Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Yang Terbelah
Ketiadaan Yuni terasa seperti mencabut roda gila dari sebuah mesin yang sudah berjalan otomatis selama bertahun-tahun. Rumah yang biasanya tertata rapi, makanan tepat waktu, dan jadwal yang berjalan seperti Swiss watch, tiba-tiba limbung.
Pagi pertama setelah Yuni pergi adalah kekacauan total. Amara sengaja bangun lebih lambat dari biasanya, membiarkan suara alarm Rafa dan Luna berdering tanpa respon dari dapur.
Dia duduk di tempat tidur, mendengarkan keributan dari bawah: suara Rafa yang bingung mencari sereal, bunyi kulkas yang dibuka-tutup, tangisan Luna karena susu coklatnya terlalu panas.
“Mana Yuni, Ma?” tanya Luna saat akhirnya menemui Amara di dapur yang berantakan. Bibirnya cemberut.
“Yuni sudah tidak kerja di sini lagi, Sayang. Sekarang kita yang urus rumah sendiri,” jawab Amara, sambil dengan tenang membuatkan roti panggang untuk dirinya sendiri, hanya untuk dirinya sendiri.
Rafa, dengan kemeja yang belum disetrika sempurna, menatapnya. Ada pertanyaan dan tuduhan di matanya, tapi Amara hanya balas menatap dengan dingin.
“Sarapan Luna, biar aku saja,” ucapnya, tapi dia bergerak lambat, sengaja membuat Rafa harus menunggu dan menyaksikan sendiri bagaimana susahnya menyiapkan sarapan sambil mengikat tali sepatu Luna dan mencari tas kerjanya yang hilang.
Sepanjang hari itu, Amara tetap di studio/ruang kerjanya, fokus pada finalisasi desain instalasi dinding untuk klinik Ibu Dewi. Dia memblokir suara-suara kekacauan dari lantai bawah.
Pikirannya hanya pada tekstur dan bentuk. Saat dia turun untuk makan siang, dapur seperti kapal karam. Piring kotor menumpuk, sisa-sisa roti dan selai berceceran.
Luna sedang asyik menonton TV di ruang keluarga—sesuatu yang biasanya dibatasi Yuni.
Rafa terlihat lelah dan kesal di ruang kerjanya, teleponnya menyala dengan pesan dari kantor.
“Ini tidak bisa terus-terusan, Amara,” katanya saat Amara lewat.
“Apa yang tidak bisa?” tanyanya polos.
“Keadaan seperti ini! Kita butuh bantuan.”
“Kita punya bantuan. Dua orang dewasa. Atau selama ini kau pikir pekerjaan rumah tangga ini hanya butuh satu orang?”
Amara tidak menunggu jawaban. Dia mengambil apel dari lemari es dan kembali naik.
Malamnya, setelah makan malam sederhana yang dibuat Amara hanya untuk dirinya dan Luna (Rafa memilih pesan online), ketegangan mencapai titik didih. Luna yang cerdas mulai bertanya-tanya.
“Papa kenapa makan di kamar kerja? Papa marah?”
“Tidak, Sayang. Papa hanya sibuk.”
“Tapi rumah jadi aneh,” keluh Luna.
Kalimat itu, diucapkan dengan polosnya, menjadi pemicu. Setelah Luna tertidur, Amara menemui Rafa di ruang kerjanya. Dia duduk di seberang meja.
“Kita perlu bicara. Tentang pengaturan. Untuk Luna.”
Rafa mengangguk, lelah. “Aku setuju. Ini tidak sehat untuknya.”
“Aku usulkan separasi di bawah satu atap. Sementara. Kita tetapkan batasan. Kamu pindah ke lantai bawah—ambil kamar tamu utama dan gunakan ruang kerja ini sebagai ruang pribadimu. Aku dan Luna di lantai atas. Kita berbagi jadwal pengasuhan, jadwal penggunaan dapur dan ruang keluarga. Semua harus terjadwal, seperti bisnis.”
Kata-katanya dingin, klinis. Seolah-olah dia sedang mendiktekan kontrak.
Rafa tercengang. “Kau serius? Di rumah yang sama?”
“Ini transisi paling aman untuk Luna. Dia tidak perlu pindah lingkungan, teman-temannya, sekolahnya. Dan kita bisa menghemat biaya sementara semua proses hukum berjalan.”
Amara meletakkan selembar kertas draft jadwal. “Ini usulanku. Kita revisi bersama.”
Mereka berdebat selama satu jam tentang detail: siapa yang memasak di hari apa, siapa yang mengantar Luna, bagaimana akhir pekan. Suara mereka tidak tinggi, tapi penuh dengan kepahitan yang tertahan.
Akhirnya, dengan kelelahan yang sama-sama melumpuhkan, mereka menyetujui sebagian besar poin. Rafa akan pindah esok hari.
Keesokan harinya, rumah itu secara resmi terbelah. Rafa membawa beberapa kardus berisi pakaian dan barang pribadinya ke lantai bawah.
Suara gesekan kardus di lantai marmer seperti suara pemakaan. Amara membantu dengan nada datar, menyerahkan seprei dan sarung bantal baru. Tidak ada kontak mata.
Luna memperhatikan dengan mata besar.
“Papa pindah kamar?”
“Iya, Sayang. Supaya Papa bisa kerja lebih fokus di lantai bawah. Nanti kalau Luna kangen, bisa turun,” jawab Amara dengan versi cerita yang sudah disepakati.
“Oh,” respon Luna, masih bingung, tapi sepertinya menerima.
Dengan batasan fisik yang jelas, suasana justru agak membaik. Ketegangan berkurang karena mereka tidak perlu bertemu kecuali untuk ‘serah terima’ Luna atau hal administrasi rumah. Komunikasi mereka bergeser ke aplikasi pesan, kebanyakan berisi daftar dan pengingat.
Rafa (19.03): Besok aku yang jemput Luna les piano. Aku meeting sampai jam 4.
Amara (19.05): Oke. Jangan lupa parkir di area jemput, bukan tunggu di mobil.
Kering. Efisien. Tanpa emosi.
Di tengah pembagian wilayah yang dingin ini, Amara menemukan penyelamatannya: proyek klinik Ibu Dewi memasuki tahap instalasi akhir. Dia menghabiskan hari-hari di lokasi, jauh dari rumah yang terasa seperti medan perang yang sepi.
Hari H pemasangan instalasi dinding utama tiba. Instalasi itu adalah karya favoritnya: sebuah panel kayu laser-cut besar dengan pola abstrak yang terinspirasi dari akar pohon dan gelombang suara, dilapisi kain akustik berwarna sage green. Cahaya dari spot lamp di belakangnya akan menciptakan bayangan yang menenangkan di dinding.
Amara memakai overall kerja denim yang belepotan cat dan sepatu safety. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya penuh konsentrasi. Dia memimpin pemasangan dengan suara lantang dan jelas, mengarahkan dua tukang untuk mengangkat panel besar itu, memastikan tingkatannya pas, mengencangkan baut-bautnya dengan presisi.
“Pelankan… pelankan… nah, pas!” teriaknya.
Saat panel terpasang sempurna dan lampu dinyalakan, seluruh ruang tunggu berubah. Cahaya hangat memantul dari pola kayu, menciptakan nuansa seperti berada di bawah kanopi hutan yang teduh. Suara gemuruh jalanan di luar tiba-tiba meredam.
Ibu Dewi, yang datang untuk melihat, tertegun. Matanya berkaca-kaca.
“Ini… ini lebih indah dari yang saya bayangkan, Bu Amara.”
Dr. Oka juga mengangguk puas. “Rasanya sendiri beda. Lebih… tenang.”
Kepuasan yang mendalam mengaliri Amara. Di sini, di antara debu konstruksi dan cahaya yang sempurna, dia berkuasa. Di sini, usahanya memberi hasil yang nyata dan indah. Dia memotret instalasi itu, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, senyum asli menghiasi bibirnya—sebuah senyum untuk dirinya sendiri.
Kembali ke rumah yang terbelah, Amara menemukan pesan dari Ibu Marni.
Ibu Marni (16.22): Amara, saya ingin mengajak Luna menginap di akhir pekan ini.
Memberi kalian ruang. Setuju?
Amara hampir menolak. Tapi dia lelah. Lelah dengan permusuhan, lelah dengan pengaturan, lelah menjadi kuat setiap saat. Dia menyetujui.
Jumat sore, Ibu Marni menjemput Luna dengan mobil mewahnya. Luna senang karena akan diajak ke kebun binatang oleh neneknya. Setelah mereka pergi, keheningan yang aneh turun di rumah besar itu. Bukan keheningan yang tegang, tapi keheningan yang hampa, seperti setelah badai.
Amara dan Rafa, tanpa agenda bersama, tanpa Luna sebagai penghubung, tiba-tiba menjadi dua orang asing yang terdampar di kapal yang sama. Mereka menghindari satu sama lain, tapi rumah terasa terlalu sunyi.
Malam itu, Amara turun ke dapur untuk mengambil air. Rafa ternyata sudah ada di sana, berdiri di depan kulkas terbuka, menatap kosong isinya.
“Kau mencari sesuatu?” tanya Amara tanpa sengaja, memecah kesunyian.
Rafa menutup kulkas. “Tidak. Hanya… berpikir.”
Diam. Biasanya, salah satu dari mereka akan segera pergi. Tapi malam ini, kelelahan yang sama-sama mereka rasakan sepertinya mengikat mereka di tempat.
“Luna telepon tadi,” ucap Rafa. “Dia senang lihat jerapah.”
“Iya, dia bilang padaku juga.”
Mereka berdiri berseberangan di pulau dapur, diterangi lampu under-cabinet yang temaram. Amara melihat Rafa. Dia terlihat lebih kurus, ada bayangan hitam yang dalam di bawah matanya. Bukan lagi pria tampan yang percaya diri, tapi seorang lelaki yang kelelahan.
“Aku… aku sudah mulai terapi lagi,” kata Rafa tiba-tiba, suaranya serak. “Dengan spesialis yang baru. Untuk kecanduan kerja dan… masalah kepercayaan.”
Amara mengangguk, tidak bersuara.
“Ini sulit,” lanjut Rafa, seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Mengakui bahwa aku menghancurkan segalanya karena… karena ketakutan dan ego.”
“Kita berdua menghancurkannya, Rafa,” suara Amara terdengar, mengejutkan dirinya sendiri.
“Aku juga pergi. Lama sebelum aku
benar-benar pergi. Aku menghilang di rumah ini.”
Rafa menatapnya, terkejut. “Itu tidak membenarkan apa yang kulakukan.”
“Tidak. Tapi itu menjelaskan.” Amara menarik napas. Kelelahan itu begitu dalam hingga kemarahan tidak bisa lagi dipertahankan.
“Aku benci diriku karena membiarkannya terjadi. Karena menjadi begitu kecil hingga pasangan selingkuhanmu adalah asisten rumah tangga kita, dan aku tidak melihatnya. Aku benci karena merasa begitu bodoh.”
“Kamu tidak bodoh. Aku yang licik. Dan pengecut.” Rafa bersandar di konter, kepalanya menunduk.
“Aku pikir dengan memberi semua ini,” dia melambangkan rumah dengan tangannya,
“aku sudah menjadi suami yang baik. Bahwa itu cukup. Dan ketika kau mulai tenggelam, aku malah menjauh karena tidak tahu harus berbuat apa. Lalu… Yuni ada. Dia melihatku, dia memujiku, dia membuatku merasa masih berkuasa di suatu tempat. Itu salah. Sangat salah.”
Pengakuan itu tidak lagi terdengar seperti pembelaan. Itu terdengar seperti sebuah laporan autopsi atas sebuah mayat bernama pernikahan mereka.
“Apa yang kita lakukan pada Luna?” gumam Amara, pertanyaan yang selalu menghantuinya.
“Kita mencoba yang terbaik sekarang. Itu satu-satunya yang bisa kita lakukan.” Rafa mengangkat kepalanya. Matanya basah.
“Aku tidak akan pernah bisa meminta maaf yang cukup. Tapi aku ingin kau tahu, aku akan melakukan apapun untuk memastikan Luna baik-baik saja. Bahkan jika itu berarti… melihatmu pergi untuk selamanya.”
Air mata akhirnya mengalir di pipi Amara. Bukan air mata marah atau sedih romantis. Tapi air mata kelepasan. Air mata untuk semua tahun yang terbuang, untuk kebohongan, untuk ilusi, dan untuk kelelahan yang tak tertahankan.
“Aku lelah, Rafa. Sangat lelah.”
“Aku juga.”
Mereka berdiri di sana, di dapur yang dulu menjadi saksi bisu sarapan-sarapan sunyi mereka, menangis dalam keheningan. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan. Hanya dua orang yang sama-sama hancur, akhirnya mengakui betapa rusaknya fondasi yang mereka bangun, dan betapa lelahnya mereka untuk terus menyangkalnya.
Percakapan itu tidak menyelesaikan apapun. Tidak ada rekonsiliasi, tidak ada janji baru. Tapi itu membuka sebuah pintu kecil—pintu pengakuan jujur tanpa permusuhan. Saat Amara naik ke lantai atas, dia merasa sedikit lebih ringan. Beban kebencian yang selama ini dipikulnya ternyata sangat berat. Dan malam itu, dia meletakkannya sebentar, hanya untuk bernapas.
Rumah itu masih terbelah. Tapi mungkin, dalam keterbelahan itu, ada ruang untuk kebenaran yang jujur—yang pahit, yang menyakitkan, tapi setidaknya, nyata. Dan dari kenyataan itu, mereka bisa mulai membangun sesuatu yang baru, apa pun bentuknya nanti.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.