"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: WARISAN YANG TERLUKA
Tiga bulan setelah malam berdarah di Hokkaido, markas besar Matsuda Corp di Tokyo berdiri tegak seperti monolit hitam yang menusuk langit. Di lantai paling atas, di dalam kamar bayi yang lebih menyerupai laboratorium steril, Kenzo Matsuda berdiri di balik dinding kaca antipeluru. Ia menatap kotak inkubator tempat bayi itu berada.
Bayi itu diberi nama Renji Matsuda.
Kenzo tampak sempurna seperti biasa. Setelan jas mahalnya tidak memiliki satu pun lipatan, dan rambutnya tertata rapi tanpa cela. Namun, jika seseorang melihat lebih dekat ke mata peraknya, ada kilatan obsesi yang hampir menyerupai kegilaan. Di sampingnya, asisten medis pribadinya gemetar saat membacakan laporan perkembangan.
"Tuan Matsuda... hasil tes neuro-biologis Renji menunjukkan aktivitas yang tidak biasa," ucap dokter itu dengan suara bergetar. "Pada usia tiga bulan, pola gelombang otaknya saat tidur menyerupai orang dewasa yang sedang merencanakan sesuatu. Dia tidak pernah menangis, Tuan. Tidak sekalipun."
Kenzo menyentuh permukaan kaca inkubator. "Dia tidak menangis karena dia tidak merasakan takut. Dia adalah puncak dari segalanya. Dia memiliki genetikaku yang sempurna dan... insting predator dari wanita-wanita Sato itu."
"Tapi Tuan, ada satu masalah," dokter itu ragu-ragu. "Setiap kali perawat mencoba menyentuhnya tanpa sarung tangan khusus, bayi itu... dia mencoba melukai mereka. Dia menggunakan kuku kecilnya untuk mencari titik nadi. Itu bukan gerakan refleks bayi biasa. Itu adalah kalkulasi."
❤️❤️❤️
Sementara itu, di distrik Shinjuku yang kumuh dan tersembunyi dari gemerlap teknologi Matsuda, Hana Sato duduk di sebuah bar bawah tanah yang remang-remang. Luka fisiknya telah sembuh, namun tatapannya kini jauh lebih tajam dan dingin. Di depannya, Rena Sato sedang sibuk meretas jaringan satelit global.
"Kau merindukannya, Hana?" tanya Rena tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.
Hana menyesap minuman pahit di depannya. "Merindukan siapa? Monster yang keluar dari rahimku? Tidak. Aku merindukan rasa tenang yang aku miliki sebelum Kenzo menyentuh hidupku. Tapi sekarang... aku hanya merasakan kekosongan yang ingin aku isi dengan kehancurannya."
Rena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan. "Kenzo berpikir dia memenangkan perang ini karena dia memiliki Renji. Dia tidak tahu bahwa membesarkan seorang Sato di dalam istana Matsuda sama saja dengan menyimpan bom atom di bawah tempat tidurnya."
"Kapan kita bergerak, Ibu?" tanya Hana, jemarinya mencengkeram gelas hingga retak.
"Sabar, Hana. Warisan itu perlu 'terluka' terlebih dahulu. Kenzo harus menyadari bahwa kesempurnaan yang dia agung-agungkan adalah penjara baginya sendiri. Kita akan menunggu sampai Renji memberikan 'tanda' pertama."
❤️❤️❤️
Kembali ke kediaman Matsuda, sebuah makan malam formal sedang berlangsung untuk merayakan suksesi kepemimpinan Matsuda Corp. Kenzo ingin menunjukkan kepada dewan direksi bahwa ia memiliki pewaris yang sah. Renji dibawa keluar oleh seorang perawat dalam balutan pakaian sutra putih.
Suasana ruangan yang megah itu tiba-tiba menjadi sunyi saat bayi itu dibawa masuk. Tidak ada suara ocehan bayi yang lucu. Hanya ada sepasang mata kecil yang menatap setiap orang di ruangan itu dengan ketajaman yang tidak wajar.
"Inilah masa depan Matsuda," ucap Kenzo dengan bangga, mengangkat gelas kristalnya.
Namun, saat Kenzo hendak mengambil Renji dari pelukan perawat, sebuah kejadian mengejutkan terjadi. Renji meraih bros emas yang tersemat di dada Kenzo. Dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi seorang bayi, ia menarik bros tajam itu dan—secepat kilat—menggores telapak tangan Kenzo yang terbuka.
Darah segar menetes ke lantai marmer yang putih bersih.
Seluruh dewan direksi terkesiap. Kenzo membeku. Ia melihat telapak tangannya yang terluka—sebuah noda pada kesempurnaan fisiknya. Ia menatap putranya. Renji tidak berekspresi, namun di matanya yang kecil, Kenzo melihat pantulan dirinya sendiri: seorang diktator yang siap melahap siapa pun.
❤️❤️❤️
Malam itu, setelah para tamu pergi, Kenzo berdiri di depan cermin, mengobati lukanya sendiri. Ia menolak bantuan medis. Ia ingin merasakan perih itu.
Ia berjalan menuju boks bayi Renji. "Kau ingin mencoba kekuatanku, hm?" bisik Kenzo, suaranya parau namun penuh gairah gelap. "Kau pikir goresan ini cukup untuk menjatuhkanku?"
Tiba-tiba, sebuah suara asing muncul dari sudut ruangan yang gelap.
"Dia hanya sedang mencicipi darahmu, Kenzo-kun. Agar dia tahu bagaimana rasanya saat dia harus menghabisimu nanti."
Kenzo berbalik cepat, pistolnya sudah di tangan. "Rena! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!"
Rena Sato melangkah keluar dari balik tirai beludru, mengenakan pakaian hitam ketat yang menyatu dengan kegelapan. Ia tidak tampak takut pada pistol di tangan Kenzo. "Sistem keamananmu sangat sempurna, Kenzo. Tapi kau lupa satu hal: sistem itu diciptakan oleh manusia yang takut mati. Sedangkan aku? Aku adalah kematian itu sendiri."
"Pergi dari sini! Atau aku akan menghancurkan bayi ini di depan matamu!" ancam Kenzo, meski tangannya sedikit bergetar.
Rena tertawa, suara tawa yang memenuhi ruangan itu dengan kengerian. "Hancurkan saja jika kau berani. Jika kau membunuhnya, kau membunuh satu-satunya alasan mengapa kau masih relevan di dunia ini. Kau tidak punya pewaris lain. Kau akan mati sendirian dalam kesempurnaanmu yang hampa."
❤️❤️❤️
Di luar gedung, Hana Sato berdiri di atap bangunan seberang dengan senapan runduk (sniper) yang diarahkan tepat ke jendela kamar Kenzo. Melalui teropong, ia bisa melihat ibunya berhadapan dengan Kenzo.
Jari Hana berada di pelatuk. Ia bisa mengakhiri semuanya sekarang. Ia bisa menembak Kenzo, atau bahkan mengakhiri hidup bayi yang ia anggap sebagai kutukan itu.
"Tarik pelatuknya, Hana... akhiri penderitaan ini," batinnya berbisik.
Namun, saat ia melihat Renji di dalam boks bayi, ia melihat sesuatu yang lain. Ia melihat dirinya sendiri—seorang anak yang lahir tanpa diminta, di dunia yang penuh dengan monster.
Hana menurunkan senjatanya. "Belum waktunya," gumamnya. "Biarkan warisan ini tumbuh. Biarkan Kenzo merasakan ketakutan setiap kali dia bangun di pagi hari, melihat anak itu tumbuh besar dengan niat membunuhnya."
❤️❤️❤️
Rena menghilang ke dalam kegelapan tepat sebelum tim keamanan elit menyerbu masuk. Kenzo berdiri mematung di tengah ruangan, darah dari tangannya kini sudah mengering, meninggalkan bekas luka kecil—sebuah cacat permanen pada tubuhnya yang sempurna.
Ia menatap Renji yang kini tertidur dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Warisan yang terluka," bisik Kenzo pada dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa mulai malam ini, ia tidak lagi menjadi pemburu. Ia adalah mangsa yang sedang dibesarkan oleh anaknya sendiri.
Di kejauhan, sirene polisi dan heli pengintai Matsuda Corp membelah malam Tokyo. Namun di tempat persembunyiannya, Hana Sato tersenyum untuk pertama kalinya. Senyum seorang Sato yang telah menemukan tujuan barunya. Perang besar antara keluarga Matsuda dan Sato belum berakhir; perang itu baru saja berpindah ke dalam satu atap yang sama.
BERSAMBUNG...