"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Perhatian
Liana membuka matanya dan terkejut. Buru-buru ia bangun mendapati ruangan yang begitu familiar. Cukup lama ia tak sadarkan diri, dan kini ia kebingungan kenapa keberadaannya ada di ruangan CEO.
"Kamu sudah bangun?" Seorang pria berjalan mendekat dengan membawa semangkuk bubur ayam. Dia menatapnya dingin tanpa menunjukkan ekspresi kekhawatirannya.
"B—bapak, kok saya ada di ruangan bapak? Memangnya apa yang sudah terjadi Pak?"
Liana seperti orang linglung, tak mengingat apa yang sudah terjadi padanya.
"Kamu tadi pingsan. Badanmu juga demam," jawab Reynan. "Ini aku beliin bubur. Mumpung masih hangat, ayo lekas dimakan."
Reynan menyodorkan semangkuk bubur ayam dan diterima baik oleh Liana.
"Terimakasih Pak, tapi nggak usah repot-repot." Liana merasa tak enak hati diperhatikan oleh bosnya. Ia sadar posisinya hanyalah karyawan biasa, sangatlah tak pantas mendapatkan perhatian yang berlebihan.
"Jaga kesehatan itu sangat penting, nona Liana. Anda bekerja seharian penuh, tapi anda tidak mengisi perut anda, bagaimana anda bisa bekerja dengan tenang? Lain kali kalau mau berangkat kerja itu utamakan sarapan, jangan mengutamakan emosi," cibir Reynan.
Liana terdiam menunduk . Ia tahu Reynan sengaja mencibirnya karena pagi itu dia sudah mengusir dari kediamannya.
"Oh ya..., bagaimana dengan tawaran saya waktu itu? Apakah kamu sudah memikirkannya?"
Liana mendongak sembari mengaduk aduk bubur meratakan isiannya. "Saya masih belum sempat pikirkan pak," jawabnya perlahan tapi masih didengar jelas oleh Reynan.
"Memangnya apa yang kamu khawatirkan? Keselamatan Anak-anakmu?" Pria itu menatapnya dingin dengan dua tangannya bersilang di dada.
Liana mengangguk. "Iya pak, saya bahkan berniat untuk resign juga karena ingin mengutamakan keselamatan mereka. Hanya mereka yang saya miliki di dunia ini, Pak. Saya takut akan kehilangannya."
Reynan sendiri juga tidak menyangka, anak-anak yang dimaksud oleh Liana adalah bocah kembar yang sempat diselamatkannya. Ia bahkan sempat berpikir buruk mengenai ibu dari si kembar, dan ternyata Liana lah ibu mereka.
"Kamu nggak perlu memikirkan soal keselamatan mereka. Saya akan jamin keselamatan mereka. Mulai besok mereka ada yang antar jemput ke sekolah. Kamu nggak perlu cemas akan keselamatannya."
Reynan sudah mempersiapkan seseorang yang dipercaya untuk menjaga si kembar. Mereka tidak bersalah, mereka juga dilahirkan karena keegoisan orang tua, dan Reyhan tak membencinya.
"Apa pak? Bapak menyiapkan seseorang untuk mengantar jemput mereka? Kenapa bapak lakukan itu?" tanya Liana dengan bola mata terbelalak.
Dengan tegas Reynan menjawab. "Saya melakukan semua itu demi kenyamanan mereka, selebihnya saya tidak menerima alasan resign dari kamu. Kamu tetap bekerja di sini dan jika bisa, jadilah asisten pribadi saya."
Dalam diam Liana menggumam. 'ini orang kenapa ya, ngebet banget ingin aku menjadi asisten pribadinya? Padahal kan dia sudah memiliki asisten pribadi? Kenapa masih menginginkanku juga?'
Nona Liana, kenapa kamu diam? Apa tawaran saya ini tidak menguntungkan buat kamu? Sesuai dengan janji saya, saya akan menambah gajimu tiga kali lipat. Bukankah dengan begitu kamu bisa memberikan kehidupan yang lebih layak buat mereka? Maksudnya kamu bisa menabung untuk membeli rumah, atau berinvestasi membangun sebuah usaha."
Setelah cukup lama berpikir akhir Liana memberinya jawaban. "Iya, saya terima tawaran bapak. Kalau boleh tahu ini berlaku berapa lama?"
"Tergantung performa mu. Kalau kamu bisa menjalankan tugas dengan baik mungkin bisa setahun, dua tahun atau bahkan selamanya."
Bola mata Liana terbelalak. "Hah? Selamanya?"
"Hm..., tapi ada syaratnya."
Kedua alis Liana tertaut. "Syarat? Memang syaratnya apa pak?" tanya Liana. Liana berharap syarat yang diajukan Reynan tidak menyulitkannya.
"Syaratnya selama kamu menjadi asisten pribadi saya kamu harus mengikuti apapun yang saya perintahkan. Dan satu lagi, selama kamu terikat kontrak kerja sama saya kamu dilarang menjalin hubungan dengan pria manapun. Tugas kamu hanya fokus mengurus semua keperluan saya."
"Hah?" Liana tercengang mendengar syarat-syarat yang diajukan oleh Reynan. Padahal di situ ia hanya sebatas asisten, bukan menjadi istrinya, kenapa juga dilanggar untuk dekat dengan pria lain. Kenapa Reynan mencampuradukkan urusan kerja dengan urusan pribadi?
"Bagaimana menurutmu nona Liana? Apa kamu setuju dengan syarat yang saya berikan?"
"Tapi pak, apa alasan anda tidak memperbolehkan saya dekat dengan orang lain, maksud saya pria lain? Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan?" tanya Liana.
"Ya, tentu saja ini sangat berpengaruh pada kerjaan kamu. Jika kamu mulai terbuai rayuan laki-laki kamu nggak bakalan fokus bekerja. Saya tidak ingin pekerjaan kamu terganggu oleh rayuan pria hidung belang."
Cukup masuk akal pemikiran bosnya, tapi haruskah ia menjadi single parents seumur hidupnya? Bagaimana kalau suatu saat nanti ada keinginan untuk menikah? Apakah ia harus mengubur hidup-hidup keinginan itu? Sungguh syarat yang menjengkelkan.
"Bagaimana nona, apakah anda setuju?" Reynan kembali meminta jawaban darinya.
Ragu-ragu Liana mengangguk. Untuk saat ini ia fokus memikirkan masa depannya dan juga anak-anaknya. Ia memiliki keinginan untuk membeli rumah buat mereka. Untuk soal percintaan, ia tak begitu memikirkannya. Ia sudah tahu betul bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang dicintainya.
"Baik Pak, saya setuju dengan pendapat anda."
Reynan tersenyum tipis dan beranjak dari sofa kembali ke meja kerjanya untuk mengambil lampiran berkas yang sudah disediakan sebelumnya. Setelah itu dia kembali mendekat dengan suasana hati yang tenang.
Reynan menyodorkan lampiran kertas putih berisi perjanjian prakerja dan memberikan bolpoin kepada Liana. "Kalau kamu sudah setuju, silahkan tanda tangani isi surat perjanjian ini."
Tanpa ada keraguan Liana langsung menandatangi surat tersebut tanpa membaca isi perjanjiannya. Kali ini yang dipikirkan hanyalah uang, bukan lagi tentang perasaan.
"Mulai dari sekarang kamu pindah tempat di ruangan saya. Sebagai asisten pribadi saya kamu harus siaga kapanpun saya butuhkan."
Liana hanya bisa menurut, tak bisa protes dan tak bisa lagi membuat alasan yang hanya akan menyulitkannya.
"Ayo habiskan dulu sarapanmu."
Liana mengangguk. "Baik Pak."
Drett... Drett...
Suara getaran handphone dari dalam saku celananya membuatnya buru-buru mengeluarkannya. Dilihatnya ada kiriman chat dari seseorang yang dipercaya untuk membantu mengurus semua pekerjaannya.
("Permisi Pak, ini sekarang saya sedang berada di hotel Permai di mana anda menginap enam tahun yang lalu. Semua data-datanya masih lengkap. Anda menginap di kamar nomer 305 di mana Anda menghabiskan waktu bersama seorang wanita di kamar tersebut. Saya akan mengirimkan gambar wanita itu, mungkin bisa membantu anda, Pak.")
Dengan cepat Reynan membalas chatnya. ("Ayo berikan gambarnya pada saya sekarang juga, saya butuh!")
Tidak lama dari itu kembali Reynan menerima notifikasi dari pria suruhannya itu. Reynan yang sudah tidak sabar lagi menunggu, dia pun langsung membuka sebuah foto yang ada di aplikasi WhatsAppnya.
Deg,, degub jantungnya berdetak begitu kencang saat matanya tertuju pada foto tersebut. "Loh, bukannya ini... Liana?"