NovelToon NovelToon
ARUNA

ARUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: bund FF

Tidak ada yang bisa memilih untuk dilahirkan dari rahim yang bagaimana.
Tugas utama seorang anak adalah berbakti pada orang tuanya.
Sekalipun orang tua itu seakan tak pernah mau menerima kita sebagai anaknya.

Dan itulah yang Aruna alami.
Karena seingatnya, ibunya tak pernah memanjakannya. Melihatnya seperti seorang musuh bahkan sejak kecil.

Hidup lelah karena selalu pindah kontrakan dan berakhir di satu keadaan yang membuatnya semakin merasa bahwa memang tak seharusnya dia dilahirkan.

Tapi semesta selalu punya cara untuk mempertemukan keluarga meski sudah lama terpisah.

Haruskah Aruna selalu mengalah dan mengorbankan perasaannya?
Atau satu kali ini saja dalam hidupnya dia akan berjuang demi rasa cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukit Bintang I

Tyo semakin dekat dengan Aruna dan Ferdi. Menurut Tyo, untuk bisa memenangkan hati Aruna itu harus bersikap baik dengan Ferdi karena dalam pikiran Aruna, Ferdi adalah satu-satunya orang yang perduli padanya

Padahal Tyo sudah melakukan apa yang dia bisa untuk menyenangkan hati Aruna.

Dan dengan kesanteran kabar tentang Tyo dan Aruna, membuat Mina semakin gencar juga untuk menghalangi Tyo bertemu dengan Aruna.

Seperti siang ini contohnya, setelah jam olahraga Mina dengan lantangnya mengolok Aruna di depan teman sekelasnya.

"Cewek Upik abu kayak gini mau saingan sama gue?" ejek Mina saat pak guru sudah pergi dari lapangan.

Aruna yang merasa dihina segera pasang badan. Tak mengapa meski sendiri, dia cukup tangguh.

"Lo ngomongin gue?" tanya Aruna.

"Bagus kalau Lo nyadar!" kata Mina di depan wajah Aruna, meski harus mendongak karena Aruna lebih tinggi tak membuat congkaknya menurun.

"Gue tegasin sama Lo ya, miskin! Lo tuh nggak ada pantas-pantasnya bersanding sama cowok sesempurna kak Tyo. Dia kaya, Lo miskin, dia ganteng, Lo jelek, dan dia itu yang pasti cuma punya gue" ancam Mina yang sudah cerewet.

Aruna hanya bergeming, diam dan berdiri untuk mendengarkan semua ocehan Mina selama itu masih belum menyentuh fisik.

"Gue tegaskan sama Lo ya, gembel! Jangan berusaha dekat sama cowok gue. Orang tuanya kak Tyo bahkan sudah setuju sama hubungan gue sama dia. Jadi, Lo jangan berusaha merusak hubungan kami" telunjuk Mina sudah menekan-nekan dada Aruna.

Dan itu sudah tidak bisa ditolerir.

"Lo pikir gue yang berusaha deketin cowok Lo? Lo pikir gue yang godain dia? Coba Lo tanya saja sama dia. Jangan pernah Lo macam-macam sama gue. Atau gue nggak segan untuk membuang sampah macam Lo ke ujung dunia" kesal Aruna sambil mendorong pundak Mina agar sedikit menyamping, lantas Aruna pergi dari lapangan.

"Huuuu" teriak teman sekelasnya.

"Nggak ada berantemnya, nggak seru" celetuk salah satu temannya lantas membubarkan diri.

"Sialan si Aruna jelek itu" kesal Mina yang tentu tak berani untuk beradu fisik.

Dan Aruna terus melangkah dengan wajah datarnya, meski dalam hati sangat bergemuruh di hina di depan banyak orang, tapi tak harus rasa itu dilukiskan di wajahnya.

Lagi-lagi, Aruna harus memutar otak untuk bisa menjauh dari Tyo. Dia hanya merasa jika Tyo sudah cukup memberi warna dalam hidupnya.

Sering mengajak ke tempat baru yang belum pernah dia datangi. Dan perlakuannya juga terlalu baik hingga Aruna tak sadar jika diapun juga menaruh hati padanya. Tentu harus segera diatasi. Aruna tak mau bermasalah dengan Mina yang cukup culas.

...****************...

"Om kenal Aruna nggak?" celetuk Tyo saat lagi-lagi keluarga Mina meminta mereka untuk makan malam bersama.

Kim sejenak nampak tegang, apa maksud Tyo?

"Kenal, kalian sering sekali membahas anak itu ya" kata Kim.

"Om dan Aruna itu punya kebiasaan yang sama saat memainkan bolpoin, iya kan Mina?" kata Tyo mencari dukungan.

"Eh, benar. Aku sampai pusing saat kalian melakukan kebiasaan itu. Bising" ujar Mina santai, tapi tentu membuat Kim panas dingin.

Tyo memperhatikan hal itu. Sangat ingin dia membongkar status Kim yang juga ayah dari Aruna, tapi sepertinya belum saatnya.

Berta menautkan alisnya, merasa aneh karena sebuah kebiasaan yang sama. Tapi belum ada dalam pikirannya untuk menuduh Kim yang tidak-tidak.

"Itu mungkin hanya sebuah kebetulan saja. Banyak sekali orang dengan kebiasaan yang sama, bahkan memiliki wajah yang sama pun ada" kata Kim membela diri.

"Bahkan Mina sempat melihat orang yang memiliki wajah yang sama dengan papa kan kapan hari itu, iya kan Mina?" tanya Kim.

"Iya. Benar-benar mirip dengan papa loh ma. Tapi sama wanita lain. Dan mereka sangat romantis. Mina hampir saja memarahi papa, padahal papa sedang sibuk bekerja malah aku tuduh yang bukan-bukan gara-gara wajah yang mirip" kata Mina yang terlalu naif.

Kim sedikit lega. Belum saatnya dia mengumumkan jika Aruna juga darah dagingnya. Dia harus bisa menguasai keadaan terlebih dahulu sebelum bertindak.

...****************...

Hingga waktu terus bergulir tanpa izin. Istirahat pun tak boleh meski raga terlalu lelah.

Seminggu lagi Aruna akan berulang tahun, waktu yang sangat Kim tunggu untuk bisa memberitahu Aruna mengenai statusnya.

"Aku akan membelikannya banyak hadiah, sayang" ujar Kim sembari menciumi pucuk rambut Selly yang wangi.

Mereka sedang memilih banyak barang di toko online. Belum saatnya Kim mengajak Selly keluar kandang, karena berbahaya.

Baru sekali saja dia mengajak Selly jalan-jalan, malah bertemu dengan Mina yang untung saja bisa dibodohi dengan mudah.

Sementara hari ini adalah malam Minggu, Tyo sudah menunggu Aruna di depan toko Acing karena keduanya sudah berencana untuk jalan-jalan.

Mereka sudah sering jalan bersama, bahkan Tyo sedikit banyak sudah mengenal teman kerja Aruna yang hanya empat orang itu.

"Hati-hati Run. Ingat buat jaga diri" ucap Rizal yang perhatian meski sering mengejek.

"Ingat Run, kalau jalan berdua itu ketiganya setan" kata Wanto.

Sejauh ini Tyo masih sabar. Anggap saja semua itu sebuah bentuk perhatian dari orang tersayang.

"Kalau ada apa-apa, hubungi kita" Rini tak mau kalah suara.

"Santai saja, gue cuma mau ngajak Aruna jalan, bukannya perang" ujar Tyo membuat lainnya terkekeh.

"Hati-hati ya kalian" kata mereka akhirnya melepaskan Aruna dalam penjagaan Tyo.

"Kita duluan ya bang, kak Rini" pamit Aruna.

Semua sudah siap pulang dengan tujuan masing-masing.

"Mau kemana kak?" tanya Aruna yang sudah duduk di kursi penumpang.

"Kita pikir sambil jalan ya" sebenarnya Tyo ingin mengajak Aruna ke suatu bukit tak jauh dari kotanya.

Tyo tak sabar ingin mengutarakan perasaannya. Dia yakin jika Aruna pun punya hati yang sama dengannya.

Tak perduli lagi dengan rengekan Mina yang akan selalu mengganggu jika status mereka belum di sah kan.

Lelah adalah sahabat sejati Aruna, jadi dalam keadaan nyaman seperti ini seolah sebuah signal mengantuk selalu menghampiri.

Kini gadis itu malah terbuai dalam balutan mimpi.

Tyo yang tahu rasa lelah itu telah membuat Aruna, semakin merasa jika kehadirannya adalah salah satu bentuk kasih sayang Tuhan untuk menjaga Aruna.

Dan cukup lama berkendara, Tyo kembali harus menepuk pelan pipi Aruna agar terbangun.

"Bagun, Run. Kita sudah sampai" ujar Tyo tersenyum, bagaimanapun kondisi Aruna tetap cantik di matanya.

"Oh, iya. Maaf gue ketiduran kak" kata Aruna tak enak hati.

"Turun yuk" ajak Tyo.

Aruna mengangguk, lantas keluar dan hawa dingin malah menghantamnya yang sedang tak memakai jaket.

Tyo yang sadar, ingat jika ada jaket yang selalu dia siapkan di jok belakang. Lantas mengambilnya untuk dipakai Aruna.

"Dimana nih?" tanya Aruna setelah mengenakan jaket dengan baik.

"Bukit Bintang" jawab Tyo sambil menuntun langkah Aruna semakin masuk ke dalam kawasan wisata malam yang sudah dipesannya sejak tadi sore.

Mata Aruna membulat saat melihat jejeran lilin tersusun rapi sepanjang jalan menuju salah satu meja yang sedang ditujunya.

"Maksudnya apa semua ini, kak?" tanya Aruna deg-degan parah.

"Ini semua sengaja gue siapin buat Lo" jawab Tyo.

Sengaja Tyo segera mengutarakan perasaannya sebelum hari ulang tahun Aruna karena dia yakin jika di saat ulang tahunnya nanti, Aruna pasti butuh tempat untuk bersandar.

Tyo hanya tak rela jika lagi-lagi Ferdi akan menjadi tempat Aruna untuk mengadu. Bisa-bisa perasaan mereka berdua akan lebih dari sekedar teman. Memikirkan itu semakin membuat Tyo harus segera bertindak.

Mata Aruna tentu sudah berkaca-kaca, belum pernah selama hidupnya merasa di spesialkan oleh seseorang sedalam ini.

Entah harus senang atau sedih, nyatanya Aruna tetap merasa jika tak pantas untuk bersanding dengan seorang Prasetyo Nugroho yang merupakan anak dari orang yang terpandang.

"Lo terlalu berlebihan, kak" ujar Aruna tak nyaman.

"Lo diam dulu ya, please" ujar Tyo tetap menggenggam tangan Aruna agar trus melangkah.

Jejeran lilin itu membentuk lambang hati mengelilingi meja yang sudah disiapkan oleh pihak cafe.

Beralaskan tanah dengan rumput hijau, dengan langit penuh taburan bintang. Di sebuah bukit yang indah saat malam hari menjelang.

Aruna sudah duduk di kursinya, lantas Tyo memanggil waiters untuk menyiapkan makanan yang juga sudah dia pesan.

"Rasanya nggak pantas kalau Lo perlakukan gue seperti ini, kak" kata Aruna.

"Mari ikut saya, kak" ajak salah satu waiters mengulurkan tangan untuk mengajak Aruna.

Gadis itu bertanya kepada Tyo lewat isyarat, dan Tyo hanya mengangguk karena itu salah satu bagian dari usahanya.

"Mau kemana kak?" tanya Aruna bingung.

"Kita akan siap-siap" jawab wanita yang sedang menuntun Aruna ke suatu tempat.

Kemana kiranya Aruna akan pergi?

Apa yang sedang Tyo persiapkan?

1
Azizah Hazli
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!