NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: tamat
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:249.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan Kita Nggak Nyampe

"Nggak perlu nunggu dua puluh tahun, Mbah. Hari ini kaki Mbah bakal patah. Kalau nggak percaya, besok Mbah datang lagi ke sini," ucap Sri Lestari sambil menggelengkan kepalanya pelan, menatap lurus ke arah lelaki tua yang menggelar lapak ramalan di pinggir pasar itu.

Di mata Sri Lestari, ada kabut hitam pekat yang menyelimuti wajah keriput si Mbah Dukun.

Itu tanda sengkala, marabahaya yang sedang mengintai.

Pandangan Sri Lestari beralih ke ibu berwajah kusut di sebelahnya.

"Dan Ibu juga. Hari ini Ibu pulang ke rumah bakal dipukuli suami Ibu."

Wajah ibu itu, Bu Ratmi, mendadak merah padam.

"Heh, bocah edan! Nggak mungkin! Mulutmu itu lho, minta dicabein! Besok aku bakal balik lagi ke sini buat nyumpel mulutmu itu!"

Sebenarnya hati Bu Ratmi ketar-ketir.

"Besok pagi aku bakal nunggu kalian di sini lagi," kata Sri Lestari dengan suara tenang yang tak lazim untuk anak seusianya.

Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

"Siapa yang nggak datang, bakal apes tujuh turunan selama setahun. Aku berani sumpah, kalian juga harus berani!"

Kata 'sumpah' di pasar tradisional itu sakral.

Apalagi keluar dari mulut anak kecil.

Orang-orang yang mengerumuni mereka mulai kasak-kusuk.

"Walah, anak segitu aja berani sumpah, masa kalian yang tua takut?" celetuk seorang tukang becak.

"Iya, sumpah aja! Kita juga pengen nonton besok, ramalannya mandi apa ora. Kalau meleset, bubar aja lapakmu, Mbah!" timpal bakul sayur.

Suasana makin riuh.

Si Mbah Dukun merasa harga dirinya diinjak-injak.

"Oke! Siapa takut! Aku buka lapak di sini tiap hari. Biarpun kakiku patah beneran, aku bakal minta orang tandu aku ke sini!" serunya berapi-api.

Dia sudah puluhan tahun makan garam dunia klenik, dia tidak percaya ada bocah yang bisa meramal sedetail itu.

Hari ini patah kaki? Cih, itu mah bukan meramal, itu nyumpahin!

Bu Ratmi juga tak mau kalah.

"Oke! Besok aku pasti datang. Awas kalau meleset!"

"Tapi tunggu dulu," Si Mbah Dukun menyipitkan mata liciknya menatap Sri Lestari.

Penampilan bocah itu lusuh, bajunya kusam meski bersih.

"Kalau ramalanmu salah, kamu mau tanggung jawab apa? Bikin malu orang tua aja."

Sri Lestari tersenyum manis, lesung pipitnya muncul.

"Kalau aku salah, aku kasih kalian masing-masing satu juta!"

"Halah, gaya bener! Tampangmu aja susah, mana punya duit segitu," cibir si Mbah.

"Emang aku nggak punya duit, Mbah. Soalnya aku nggak bakal kalah," jawab Sri Lestari polos namun menohok.

"Nggak usah duit. Kalau kamu kalah, kamu harus sungkem di kakiku sembilan kali sambil nyalain kemenyan!" tantang si Mbah sambil mengelus jenggot putihnya.

Sri Lestari mengangguk mantap.

"Boleh."

Bu Ratmi menimpali, melirik Abah Kosasih yang berdiri diam di belakang Sri Lestari.

"Kalau kamu kalah, Nduk, aku nggak minta sejuta. Seratus ribu aja cukup. Kamu nggak punya, kakekmu pasti punya. Tapi kalau kamu minta maaf sekarang, aku anggap angin lalu."

Bu Ratmi sebenarnya tergiur uang, tapi dia gengsi kalau kelihatan mata duitan.

Belum sempat Sri Lestari menjawab, Abah Kosasih maju selangkah.

Wibawanya terpancar meski pakaiannya sederhana.

"Seratus ribu ada. Kita buktikan besok pagi."

Tanpa banyak bicara, Abah Kosasih menggandeng tangan mungil Sri Lestari, membelah kerumunan orang yang memberi jalan.

Sepeninggal mereka, Bu Ratmi masih penasaran.

Ia menoleh ke si Mbah Dukun.

"Mbah, anakku Narti itu beneran nasibnya jelek ya?"

Dia masih ragu soal ramalan 'dua puluh tahun lagi'.

Tapi kalau Narti benar-benar punya nasib jadi Jenderal atau orang besar, itu beda cerita.

Bayangkan, kalau Narti jadi Jenderal wanita pertama, kehormatan macam apa itu? Kalau dia jual Narti sekarang, hilanglah kesempatan dia jadi orang kaya nantinya.

"Kamu nggak percaya sama aku ya sudah. Dia bilang anakmu bakal jadi orang besar, tapi mataku melihat anakmu itu umurnya pendek. Sudahlah, besok kita lihat siapa yang benar," gerutu si Mbah sambil membereskan lapaknya lebih awal.

Hatinya tidak tenang, dia mau pulang, mengunci pintu, dan tidur seharian untuk menghindari sial.

Kerumunan pun bubar.

Bu Ratmi menyeret anaknya pulang dengan pikiran berkecamuk.

Jauh dari keramaian pasar, di jalan setapak berbatu, Abah Kosasih akhirnya bertanya.

"Nduk, Tari... Kamu nggak apa-apa? Nggak pusing atau lemes kan habis ngomong gitu?"

Abah Kosasih tidak peduli soal uang atau rasa malu.

Dia cuma takut cucunya sakit lagi.

Meski dia tidak paham medis, dia tahu cucunya ini istimewa tapi ringkih. Sejak Sri Lestari tinggal bersamanya, pipi bocah itu mulai berisi, tapi sorot matanya kadang terlihat lelah seperti orang tua yang menanggung beban dunia.

"Abah tenang aja. Tari lagi nolong orang kok. Kalau Tari diem aja, Mbak itu bakal dijual sama Ibunya, kasihan Bah, bisa mati dia di sana. Terus bayi di perut Ibu itu juga bisa nggak selamat. Tari nyelamatin dua nyawa lho," celoteh Sri Lestari riang.

Hatinya hangat.

Dia merasa bangga.

Energi positif mengalir di tubuhnya.

"Ya sudah kalau gitu. Abah cuma mau Nduk tahu, Abah, Pakdhe Jaka, sama Ibu Kinar bakal selalu ada di belakangmu. Kami bakal jagain Tari."

Sri Lestari mendongak, menatap wajah teduh kakeknya.

"Iya, makasih ya Bah. Tari seneng banget. Rasanya adem di hati."

Kasih sayang tulus dari keluarga ibunya ini seperti pupuk yang menyuburkan jiwanya yang dulu gersang di rumah keluarga Wibowo.

Mereka bertemu Kinar di pangkalan gerobak sapi di pinggir desa.

Tidak ada yang membahas kejadian di pasar.

Sri Lestari yang kelelahan langsung tertidur di pangkuan kakeknya begitu gerobak mulai berjalan pelan menembus jalanan desa yang berlubang.

"Bah, tadi kalian ke mana saja?" tanya Kinar pelan setelah memastikan anaknya pulas.

Abah Kosasih menceritakan semuanya dengan suara rendah.

"Abah cerita ini biar kamu nggak kaget besok. Tari nggak cerita karena nggak mau kamu kepikiran. Kamu paham kan, Nar?"

Kinar mengangguk, matanya berkaca-kaca menatap wajah damai putrinya.

"Paham, Bah. Kinar cuma ngerasa nggak berguna. Kinar Ibunya, tapi Kinar nggak bisa bantu apa-apa soal kelebihan dia itu."

"Dia anakmu, Nar. Darah dagingmu."

Suara roda gerobak sapi beradu dengan bebatuan jalan memecah keheningan sore.

Matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga di langit desa.

"Di mata Tari, dunia ini isinya apa, kita nggak ada yang tahu. Abah juga nggak paham," lanjut Kosasih sambil membetulkan letak pecinya.

"Kita orang awam nggak ngerti takdir orang lain. Mau bantu pun, tangan kita nggak nyampe."

Kosasih menatap cucunya yang tertidur lelap, napasnya teratur.

"Tari itu nggak butuh kita ikut campur urusan 'sakti'-nya. Kita nggak nambah beban dia aja sudah bagus. Kita hidup lurus, kerja bener, itu bantuan terbesar buat dia."

Melihat Kinar yang masih menunduk sedih, Kosasih menambahkan dengan lembut,

"Coba lihat, akhir-akhir ini Tari kelihatan bahagia banget kan? Masakanmu, baju barunya yang kamu jahit sendiri dari kain sisa, itu semua bikin dia seneng. Itu energinya dia. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan, Nar. Jangan menyiksa diri sendiri."

"Kamu melahirkan dia itu rezeki, takdir Gusti Allah. Kamu boleh sayang sama dia, tapi jangan lupa sayang sama dirimu sendiri juga."

Air mata Kinar menetes, ia buru-buru menyekanya dengan ujung selendang.

"Makasih, Bah. Kinar ngerti."

Sesampainya di rumah kayu sederhana mereka, Kinar langsung sibuk di dapur, menyiapkan adonan kerupuk tulang ikan untuk dijual besok.

Sri Lestari baru bangun saat langit sudah temaram.

Lampu petromak mulai dinyalakan.

Ia duduk di lincak depan rumah, bermain dengan 'Si Blorok', anjing kampung liar yang sering mampir.

Kaki kiri Si Blorok pincang, bekas kena jerat pemburu.

Sri Lestari menatap kaki anjing itu.

Tanpa sadar, tangannya mengelus kepala hewan itu, dan anjing itu tampak lebih bugar, ekornya bergoyang antusias, seolah rasa sakit di kakinya berkurang drastis saat dekat dengan Sri Lestari.

Sri Lestari kemudian mengambil ranting, mencoret-coret tanah, belajar menulis huruf yang diajarkan kakeknya.

Pikirannya melayang ke kejadian di pasar. Kira-kira ramalanku sudah kejadian belum ya?

Di dusun sebelah, suasana berbeda terjadi di rumah Bu Ratmi.

Bu Ratmi berjalan pulang bersama Narti, anaknya, dengan hati dongkol.

Melewati pematang sawah, ia mencubit lengan Narti dengan gemas.

"Gara-gara kamu nih! Bikin sial!"

Narti diam saja.

Kulitnya yang legam terbakar matahari sudah kebal.

Cubitan ibunya tidak seberapa dibanding rasa lapar yang biasa ia tahan.

Bu Ratmi mengomel sendiri,

"Perutku belum genap sebulan, belum kelihatan buncit. Si Mbah Dukun itu aja nggak tahu aku hamil, kok bocah tadi bisa tahu ya?"

Ia melirik Narti.

"Heh, Narti, menurutmu adikmu ini laki apa perempuan? Katanya anak kecil matanya awas. Bocah tadi aja sakti, coba kamu tebak!"

Narti menjawab datar tanpa ekspresi,

"Nggak tahu, Bu. Nggak kelihatan."

Jawaban itu membuat Bu Ratmi makin kesal.

Plak! Satu geplakan mendarat di punggung Narti.

Mereka sampai di rumah gubuk reyot mereka.

Hati Bu Ratmi masih kepikiran soal ramalan 'jadi Jenderal' itu.

Apa iya anak dekil begini bisa jadi Jenderal? Kan Jenderal itu laki-laki, batinnya.

"Sana, cari rumput dua karung buat kambing!" perintah Bu Ratmi begitu sampai di halaman.

Narti langsung mengambil arit dan karung goni, pergi tanpa membantah.

Bu Ratmi masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.

Ia melihat suaminya, Kang Jupri, sedang duduk merokok di balai-balai bambu.

"Kang, aku mau cerita, tadi di pasar aku..."

"Mana tuak pesenanku?" potong Kang Jupri kasar.

Matanya merah, seharian belum kena alkohol membuatnya uring-uringan.

"Sini cepet! Mulutku pait nih!"

Wajah Bu Ratmi pucat pasi.

Darah serasa surut dari kepalanya.

"Aduh... anu, Kang... aku lupa... Tadi itu soalnya ada kejadian..."

PLAKKK!

Belum selesai ia bicara, telapak tangan kasar Kang Jupri sudah mendarat telak di pipi Bu Ratmi.

Tamparan itu begitu keras hingga tubuhnya terhuyung, nyaris menabrak meja kayu.

Kalau saja dia tidak berpegangan, dia pasti sudah jatuh tersungkur.

"Benda sepenting itu kamu lupa?! Otakmu di mana, hah?! Dasar perempuan nggak becus!"

Kang Jupri bangkit, tinjunya mengepal, siap melayang lagi. Setan alkohol sudah menguasai pikirannya.

"Kang! Ampun Kang! Aku lagi hamil, Kang! Anakmu!" jerit Bu Ratmi histeris sambil memegangi perutnya.

Gerakan tangan Kang Jupri terhenti di udara.

Napasnya memburu seperti kerbau gila.

Matanya melotot, urat lehernya menonjol. Dia tidak jadi memukul, tapi tangannya beralih mencengkeram rahang istrinya dengan kasar.

"Bikin emosi aja! Kalau bukan karena kamu bunting, udah kuhabisi kamu!" geramnya.

"Mana duit sisa belanja? Siniin! Biar aku beli sendiri!"

Dengan tangan gemetar hebat, Bu Ratmi merogoh sakunya, mengeluarkan dompet kain lusuh.

Kang Jupri menyambar uang itu dan pergi sambil membanting pintu.

Sepeninggal suaminya, Bu Ratmi merosot ke lantai tanah.

Ia menangis sesenggukan.

Pipinya panas, sudut bibirnya sobek berdarah.

Tiba-tiba, bulu kuduknya meremang.

Ramalan bocah itu... kejadian.

"Hari ini Ibu pulang ke rumah bakal dipukuli suami Ibu."

Kalimat Sri Lestari terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak.

Kalau ramalan dipukul suami itu benar... berarti ramalan soal Narti bakal jadi Jenderal di masa depan itu juga benar?

Dan... dia harus bayar denda atau kena sial setahun?

Wajahnya sudah babak belur begini, besok dia harus ke pasar menemu bocah itu? Malu dong!

Tapi kalau nggak datang... sial setahun?

Sore harinya, Kang Jupri belum pulang.

Narti pulang membawa karung rumput, lalu diam-diam menyiapkan makan malam seadanya, nasi jagung dan ikan asin.

Saat memanggil ibunya makan, Narti terkejut melihat wajah Bu Ratmi yang bengkak sebelah dengan cap lima jari yang jelas.

Anak umur sembilan tahun itu sudah paham kekerasan.

Tapi melihat ibunya, yang biasanya galak, kini jadi korban, ada rasa aneh di hatinya.

"Apa liat-liat?! Seneng kamu liat aku dipukuli Bapakmu?!" bentak Bu Ratmi, melampiaskan kekesalannya lagi.

Padahal dalam hati, ia mulai menatap Narti dengan pandangan berbeda. Anak ini... benarkah dia pembawa hoki di masa depan?

1
Liana Simon
ceritanya seru
Sandisalbiah
selalu LUAR BIASA
Sri rahayu
buaya masuk ke kandang kuda Nil
Sandisalbiah
hah.. bukan makin ayem hidup Tari dan Kinar tp maki kesini kok ya makin banyak yg mengancam keselamatan Tari dan keluarganya... jalan terbaik itu Suryo harus di bungkam selamanya itu mulutnya
Sandisalbiah
kamu harus tetap hidup Lastri dan kamu harus segera modar Suryo.. bapak model kamu itu bikin semak aja.. buat polusi udara
Sandisalbiah
fix.. Suryo mulai menunjukan gelagat aslinya.. ketidak warasanya.. kegilaannya... baru gak bisa makan beberapa hari sekali tp efeknya langsung merusak kewarasannya..
Sandisalbiah
logikanya kalau Suryo itu otaknya waras, normal bakal memuliakan sumber keberuntungannya, merawatnya dan menjaganya dgn baik krn itu sumber kehidupan makmurnya tp dasar Suryo dan keluarganya itu cacat mental alias gak waras ya gitu.. sumber keberuntungannya malah di siksa dan di sia siakan.. edan tingkat dewa..
Sandisalbiah
azab para manusia zholim mulai menerjang.. hukum tabur tuai berlaku dan sekarang waktunya buat para anggota Wibowo memanen hasil jerit payah merka selama ini..
Sandisalbiah
nasib baik mulai nampak ngelilir dr pihak Kinar dan Tari setelah selama ini di gempur habis²an oleh penderitaan akibat kerakusan Suryo dan antek² nya...
Sandisalbiah
perlahan tapi pasti.. tentakel Suryo Wibowo di amputasi secara paksa oleh Tari tanpa Suryo sadari
Sandisalbiah
Suryo ini beneran iblis berwujud manusia...
Sandisalbiah
kasihan Tari kalau harus terus terkurung dlm keadaan setenga sekarat krn keluarga biadap itu...
Sandisalbiah
musuh dr musuh adalah Sekutu.. pak Kosasih pandai membaca ini.. semoga cara mereka ini beneran bisa melumpuhkan dan meruntuhkan kejayaan Wibowo sampai mereka gak bisa menegakan kepala mereka lagi
Sandisalbiah
Tari bergerak seperti rayap yg mengerogoti kayu dan mengeroposkanya.. lama tp pasti....
Sandisalbiah
bener² keluarga iblis...
Sandisalbiah
nduk Tari bilang ama si hijau nanti kalau pak Suryo pulang suruh dia patuk berulang biar itu bapak lucknut mati berdiri yaa.. gemezz banget dgn keluarga seitoon ini..
Sandisalbiah
ok setidaknya hilal kehancuran keluarga Wibowo mulai terlihat nyata kalau Bagito beneran modar kali ini.. selama ini yg sengsara ter ayakayak kan Kinan dan keluarganya, sesekali dong itu keluarga zholim di kasih azab nyata biar kapok, bila perlu itu si Suryo yg di libas ama azab.. bapak paling zholim dan lebih biadab dr hewan..
Sandisalbiah
sebenarnya aku pengen Kinan itu punya seseorang yg bisa jd backing dia, yg ada buat ngebantu dia, melindungi dia dr segala hal yg selama ini meng hantam hidupnya, ya walau keluarga nya selalu berdiri jd benteng pertahanan buat dia tp setidaknya ada seseorang yg mengisi kekosongan hidupnya yg bisa jd tonggak buat pertahanan Kinan dan Tari nantinya.. kasih Kinan jodoh org yg kuat juga dong thor yg bisa ngimbangin si Suryo itu
Sandisalbiah
hah.. jd pegel sendiri krn geram dgn tingkah Siska, Rini dan keluarga Wibowo atau Birowo siapa pun mereka itu.. manusia keblinger tingkat mampus.. gak tertolong lagi.. zholim dak punya urat malu, PeDe nya kebangetan.. ampun deh 🤦‍♀️
Sandisalbiah
cocok kalau Siska masuk dlm koloni mereka.. ular kadut masuk dlm sarang ular lainya... saling melengkapi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!