NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Dia

Aku, Kamu Dan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Kehidupan di Kantor / Janda / Anak Kembar
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Munaa

Perjodohan yang sudah dilakukan orangtuanya sejak kecil.

Akan tetapi saat ini pengantin pria sudah memiliki kekasih pilihannya sendiri. Dan mereka mau tidak mau menerima perjodohan dari kedua orangtuanya. Mereka menikah kemudian berniat akan bercerai.

Bagaimana kelanjutannya.

Ikuti terus ceritanya dalam novel ini , jangan lupa untuk like komennya kakak🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Munaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

"Cepat kalian hubungi suami saya". Teriak Rani sambil mengarahkan pistol ke pegawai David.

"Hei, kamu jangan mendekat". Teriak Rani saat mengetahui asisten David mencoba berjalan kearahnya.

"Rani!!". Suara berat David yang menggelegar di lantai bawah.

"Akhirnya kamu datang juga pa. Maksud kamu apa pa ngirim berkas berkas penceraian ini?". Tanya Rani melempar kertas ke muka David.

"Jangan berpura pura bodoh. Sudah tau itu ada bacaannya". Suara dingin David sambil menatap tajam Rani.

"Enggak, pokoknya saya ga mau bercerai dengan kamu pa". Ucap Rani.

"Kalau kamu ingin bercerai, maka saya akan menembak kepala saya David". Ancam Rani.

"Silahkan. Saya ga peduli itu Rani. Kalau kamu mau mati silahkan". Sahut David.

"Aghrrrr". Teriak Rani merasa kesal karena tidak berhasil mengancam David.

"Baiklah kalau tadi ga mempan sama kamu. Mungkin cara ini akan mempan terhadapmu David. Kamu pasti akan memikirkannya dua kali". Ucap Rani mengarahkan pistolnya ke Shania.

"Kamu gila ya". Bentak David.

"Terserah, saya akan menekan pelatuknya jika kamu masih kekeh untuk menceraikan saya". Ancam Rani.

"Tidak akan pernah Rani". Tegas David.

"Baiklah, jangan menyesal ya". Ucap Rani kemudian menarik pelatuknya.

DOR!!!!

Suara tembakan menggema di ruangan itu. Beberapa dari mereka berteriak ketakutan. Dan ada yang lari menjauhi kejadian.

Peluru mengenai punggung David yang sedang memeluk Shania. Sepersekian detik Shania terdiam dan matanya tiba tiba mengeluarkan air mata. Darah David mulai menetes di lantai.

Tes..

Tes..

Tes..

Tubuh David yang melindungi Shania itu perlahan jatuh kelantai. Shania terlalu panik saat melihat darah di baju David. Hingga dia tak menghiraukan Rani yang ingin menembaknya.

"Pa, jangan tinggalin Shania. Shania belum mengingat apapun saat ini pa. Shania ga punya siapapun selain papa. Papa jangan pergi ya". Gumam Shania terus mengeluarkan air mata melihat darah di baju David.

DOR!!!

Dengan cepat Sean menarik tangan Shania. Hingga tembakan itu gagal mengenainya.

"Cepat tangkap wanita pembunuh itu, dia telah melakukan pembunuhan!!!". Perintah Sean.

"Ayo kita bawa papa mu Shania". Ucap Sean membalut bekas peluru dengan dasinya agar tidak pendarahan terus menerus.

"Apa yang terjadi? Kenapa om David seperti ini". Tanya Raihan yang melihat Sean sedang membalut tubuh David.

"Raihan, Bantu saya bawa om David ke mobil". Ucap Sean.

☘️☘️☘️

Shania terduduk menghawatirkan keadaan papanya. Saat ini perasannya begitu berkecamuk memikirkan bagaimana papanya yang berbaring di ruang IGD itu. Mungkinkah ia akan selamat ataukah ia akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.

"Apa ada yang bernama Shania". Tanya seorang dokter menghampiri.

"Saya bernama Shania". Sahut Shania.

"Kamu bisa masuk kedalam. Papa kamu terus memanggil namamu". Ucap dokter menyuruh Shania masuk.

"Baik dok". Sahut Shania melangkahkan kaki masuk kedalam.

Diruangan itu, Shania mencoba menggenggam tangan David.

"Pa, Shania disini". Gumam Shania memegang tangan David.

"Papa jangan pergi. Walaupun ingatan Shania belum balik, Shania yakin banget kalau papa itu ayah kandung Shania". Gumam Shania.

"Shania". Gumam David. Perlahan ia membuka matanya.

"Iya pa, Shania ada disini". Sahut Shania.

"Maafin papa ya". Gumam David.

"Kenapa minta maaf pa? Papa ga ada salah apapun kok ke Shania". Sahut Shania mulai meneteskan butiran butiran air mata.

"Maafkan papa, kalau membuatmu menderita selama ini". Ucap David lagi.

"Shania, bisakah papa membuat satu permintaan sebelum papa pergi". Ucap David sambil memejamkan matanya.

"Ga pa, papa ga boleh bilang seerti itu. Papa pasti baik baik aja. Papa pasti bisa sembuh. Ini hanya luka tembakan saja pa. Papa ga boleh pergi". Sahut Shania menggelengkan kepalanya sambil menangis.

"Shania, papa merasa umur papa tidak akan lama. Bisakah papa membuat satu permintaan untukmu?". Ucap David.

"Memangnya permintaan apa pa, jika mudah akan Shania usahakan sesuai kemampuan Shania. Tapi jika berat sepertinya Shania ga akan sanggup pa". Sahut Shania sambil menangis.

"Papa ingin sekali melihat kamu menikah, agar ada yang menjaga dan menyayangimu setelah papa pergi nanti. Papa merasa umur papa tidak akan lama lagi Shania. Papa ingin kamu mau menerima permintaan papa untuk terakhir kalinya agar saat papa pergi, papa bisa tenang meninggalkanmu". Ucap David sambil mengelus kepala yang dibalut jilbab itu.

"Menikah?". Gumam Shania.

"Iya anakku. Menikahlah, agar papa tenang saat pergi nanti". Ucap David.

"Tapi Shania belum siap dan juga Shania ga ada calonnya pa". Sahut Shania mengusap air matanya.

"Papa sudah ada calon untuk kamu". Sahut David.

"Siapa pa?". Tanya Shania.

"Teman papa sedang mencari mantu. Dia sedang mencarikan jodoh untuk anak laki lakinya. Papa ingin kamu menjadi mantunya. Papa yakin keluarganya sangat baik dan bisa menjagamu Shania". Ucap David.

"Perjodohan lagi". Gumam Shania sambil menundukkan kepalanya.

"Pernikahan yang kemarin aja hanya bertahan sebulan aja pa. Shania ga mau melakukan perjodohan ini lagi. Titik!!". Ucap Shania tanpa sadar meninggikan suaranya sambil menatap David.

"Papa mohon sama kamu Shania, ini terakhir kalinya permintaan papa". Gumam David kemudian tidak tersadar kembali begitu aja.

"Pa?". Shania panik.

"Papa". Gumam Shania mengguncang pelan tangan David sambil menangis kencang..

"Dokter tolong". Teriak Shania memanggil manggil dokter. Dokter pun segera memasuki ruangan.

"Maaf anda harus keluar". Ucap suster mengusir Shania. Hingga Shania mau tak mau keluar ruangan.

"Baiklah, akan Shania laksanakan permintaan papa. Jika ini bisa membuat papa bahagia". Batin Shania yang sekarang berdiri dibalik jendela melihat dokter memeriksa.

Tanpa sadar Shania menyetujui permintaan papanya dan mau tidak mau dia harus menepati ucapannya.

"Apakah terjadi sesuatu Shania?". Tanya Sean menghampiri. Shania tak menjawab pertanyaan Sean dan ia masih menangis melihat papanya dibalik jendela.

"Semoga papamu baik baik saja Shania. Saya dan Raihan akan pulang dulu. Nanti saya akan kemri lagi". Ucap Sean kemudian melangkah pergi.

"Pergilah". Sahut Shania sambil menyeka air matanya yang keluar terus menerus.

"Nomor hp saya masih kamu save kan Shania?". Tanya Sean namun Shania hanya diam tak menjawabnya.

"Kalau ada apa apa, kamu hubungi saya ya. Nomor saya akan selalu aktif". Ucap Sean kemudian pergi.

"Shania, yang kuat ya. Saya yakin papa kamu akan sembuh". Ucap Raihan sambil melihat air mata yang berjatuhan di pipi putih Shania.

"Jangan lupa makan ya, nanti kamu sakit loh". Ucap Raihan kemudian pergi

"Mata saya berat sekali. Saya harus ke toilet dan mencari udara sebentar agar bisa menenangkan pikiran ini". Gumam Shania kemudian pergi menuju toilet.

Saat Sean dan Raihan hendak balik, mereka berpapasan dengan Roland yang berjalan dengan langkah lebar.

"Sean, bukannya itu papa kamu ya?". Tanya Raihan.

"Iya kamu benar. Kamu tunggu disini, akan saya samperin papa saya dulu". Sahut Sean.

"Pa,. Kenapa papa ada disini. Apa mama sakit dan dirawat disini?". Gumam Sean melihat papanya yang berjalan ke arahnya.

"Mulut mu ini Sean". Suara berat Roland.

"Jadi mama ga sakit. Lalu papa jenguk siapa?". Tanya Sean.

"Kawan lama papa saat sekolah". Sahut Roland.

"Sean, ayo. Kita nanti terlambat nih". Ucap Raihan menghampiri.

"Kalian mau pergi, kemana?". Tanya Roland.

"Acaranya dia pa, mau ada acara pertemuan bersama fansnya di Mall". Sahut Sean sambil menunjuk Raihan.

"Oh ya sudah, kalian pergilah. Kalau ga segera pergi nanti terlambat". Ucap Roland.

"Baik pa". Sahut Sean kemudian melangkah pergi.

☘️☘️☘️

1
Lilis Ilham
bahagiakan Thor
girlsss
udah sampe sini aja?
myoungsoo: Maaf karena pas sebelumnya ga ke save pas nulis jadi mengharuskan update segitu aja. Tapi sekarang sudah saya tambahkan kak🙏🤗
total 1 replies
Gamar Abdul Aziz
pke hijab masak keliatan kalungnya ..wedeh
myoungsoo: Karena saya buat ceritanya dia memakai jilbab yang di cekek lilit kebelakang seperti trend jilbab sekarang, bukan yg syar'i🤗🙏
total 1 replies
creamylatte
semangattt🥰
myoungsoo: Terima kasih kak😍🙏. Baca karyaku yang lainnya berjudul my lovely kak.
total 1 replies
myoungsoo
Jika suka, Jangan lupa untuk kasih bintangnya ya teman teman🤗🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!