NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dosen / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Hampir saja

Tak terasa, sudah dua hari Zora dan Dimas menghabiskan waktu di kampung halaman. Udara sejuk dan ketenangan desa seolah menjadi obat bagi mereka, namun hari ini, mereka harus kembali ke hiruk-pikuk Bandung.

Bagasi mobil sudah penuh sesak. Berbagai hasil kebun,mulai dari pisang raja yang ranum, kacang tanah, jagung manis, hingga bongkahan gula merah asli,terpajang rapi di sana. Awalnya Dimas sempat menolak karena merasa merepotkan, namun melihat binar ketulusan di wajah pasangan paruh baya itu, hatinya luluh. Ia tidak tega menolak kasih sayang yang mereka kemas dalam bentuk hasil bumi tersebut.

"Jang, sering-sering bawa Neng ke sini, ya. Kami tidak bisa sering-sering main ke kota. Wa Apud... dia tidak kuat, suka muntah kalau naik angkot terlalu lama," ucap Wa Minah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Zora erat, seolah berat untuk melepas.

Wa Apud yang berdiri di sampingnya hanya bisa mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan rasa haru yang sama.

Dimas tersenyum tulus, lalu merangkul bahu kedua orang tua itu bergantian. "Iya, Wa. Pasti. Tapi nanti, saat acara pernikahan ulang kami, Uwa berdua harus ada di sana, ya? Uwa harus mendampingi Zora di pelaminan."

Mendengar permintaan itu, tangis Wa Minah nyaris pecah karena bangga. Ia menoleh ke arah suaminya, lalu kembali menatap Dimas.

"Insya Allah, Jang. Insya Allah... Uwa pasti datang," jawabnya lirih penuh doa.

Irpan sudah berdiri tegap di samping mobil. Pemuda itu yang akan memegang kemudi sampai mereka tiba di jalan raya yang mulus. Meski Dimas sudah sangat mahir menyetir, medan di sini bukanlah lawan yang seimbang bagi pemula. Jalanan yang didominasi bebatuan lepas, tanjakan curam yang seolah menantang langit, serta tikungan tajam yang mengapit jurang, menuntut insting yang hanya dimiliki oleh penduduk lokal seperti Irpan.

"Jang Irpan, hati-hati bawa mobilnya. Pelan-pelan saja," pesan Wa Minah dengan nada cemas yang khas.

"Muhun, Wa. Kami berangkat dulu," jawab Irpan mantap.

Dimas menyerahkan kunci mobilnya, lalu dengan lembut membukakan pintu belakang untuk Zora. Setelah memastikan istrinya nyaman, ia sendiri duduk di kursi depan untuk menemani Irpan.

"A, kapan-kapan kalau ke sini lagi, bawa mobil yang biasa saja. Jangan yang terlalu mewah begini. Sayang mobilnya," ucap Irpan setelah mereka memulai perjalanan.

Suara brak! dan gesekan kasar terdengar beberapa kali saat bumper mobil mahal itu beradu dengan bebatuan besar. Mungkin jika dihitung, biaya perbaikannya sudah mencapai angka yang fantastis. Namun, Dimas hanya tersenyum tipis, matanya justru fokus pada pergerakan tangan Irpan yang lincah memainkan setir.

"Tak masalah. Aku justru lebih salut padamu. Kamu sangat mahir mengendalikan mobil ini di medan sesulit ini," puji Dimas tulus.

Irpan terkekeh, suara tawanya memecah ketegangan di dalam kabin. "Anak kampung harus serba bisa, A. Kebetulan dulu saya sopir Elf, angkutan jurusan kampung sini ke pasar. Jadi, kalau cuma bawa mobil begini, itu urusan kecil."

Sementara itu, di kursi belakang, Zora terdiam. Ia tidak menyahut pembicaraan kedua pria itu. Matanya terpaku pada hamparan sawah hijau yang bertingkat-tingkat dan deretan kebun yang perlahan menjauh di balik jendela. Ada sedikit rasa sesak yang tertinggal, seolah sebagian jiwanya masih ingin menetap di sana, di tanah kelahirannya yang bersahaja.

Setelah hampir satu jam bergulat dengan jalanan yang kasar, roda mobil akhirnya menyentuh aspal jalan raya yang hitam dan mulus. Irpan menghentikan mobil di bawah pohon peneduh yang rindang. Ia menarik rem tangan, lalu menoleh sekilas ke bangku belakang, menatap Zora yang tampak tertidur lelap. Ada binar pedih yang tertahan di matanya sebelum ia kembali menatap ke depan.

"Sampai di sini saja, A. Ke depan jalannya sudah bagus, lurus terus sampai Bandung." ucap Irpan sambil menyerahkan kunci mobil dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Dimas menerima kunci itu, namun matanya tidak lepas dari raut wajah Irpan. Sebagai sesama pria, Dimas menangkap sesuatu yang tidak terucap dari getaran suara pemuda itu.

"Terima kasih ya, Pan. Kamu sudah sangat membantu kami," ujar Dimas tulus.

Saat mereka turun dari mobil, Dimas merogoh saku jasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menyodorkannya secara halus kepada Irpan.

"Pan, ini ada sedikit untuk kamu. Terima kasih sudah menjaga mobil dan kami dengan aman."

Irpan sontak mundur selangkah, kedua tangannya terangkat menolak. "Aduh, jangan, A! Tidak usah. Irpan ikhlas menolong Neng Zora dan Aa. Simpan lagi saja uangnya."

Dimas menggeleng tegas, ia menarik tangan Irpan dan melipat uang itu di telapak tangannya. "Terima ini sebagai tanda persaudaraan kita, Pan. Jangan ditolak, ya?"

Irpan akhirnya tertunduk, tak enak hati namun tak kuasa menolak paksaan halus Dimas. "Terima kasih, A... semoga berkah."

"Satu lagi," Dimas mengeluarkan ponselnya. "Minta nomor teleponmu. Siapa tahu nanti ada lowongan pekerjaan yang bagus di Bandung atau di tempat relasiku, aku akan segera mengabarimu."

Mata Irpan sedikit berbinar, ia menyebutkan nomornya dengan suara rendah. Setelah menyimpan nomor itu, Irpan menatap Dimas dengan tatapan yang sangat dalam,tatapan seorang pria yang menitipkan hartanya yang paling berharga.

"A..." Irpan menggantung kalimatnya. "Titip Neng Zora, ya? Jaga dia baik-baik. Jangan sampai dia menangis."

Irpan tidak mengatakan "aku mencintainya". Namun, dari caranya menghindari kontak mata saat menyebut nama Zora, Dimas paham sepenuhnya. Pesan itu adalah bentuk penyerahan paling tulus dari seseorang yang patah hati.

"Aku janji, Pan. Aku akan menjaganya segenap hatiku," jawab Dimas dengan nada rendah namun penuh komitmen.

Irpan tersenyum getir, lalu melangkah mundur. "Silakan berangkat, A. Keburu malam di jalan."

Dimas masuk ke mobil, dan saat ia mulai melaju, ia melihat dari spion: Irpan masih berdiri di sana, sendirian di tepi aspal, menatap mobil itu hingga menghilang di tikungan jalan raya.

Keheningan di dalam mobil hanya dipecah oleh suara mesin yang halus dan deru angin jalan raya. Zora perlahan mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari. Ia menoleh ke arah kemudi, namun sosok pemuda dengan kaus lusuh itu sudah berganti menjadi suaminya yang tampak gagah dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku.

"Irpan... mana?" tanya Zora dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Dimas melirik sekilas melalui spion tengah, lalu tersenyum tipis. "Kita sudah sampai di jalan raya, Sayang. Irpan sudah turun tadi. Dia titip salam buat kamu."

Zora terdiam, menatap ke arah jendela belakang, namun sosok Irpan sudah jauh tertinggal di belakang sana.

Dimas tidak langsung memacu mobilnya dengan kencang. Ia justru membelokkan kemudi ke sebuah area parkir yang sepi di pinggir jalur antar-kota, terlindung oleh pepohonan besar.

"Kenapa berhenti, Mas?" Zora bertanya heran, ia memajukan tubuhnya ke arah kursi depan.

Dimas mematikan mesin. Kesunyian tiba-tiba menyergap, membuat detak jantung Zora terdengar jelas di telinganya sendiri. Dimas melepaskan sabuk pengamannya, lalu berbalik badan sepenuhnya menghadap Zora. Tatapan matanya yang biasanya tenang kini berubah menjadi gelap dan intens,sebuah tatapan yang sudah lama ia tahan sejak malam pertama mereka yang tertunda.

Zora..." suara Dimas memberat, rendah dan penuh tuntutan.

Zora menelan ludah, tubuhnya mendadak kaku saat tangan hangat Dimas merayap ke belakang tengkuknya, menariknya perlahan agar wajah mereka semakin dekat. Di dalam ruang sempit mobil itu, aroma maskulin Dimas mendominasi segalanya, memabukkan indra Zora.

"Aku tahu kita belum sampai Bandung," bisik Dimas tepat di depan bibir Zora. Napasnya yang hangat menerpa kulit, membuat bulu kuduk Zora meremang. "Tapi Aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kamu tahu seberapa kerasnya aku menahan diri selama di rumah Uwa?"

Dimas memejamkan mata, memiringkan kepalanya sedikit untuk mencari posisi yang sempurna. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa milimeter. Zora pun secara tidak sadar mulai memejamkan mata, jantungnya bertalu-talu menunggu sentuhan yang sudah tertunda sejak malam pertama mereka.

Sedikit lagi... hanya tinggal satu embusan napas lagi...

TIIIIIINNNN!!! TIIIIIINNNN!!!

1
Ila Aisyah
penggelapan uang perusahaan, pembunuhan berencana ayah dimas
Shifa Burhan
inilah enak pemeran utama wanita, berbuat salah tapi segampang itu dimaafkan dan kesalahan hal sepele

zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan

thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,

buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,


adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
Shifa Burhan: dan thor jangan sepelekan kesalahn zora karena ini adalah kesalahan yang berulang2, zora bukan belajar dari kesalahan sebelum nya tapi malah makin jadi seenak karena dia merasa author membela dia dengan membuat dimas selalu jadi budak cinta yang Terima saja diperlakukan seperti apa saja

thor adil terhadap sang wanita dan sang pria, berlalu netral lah, author harus berdiri adil, buang jauh2 sudut pandang wanita saja
total 1 replies
Dodoi Memey
Dimas maen cium aja cepet banget nyosornya
Dodoi Memey
Thor keren banget dimasnya calon suami siaga
Dodoi Memey
sepertinya Dimas blom pernah berdekatan sama cewek
shadirazahran23: dia pernah naksir sahabatnya Zora lo 🤣
total 1 replies
Dodoi Memey
tambah seru lanjutkan
Dodoi Memey
asyiikkk seru
Wiwi Sukaesih
kebiasaan Zora kalau ad apa" g pernh nanya lngsung
g bljr dr msalt kemarin
Rahayu Ayu
Kalau Zora srkalu berasumsi buruk senditi tanpa bertanya dan mendengarkan apapun alasan dari Dimas,
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
Acih Sukarsih
mulai konflik
Tamirah Spd
Thor kalau ingin menciptakan konflik Dimas dan Zora, kenapa hrs ada akta dlm dompet yg tertera namae Wulan anak Wulan dan Dimas ....?.yg sama sama nama Dimas beda nama belakang .Kan Janggal Dimas menyimpan akta sahabat nya dlm dompet mereka hanya sahabat.walau kesannya jadi salah paham dikira Dimas punya anak dgn Wulan.Tetap gak etis nyimpan akta org lain dalam dompet apa lagi anak nya Wulan panggil papa..... wesss angelllll.
Rahayu Ayu
Aq kira yg datang mengganggu Nesa atau Wulan, ternyata malah Mira si biang kerok, mungkin harapan Mira bisa bekerja di perusahaan Dimas, agar bisa mendekati Dimas lagi,
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
Rahayu Ayu: Ga terlalu penasaran amat sih kak.
yg penting jangan ada lagi gangguan buat RT mereka.
total 2 replies
Rahayu Ayu
Antara Nesa atau Wulan
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
Rahayu Ayu
Posesif boleh, itu menandakan kalau kamu adalah orang yg sangat mencintai dan menjaga pasangan mu,
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
Ila Aisyah
loooo,,, iku yg membuat merinding disko 😛,,,
Wiwi Sukaesih
nah Lo ad LG penggemar zora.😁
Wiwi Sukaesih
ahh dkra spa yg bela Zora dh parno aj
ternyata paksu Dimas 😍
shadirazahran23: Matanya Dimas kaya Elang
total 1 replies
Marini Suhendar
Bos Dimas 🤭
Acih Sukarsih
dimas
Wiwi Sukaesih
pelajaran untuk Zora klw bertanya itu jgn dlm hati y sung tny k.orgny.jgn suudzon...
y Dimas persiapan 👍
shadirazahran23: Ia betul.Setelah ini Insya Allah Zor lebih dewasa dalam bersikap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!