Sekuel off 'Pesona Mama Mertua Muda'
Wajib baca season satu duluan ya ≧∇
"Duniaku ikut mati tanpamu."
Kehidupan Javas hancur saat wanita yang paling dicintainya meninggal. Ia mencoba melarikan diri, menyingkir dari tempat yang menenggelamkan banyak jejak kenangan tentang wanita itu.
Namun, ia tak bertahan lama, Isvara selalu tinggal di kepalanya, sehingga pria itu memutuskan kembali.
Hanya saja, apa jadinya jika Isvara yang mereka pikir telah meninggal—justru masih hidup? Bisakah Javas menggapai dan melanjutkan hidupnya bersama wanita itu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donacute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 | Bicara Dengan Javas
Suara ketukan terdengar, Isvara langsung bangkit untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Javas dan Sheva memilih untuk mengikuti Isvara dari belakang.
"Mbak Leni, Mas Indra, Nita. Yaampun ternyata kalian yang datang, aku kira siapa tadi yang bertamu," ujar Isvara dengan ramah.
"Iya, Mbak maaf kami baru datang. Kami udah dengar soal Sheva yang masuk rumah sakit, kami minta maaf karena mobilnya kami pinjam. Mbak jadi susah saat ingin pergi ke rumah sakitnya," ujar Leni merasa tidak enak, ia terlalu senang bisa pulang ke tempat asalnya sampai lupa waktu. Tanpa sadar kendaraan yang digunakan oleh keluarganya untuk pulang kampung bukanlah milik sendiri, hingga ia mendengar kabar dari Dion bahwa Sheva hampir terlambat di bawa ke rumah sakit karena tidak ada mobilnya.
Dion memang mengabari sekaligus marah-marah pada pasangan suami istri yang ia tugasnya menemani Isvara di desa, tetapi mereka malah pulang ke tempat asalnya dengan waktu yang lama. Padahal Indra janji mereka hanya akan pergi beberapa hari saja, tetapi jadinya malah berminggu-minggu.
"Bukan salah kalian kok, lagi pula sekarang Sheva udah baik-baik saja. Kami kemarin akhirnya naik mobil Papanya Sheva, jadi nggak usah ngerasa nggak enak. Wajar kalian jarang pulang ke tempat asal kalian, pasti ingin berlama-lama di sana. Saya sama sekali tidak masalah kok," jawab Isvara dengan lembut.
"Oh iya, Mbak. Ini saya bawakan oleh-oleh khas dari tempat kelahiran suami saya," ujar Leni sambil memberikan beberapa plastik yang berisi oleh-oleh.
"Terima kasih loh, Mbak Leni atas oleh-olehnya."
"Sama-sama, Mbak Kinan. Saya besok bisa langsung kerja 'kan, Mbak?"
"Bisa, Mbak. Seperti biasa aja." Saat Leni dan keluarga kecilnya hendak pulang ke rumahnya, ternyata Sheva ingin ikut. Gadis kecil itu ingin bermain dengan Nita — anak Leni dan Indra yang usianya tidak jauh dari Sheva.
Awalnya Isvara tidak memperbolehkannya, karena tahu bahwa pekerja sekaligus tetangganya itu baru saja sampai rumah. Pasti lelah dan butuh istirahat, tetapi Leni dan Indra malah tidak mempermasalahkannya.
Kini tinggalan Isvara dan Javas berdua di rumah, mumpung sedang berduaan. Isvara tiba-tiba mempunyai ide untuk berbicara pada Javas, bukan tentang dirinya tetapi mengenai Chilla dan Kalila. Walaupun sebenarnya Isvara tidak berhak ikut campur, tetapi ia merasa harus membicarakannya.
"Om aku mau bicara berdua sama Om penting, apa Om ada waktu?" tanyanya dengan sedikit ragu-ragu.
"Untukmu saya akan selalu ada waktu, Isvara," jawabnya dengan tersenyum. "Kalau kamu mau bicara ya bicara saja, saya nggak akan melarang," tambahnya.
"Kita bicaranya sambil duduk aja biar enak, Om." Javas menurut, mereka berdua langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah Isvara.
"Kamu mau bicara tentang hubungan kita? Kamu mau terima cinta saya, Isvara?" Isvara memicingkan matanya, ia tidak pernah tahu bahwa Javas ternyata sePD itu.
"Dih, siapa juga yang mau bahas soal hubungan kita. Kita aja nggak punya hubungan apa-apa kok. Aku ini mau bahas hubungan kamu, Chilla sama Mbak Kalila. Maaf, kalau aku terkesan ikut campur tapi sepertinya aku harus ngomong ini soalnya penting."
"Silakan, kamu bisa bicara apapun ke saya. Saya nggak akan masalah," balasnya dengan santai, beda saat dulu pria itu pasti langsung marah ketika Isvara ingin membahas hubungannya dengan Kalila.
"Om sadar nggak kemarin Chilla sedikit menyendiri? Enggak gabung sama yang lain?" Javas langsung menjawabnya dengan gelengan, karena kenyatannya pria itu tidak memperhatikan putrinya sama sekali.
"Mungkin ini pandangan aku sebagai orang luar yang belum pernah juga berada di hubungan pernikahan, tetapi aku tetap ingin menyampaikannya, Om. Setelah Om dengerin apa yang aku bicarakan, terserah Om akan bersikap seperti apa."
"Iya, saya akan mendengarkan kamu. Bicaralah, nggak usah berbelit- belit."
"Alasan Chilla kemarin menyendiri itu karena Chilla cemburu, dia cemburu liat Papanya kasih perhatian ke anak perempuan lain. Padahal saat kecil Chilla tidak mendapatkannya dari Om, itu berdasarkan cerita Chilla. Aku sendiri nggak tau yang sebenarnya gimana, tetapi aku percaya sama cerita Chilla. Tau nggak, Om, jadi Chilla itu nggak enak loh. Punya Papa tapi nggak bisa merasakan sosoknya. Aku juga merasakannya, karena kedua orang tuaku lebih memberikan perhatiannya kepada Ineisha dibandingkan aku, padahal kita hanya beda satu tahun. Rasanya nggak enak banget, mumpung sekarang belum terlambat."
Isvara menghela napas sebelum akhirnya meneruskan ucapannya yang memang belum selesai. "Om masih ada waktu sebelum Chilla menikah, lebih baik Om coba perbaiki hubungan Om dengan Chilla, Chio dan Mbak Kalila. Dibandingkan Om sibuk ngejar aku dan kasih perhatian serta kasih sayang ke Sheva yang bukan anak kandung, Om. Mending Om fokus ke keluarga Om, nggak ada kata nggak bisa diperbaiki kalau belum di coba. Tolong berhenti ada di sekitarku, aku tetap pada keputusanku nggak mau jadi istri kedua siapapun termasuk Om."
Javas mendengarkan semua perkataan Isvara, ia sama sekali tidak menyelanya.
"Kamu mau dengar cerita saya?" tanya Javas. Isvara mengangguk, tidak ada salahnya bukan ia mendengarkan cerita dari sudut pandang Javas. Javas menghela napas panjang, ia memutuskan untuk menceritakan semua tentangnya pada Isvara. Entah ia berjodoh atau tidak akhirnya, tetapi pria itu merasa Isvara perlu mengetahui semua tentangnya tanpa terkecuali.
Rahasia yang selama ini ia simpan sendiri, hanya Mamanya dan Kalila saja yang tahu. Sekarang Isvara akan mengetahuinya, Javas sudah sangat yakin untuk memberitahu Isvara.
"Om kalau belum sanggup cerita nggak usah dipaksa, aku bisa ngerti kok," kata Isvara karena bukannya Javas bercerita, pria itu malah diam saja. Jelas Isvara bingung dibuatnya.
"Saya percaya sama kamu, Isvara. Makanya saya mau ceritakan semua ini sama kamu, walaupun ini sangat berat untuk saya. Hanya beberapa orang saja yang tahu soal ini," kata Javas. Isvara sedikit tersanjung karena tahu ia termasuk orang yang penting di mata Javas, sehingga tahu rahasia yang disimpan oleh pria itu.
"Dari awal saya dan Kalila tidak pernah saling mencintai Isvara, saya bahkan sangat membenci wanita itu karena saya merasa dia telah merenggut masa depan saya. Saya nggak pernah berniat untuk menikah muda apalagi dengannya, kebencian saya terlalu dalam untuknya hingga tidak bisa berubah menjadi cinta. Saya sendiri juga tidak berniat untuk mencintainya, hati saya sudah tertutup untuknya," ceritanya.
Isvara baru tahu, jika Javas dan Kalila ternyata menikah tanpa cinta. Namun, sekarang Isvara jadi bertanya-tanya jika mereka menikah tanpa cinta. Apakah mereka menikah karena dipaksa? Karena korban perjodohan kah? Atau bagaimana? Lalu tujuan mereka menikah apa, jika akhirnya mereka berdua malah saling menyakiti.
Gadis cantik itu hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, ia tidak berani bertanya langsung pada Javas.