Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Penyesalan
Hari ketiga setelah Gilang dateng ke rumah, pagi-pagi udah ada tukang bunga mengetuk pintu.
"Ada pesanan bunga untuk Ibu Nayara," kata tukang bunga itu sambil bawa bucket bunga mawar merah gede banget.
Bu Siti yang buka pintu langsung cengo. "Dari siapa ini?"
"Ada kartu-nya Bu, di dalem," tukang bunga nunjuk kartu kecil yang nyempil di antara bunga.
Bu Siti ambil kartu itu. Baca cepet. Mukanya langsung masam.
"Untuk Nayaraku tersayang. Maafkan aku. Aku mencintaimu. Gilang."
"Gak usah diterima! Bawa balik aja!" Bu Siti nyuruh tukang bunga itu.
"Tapi Bu, saya udah dibayar. Saya cuma kurir aja," tukang bunga itu bingung.
Nayara keluar dari kamar sambil gendong Aldi. "Ada apa Bu?"
"Ini, dari Gilang," Bu Siti nunjukin bunga itu dengan muka jijik.
Nayara natap bunga mawar merah yang indah itu. Dulu dia suka banget mawar merah. Gilang tau itu. Makanya dia kirim mawar.
"Buang aja Bu. Kasih ke tetangga atau apa. Aku gak mau," Nayara bilang datar terus balik lagi ke kamar.
Bu Siti ngasih bunganya ke tukang bunga. "Bawa pulang aja Mas. Kasih istri atau pacar. Gratis."
Tukang bunga itu ngangguk bingung terus pergi.
Tapi itu baru awal.
Hari keempat, bunga lagi. Kali ini mawar putih. Sekarung penuh.
Hari kelima, coklat impor mahal satu dus besar.
Hari keenam, boneka beruang gede setinggi orang dewasa.
Semua ditolak Nayara. Semua dibuang atau dikasih ke tetangga.
Terus mulai deh SMS-an. Puluhan SMS tiap hari dari nomer Gilang.
"Nayara maafin aku."
"Aku gak bisa hidup tanpa kamu."
"Kumohon bales pesanku."
"Aldi pasti kangen sama aku kan?"
"Aku udah gak sama Sandra lagi."
"Kumohon kasih aku kesempatan."
Nayara baca semua tapi gak pernah bales. Sampe akhirnya dia blokir nomer Gilang.
Tapi Gilang ganti nomer. SMS lagi dari nomer baru.
Diblokir lagi. Ganti nomer lagi.
Sampe lima kali Nayara blokir, lima kali Gilang ganti nomer.
Telepon juga sama. Puluhan miscall tiap hari Pagi siang malem gak kenal waktu.
Nayara matiin aja hp-nya. Cape.
Minggu kedua, Gilang mulai dateng lagi. Kali ini gak cuma sekali. Hampir tiap hari.
Pagi-pagi dia udah parkir di depan rumah. Nunggu di mobil. Natap ke arah pintu rumah.
Bu Siti sampe berani keluar ngomel. "Kamu mau apa sih? Nayara udah bilang gak mau sama kamu! Pergi sono!"
"Bu Siti kumohon, aku cuma mau ngobrol sama Nayara bentar aja," Gilang masih sopan waktu itu.
"Gak usah! Dia gak mau ketemu kamu! Udah pergi atau saya panggil pak RT!" Bu Siti ngancam.
Gilang akhirnya pergi. Tapi besoknya dateng lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Pak Hasan mulai kesel. "Ini anak berani banget sih? Udah jelas-jelas Nayara gak mau, masih aja dipaksa!"
Suatu sore, Nayara lagi jemur baju di belakang rumah sambil Aldi main di playmat. Tiba-tiba ada suara dari pager belakang.
"Nayara!"
Nayara kaget. Noleh. Gilang.
Gilang manjat pager belakang rumah. Pager besi setinggi dua meter dia panjat kayak orang putus asa.
"Ya ampun Mas! Turun! Bahaya!" Nayara reflek teriak.
Gilang berhasil turun. Kakinya nyangkut sedikit di pager sampe celana jeans-nya robek. Tapi dia gak peduli. Langsung jalan cepet ke arah Nayara.
"Nayara dengerin aku. Kumohon," Gilang ngomong cepet. Napasnya ngos-ngosan.
"Mas keluar dari sini! Ini rumah orang tua saya! Mas gak boleh masuk sembarangan!" Nayara mundur sambil peluk Aldi yang mulai rewel.
"Aku gak peduli! Aku harus ngomong sama kamu!" Gilang maju terus.
"Gak ada yang perlu diomongkan! Udah Mas pergi sebelum Bapak tau!" Nayara mundur lagi sampe punggungnya nabrak tiang jemuran.
"ADA! Banyak yang mau aku omongkan!" Gilang suaranya naik. "Aku nyesel Nayara! Aku beneran nyesel! Aku udah sadar aku salah!"
"Nyesal sekarang? Setelah kamu hancurkan aku? Setelah kamu sakiti aku berkali-kali? Sekarang baru nyesal?" Nayara berteriak sambil nangis.
Aldi nangis kenceng. Kaget ibunya teriak.
"Iya aku tau aku terlambat! Tapi kumohon Nayara, jangan gini! Balikin aku kesempatan!" Gilang jatuh berlutut lagi di halaman belakang rumah.
"TERLAMBAT GILANG! KAMU UDAH TERLAMBAT!" Nayara berteriak sekeras-kerasnya.
"ADA APA INI?"
Pak Hasan keluar dari rumah dengan muka merah padam. Di tangannya ada sapu lidi gede.
"KAMU! KAMU BERANI MASUK RUMAH SAYA SEMBARANGAN?" Pak Hasan jalan cepet ke arah Gilang yang masih berlutut.
Gilang berdiri cepet. "Pak Hasan maafin saya. Saya cuma mau ngobrol sama Nayara."
"NGOBROL? KAMU MENYUSUP DARI BELAKANG KAYAK MALING NAMANYA NGOBROL?" Pak Hasan udah di depan Gilang sekarang. Badannya lebih kecil dari Gilang tapi auranya mengancam banget.
"Saya terpaksa Pak. Nayara gak mau ketemu saya," Gilang coba jelasin.
"YA KARENA DIA GAK MAU! Kenapa kamu maksa? Kamu pikir dengan maksa dia bakal luluh? ENGGAK!" Pak Hasan bentak keras.
"Tapi Pak, saya cinta sama Nayara. Saya gak bisa hidup tanpa dia," Gilang ngomong dengan putus asa.
"CINTA? KAMU BILANG CINTA?" Pak Hasan ketawa pahit. "Orang yang cinta itu gak nyakitin! Gak selingkuh! Gak ninggalin istri pas lagi hamil dan melahirkan! Kamu itu bukan cinta! Kamu itu egois!"
Gilang terdiam. Wajahnya pucat.
"Dan sekarang, kamu udah gak punya hak apa-apa sama Nayara. Kalian udah cerai. Resmi di mata hukum dan di mata Tuhan. Jadi pergi dari sini dan jangan ganggu anak saya lagi!" Pak Hasan nunjuk ke arah pager dengan tangan gemetaran karena marah.
"Tapi Pak, Aldi itu anak saya juga. Saya punya hak ketemu dia," Gilang nyoba argumen terakhir.
"HAK? Kamu mau ngomong hak?" Pak Hasan makin emosi. "Dari lahir sampe sekarang kamu pernah jenguk Aldi? Pernah gendong? Pernah ganti popok? Pernah bangun tengah malem pas dia nangis? ENGGAK! Sekarang mau ngaku-ngaku punya hak?"
Gilang gak bisa jawab. Dia cuma diam dengan kepala nunduk.
"Kalau kamu emang mau ketemu Aldi, lewat jalur hukum. Ajukan permohonan hak kunjungan ke pengadilan. Tapi jangan dateng-dateng kesini menyusup kayak maling!" Pak Hasan masih berteriak.
"Nayara, Nayara kumohon," Gilang mengabaikan Pak Hasan. Natap Nayara dengan mata berkaca-kaca. "Kasih aku satu kesempatan lagi. Cuma satu."
Nayara ngelap air matanya. Natap Gilang dengan tatapan kosong. "Terlambat Gilang. Kamu udah pakai semua kesempatan yang aku kasih. Sekarang gak ada lagi."
"Nayara kumohon jangan gini," Gilang masih mencoba.
"UDAH PERGI KAMU! ATAU SAYA PANGGIL POLISI!" Pak Hasan angkat sapu lidinya. "SAYA HITUNG SAMPE TIGA! SATU!"
Gilang masih berdiri di situ.
"DUA!"
Gilang menatap Nayara terakhir kali.
"TIGA!"
Pak Hasan mulai jalan maju dengan sapu lidi terangkat.
Gilang akhirnya berbalik. Manjat pager belakang lagi dengan susah payah. Tangannya kesandung berkali-kali. Celana jeans-nya makin robek.
Begitu turun di seberang pager, dia masih berdiri di situ. Natap Nayara dari balik pagar besi.
"Aku gak akan nyerah Nayara. Aku akan terus berjuang sampe kamu maafin aku," Gilang teriak dari seberang.
Terus dia pergi. Jalan gontai ke arah mobilnya yang parkir agak jauh.
Nayara berdiri di halaman belakang sambil peluk Aldi yang masih nangis. Tubuhnya gemetaran. Pak Hasan peluk Nayara dari samping.
"Udah nak. Dia udah pergi," Pak Hasan bisik sambil mengelus punggung Nayara.
"Kenapa dia gini Pak? Kenapa sekarang baru peduli?" Nayara nangis di pelukan bapaknya.
"Karena dia baru sadar pas udah kehilangan. Orang kayak dia tuh begitu Nak. Egois," Pak Hasan jawab dengan nada sedih.
Bu Siti keluar dari rumah dengan wajah khawatir. "Udah pergi?"
"Udah Bu," Pak Hasan jawab.
"Alhamdulillah. Nayara, kamu masuk dulu sayang. Jangan di luar," Bu Siti nuntun Nayara masuk.
Malemnya Pak Hasan lapor ke pak RT. Minta tolong pak RT ngasih tau satpam komplek biar Gilang gak boleh masuk lagi.
"Kalau dia dateng lagi, langsung usir. Bilang sama satpam," Pak Hasan ngomong tegas.
Pak RT ngangguk. "Baik Pak Hasan. Saya sampein."
Tapi Gilang gak menyerah. Dua hari kemudian dia dateng lagi. Kali ini dihentikan satpam di gerbang komplek.
Gilang ngotot mau masuk. Sampe berdebat sama satpam. Akhirnya satpam nelpon Pak Hasan.
"Pak, ada Bapak Gilang mau masuk. Bilangnya mau ketemu anak Bapak," satpam lapor.
"Gak usah dikasih masuk. Usir aja," Pak Hasan jawab tegas.
Gilang akhirnya pergi tapi mobilnya parkir di luar komplek. Nunggu di sana dari pagi sampe malem.
Nayara yang tau dari tetangga jadi gak berani keluar rumah. Takut ketemu Gilang.
"Nak, kamu gak usah takut. Bapak sama Ibu di sini. Dia gak bisa ganggu kamu," Pak Hasan nyemangatin.
Tapi Nayara tetep was-was. Gilang yang dulu cuek dan gak peduli sekarang jadi kayak orang obsesif gini. Nayara takut dia bisa berbahaya.
Minggu ketiga, pesan dari nomer baru lagi. Kali ini lebih panjang.
"Nayara aku udah gak tau harus gimana lagi. Aku udah coba semuanya tapi kamu tetep gak mau nerima aku. Aku tau aku salah. Aku tau aku udah nyakitin kamu. Tapi kumohon, lihat aku sekarang. Aku udah berubah. Aku udah putus sama Sandra. Aku udah siap jadi suami yang baik. Bapak yang baik buat Aldi. Kumohon jangan ambil kesempatan itu dari aku. Kumohon Nayara."
Nayara baca pesan itu sambil nangis. Hatinya sakit. Bingung. Sebel.
Kenapa Gilang gak ngerti-ngerti sih? Kenapa dia gak bisa terima kenyataan kalau mereka udah selesai?
Nayara bales untuk pertama kalinya.
"Gilang, kumohon berhenti. Aku udah gak kuat. Apa yang kamu lakuin sekarang ini bukan cinta. Ini namanya obsesi. Kamu gak cinta sama aku. Kamu cuma gak terima ditolak. Kumohon, move on. Cari yang lebih baik. Lupain aku dan Aldi. Kami baik-baik aja tanpa kamu."
Nayara kirim pesan itu dengan tangan gemetar. Terus langsung blokir nomernya lagi.
Tapi malemnya, Gilang dateng lagi. Kali ini dia gak masuk komplek. Cuma teriak dari luar pagar.
"NAYARA! AKU TAU KAMU DI DALEM! KUMOHON KELUAR! AKU MAU NGOMONG!"
Pak Hasan keluar dengan muka merah. "GILANG! PULANG SANA! JANGAN BIKIN ONAR!"
"PAK HASAN KUMOHON! AKU CUMA MAU NGOBROL SAMA NAYARA!" Gilang teriak dari luar pagar.
Tetangga-tetangga mulai keluar. Ngeliatin dengan bisik-bisik.
"Itu kan mantan suaminya Nayara ya?"
"Iya, katanya nyari-nyari mulu."
"Kasian Nayara. Udah cerai masih diganggu."
Pak Hasan jalan keluar komplek. Berdiri di depan Gilang dengan wajah sangat marah.
"Dengerin aku baik-baik. Ini terakhir kalinya aku ngomong sama kamu," Pak Hasan bicara pelan tapi mengancam. "Jangan ganggu anak saya lagi. Dia udah menderita cukup lama gara-gara kamu. Sekarang dia udah bebas. Jangan ambil kebebasan itu dari dia."
"Tapi Pak, saya cinta sama dia," Gilang masih ngeyel.
"CINTA? Kalau kamu beneran cinta, kamu harusnya menghormati keputusannya. Dia udah bilang gak mau sama kamu. Terima aja. Jangan maksa," Pak Hasan berteriak.
"Saya gak bisa Pak. Saya gak bisa hidup tanpa dia," Gilang nangis sekarang. Di depan semua tetangga yang ngeliatin.
"Ya udah kamu mati aja sono kalau gak bisa hidup!" Pak Hasan ngomong sarkastik. "Anak saya juga gak bisa hidup waktu sama kamu. Tapi dia bertahan. Dia berjuang. Sekarang giliran kamu yang gak bisa? Cengeng!"
Gilang terdiam. Shock dengan kata-kata Pak Hasan.
"Dan satu lagi. Kalau kamu dateng lagi kesini, saya lapor polisi. Saya tuduh kamu stalking dan gangguin anak saya. Kamu bisa masuk penjara," Pak Hasan ngancam dengan serius.
"Pak jangan gitu. Saya beneran nyesel," Gilang masih mencoba.
"Nyesel itu di taro di hati. Bukan dipaksa-paksain ke orang yang udah gak mau sama kamu," Pak Hasan bilang terakhir kali. "Sekarang pergi. Dan jangan kembali lagi."
Pak Hasan balik masuk komplek. Ninggalin Gilang yang berdiri sendirian di luar pagar sambil nangis.
Tetangga-tetangga bubar pelan-pelan sambil bisik-bisik.
Gilang berdiri di situ lama. Natap ke arah rumah Pak Hasan. Berharap Nayara keluar.
Tapi Nayara gak keluar. Dia di dalem kamar, peluk Aldi sambil nangis pelan.
"Kenapa dia gak ngerti sih Nak? Kenapa dia gak bisa lepas?" Nayara bisik ke Aldi yang udah tidur.
Dan di luar sana, Gilang akhirnya masuk mobil. Tapi gak langsung pergi. Dia duduk di mobil. Nangis sendirian.
Nyesel.
Terlambat menyesal.
Dan penyesalan yang terlambat itu sekarang jadi teror buat Nayara yang cuma pengen hidup tenang.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭