"kau membutuhkan uang dan aku membutuhkan seorang istri, bukannya kita akan saling menguntungkan.." kata Vico dengan menatap lekat Antin.
Antin bingung harus bagaimana lagi sekarang,, dia membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ayahnya yang memerlukan banyak uang.
Sedangkan uang yang ia kumpulkan selama ini hanya mencukupi biaya perawatan ayahnya saat ini.
Darimana lagi ia harus mendapatkan uang untuk biaya operasi ayahnya....
IG kenz kcp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikmahkhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Antin sudah menyelesaikan pekerjaannya yang tentunya dihantui oleh rasa cemas, apa ia benar-benar akan dipecat oleh pria sialan Itu. Antin menggeleng kepalanya dengan cepat, jangan memakinya seenaknya hidupmu sekarang ada ditangannya.
Bagaimana kalau ia benar-benar dipecat karna ucapan-ucapan yang ia lontarkan padanya, bukan-bukan ia memakinya bukan.
Lalu kalau teman pegawainya juga akan dipecat karna kesalahannya bagaimana, astagaa.. kenapa ia melakukan hal bodoh Itu. Kenapa ceroboh sekali sih..
Antin mondar-mandir didepan ruangan Bu Laila dengan menggigit jarinya cemas, bagaimana ini.. mau tidak mau ia harus meminta maaf kepadanya, kalau ia tidak mau dipecat.
Ia sudah yakin kalau Vico masih ada didalam karna didepan masih ada satu mobil, dan tidak mungkin Itu mobil pelanggannya karna ia sudah menutup cafenya karna sudah malam.
" kenapa gugup sekali.." Antin memukul-mukul dadanya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Masih dengan mondar-mandir tidak jelas, seharusnya ia harus cepat menyelesaikan masalahnya agar cepat pulang karna hari juga mulai malam.
Liza dan Seina sudah pulang lebih dulu, dan pastinya Seina memperingati agar ia bisa meminta maaf kepada Vico agar ia juga tidak mendapatkan masalah.
Ia memegang handle pintu dengan tangannya yang bergetar, nafasnya rasanya tercekat saat pintunya terlebih dahulu dibuka oleh Vico dari dalam dan keluarlah Vico.
Antin langsung mendudukkan kepalanya, nafasnya sungguh memburu tak karuan, kenapa setakut ini.
Menggenggam tangannya yang tidak bisa bergetar sedari tadi.
Menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
" ada apa..?" tanya Vico dingin.
Antin masih bungkam, ia mencoba mengatur nafasnya.
Ia takut sungguh, Antin menelan susah salivanya saat ingin mengatakan sesuatu.
" emm...be..begini..." kata Antin terbata-bata.
Vico menatapnya tajam, ia ingin segera pulang namun wanita didepannya ini mengulur-ulur waktunya.
Moodnya sudah hilang gegara wanita didepannya ini menudingnya sebagai maling, asstagaaa...
kesal sendiri ia memikirnya, kenapa setiap bertemu wanita ini membuatnya kesal saja.
" cepatlah....." kata Vico kesal saat Antin masih bungkam.
" eh.. eh..ba...baik..." Antin menghembuskan nafasnya, mengumpulkan semua kekuatannya untuk meminta maaf.
Antin membungkukkan badannya permohonan maafnya.
" saya minta maaf tuan, atas perilaku saya tadi yang kurang sopan kepada anda..." kata Antin yang sungguh sangatlah gugup.
" tadi..?" kata Vico kesal.
Antin menegakkan badannya, menatap Vico yang mengernyit dengan kesal tentunya.
" soal saya menuduh anda maling tuan,," Kata Antin menundukkan kepalanya.
" cih.." Vico berdecih.
Antin mendengarnya kesal, kenapa songong sekali sih orang ini.
Tidak tahu ya aku ini meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
" bukannya setiap kali kau bertemu denganku kau selalu memakiku ya.." Vico tersenyum sinis menatap Antin yang sudah sangat pucat saat ia mengatakannya.
Antin memejamkan matanya, kenapa harus ingat sih.
Menghembuskan nafasnya, membungkuk kan badannya lagi memohon maaf.
" saya minta maaf tuan, atas ketidak sopanan saya..." kata Antin.
Tidak perduli lagi dengan harga dirinya, ia harus bisa mendapatkan maaf agar ia tidak sampai dipecat dan temannya tidak terlibat dalam masalahnya.
Vico hanya diam tak menjawab hanya menatapnya kesal, pekerjaan yang harusnya selesai Hari ini harus tertunda gegara wanita didepannya yang membuat moodnya berantakan.
Ia bahkan tidak menyentuh sama sekali, ia hanya berdiam diri dan akhirnya ia tertidur di ruangan Bu Laila.
Vico mendengus dan melewati Antin begitu saja meninggalkan Antin yang masih dengan posisi membungkukkan badannya.
Ia ingin segera pulang kerumahnya dan istrirahat.
Antin langsung menenggakkan badannya saat Vico melaluinya begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun ataupun menerima permintaan maafnya.
Tidak-tidak ia harus mendapatkan permintaan maaf darinya agar ia tidak dipecat. Apapun Itu caranya.
Antin berlari kecil menyusul Vico, kenapa cepat sekali ia sudah sampai sana saja.
Antin langsung menarik ujung jas Vico agar ia bisa berhenti.
Vico langsung menatap tajam kearah Antin yang berani-beraninya mencegahnya untuk pergi.
" maaf tuan.." kata Antin saat Vico menepis tangannya yang menarik ujung jasnya.
" apa maumu..." Sudah sebal sekali Vico menghadapi Antin ini.
" saya minta maaf tuan, tolong jangan pecat saya.." Antin membungkukkan badannya lagi. Tidak perduli lagi ia hanya menginginkan permintaan maafnya diteriman oleh tuannya yang sialan ini.
" memecatmu.." kata Vico bingung.
Antin bergidik ngeri saat mendengar Vico tertawa kecil.
Vico Tak habis fikir dengan Antin, kenapa ia berfikir ia akan memecatnya karna kesalahannya tadi.
Polos sekali bukan.
" kenapa aku harus memecatmu.." kata Vico.
" tidak tuan, maksudku jangan...tolong jangan pecat saya.." Antin memohon kepada Vico.
Kalau ia benar-benar dipecat ia akan bekerja dimana lagi, susah sekali mencari pekerjaan paruh waktu saat ini.
" kalau aku akan benar-benar memecatmu bagaimana...." kata Vico santai.
Sedangkan Antin seperti tersengat listrik mendengarnya, kenapa dia menyebalkan sekali.
Kurang apa, ia bahkan sudah memohon dan meminta maaf kepadanya.
" bagaimana caranya agar aku bisa menerima maafmu Itu.." kata Vico.
Entah kenapa ada kesenangan sendiri saat melihat wajah Antin yang sungguh terlihat cemas dan ketakutan Itu.
" saya akan melakukan apapun tuan, agar bisa mendapatkan permintaan maaf anda.."
Antin terbelalak, tak percaya apa yang dia katakan sendiri.
Kenapa bodoh sekali,, Antin sungguh merutuki kebodohannya, kesal sendiri.
" oh ya,, semua yang aku katakan.." kata Vico tersenyum sinis.
Antin mengangguk begitu saja, memejamkan matanya tak percaya.
Bagaimana kalau pria brengsek ini akan melakukan yang tidak-tidak.
" kalau begitu, menikahlah denganku..."
Jangan lupa like dan vote.....:))