NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Malam Pertama

Mobil mewah Limonsin berhenti di mansion megah William Marculles. Mansion yang terpisah dari rumah Alexander dan Eleanor.

Limosin melewati beberapa gerbang tinggi berlapis baja, diawasi oleh kamera termal dan penjaga bersenjata yang tersebar. Jihan melihat taman yang sangat luas, air mancur besar di tengah halaman, dan danau pribadi yang tenang.

Para pelayan dengan menyambut kedatangan William dan jihan yang masuk melangkah kedalam mansion itu. Jihan diantar langsung ke Kamar Utama yang luas dan modern, didominasi warna monokrom mewah. William tanpa kata langsung pergi ke ruang kerjanya.

Beberapa pelayan itu membantu Jihan melepaskan gaun pengantinnya yang berat, membantu membersihkan tubuh Jihan dikamar mandi serta memakai kan dengan mini dress malam mewah berwarna merah. Gaun itu dirancang dengan bagian atas yang agak terbuka, memperlihatkan bahu dan garis leher Jihan agar terlihat sensual.

Wewangian mahal dan ekslusif lembut pada tubuhnya, rambutnya ditata rapi terurai ndah, wajahnya dihias tipis fokus pada mata dan bibir, Semua persiapan itu dilakukan penuh kesan anggun dan menggoda.

“Nyonya, Tuan William meminta agar Anda sudah siap dalam satu jam. Kami telah menyiapkan segalanya,” ujar salah satu pelayan dengan suara penuh hormat.

Jihan menatap bayangannya di cermin. Ia terlihat cantik, namun kecantikan itu terasa aneh.

“Kami pamit. Selamat malam, Nyonya.”pelayan membungkuk.

Para pelayan meninggalkan kamar, menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Jihan sendirian. tangannya menggenggam ujung dressnya dengan erat, Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya.

Jihan berjalan pelan menuju ranjang besar yang sudah dipenuhi taburan kelopak bunga mawar merah. Duduk di tepi ranjang, ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, berusaha keras terlihat kuat.

Jihan menatap pintu kamar, cepat atau lambat William akan masuk. Sebelumnya ia tidak pernah melakukan hubungan intim lebih dalam, kecuali hanya sekedar ciuman. Dadanya merasakan berdetak sangat kencang , antara takut, pasrah, dan marah.

Aku tidak sanggup melakukan ini. Aku tidak ingin dia menyentuhku. Aku sungguh belum siap menyerahkan tubuhku padanya, bagaimana hubunganku dengan zeiran nantinya. Batin Jihan perih

Setelah beberapa menit. Pintu kamar terbuka. William masuk. kemeja putih yang kancing atasnya sudah sedikit terbuka.

Wajahnya datar, dingin, dan tanpa ekspresi. berjalan santai menuju ranjang dan duduk di sebelah Jihan. hanya duduk diam, lalu menatap Jihan lama sekali. Matanya yang tajam menelusuri wajah Jihan, beralih ke lehernya, lalu turun ke gaun merah terbuka yang membungkus tubuhnya yang ramping. menatapnya seolah wanita itu adalah objek.

Lihatlah betapa kecil dan rapuhnya dia. nama besar Alvarezh... semua itu sekarang hanya menjadi mainan baru di tanganku dan kau akan hancur dibawah kendali ku. Batin William.

Jihan mencoba membalas tatapan itu sejenak, rasa canggung yang luar biasa dan kilat tajam di mata William membuatnya segera menunduk dalam, menatap jemarinya yang saling bertaut di pangkuan, mencoba menyembunyikan getaran kecil di tangannya.

Tatapan itu. Itu bukan tatapan suami pada istrinya. Itu adalah tatapan seorang CEO yang sedang menilai asetnya, mengukur nilainya, dan memastikan tidak ada cacat. Batin Jihan.

“Perasaanmu tidak penting saat ini. Pernikahan ini adalah transaksi. Kesepakatanku dengan Rahez sangat jelas,” ujar William dingin, yang akhirnya membuka suara setelah keheningan. “Alvarezh Group akan menggabungkan divisi krusial mereka ke dalam Marculles Group. Sebagai imbalannya, aku menjamin stabilitas politik Rahez dan melindungi nama keluarga kalian dari investigasi internasional.” Dengan nada seperti seorang CEO yang membacakan kontrak.

Ya, katakan saja! Rahez, bajingan itu... dia menukarku demi sebuah perusahaan dan perlindungan hukum! batin Jihan, amarahnya memuncak.

William melanjutkan, nadanya kini semakin menuntut. “Tapi itu hanya setengah dari tujuanku. Tujuan utamaku dan yang sangat diinginkan orang tuaku adalah keturunan.”

Jihan merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Keturunan. Anak. Itu adalah hal yang paling ia takuti.

“Aku tidak membutuhkan air mata atau drama. Aku membutuhkan seorang wanita untuk melahirkan penerus laki-laki yang kuat, dan aku berencana memilikinya dalam waktu sesingkat mungkin,” lanjut William sembari menatap Jihan dengan pandangan menghina.

Rahimmu adalah satu-satunya alasan kau diizinkan berada di tempat ini. Aku akan memastikannya terisi dengan pewarisku Marculles, lalu membuang mu dan menghancurkan perusahaan kakakmu ke dalam sampah yang gelap. Batin William.

“ Kau!!!…jangan mengharapkan cinta dari pernikahan ini. Dan aku akan menyentuhmu setiap malam sampai kau hamil. Tapi jangan pernah berpikir itu adalah cinta. aku tidak akan pernah memberikan cinta itu padamu.” Suara William rendah dan dingin, sengaja untuk menyakitinya.

Jihan merasakan rasa sakit karena kekejamannya yang blak-blakan. Ia dipaksa untuk berada di sisi pria yang menolak untuk mencintainya dan menuntut seorang anak, yang ia sendiri masih mencintai Zeiran.

Aku juga tidak akan pernah mencintaimu!. Jihan dalam hati, pedih.

William tidak menunggu respons Jihan. Ia meraih dagu Jihan dengan satu tangan, memaksa Jihan mendongak. William menatap Jihan sekali lagi. Ia tidak melihat seorang wanita, lalu mencium bibir Jihan, membuat Jihan tersentak, seluruh tubuhnya menegang.

Jihan merasakan bibir William dingin dan keras. Jihan tidak membalas. membiarkan William melakukan apa yang ia lakukan.

Tangan william bergerak cepat, membuka kancing kemejanya yang tersisa di bagian depan, memperlihatkan dada bidangnya.

Tidakkk!!! Aku belum siap. Tapi aku harus melakukannya... Jika tidak, Rahez akan menyakiti Jinan. Bayangkan Zeiran... Jihan, bayangkan ini adalah Zeiran... . batinnya panik, mencoba memanipulasi pikirannya sendiri. dan menutup matanya.

William perlahan membaringkan Jihan di ranjang yang bertumpuk kelopak mawar. William melepaskan ciuman bibir itu, beralih ke leher, bahu, dan dada Jihan yang terbuka. Ada sesuatu asing di benaknya.

Sialan, kenapa aku menikmatinya. Batin William

Sudah lama ia tidak menyentuh wanita, dan tanpa diduga, sentuhan pada kulit Jihan memicu gairah yang sangat besar yang ia tidak pernah rasakan sebelumnya. Miliknya tiba-tiba menegang, memberikan sensasi nikmat yang mendesak. berpikir untuk memanfaatkan wanita ini demi memuaskan gairahnya yang bangkit secara tidak terduga.

Tangan William yang besar dan dingin itu kini turun dari pinggang Jihan, ke sela-sela paha Jihan yang tertutup kain tipis gaunnya.

Jihan tersentak hebat merasakan sentuhan itu. membuka matanya yang melebar. refleks, mendorong bahu William pelan untuk menjaga jarak sedikit.

William berhenti seketika. “Ada apa? Apa masalahnya?” tanyanya dengan nada tajam dan dingin.

Jihan duduk, menarik napas gemetar. menarik turun sedikit gaunnya, berusaha menutupi dirinya. “Aku… Aku minta maaf. Aku… aku tidak bisa. Aku belum siap. aku baru saja menikah. Semuanya begitu cepat.” wajahnya memerah karena malu dan gugup.

“ Apa katamu? Kau belum siap?.” William Suaranya sangat rendah dan berbahaya, menarik tangannya dari paha Jihan.

Matanya yang tajam menyipit, dan rahangnya mengeras sempurna. Penolakan ini adalah penghinaan baginya .

William duduk tegak di tepi ranjang. menatap Jihan, tatapannya menusuk. “ jangan berani beraninya kau berbicara tentang kesiapan atau perasaan!! Ini adalah penghinaan!. Kau tahu apa yang terjadi pada orang yang melanggar kesepakatan denganku?”

Jihan tersentak. ancaman William tidak main-main. Rasa sakit dari ancaman Rahez seolah diperkuat oleh kemarahan William.

“Aku hanya… aku takut.” Bisikan Jihan itu nyaris tak terdengar. Jihan menunduk, tidak mampu menatap mata pria itu.

“Cih, takut?” William tersenyum sinis. “Kau telah melakukan pelanggaran!!. Kau membuang waktu kerjaku!”

Ia merasa sangat terhina karena kebutuhan biologisnya baru saja dipatahkan oleh wanita yang telah menjadi istrinya. Namun, harga dirinya yang setinggi langit mencegahnya untuk memohon atau memaksa lebih jauh.

“ Aku tidak akan melanjutkan ini lagi. Aku tidak akan membuang waktu dan energiku pada wanita yang bermain tarik-ulur setelah menerima nama dan kekayaan yang kubawa.”ucap William, berusaha menutupi fakta bahwa ia sebenarnya sedang menahan gairah yang tidak terpuaskan.

William mengulurkan tangan. Ia meraih dagu Jihan dengan jari-jarinya yang kuat dan dingin, memaksanya untuk mendongak, menatap mata Jihan yang berkaca-kaca.

“ Dengar baik-baik!!!. Kau bukan wanita yang kucintai. Kau hanya seseorang yang bertugas melahirkan pewaris Marculles.” William menatap gaun merah Jihan. “Kau berdandan seperti ini, mengenakan gaun terbuka yang menggoda ini,untuk apa? Untuk berpura pura menjadi gadis polos dan suci yang takut disentuh?.”

"I..ini bukan... aku tidak bermaksud... pelayan yang memilihkan ini..." suaranya tercekat. refleks menutupi dada, mencoba menutupi bagian kulitnya yang terbuka, merasa telanjang dan kotor di bawah tatapan itu.

“Kau adalah wanita yang penuh kebohongan. Jangan berpura-pura suci di depanku!” William menghempaskan dagu Jihan dengan kasar hingga kepala wanita itu terayun ke belakang. “Aku membeli seorang istri, bukan gadis manja yang butuh dibujuk!”

Jihan terjatuh kembali di atas tumpukan mawar, meringkuk sembari terisak pelan. Bahunya terguncang hebat. “Aku tidak berpura-pura... aku takut...”

William berdiri tegak. Mendengus kasar Mengambil kameja dan mengancingkan. “ Kau baru saja membuktikan bahwa kau sama saja dengan wanita-wanita lain yang penuh drama , aku sungguh muak.”

Tanpa menoleh lagi, William melangkah keluar. Pintu kamar utama itu dibanting dengan sangat keras.

BRAKK!!

Suaranya menghasilkan suara yang mengguncang kamar dan membuat Jihan tersentak hebat.

jihan gemetar, memeluk lututnya di tengah kelopak mawar. Rasa sakit dari bentakan dan penghinaan William jauh sangat menyakitkan. Isak tangis yang tertahan akhirnya pecah menjadi suara yang tersendat-sendat.

“ Apa yang telah kulakukan? Seharusnya aku menutup mata, membayangkan Zeiran, dan membiarkannya selesai!“ Jihan menyesal dengan pahit.

Jihan menarik napas dalam-dalam.

“ aku hanya tidak bisa melakukannya dengan pria yang tidak aku cintai…aku tidak bisa melakukannya ..“

—-

Di ruang kerja

William ke ruang kerjanya, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, yang lebih banyak dari biasanya. untuk membakar amarah yang mendidih di dadanya.

"Sialan!" desis William, tangannya meremas gelas kristal itu hingga jemarinya memutih.

William melangkah depan jendela besar ruang kerjanya yang gelap. Hanya cahaya bulan cahaya kota Arthenapolis menyinari wajahnya.

Glek.

menenggak cairan keras itu dalam satu kali tegukan, membiarkan sensasi terbakar merambat di tenggorokannya. Lalu membanting gelas kristal itu ke dinding marmer.

PRANG!

Suara pecahannya menggema, mewakili kemurkaan yang meledak di dadanya.

“ Aku memang seharusnya tidak perlu repot-repot bersikap lembut. Jika aku mau, aku bisa saja mengambil paksa apa yang menjadi hakku malam ini.!!.” Gumam William dengan suara berat dan penuh kebencian. “Tapi melihat wajah ketakutannya yang menyedihkan itu... itu membuatku sangat muak”

Ia murka. Bukan hanya karena penolakan Jihan saja, tapi karena reaksi tubuhnya sendiri. Selama delapan tahun, William telah mengubah dirinya menjadi manusia yang dingin dan tidak tersentuh. Ribuan wanita cantik, model papan atas, hingga putri konglomerat, bangsawan telah mencoba merayunya, namun ia menolak mereka mentah-mentah tanpa kedipan mata.

Bahkan delapan tahun lalu, saat ia masih bersama tunangannya, ia tidak pernah merasakan gairah sebesar ini. Sentuhan Jihan wanita yang seharusnya hanya menjadi alat melahirkan pewarisnya, malah membangkitkan singa yang telah lama ia tidurkan.

Tatapan William menoleh pada sebuah bingkai foto Anna disudut ruangan. Wanita itu satu-satunya orang yang pernah menembus dinding tebal yang dibangun Alexander Marculles di sekelilingnya. William tumbuh dalam didikan keras yang hanya mengenal kekuasaan, kontrol, dan angka. Cinta dan kasih sayang adalah hal asing baginya selain tuntutan. sampai Anna datang dengan keceriaan yang mampu melunturkan kekakuan William.

Hanya di depan Anna, sisi lembut William muncul. Ia teringat bagaimana Anna selalu menghiburnya di tengah tekanan besar keluarga Marculles. Mereka sering mereka berlibur romantis di atas yacht dan persiar. mereka berenang ke tengah laut yang jernih lalu berbagi berciuman di bawah sinar matahari yang hangat. Llau hal manis Anna dengan anjing kecilnya, Charlie, yang saling kejar kejaran ditaman. Yang pada akhirnya di Paris, Prancis. sebuah restoran mewah yang romantis menghadap menara eiffel. di mana William berlutut, melamar Anna dengan keyakinan penuh untuk menghabiskan seumur hidup bersama.

Tapi kenyataan menghantamnya lebih keras. Anna memilih pergi, mengkhianatinya bersama pria lain. Sejak itu, William menjadi manusia lebih dingin, lebih kejam, dan tanpa ampun kepada siapa pun.

"Kau pikir kau spesial, Jihan?" William menatap foto Anna dengan mata merah "Kau hanyalah pengganti. Kau akan menjadi pelampiasan rasa sakitku terhadap pria yang telah mati itu, karena mengambil Anna dariku."

Tanpa membuang waktu, William beralih ke meja kerjanya. menyusun sebuah dokumen kontrak. Yang menegaskan bahwa pernikahan ini hanyalah transaksi demi pewaris dan citra karena tuntutan orang tuanya , tanpa adanya perasaan dan memastikan Jihan terikat dalam aturan yang ketat, setelah itu ia akan membuang kapan saja setelah tugasnya selesai dan setelah hancur.

—-

Ditempat Bar Eksekutif

Di sebuah bar yang remang-remang, aroma alkohol tajam bercampur dengan keputusasaan. Alkhan, mantan kekasih Jihan tampak mengenaskan. Berkali-kali ia meneguk minuman kerasnya, mencoba menenggelamkan kenyataan pahit yang terus menghantuinya.

"Seharusnya aku yang di sana... bukan pria itu," gumam Alkhan dengan suara serak. Ia menatap gelasnya yang kosong sebelum kembali menuangkannya. "Aku belum bisa melupakanmu, Jihan. Sampai kapan pun."

Di tengah kekacauan batinnya, pintu bar terbuka. Seorang pria melangkah masuk dengan aura yang tak kalah tegang. Zeiran. Setelah berhari-hari mencari Jihan tanpa hasil, Zeiran akhirnya menemukan keberadaan Alkhan melalui seorang informan. Kemungkinan Alkhan tahu informasi tentang Jihan karena kedekatan pria itu dengan keluarga Alvarezh, atau ia menyembunyikan nya dan berada disuatu tempat yang ia tidak tahu, karean insiden kematian Alvaren

Zeiran berdiri di depan meja Alkhan, menatap kondisi pria itu yang berantakan. “Alkhan, aku ingin bicara. Dan kau harus menjawab dengan jujur," ucap Zeiran tegas.

Alkhan mendongak, menyeringai sinis saat melihat siapa yang datang. "Ada apa, Zeiran? Mau bergabung denganku setelah apa yang terjadi dengan Jihan?"

Jantung Zeiran berdegup kencang. Firasat buruk mulai menjalar. Ia mendekat, mencengkeram tepi meja dengan kuat. "Apa maksudmu? Apa yang terjadi pada Jihan? Di mana dia!!? Kau tahu sesuatu?"

Alkhan tertawa meledak, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Kau tidak tahu? Kenapa kau sangat bodoh? Apa kau buta dan tuli sampai tidak melihat berita soal pernikahannya?" Alkhan mencondongkan tubuhnya. "Perayaan di setiap sudut kota... itu adalah perayaan pernikahan Jihan dengan suaminya. Dan mungkin detik ini, dia sedang berbagi ranjang dengan suaminya. Cih, ternyata kau tidak mampu melindunginya."

Sakit hati yang luar biasa menghujam dada Zeiran. Ia memang melihat perayaan besar-besaran di ibu kota, tapi ia tak pernah menyangka itu adalah pernikahan wanita yang ia cintai. Rahang Zeiran mengeras, tangannya bergerak cepat menyambar kerah kemeja Alkhan.

"Kau jangan berbohong, Alkhan! Jangan memanas-manasiku!" bentak Zeiran dengan mata yang menyala.

Alkhan menghempaskan tangan Zeiran dengan kasar. "Aku tidak berbohong! Kau pikir kenapa aku ada di sini? Karena pernikahan itu!" Alkhan membanting ponselnya ke atas meja, memperlihatkan headline berita besar . Pernikahan Megah Marculles dan Alvarezh Aliansi Baru Dunia.

Zeiran menelan ludah dengan susah payah. Dunianya seolah runtuh seketika. Foto Jihan di altar dalam balutan gaun pengantin menjadi bukti nyata yang menghancurkan harapannya.

"Minumlah bersamaku," ujar Alkhan, menyodorkan gelas. "Akhirnya kau merasakan apa yang kurasakan. Inilah rasanya melihat wanita yang kau cintai diambil oleh pria lain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!