NovelToon NovelToon
Pengantin Paksa Sang Bratva

Pengantin Paksa Sang Bratva

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Mafia / Penikahan Kontrak / Nikah Kontrak / Obsesi / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:113
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."

Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.

Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.

Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.

Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.

Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.

Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Pusaran Perasaan

Helena

Begitu mobil ayahku berhenti di depan ruang pesta, ia menoleh ke arahku, serius, dan berkata,

"Helena… Nikolai ada di pesta itu."

Sesaat, aku tak bisa mempercayainya. Sebuah pusaran menyerbu pikiranku. Di satu sisi, aku ingin melihatnya, ingin ia muncul, ingin kembali merasakan kehadiran yang selalu menggoyahkanku itu. Tapi sekarang… mengetahui ia ada di sini, begitu dekat, terasa menyakitkan. Mencengkeram dadaku dengan cara yang menyesakkan.

Aku hanya mengangguk, tak sanggup berkata-kata.

Mama menilaiku dengan hati-hati, menyadari pergolakanku, dan berkata, tenang,

"Kalau kau mau, kita bisa pulang."

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menata kembali napas dan sikapku, lalu berkata,

"Tidak."

Kami keluar dari mobil. Setiap langkah menuju pintu masuk ruang pesta terasa terseret dan berat, seolah tubuhku tak mau menerima apa yang sudah dilihat mataku.

Begitu aku melintasi pintu, mataku bertemu dengan matanya. Nikolai. Ia melangkah ke arahku, tegap, terkendali, tapi ada sesuatu di setiap geraknya yang membuatku terguncang.

"Helena… aku harus bicara denganmu," ucapnya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang hanya bisa kudengar.

Jantungku berdebar kencang, seketika mengenali kehadirannya, aromanya, intensitasnya. Bayiku bergerak gelisah di dalam diriku, seakan ia juga merasakan energi yang terpancar dari Nikolai.

Dan untuk sesaat, semua di sekitarku lenyap. Hanya ada kami berdua. Yang kurasakan hanya takut, rindu, dan ketegangan yang menahanku, menakutiku… dan pada saat yang sama, menarikku.

Aku berjalan tergesa, mencoba menahan pusaran pikiran yang melahapku. Setiap langkah seakan bergema keras di ruangan, dan jantungku berdebar seolah akan melompat keluar dari dada.

Aku sampai di meja tempat Dmitry duduk. Ia menyapaku dengan anggukan cepat, nyaris tersamar, menyadari ketegangan yang menyelimutiku. Aku hanya tersenyum tipis, terlalu larut untuk basa-basi kosong.

Lalu kurasakan kehadirannya di belakangku. Nikolai. Setiap sentimeter ia mendekat, tekanan di dadaku semakin bertambah, dan aku menarik napas dalam, berusaha tetap tenang.

Sebelum aku sempat bereaksi, ia duduk di meja itu, berhadapan denganku. Tatapannya intens, berat, mengenali setiap nuansa dari apa yang terjadi di antara kami, setiap keheningan, setiap luka.

Nikolai menatapku, serius, dan bertanya, dengan suara pelan,

"Kau baik-baik saja?"

Aku menarik napas dan menjawab ketus, mencoba mempertahankan sikapku,

"Ya."

Ia mendesak, dan kali ini nadanya lebih hati-hati, hampir memohon,

"Dan bayinya?"

Secara naluriah, aku memegang perutku erat-erat, seolah bisa melindunginya hanya dengan tangan, lalu berkata tegas,

"Bayiku baik-baik saja."

Kemudian aku menemukan matanya dan melanjutkan, suaraku gemetar hanya di dalam,

"Aku tidak tahu apa yang kau inginkan, Nikolai… tapi aku dan anakku tidak membutuhkanmu lagi."

Kurasakan beban setiap kata keluar dari mulutku, dan jantungku berdebar kencang. Ini bukan hanya amarah, ini ketakutan, ini luka… ini segala yang membuatku ingin menjauh.

Aku bangkit dari kursi, mencari ruang di antara kami. Aku perlu bernapas, perlu menjauh, perlu melindungi diri — aku dan bayiku.

Tatapannya mengikutiku, intens, tapi untuk sekarang, tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah keputusan yang telah diambil tubuhku: aku butuh jarak.

Kurasakan matanya menatapku sepanjang waktu, membebani seperti kehadiran yang tak bisa kuabaikan, bahkan ketika aku mencoba memusatkan perhatian pada hal lain.

Aku kembali duduk, mencoba menata kembali sikapku. Natalia menyadari kegelisahanku dan duduk di sisiku, lembut, tapi tegas.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya, khawatir.

Aku menarik napas dan berbohong, dengan senyum lemah,

"Ya… aku baik-baik saja."

Bayiku, sebaliknya, sepertinya tak setuju. Kurasakan gerakan-gerakan cepat di dalam perut, bergejolak, dan kuletakkan tangan di perut. Natalia melakukan hal yang sama, dengan hati-hati, jari-jarinya ringan di atas perutku.

Ia menatapku, matanya menyelidik dan serius, lalu berkata pelan,

"Helena… kau berbohong."

Dan saat itulah Tobias tiba. Ia menyeberangi ruangan dengan langkah mantap, seolah merasakan sesuatu di udara. Ia mendekat dengan cepat dan, tanpa ragu, menyentuh perutku, dengan hati-hati dan penuh hormat.

Sentuhan itu mengejutkanku sekaligus menenangkanku. Kurasakan si bayi bergerak sekali lagi, dan hawa dingin menjalari tulang punggungku.

Tapi sebelum aku sempat mencerna apa yang baru saja terjadi, kurasakan sebuah kehadiran yang tak asing memaksakan dirinya. Nikolai berdiri di hadapanku, begitu dekat sampai aku nyaris bisa merasakan kehangatannya. Matanya terpaku pada mataku, intens, penuh dengan segala yang tertinggal tak terucap.

Natalia langsung menyadari ketegangan itu. Ia berdiri, tegas, dan menarik lengan Nikolai, mencoba menciptakan penghalang, mencoba melindungiku dari sesuatu yang bahkan ia sendiri tampak tak mampu kendalikan.

Kurasakan jantungku berdebar kencang. Setiap detik di sana sarat dengan bahaya, hasrat, takut, dan rindu. Dan aku hanya bisa berpikir: bagaimana mungkin, setelah segalanya, ia masih menguasai setiap bagian dari diriku?

Aku bersandar sedikit di kursi, mencoba mengatur napas. Kulihat Natalia dan Nikolai berdebat beberapa langkah di depan, terpisah dariku, tapi aku bisa merasakan ketegangan yang bergetar di antara mereka.

Aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi setiap gerak, setiap gerakan tangan, setiap ekspresi di wajah Nikolai memancarkan campuran frustrasi, amarah, dan hasrat yang tertahan. Natalia tampak tegas, tak tergoyahkan, menahannya seolah mencoba mencegahnya melewati suatu batas.

Hatiku mencelos. Aku ingin berlari menengahi, menenangkan semuanya, tapi aku juga tahu langkah apa pun dariku bisa memperburuk keadaan.

Aku duduk, kedua tangan bertumpu di perut, mengamati adegan itu. Bayiku bergerak lagi, mungkin turut merasakan ketegangan di udara.

Tobias masih berbicara, tapi aku tak bisa menangkap satu kata pun. Suara ucapannya berbaur dengan pusaran di dalam kepalaku, dan yang bisa kucerna hanyalah kehadirannya di sisiku, begitu dekat dan begitu aman.

Tiba-tiba, kurasakan sebuah kekosongan. Nikolai melewatiku, tegap, tanpa menoleh ke belakang. Setiap langkahnya bergema seolah membelah udara, seolah membawa pergi sesuatu yang bahkan tak kutahu masih ada dalam diriku.

Aku tetap di sana, terpaku, sendirian, merasakan beban ketiadaannya bahkan sebelum ia menjauh terlalu jauh. Keheningan menyebar ke seluruh ruangan bagai bayangan, dan yang tersisa hanya campuran rindu, amarah, dan rasa tak berdaya.

Bayiku bergerak lagi, gelisah, mungkin turut menyadari kekosongan yang tertinggal. Dan aku mengembuskan napas, perlahan, mencoba menyatukan kembali kepingan-kepingan yang masih tersisa dari diriku, sembari kupandangi tempat ia tadi berdiri, mencoba memahami bagaimana ia bisa meninggalkanku seperti ini, dengan hati yang mencelos dan tubuh yang tegang, hanya dengan melewatiku tanpa menoleh ke belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!