Diana, harus menelan pil pahit, saat ia di keluarkan dari sekolah,akibat kesalahan yang tidak pernah ia buat. hampir setiap hari ia di buly oleh teman-teman sekolahnya, terutama Rehan. lelaki Tampan yang kerap kali membuly Diana, hingga muncul kebencian di dalam hati Diana untuk pria itu.
Akibat ulah Rehan, kehidupan Diana hancur, bahkan ia harus kehilangan ibunya. dan di usir dari rumah kontrakannya, kebencian Dian semakin mendalam sampai ke tulang. hingga ia memutuskan pergi merantau dengan adiknya.
suatu hari Diana dan Rehan ketemu secara tidak sengaja.....
bagaimana kelanjutan kisah mereka.
yuk Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeiNova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Balik Kehidupan Diana Dan Vera
Beberapa tahun kemudian, suka duka kehidupan Diana dan Vera. Telah mereka lewati bersama-sama, Empat tahun berjuang, berat ringan, pahit manisnya kehidupan. Diana telan demi adiknya mendapatkan gelar sarjana.
Isak tangis tangis bahagia saat Diana menghadiri, cara wisuda adiknya. bahkan di sana ada Arjuna yang sampai saat ini masih setia menemani Diana. 4 tahun berlalu, sampai saat ini Arjuna, begitu kekeh menyembunyikan tentang Diana dari Rehan, yang sampai saat ini juga masih sendiri Tidak pernah menjalin hubungan dengan gadis manapun,Setelah perjodohannya dengan Eka Batal.
" terima kasih Juna, terimakasih sudah banyak membantuku selama ini. Sampai adikku mendapatkan title di belakang namanya, aku bangga, aku bahagia." ucap Diana dengan air mata yang membasahi pipinya.
Arjuna Tak bisa berkata-kata, ia hanya memeluk dan menenangkan Diana.
" Sudah, jangan nangis lagi. Ayok, aku akan traktir kalian berdua." ucap Arjuna sembari melepaskan pelukannya.
" Mas Juna, terimakasih sudah membantu kami selama ini. Aku bisa seperti ini berkat bantuan mas Juna," ucap Vera dengan senyum termanisnya.
Arjuna menanggapi dengan senyuman, Mereka pun memutuskan untuk pergi makan siang sembari merayakan keberhasilan Vera, yang baru saja menyelesaikan pendidikannya.
Bertempat di salah satu restoran Jepang dengan ruangan tertutup. Mereka bertiga merayakannya, memesan banyak makanan, menikmati bersama dengan canda dan tawa. Baik Diana maupun Arjuna, mereka berdua masih sama-sama sendiri.
" Papa, sudah siapkan satu jabatan di Perusahaan di bagian keuangan. Nanti akan ada yang akan mengajarimu cara kerjanya." ucap Arjuna memberitahu Vera.
" perusahaan dan kontrakan kami jauh. Apakah aku dan kakak akan tinggal terpisah?" tanya Vera yang merasa sedih.
Diana adalah satu-satunya keluarga, tidak mungkin, bagi Vera meninggalkan kakaknya. Seorang diri yang sampai saat ini masih berkerja di restoran pak Adi.
" Kakakmu akan pindah bekerja di cabang restoran milik om Adi, kenapa di ambil pusing?"
" Juna , kau membantu kami lagi?" tanya Diana yang merasa Tidak enak hati.
" tidak apa-apa, aku ingin jadi orang yang pertama melihat ekspresi ayahmu setelah dia tau jika anaknya sukses."ucap Arjuna.
Siapapun akan merasa geram pada sikap Indra yang sudah berapa tahun sejak Bu Dian meninggal dunia sampai sekarang, ia tidak perduli pada kedua anaknya. Bahkan Indra tidak pernah menemui Diana dan Vera sekalipun hanya untuk berbasa-basi.
" Sampaikan juga rasa terimakasih ku, pada pak Sutomo. Karena selalu membantu kami." ucap Diana.
Kembali ke kota yang penuh duka, sebenarnya Diana merasa enggan tapi mau bagaimana lagi. ia ingin adiknya mendapatkan pekerjaan yang layak dan memiliki jabatan.
lain pula dengan Rehan yang setiap harinya selalu sibuk bekerja dan bekerja sampai ia lupa mencari pasangan hidup, mengingat usianya yang sekarang sudah dua puluh tujuh tahun. Sampai saat ini, seringkali Lina merayu anaknya agar mau melanjutkan perjodohan dengan Eka. Tapi selalu berakhir dengan pertengkaran.
" Rehan, siapa sebenarnya perempuan yang selama ini kau sembunyikan?" tanya pak Brata.
Brata merasa heran, karena selama ini, rehan selalu menolak dengan alasan jika dia sudah memiliki pilihan yang lain.
" Ada lah." jawab Rehan singkat.
" Iya, tapi siapa? Perasaan papa selama ini tidak melihatmu dekat dengan gadis manapun,"
Rehan menutup berkas yang sedari tadi ia baca, lalu pria ini menatap ayahnya dengan wajah lesu.
" Ada, pa. Tapi aku tidak tau sekarang dia berada di mana." ucap Rehan yang membuat pak Brata tertawa.
" Dasar aneh, bilang aja ngak ada. Jangan sampai mamamu mendesak lagi, hanya kau tidak bisa menunjukkan siapa calonmu." ucap pak Brata yang mengingatkan anaknya.
" Namanya Diana, dulu dia satu sekolah dengan ku, ayahnya adalah suami dari pemilik garmen Selo Lisa. Sejak dia di keluarkan dari sekolah, ibunya meninggal dunia, sejak saat itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan Diana."
" lalu, kenapa kau tidak mencarinya?" tanya pak Brata yang merasa keheranan.
" Aku sudah berusaha, tapi gagal. Pa, jika papa ingat pada gadis di rumah Tante sera beberapa tahun silam, dialah orangnya." ucap Rehan memberitahu.
"Itu artinya, kau menolak perjodohan dengan anak Sera, setelah kau melihat gadis itu di rumah Sera?" tanya pak Brata memastikan.
" sekalipun kami bertemu, dia akan menghindari ku. Kebencian Diana padaku sedalam tanah dan lautan, Sebab karna ulahku lah ibunya meninggal." ucap Rehan yang pada akhirnya berterus-terang pada papanya.
Rehan pun menceritakan betapa jahatnya ia dulu pada Diana, hingga membuat papanya merasa kecewa. Pak Brata merasa tidak percaya, jika anaknya memiliki sikap nakal, yang merugikan orang sampai sekejam itu.
" Di saat Diana, tengah berduka, ayahnya datang bukan untuk berbelasungkawa, tapi dia memukul Diana sampai berdarah. Pa, aku melihat kejadiannya. Sejak saat itu aku merasa bersalah pada Diana. Dan sampai detik ini tidak ada gadis manapun yang menyentuh hatiku, yang ada dalam ingatanku hanyalah Diana."
pak Brata membuang nafas kasar, ia tak bisa berkata-kata. Atas kebenaran yang selama ini Rehan sembunyikan.
" Selama ini aku hidup dalam penyesalan." ucap Rehan.
" Kau harus tetap mencarinya, dosamu terlalu terlalu besar sampai kau hidup dalam penyesalan,"
" Rehan, andai papa tau kau memperlakukan orang lain dengan semena-mena, sejak saat itu papa pasti akan memukulmu." ucap pak Brata yang marah.
Brata marah besar pun percuma saja karena semuanya sudah terjadi, lagipula Rehan telah mengakui kesalahannya.
*********
Satu Minggu telah berlalu, Diana dan Vera sedang sibuk pindahan ke kontrakan baru mereka. Rumah kontrakan yang jauh lebih layak dan nyaman bahkan memiliki dua kamar. Mulai hari Senin, Vera akan masuk kerja. Tentu saja ia akan di dampingi oleh Arjuna yang menjabat sebagai direktur utama di perusahaan papanya.
" kak, semoga kita bisa membeli rumah sendiri, cita-citaku ingin membelikan kakak rumah," ucap Vera yang di mainkan oleh Diana.
" pintar-pintar menabung biarpun sedikit, agar kelak kita bisa memiliki rumah sendiri. Manfaatkan bantuan orang lain dengan sebaik mungkin, jangan ngelunjak atau meminta lebih," ucap Diana yang menasehati adiknya.
" Iya kak, aku mengerti, untuk bulan ini sebaiknya kakak di rumah saja istirahat. Aku tau pundak kakak sangat lelah, sejak dulu sampai sekarang. Aku belum pernah melihat kakak beristirahat."
" tidak apa-apa, kakak ikhlas menjalaninya. Semoga bahagia menyertai kita, ibu pasti bahagia melihat kehidupan kita sekarang yang mulai membaik."
" Aku ingin melihat dia, menyesal karena telah menyia-nyiakan kita berdua."
ucap Vera yang sampai saat ini masih menyimpan rasa sakit hatinya.
Dia yang di maksud adalah, Ayahnya. Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati Diana, jika kelak ia dan adiknya menikah. Sudah pasti membutuhkan Indra sebagai walinya.
" Di pikirkan nanti saja." ucap Diana dalam hati.
nanti bener bener diwujudkan omongan Pak Brata.