Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Cinta Makin Dalam
Seminggu setelah kunjungan Ustadz Hasyim, Arga memutuskan untuk tidak memikirkan peringatan itu lagi. Ia memilih hidup di saat ini. Hidup dengan Safira. Apapun konsekuensinya nanti, ia akan hadapi saat waktunya tiba.
Dan seminggu itu adalah minggu paling bahagia dalam hidupnya. Lebih bahagia dari lima tahun pernikahannya dengan Ratih. Karena kali ini, ia merasakan cinta yang tulus. Cinta yang tidak menuntut. Cinta yang menerima dia apa adanya.
Setiap malam mereka menghabiskan waktu bersama. Tidak hanya duduk di teras atau di taman. Safira mulai berani berkeliling rumah bersama Arga. Mereka berjalan-jalan di kebun belakang yang luas, di bawah cahaya bulan yang menerangi dengan lembut.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Safira muncul tepat saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Arga sudah menunggu di taman depan, duduk di ayunan tua sambil menatap langit yang penuh bintang.
"Kamu selalu menunggu di sini," suara Safira yang lembut terdengar dari belakangnya.
Arga menoleh, tersenyum lebar saat melihat Safira yang berdiri di bawah pohon dengan gaun putihnya yang berkibar pelan. "Karena aku tidak sabar ingin melihatmu."
Safira tersenyum. Senyum yang membuat hati Arga meleleh. Ia berjalan menghampiri Arga, duduk di ayunan sebelahnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Safira sambil menatap wajah Arga dengan khawatir. "Kamu kelihatan lebih pucat dari kemarin."
Arga menggeleng. "Aku baik-baik saja. Cuma kurang tidur aja."
Itu bohong. Ia memang semakin lemas akhir-akhir ini. Setiap pagi ia terbangun dengan tubuh yang terasa seperti habis dipukuli. Tapi ia tidak mau membuat Safira khawatir.
Safira menatapnya dengan tatapan yang tidak percaya, tapi ia tidak memaksa. "Kalau kamu merasa tidak enak badan, bilang padaku ya. Aku... aku tidak mau kamu sakit karenaku."
Arga menggenggam tangan Safira. Tangan yang dingin tapi sudah terasa familiar di genggamannya. "Aku janji. Tapi sekarang ayo jalan-jalan. Aku bosan di sini terus."
Mereka berdua berjalan ke kebun belakang. Kebun yang luas dengan rumput yang sudah tinggi dan pohon-pohon besar yang rindang. Cahaya bulan menerangi jalan mereka, membuat bayangan mereka panjang di atas tanah.
Safira berjalan di samping Arga dengan langkah yang ringan, seperti melayang. Sesekali ia menyentuh dedaunan yang mereka lewati, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Arga.
"Sangat," jawab Safira dengan suara yang penuh nostalgia. "Dulu... dulu aku sering berjalan di sini bersama Arjuna. Kami suka duduk di bawah pohon besar itu." Ia menunjuk pohon rindang di tengah kebun. Pohon yang sama tempat Arjuna mengakhiri hidupnya.
Arga merasakan dadanya sedikit sesak mendengar nama Arjuna. Cemburu? Mungkin. Tapi ia mencoba menahannya.
Mereka berjalan menuju pohon itu. Safira duduk di bawahnya, bersandar pada batang yang besar. Arga duduk di sebelahnya, menatap Safira yang menatap langit dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ceritakan padaku," kata Arga pelan. "Ceritakan tentang Arjuna. Tentang cinta kalian."
Safira menoleh, menatap Arga dengan tatapan terkejut. "Kamu... kamu mau dengar?"
"Ya. Aku mau tahu. Aku mau tahu tentang masa lalumu. Tentang siapa dirimu sebenarnya."
Safira terdiam sebentar, lalu ia mengangguk pelan. "Baiklah."
Dan ia mulai bercerita.
"Arjuna itu... dia orang biasa. Pedagang batik yang jujur dan pekerja keras. Kami bertemu saat aku turun ke dunia manusia. Saat itu aku masih jin yang bebas berkeliaran. Aku penasaran dengan kehidupan manusia, jadi aku sering mengamati mereka. Dan suatu hari, aku melihat Arjuna di pasar. Dia sedang menjual kain batik, tersenyum ramah pada setiap pembeli. Ada sesuatu tentang dia yang... yang menarik hatiku."
Arga mendengarkan dengan seksama, meski dadanya terasa sedikit nyeri.
"Aku mulai sering mendekatinya. Dalam wujud manusia tentunya. Dia tidak tahu aku jin. Dia pikir aku gadis desa biasa. Kami mengobrol, tertawa bersama. Dan tanpa aku sadari, aku jatuh cinta. Jatuh cinta sangat dalam."
"Lalu?"
"Lalu aku memutuskan untuk menjadi manusia sepenuhnya. Aku memohon pada Allah agar diberi kesempatan hidup sebagai manusia. Dan Allah mengabulkan. Aku berubah menjadi manusia dengan semua konsekuensinya. Aku bisa merasakan lapar, haus, sakit, bahagia. Dan aku menikah dengan Arjuna."
Air mata Safira mulai jatuh. "Kami sangat bahagia, Arga. Sangat bahagia. Arjuna mencintaiku dengan sepenuh hati. Dia tidak pernah tahu aku dulunya jin. Dan aku... aku merasa seperti mendapatkan surga di dunia. Kami berencana punya anak, membangun keluarga besar, menua bersama."
"Tapi kebakaran itu..."
Safira mengangguk sambil menangis. "Kebakaran itu datang terlalu cepat. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada Arjuna. Saat aku tersadar, aku sudah mati. Tubuh manusiaku terbakar habis. Tapi rohku... rohku tidak bisa pergi. Karena aku dulunya jin, aku kembali ke bentuk asalku. Tapi aku juga tidak bisa kembali ke alam gaib karena sudah terlalu lama hidup sebagai manusia. Jadi aku terjebak. Terjebak di rumah ini. Sendirian."
Arga merasakan air matanya ikut mengalir. Ia memeluk Safira yang menangis di sampingnya. "Maaf... maaf kamu harus merasakan itu sendirian selama lima puluh tahun."
Safira membalas pelukan itu dengan erat. "Dan saat kamu datang, Arga... saat aku melihat kamu yang juga terluka, yang juga kesepian... aku merasa menemukan seseorang yang mengerti. Seseorang yang bisa merasakan sakitku."
Mereka berpelukan cukup lama di bawah pohon itu. Menangis bersama untuk luka masa lalu mereka. Untuk cinta yang hilang. Untuk kesepian yang panjang.
Setelah tangis mereda, Safira melepaskan pelukan. Ia menatap Arga dengan mata yang masih basah. "Sekarang giliranmu. Ceritakan padaku tentang Ratih. Tentang mimpi-mimpimu yang hancur."
Arga terdiam. Rasanya sakit untuk mengingat itu lagi. Tapi ia melihat mata Safira yang penuh pengertian, dan ia tahu ia bisa cerita. Ia bisa membuka semua luka di hadapan Safira.
"Ratih... dia mimpi pertamaku," Arga mulai bercerita dengan suara yang pelan. "Saat aku bertemu dia di perpustakaan enam tahun lalu, aku langsung jatuh cinta. Aku pikir dia wanita yang sempurna. Cantik, pintar, perhatian. Kami menikah lima tahun lalu dengan penuh harapan. Aku bermimpi punya keluarga bahagia dengannya. Punya anak. Membangun rumah tangga yang harmonis."
"Tapi?"
"Tapi ternyata semua itu hanya ilusi," Arga tertawa pahit. "Aku terlalu sibuk kerja, dia merasa diabaikan. Lalu dia selingkuh dengan Dimas, sahabatku sendiri. Dan saat aku menemukan mereka di ranjangku... duniaku hancur. Semua mimpi itu runtuh dalam satu malam."
Safira menggenggam tangan Arga dengan erat. "Itu bukan salahmu, Arga. Kamu bekerja keras untuk keluargamu. Dia yang tidak menghargai."
"Tapi dia bilang dia tidak pernah bahagia bersamaku," Arga menatap Safira dengan mata yang penuh luka. "Dia bilang aku tidak cukup. Dan sejak saat itu, aku merasa... merasa tidak layak dicintai."
"Jangan," Safira menatap Arga dengan tatapan yang sangat serius. "Jangan pernah merasa seperti itu. Kamu layak dicintai, Arga. Sangat layak. Dan aku... aku mencintaimu. Bukan karena kamu sempurna. Tapi karena kamu tulus. Karena kamu mau menerima aku apa adanya."
Arga merasakan kehangatan di dadanya meski tubuh Safira dingin di genggamannya. "Aku juga mencintaimu, Safira. Lebih dari yang pernah aku rasakan."
Mereka saling menatap di bawah cahaya bulan. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Arga merasa... merasa utuh. Merasa dicintai. Merasa berharga.
"Kamu tahu apa yang aku sadari?" Safira berbicara dengan suara yang lembut. "Sejak bertemu kamu, aku mulai shalat lagi dengan lebih khusyuk. Aku mulai berdoa lagi dengan lebih tulus. Karena kamu mengingatkanku bahwa cinta sejati harus dimulai dengan cinta pada Allah."
Arga tersentak. Shalat. Ia sudah berapa lama tidak shalat dengan benar? Sejak bercerai dengan Ratih, shalatnya berantakan. Kadang lupa, kadang malas, kadang terlalu marah untuk menghadap Tuhan.
"Aku... aku sudah lama tidak shalat dengan benar," Arga mengakui dengan malu.
Safira tersenyum lembut. "Kalau begitu, ayo kita shalat bersama malam ini. Shalat tahajud. Memohon pada Allah agar memberkahi kita. Agar menunjukkan jalan yang benar untuk kita."
Arga menatap Safira dengan tatapan tidak percaya. Jin yang mengajak manusia untuk shalat? Ini... ini bukan yang ia bayangkan tentang makhluk gaib.
Tapi ia mengangguk. "Baiklah. Ayo."
Mereka kembali ke rumah. Arga mengambil wudhu, Safira menunggu di ruang shalat. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Arga shalat dengan khusyuk. Di sampingnya, Safira juga shalat dengan tenang.
Setelah shalat, mereka duduk berdampingan. Arga menatap Safira yang sedang berdoa dengan mata terpejam. Wajahnya yang cantik terlihat damai. Dan di saat itu, Arga menyadari sesuatu.
Ia ingin wanita ini di sampingnya selamanya.
"Safira," Arga berbisik pelan.
Safira membuka matanya, menoleh ke arah Arga. "Ya?"
Arga menarik napas dalam. Jantungnya berdegup kencang. Ini keputusan gila. Ia tahu. Tapi hatinya sudah memutuskan.
"Aku... aku ingin menikahimu."
Hening.
Safira membeku. Matanya membulat, menatap Arga dengan tatapan tidak percaya.
"Apa?" suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku ingin menikahimu, Safira," Arga mengulangi dengan suara yang lebih mantap. "Aku ingin kamu jadi istriku. Secara resmi. Di hadapan Allah."
Air mata Safira jatuh. Tubuhnya gemetar hebat. "Arga... apa... apakah kamu yakin? Ini bukan jalan yang mudah. Ini... ini akan mengubah takdirmu. Kamu bisa..."
"Aku bisa mati, aku tahu," Arga memotong dengan lembut. Ia menggenggam kedua tangan Safira yang dingin. "Aku bisa terjebak di alam gaib, aku tahu. Tapi aku tidak peduli. Yang aku peduli adalah kamu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku, betapapun singkatnya, bersamamu. Sebagai suami dan istri."
"Tapi Arga..." Safira menangis lebih keras. "Aku jin. Aku bukan manusia. Pernikahan kita... pernikahan kita tidak akan direstui banyak orang. Bahkan mungkin tidak direstui Allah."
"Lalu kita akan memohon restu Allah," Arga menjawab dengan tegas. "Kita akan berdoa. Kita akan meminta agar Dia memberkahi kita. Dan kalau Dia tidak mengijinkan, maka... maka aku akan menerima. Tapi setidaknya aku sudah mencoba. Setidaknya aku sudah berjuang untuk cinta kita."
Safira menatap Arga dengan mata yang penuh air mata. "Kamu... kamu benar-benar yakin?"
"Aku tidak pernah seyakin ini dalam hidupku," Arga menjawab sambil tersenyum. Senyum yang tulus meski air matanya juga mengalir. "Safira Aluna, maukah kamu menikah denganku?"
Safira menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, isak tangis pecah tanpa bisa ditahan.
Arga menunggu. Jantungnya berdebar kencang. Takut ditolak. Takut Safira akan bilang tidak.
Tapi kemudian Safira menurunkan tangannya. Menatap Arga dengan mata yang penuh cinta meski basah oleh air mata.
"Ya," bisiknya dengan suara yang bergetar. "Ya, Arga. Aku mau. Aku mau menikah denganmu."
Dan di bawah langit malam yang penuh bintang, di rumah tua yang menjadi saksi bisu cinta tragis lima puluh tahun lalu, dua jiwa yang terluka itu berpelukan.
Berpelukan dengan air mata yang mengalir. Dengan hati yang berdebar. Dengan cinta yang terlarang tapi sangat nyata.
Tidak tahu bahwa keputusan mereka malam ini akan mengubah takdir mereka selamanya.
Tidak tahu bahwa cinta yang mereka perjuangkan ini akan membawa mereka pada ujian yang sangat berat.
Tapi di saat itu, mereka hanya peduli pada satu hal.
Mereka saling mencintai.
Dan mereka akan berjuang bersama, apapun yang terjadi.