, aku kehilangan keberanian. Aku takut jika aku mengaku, aku akan kehilangan satu-satunya versi dirimu yang mau menerimaku: Versi 'V'.
Aku tidak pernah menertawakanmu. Aku justru menangis bersamamu setiap malam. Aku mencintai setiap kerapuhanmu, Max. Aku mencintai V, dan aku mencintai Maximilien. Bagiku, kalian adalah orang yang sama.
Guzzel melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop berwarna krem yang elegan, dan menyegelnya dengan lilin merah. Dia tidak akan mengirimnya lewat pos. Dia akan mengantarkannya sendiri ke apartemen Max, meski dia harus menunggu di depan pintu sepanjang malam.
Pukul tiga pagi, New York masih diguyur gerimis tipis. Guzzel berdiri di depan pintu apartemen mewah Max di Upper East Side. Penjaga lobi awalnya menolaknya, namun melihat air mata dan nama keluarga Guzzalie, mereka akhirnya membiarkannya naik.
Guzzel duduk bersila di lantai koridor yang dingin, tepat di depan pintu nomor 402. Dia memeluk lututnya, menunggu suara langkah kaki yang dia kenali.
Dua jam berlalu. Suara lift berdenting.
Max muncul dengan jaket kulit yang kotor dan bau alkohol yang menyengat. Langkahnya tidak stabil. Saat dia melihat sosok Guzzel yang meringkuk di depan pintunya, amarahnya yang sempat mereda kembali berkobar.
"Pergi," desis Max, suaranya serak.
Guzzel berdiri dengan susah payah, kakinya kesemutan. "Max, tolong. Baca ini saja. Setelah itu kau boleh mengusirku selamanya."
Guzzel menyodorkan amplop itu. Max menatap amplop itu seolah-olah itu adalah benda beracun. Dia merampasnya dengan kasar, tapi tidak membukanya. Dia justru merobek amplop itu menjadi dua di depan mata Guzzel.
"Aku tidak butuh penjelasan yang sudah kau susun dengan rapi, Guzzel," kata Max dengan nada dingin yang mematikan. "Kau ahli dalam merangkai kata-kata di aplikasi itu, bukan? Aku tidak akan tertipu dua kali."
"Max, aku benar-benar tidak tahu siapa kau di awal! Aku hanya jatuh cinta pada seseorang yang kesepian, sama sepertiku!" jerit Guzzel, suaranya pecah oleh isak tangis.
Max terhenti sejenak saat hendak memasukkan kunci ke pintu. Kalimat "sama sepertiku" menusuk egonya. Dia berbalik, mencengkeram bahu Guzzel dan menekannya ke pintu.
"Kesepian?" Max tertawa pahit. "Kau adalah Delisa Guzzalie. Kau punya segalanya. Kau punya teman-teman yang memujamu, kau punya harta, kau punya kecantikan. Jangan berani-berani menyamakan kesepianmu dengan neraka yang aku jalani!"
"Harta tidak bisa memelukku saat aku merasa sendirian di rumah besar itu, Max! Ayahku hanya peduli pada saham, dan ibuku... kau tahu sendiri. Aku menemukanmu, dan aku merasa punya rumah. Apakah itu salah?!"
Mata mereka bertemu. Dalam jarak sedekat itu, Max bisa melihat ketulusan yang hancur di mata Guzzel. Untuk sesaat, dia melihat bayangan "Lia" di wajah gadis di depannya. Aroma parfum Guzzel yang lembut merasuki indranya, mengingatkannya pada malam-malam di mana dia tertidur sambil memegang ponselnya.
Max melepaskan cengkeramannya. Dia merasa lemah. Dia membenci dirinya sendiri karena masih merasakan getaran itu.
"Penjelasanmu tidak merubah fakta bahwa kau berbohong," kata Max, suaranya kini lebih rendah, lebih lelah.
"Kau membiarkanku telanjang secara emosional di depanmu sementara kau tetap memakai topengmu. Itu bukan cinta, Guzzel. Itu kekuasaan. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun memiliki kekuasaan atas diriku lagi."
Max membuka pintunya, masuk ke dalam, dan menutupnya tepat di depan wajah Guzzel.
Guzzel menatap potongan-potongan suratnya yang berserakan di lantai. Dia memunguti potongan itu satu per satu, mendekapnya di dada. Dia tidak akan menyerah. Jika Max adalah es yang paling keras di New York, maka dia akan menjadi matahari yang tidak akan pernah berhenti bersinar hingga es itu mencair.
Namun, di dalam apartemennya, Max jatuh terduduk di balik pintu. Dia memegang dadanya yang terasa sesak. Dia mengambil potongan surat yang sempat terjatuh di dalam ambang pintunya saat dia merobeknya tadi.
Potongan itu berbunyi: "...Aku mencintai V, dan aku mencintai Maximilien. Bagiku, kalian adalah orang yang sama."
Max meremas kertas itu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya yang kasar.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍😍