Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah Part 1.
Pagi datang dengan cepat.
Mataku terbuka perlahan, dan hal pertama yang kusadari adalah aku masih dipeluk.
Tubuh Arven hangat di hadapanku. Lengannya melingkar di pinggangku, cukup dekat, aku bisa merasakan napasnya yang teratur.
Aku tidak bergerak, kalau aku bergerak takut ia akan terbangun.
Kepalaku masih bersandar di dadanya. Aku bisa mendengar detak jantungnya, pelan dan stabil. Sesekali terasa sedikit lebih cepat, lalu kembali normal. Seolah tubuhnya bereaksi bahkan sebelum ia benar-benar sadar.
Aku tersenyum kecil, tanpa alasan jelas.
Sejak malam tadi, sejak kami benar-benar saling memeluk tanpa jarak, ada sesuatu yang berubah. Aku bisa merasakan, kami menjadi semakin seperti kekasih.
Aku menggeser kepalaku sedikit, tanpa sadar. Dadanya terasa hangat, nyaman, dan untuk sesaat, aku berpikir
'Oh, jadi begini rasanya.'
Arven bergerak pelan.
"Udah bangun?" suaranya berat, serak khas orang baru bangun.
Aku mengangguk kecil, "Dari tadi."
"Hm." Arven menjeda perkataan nya. Lalu ia terkekeh pelan. "Aku juga."
Aku mendongak, menatap wajahnya. "Bohong."
Ia membuka satu mata, tersenyum malas. "Aku bangun pas kamu merhatiin aku. Tapi kamu kelihatan terlalu serius, jadi aku pura-pura tidur."
Aku refleks memukul dadanya pelan. "Ih lagi-lagj gitu."
Karena sedikit kesal, aku mencoba menjauhkan tubuhku darinya. Lalu, ia tertawa rendah, dan menarikku lebih dekat. Lengannya mengencang sedikit.
"Jangan jauh-jauh dulu," katanya ringan.
Aku tidak menjawab perkataannya, aku hanya diam.
Kami menghabiskan pagi tanpa terburu-buru. Sarapan sederhana, duduk berhadapan. Arven beberapa kali menyentuh tanganku kadang cuma ujung jarinya, kadang menggenggam ssebenta.
Aku merasa tenang sama dia.
Siang hari, Arven bekerja di ruang tengah. Aku duduk tak jauh darinya, membuka ponsel, menutupnya lagi.
Tidak ada pesan baru.
Awalnya aku tidak begitu kepikiran, Maya sibuk. Ia mau menikah. Itu masuk akal bagi tiap orang, tapi hari ini kupikir Maya akan mengabariku lagi. Namun semua tidak sesuai perkiraan ku.
Aku membuka WhatsApp lagi. Tidak ada chat baru, hanya chat terakhir kami yang masih ada. Pesan-pesan acaknya yang sempat membuatku tertawa. Aku membacanya ulang, senyumku muncul sendiri.
"Mungkin dia ngetiknya setengah tidur," gumamku.
"Apa?" Arven menoleh dari laptopnya.
Aku menggeleng cepat. "Enggak, cuma chat lama aku sama Maya."
Ia mengangguk, lalu kembali bekerja. Tapi beberapa detik kemudian, tangannya terulur, menggenggam tanganku pelan.
"Jangan kelamaan main HP," katanya lembut. "Nanti pusing."
Aku menatap tangannya yang menggenggam tanganku, lalu tersenyum. "Iya."
Aku tidak bilang kalau sebenarnya aku menunggu satu nama Maya muncul di layar.
Sore menjelang. Rasa itu muncul lagi, kali ini sedikit lebih jelas. Maya biasanya tidak selama ini menghilang.
Aku memang hilang ingatan, kami juga baru mau mencoba untuk dekat lagi. Tapi firasat ku mengatakan Maya orangnya tidak seperti ini. Dia ceria, saat kemarin kami chatan juga dia tipe orang yang suka menceritakan banyak hal.
Karena merasa frustasi, aku berdiri mendekati Arven, lalu duduk di pangkuannya begitu saja. Gerakanku spontan, bahkan membuatku sendiri kaget.
"Eh-" Ia terkejut sebentar.
"Ganggu?" tanyaku.
Ia tertawa kecil, lalu tangannya otomatis menopang punggungku. "Enggak. Sama sekali enggak."
Aku melingkarkan tangan ke lehernya, bersandar. Dadanya lagi-lagi terasa hangat. Detak jantungnya terdengar lebih cepat sekarang, jelas di telingaku.
"Kamu kenapa?" tanyanya pelan.
Aku ingin bilang tentang Maya. Tentang rasa ganjil yang aku rasakan. Tapi kata-kataku tertahan di tenggorokan. Aku tidak ingin merusak momen aku sama Arven. Aku juga tidak ingin terlihat seperti orang yang selalu gelisah.
"Cuma pengen dekat," jawabku akhirnya.
Ia terdiam sebentar, lalu mengecup pelipisku.
"Kamu boleh," katanya pelan. "Tiap saat juga boleh."
Malam turun tanpa terasa. Kami menonton film, tapi pikiranku sesekali melayang. Aku melirik ponselku lagi.
Masih tidak ada pesan.
Aku mengetik pelan.
Aku:
May, kamu sibuk ya?
Pesan terkirim. Centang dua, tapi tidak kunjung di baca sama Maya.
Aku menunggu, beberapa menit berlalu, tidak berubah juga.
Arven menarikku ke dalam pelukannya dari samping. Dagunya bertumpu di kepalaku, lengannya mengelilingiku.
"Kamu capek?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Enggak."
Tangannya mengusap lenganku, gerakan yang menenangkan. "Kalau capek, bilang. Aku disini."
Aku mengangguk, membiarkan diriku tenggelam dalam pelukannya.
Malam itu, aku tidur dengan Arven memelukku dari belakang. Jari-jari kami saling mengunci. Napasnya terasa hangat ketika menyentuh tengkukku.
Di tengah rasa nyaman itu, satu pikiran kecil tetap tinggal, berbisik pelan di kepalaku.
Kenapa Maya belum membalas?
Aku memejamkan mata, memutuskan untuk tidak memikirkannya malam ini.
Besok, mungkin.
Besok pasti Maya akan mengabariku.
Pagi berikutnya berjalan seperti biasa. Arven bangun lebih dulu. Aku tahu itu dari suara pelan di dapur, bunyi panci yang disentuh hati-hati, langkah kakinya yang sengaja diperlambat. Saat aku keluar kamar, ia sudah menyiapkan dua piring di meja.
"Kamu bangun?" tanyanya sambil menoleh.
"Iya," jawabku. "Kamu kenapa pelan banget jalannya?"
Ia tersenyum kecil. "Takut kamu kebangun."
Aku tertawa pelan, lalu mendekat dan berdiri di belakangnya. Tanganku melingkar di pinggangnya, keningku menyentuh punggungnya sebentar. Ia kaku sesaat, lalu mengendur, membiarkanku.
"Masak apa aja?" tanyaku.
"Yang kamu suka," katanya. "Telur, roti, sama kopi. Jangan protes."
Aku mencium punggung bajunya singkat, lalu duduk. Saat kami makan, lutut kami bersentuhan di bawah meja. Arven beberapa kali melirikku, seolah ingin memastikan aku benar-benar ada di sana.
"Kamu ada rencana hari ini?" tanyanya santai.
Aku mengangkat bahu. "Nggak ada. Mungkin nonton, baca atau ganggu kamu kerja."
Ia mendengus kecil. "Ganggu juga nggak apa-apa."
Kalimat itu hangat. Sampai membuat dadaku mengembang sebentar lalu menyempit lagi, karena rasa itu kembali muncul.
Setelah sarapan, Arven bekerja di ruang tengah. Aku berpindah-pindah tempat sebentar di sofa, sebentar di karpet dekat kakinya. Kadang aku menyandarkan punggung ke pahanya, kadang ia menepuk pelan kepalaku, tanpa melihat, tanpa berkata apa-apa.
Aku membuka ponsel lagi.
Masih tidak ada pesan.
Aku menutup layar. Mencoba fokus pada suara keyboard Arven, pada cahaya siang yang masuk lewat jendela, pada hal-hal kecil yang biasanya cukup untuk menenangkan.
"Seren," panggilnya tiba-tiba.
"Hm?"
"Kamu melamun."
Aku mengangkat kepala. "Kelihatan ya?"
"Sedikit," katanya jujur. "Kamu kenapa?"
Aku ragu sepersekian detik. "Enggak kenapa-kenapa. Cuma kepikiran dikit."
Ia memutar kursinya menghadapku. Tatapannya lembut, menatap langsung ke mataku "Kalau mau cerita, aku dengerin."
Aku tersenyum, lalu menggeleng. "Nanti."
Ia mengangguk. Arven tidak memaksa, tapi tangannya mengusap rambutku sekali, perlahan, seolah ingin menaruh tanda bahwa pembicaraan itu belum benar-benar selesai.
Siang berlalu. Kami makan siang bersama, tertawa kecil karena Arven menjatuhkan sendok, lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Ia menyuapi aku satu sendok nasi katanya karena tanganku sibuk pegang ponsel dan aku menurut saja, walau pipiku panas.
"Jangan kebiasaan," protesku.
"Biarin," katanya. "Aku senang manjain kamu."
Aku membuka WhatsApp lagi saat ia kembali bekerja. Chat Maya masih sama. Aku menggulir ke atas, membaca percakapan lama, mencoba menangkap nada suaranya dari kata-kata. Aku hampir mengetik lagi, lalu menghapusnya.
Mungkin aku terlalu lebay, pikirku. Mungkin ia benar-benar sibuk. Pernikahan itu besar, semua orang tahu itu.
Sore hari, Arven menutup laptopnya dan menarikku berdiri. "Mau keluar sebentar?"
"Ke mana?" tanyaku, tidak biasa nya Arven mengajakku keluar. Terlebih dia paling anti membawaku keluar.
"Beli es krim. Jalan dikit."
Aku tertawa. "Alasan banget." Mungkin dia tau aku sedang gelisah.
Ia meraih jaketku, memakaikannya sendiri. Tangannya lama di kancing, jari-jarinya hangat. "Ayo."
Kami berjalan pelan di sekitar apartemen. Tidak jauh. Arven menggenggam tanganku, ibu jarinya mengusap punggung tanganku berulang-ulang, seperti kebiasaan baru yang ia temukan saat ia mencoba menenangkanku. Aku mencondongkan bahu ke arahnya, menikmati langkah yang seirama.
"Kamu keliatan lebih cerah hari ini," katanya.
"Karena es krim?" tebakku.
"Karena kamu senyum," jawabnya ringan.
Aku tertawa, lalu diam. Senyumku memudar pelan.
"Ven," kataku akhirnya.
"Hm?"
"Kalau temen lama kamu tiba-tiba ngilang, kamu bakal kepikiran nggak?"
Ia berhenti berjalan. Menoleh padaku. "Ngilang gimana?"
"Ya nggak bales chat. Padahal biasanya bales."
Ia berpikir sebentar. "Aku bakal nanya sekali. Terus nunggu."
"Kalau lama?"
"Berarti ada alasannya," katanya. "Atau dia butuh waktu."
Jawaban itu masuk akal. Aku mengangguk, mencoba meyakinkan diriku sendiri.
Malam datang. Kami makan malam, lalu kembali ke sofa. Aku menyandarkan kepala ke bahunya. Tangannya melingkar di bahuku, menepuk-nepuk pelan, ritmenya menenangkan.
Aku melirik ponsel lagi.
Masih tidak ada pesan.
Dadaku terasa sedikit sesak, kali ini tidak bisa diabaikan sepenuhnya.
"Seren," kata Arven lembut, tanpa melihat layar. "Taruh dulu HP-nya."
Aku menuruti. Meletakkannya terbalik di meja. "Maaf."
Ia menoleh, tersenyum kecil. "Nggak usah minta maaf."
Ia menarikku lebih dekat. Aku menempelkan telingaku ke dadanya. Detak jantungnya terdengar sedikit lebih cepat dari pagi tadi.
"Istirahat ya?," katanya pelan. "Sama aku."
Kalimat itu seharusnya membuatku tenang. Dan memang sebagian diriku merasa sangat tenang.
Tapi di sudut kecil kepalaku, kekhawatiran ku sama Maya tetap ada.