Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lydia dan Arion mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Lydia diterima bekerja di Kusuma Corp dan disibukkan dengan pekerjaannya, sementara Arion sibuk dengan skripsinya.
Lydia sangat disiplin dalam bekerja. Ia selalu memastikan dirinya tidak pernah terlambat sedetik pun datang ke Kusuma Corp. Bahkan, ia sering tiba paling pagi dibandingkan karyawan lain, sehingga ia hampir tidak pernah lagi bertemu Arion di pagi hari.
"Jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri, Lydia," ujar Jevan sambil berjalan memasuki ruangan Lydia.
Selain datang paling pagi, Lydia juga sering menjadi orang yang paling terlambat pulang. Jevan secara khusus mendatangi ruangan Lydia karena Arion mulai melakukan protes padanya.
Lydia, yang masih berkutat di depan laptop, menoleh dan menatap atasannya, lalu melemparkan senyuman. Ia tidak merasa sedang bersikap keras pada dirinya sendiri. Justru, yang ia lakukan adalah memantaskan diri untuk berada di sisi Arion.
"Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk perusahaan, Pak," ucapnya membalas perkataan Jevan dengan sopan.
Jevan mengangguk pelan. Ia mengerti, tapi ada seseorang yang tidak mengerti dan bahkan terus memprotesnya.
"Arion sudah menunggu di bawah. Dia bilang ponsel kamu mati?" tanyanya.
Lydia kontan mengecek ponselnya. Ternyata benar ponselnya mati. Ia terlalu sibuk hingga tidak sempat mengecek ponsel dan tidak sadar bahwa baterai ponselnya habis.
"Ah, iya. Baterai ponsel saya habis," jawab Lydia sambil menunjukkan ponselnya yang mati akibat kehabisan baterai.
"Lebih baik kamu temui Arion dulu. Kasihan dia sudah menunggu kamu dari tadi," saran Jevan.
"Iya, Pak. Kebetulan pekerjaan saya juga sudah selesai. Maaf sampai harus merepotkan Anda," ujar Lydia, lalu mematikan laptop dan membereskan barang-barangnya sebelum pulang.
Jevan tidak langsung pergi dari ruangan Lydia. Ia menunggu sampai Lydia selesai, dan baru keluar setelah perempuan itu melangkah meninggalkan ruangan. Bukan apa-apa, ia hanya ingin memastikan Lydia segera menghampiri Arion.
"Kenapa, Pak? Bapak mau pulang juga?" tanya Lydia bingung karena Jevan mengikutinya.
"Iya, saya mau pulang. Kamu pikir sekarang sudah jam berapa sampai saya tidak boleh pulang?" jawab Jevan santai.
Lydia berdeham pelan.
"Maaf... maksud saya bukan seperti itu," ujarnya, merasa tidak enak.
Obrolan mereka terhenti ketika pintu lift yang akan mereka naiki terbuka. Mereka berdua langsung masuk ke dalam. Lydia sengaja berdiri agak ke belakang agar Jevan memiliki ruang lebih luas.
Jevan melirik ke belakang. Ia sadar Lydia merasa tidak enak terhadapnya.
"Tidak perlu sungkan. Saya ini Paman dari calon masa depan kamu. Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga," ucapnya, yang justru membuat Lydia semakin sungkan.
Lydia dan Arion masih belum memiliki status apa-apa sampai hari ini. Mereka dekat, sering berpelukan dan bahkan sering berciuman, tapi Lydia merasa dirinya belum pantas disebut calon masa depan Arion.
"Bapak bisa saja," sahut Lydia sambil tertawa canggung.
Jiwa sosial Lydia dalam bekerja tinggi, namun ia tidak terbiasa membicarakan urusan pribadi di tempat kerja, apalagi di depan atasannya.
Tidak lama, pintu lift kembali terbuka. Mereka tiba di lantai bawah, tempat Arion menunggu Lydia.
Jevan mempersilakan Lydia keluar lift lebih dulu. Lydia mengangguk pelan sebelum melangkah keluar. Sebenarnya, Lydia sungkan mendahului atasannya, tapi ada yang sedang menunggunya.
"Arion," panggil Lydia, begitu matanya menangkap kehadiran Arion tidak jauh dari pintu lift.
Laki-laki itu tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Lydia. Meski belum ada status, tapi mereka menjadi pasangan yang saling mendukung satu sama lain.
Arion tidak masalah Lydia sibuk dengan pekerjaannya. Alasan ia datang ke kantor Lydia karena perempuan itu tidak bisa dihubungi. Biasanya, mereka hanya saling memberi kabar serta dukungan melalui pesan teks.
"Kamu menghubungi Kakak? Maaf, ponsel Kakak mati," ucap Lydia setelah berdiri di hadapan Arion.
Jevan masih mengikuti di belakang. Meski Lydia sudah menghampiri Arion, tapi ia merasa memiliki tugas yang belum dituntaskan.
"Tidak apa-apa, Kak. Yang terpenting Kakak baik-baik saja. Aku ke sini karena khawatir terjadi sesuatu dengan Kakak," kata Arion.
Jevan yang mendengarnya mencibir dalam hati. "Padahal tadi si Kakak marah-marah sama gue karena Lydia gak bisa dihubungi. Dasar bocah."
"Kakak baik-baik saja. Maaf membuat kamu khawatir," ujar Lydia merasa bersalah.
Arion tersenyum hangat. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Lydia, dan adegan itu harus disaksikan oleh duda seperti Jevan.
Bayangkan saja, Jevan yang bertahun-tahun menjadi duda harus menyaksikan kemesraan anak sahabatnya yang sudah mulai dewasa.
"Tidak perlu minta maaf. Kakak pasti sibuk sampai tidak sempat mengecek ponsel. Aku mengerti," ucap Arion lembut.
"Sebaiknya kalian pulang," Jevan menyela agar pasangan yang tidak memiliki toleransi terhadap duda itu segera pergi.
Ia muak diledek sahabat-sahabatnya karena belum memiliki pasangan, dan sekarang Arion seakan sengaja memamerkan kemesraan dengan Lydia di depan matanya.
Arion mengalihkan sejenak perhatiannya dari Lydia dan menatap sahabat ayahnya itu.
"Kenapa tidak Paman saja yang pulang duluan?" balasnya.
Jevan menganga tidak percaya. Ternyata Arion hanya bisa manis di depan Lydia.
***
Mobil Audi A4 Lydia menyelusuri jalanan yang mulai lengang. Arion mengemudi dengan tenang, sementara Lydia tampak tertidur di kursi penumpang.
Arion membawa kendaraan sendiri ke Kusuma Corp. Namun, ia memilih menaiki mobil Lydia untuk pulang dan menitipkan motornya pada Jevan.
"Oh ya, aku punya kabar baik. Aku sudah lulus skripsi dan sekarang tinggal menunggu jadwal wisuda," ujar Arion, tanpa menyadari bahwa perempuan di sampingnya telah tertidur.
"Kakak nanti bisa datang ke wisuda aku, kan?" Arion menoleh sejenak ke arah Lydia, hendak melihat reaksinya. Namun, yang ia lihat justru wajah lelap perempuan itu.
Pantas saja Lydia tidak memberikan reaksi apa pun saat Arion memberi tahu kelulusannya, ternyata sudah berada di alam mimpi.
"Kakak pasti kelelahan," ucapnya sambil mengusap pelan puncak kepala Lydia dengan satu tangannya yang masih memegang kemudi.
"Baiklah, aku akan memberi tahu kabar baik ini lagi besok," batin Arion, menatap Lydia sejenak sebelum kembali fokus ke jalanan di depannya.
Ia sedang membawa perempuan yang dicintainya di sampingnya, sehingga ia harus berhati-hati dalam mengemudikan mobil.
Sebenarnya, yang paling Arion tunggu-tunggu dari wisudanya adalah momen ketika ia melamar Lydia, seperti yang telah direncanakan oleh keluarganya.
Ia berharap semuanya lancar agar mereka bisa secepatnya memiliki kejelasan status.
***
Lydia perlahan membuka mata dan mendapati dirinya berbaring di atas tempat tidur. Terakhir kali yang ia ingat adalah saat dirinya di mobil bersama Arion, tapi sekarang tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam kamarnya.
"Apa gue ketiduran ya?" gumamnya sambil meraih jam di samping tempat tidurnya.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Lydia tertidur tanpa makan malam ataupun mengganti pakaiannya.
Tidak berselang lama, Lydia mengubah posisinya menjadi duduk. Jika benar ia tertidur, berarti Arion yang menggendongnya sampai ke lantai enam.
"Astaga, Lydia. Bagaimana bisa lo membiarkan Arion bersusah payah gendong lo ke sini?" ucapnya sambil memukul pelan kepalanya sendiri.
Ia selalu memperhatikan berat badannya agar tetap ideal, tapi tetap saja tubuhnya berat dan Arion pasti kesusahan membawanya ke kamar.
"Apa yang akan Pak Calvin katakan kalau tahu gue sudah menyusahkan keponakan kesayangannya?" batinnya.
Arion disayang oleh seluruh anggota keluarganya, namun yang entah kenapa yang ada dipikiran Lydia justru reaksi Calvin.