NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINTU YANG MEMAKSA PILIHAN

Tangga menuju puncak Menara Langit tidak berakhir di awan. Ia berakhir di ruangan yang tidak memiliki dinding, tidak memiliki lantai, dan tidak memiliki langit. Hanya kehampaan yang berdenyut pelan, di tengahnya berdiri sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari cahaya yang perlahan memudar. Di depan gerbang itu ada dua kursi batu satu sudah diduduki Tian Jue. Satu lagi kosong, menunggu.

Dan di antara kedua kursi itu, di udara kosong, terlihat bayangan ribuan wajah yang perlahan memudar jiwa-jiwa yang dikorbankan selama ribuan tahun. Mereka tidak berteriak. Mereka tidak marah. Mereka hanya menatap, kosong, seakan bertanya: apakah kami cukup?

Tian Jue menoleh perlahan. Matanya lelah lelah seperti seseorang yang sudah memikul beban yang tidak layak dipikul satu orang pun.

Duduklah, Liu Xuanyuan. Rasakan. Jangan bertanya dulu. Rasakan dulu.

Xuanyuan melangkah maju. Kakinya tidak menginjak apa pun, namun ia berdiri tegak. Ia tidak duduk di kursi kosong itu. Ia berdiri di depannya.

"Aku tidak akan duduk. Karena duduk berarti menerima bebanmu. Dan aku tidak menerima caramu."

Tian Jue menghela napas panjang, dan di helaan napas itu terdengar beratnya ribuan tahun.

Lihat ke luar gerbang itu. Lihat Kekosongan. Itu bukan musuh yang bisa kau tebas. Itu bukan raja jahat yang bisa kau kalahkan. Itu adalah ketiadaan murni. Ia menelan bintang, menelan waktu, menelan makna. Dan ia semakin dekat. Setiap seribu tahun, ia menuntut bayaran. Jika tidak ada yang diberikan... ia menelan dunia ini sepenuhnya.

Ia menunjuk ke bayangan wajah-wajah yang melayang di udara.

Mereka yang korbankan ini... nyawa mereka adalah paku yang menahan pintu ini tertutup. Tanpa mereka... kau, aku, Lian Yue, Jian Qing, semua yang pernah kau kenal... tidak akan pernah ada. Jadi katakan padaku, Liu Xuanyuan jika kau di posisiku... apa yang akan kau lakukan? Membiarkan semua binasa? Atau membunuh sebagian agar yang lain tetap hidup?

Xuanyuan menatap gerbang itu. Di baliknya, ia bisa merasakannya dingin yang tidak bisa dihangatkan, keheningan yang tidak bisa dipecahkan, ketiadaan yang tidak bisa diisi. Dan di sampingnya, Cermin Jiwa Terbelah di dadanya bergetar pelan, memancarkan cahaya lembut.

Ibunya berbicara. Bukan dengan suara. Dengan perasaan.

"Anakku, pintu itu tidak menutup karena darah. Pintu itu menutup karena keyakinan. Tian Jue salah bukan karena dia berkorban. Dia salah karena dia percaya bahwa pengorbanan adalah satu-satunya cara."

Xuanyuan melangkah satu langkah lebih dekat ke gerbang. Pupil Gandanya di balik kain hitam berdenyut pelan. Ia melepas ikat kepalanya. Kain mantra hitam itu jatuh perlahan ke kehampaan.

Untuk pertama kalinya, di hadapan musuh terkuat di dunia, Pupil Ganda terbuka sepenuhnya. Dua lingkaran hitam berlapis, berputar berlawanan arah, memancarkan cahaya yang bukan cahaya kedalaman yang menembus segala ilusi.

"Kau bilang pintu ini hanya menutup dengan darah," katanya, suaranya tenang namun bergema di seluruh kehampaan. "Tapi ibuku meninggalkan pesan. Dia berkata kekosongan itu bukan musuh yang harus ditahan. Ia adalah luka yang harus disembuhkan."

Ia mengangkat tangan kirinya. Di telapak tangannya, empat relik yang dikumpulkan dari seluruh dunia mulai bersinar bersamaan Cermin Jiwa, Pedang Jiwa Terakhir, Benang Ruang Purba, dan Gulungan Kas Darah. Cahaya mereka tidak saling bertentangan. Mereka menyatu.

"Darah hanya memberi makan pada kekosongan. Karena darah adalah kehilangan. Dan kekosongan tumbuh dari kehilangan. Tapi ada sesuatu yang kekosongan tidak bisa telan."

Xuanyuan menatap lurus ke mata Tian Jue.

"Harapan."

Tian Jue terdiam. Kata itu menggantung di udara, ringan namun berat, seakan satu kata itu saja mampu menantang ribuan tahun keyakinannya.

Harapan? — Tian Jue tertawa pelan, sedih dan pahit. Kau pikir kekosongan peduli pada harapan? Kau pikir bintang-bintang yang padam peduli pada apa yang kita rasakan? Anakku... harapan adalah kemewahan yang tidak dimiliki dunia yang sekarat.

"Kau salah," jawab Xuanyuan lembut namun tegas. "Harapan adalah satu-satunya hal yang lebih kuat dari keputusasaan. Karena keputusasaan memakan masa lalu. Tapi harapan membangun masa depan."

Ia berbalik menghadap Gerbang Kekosongan Purba. Ia tidak mengangkat pedang. Ia tidak merapal mantra. Ia hanya mengulurkan tangan, dan di telapak tangannya, Benih Primordial yang tersegel di dalam dirinya benih yang ditanam orang tuanya, benih yang disembunyikan dari Tian Jue mulai retak.

Cahaya tidak meledak. Ia mengalir. Seperti air yang tenang, cahaya keemasan yang lembut namun tak tergoyahkan mengalir dari tubuh Xuanyuan, membanjiri ruangan, menyentuh wajah-wajah yang memudar, menyentuh permukaan gerbang yang gelap.

Dan keajaiban terjadi.

Gerbang itu tidak terbuka lebar. Ia tidak hancur. Ia berubah. Cahaya dari tangan Xuanyuan tidak menahan Kekosongan ia mengisinya. Kekosongan yang menakutkan itu, saat disentuh oleh cahaya harapan yang murni dan tanpa syarat, perlahan berhenti menuntut. Ia berhenti menelan. Ia berhenti menuntut darah.

Bayangan ribuan wajah yang melayang di udara mulai bersinar. Mereka tidak lagi terlihat seperti korban. Mereka terlihat seperti pendukung. Seperti saksi. Seperti jiwa yang akhirnya menemukan kedamaian.

Tian Jue bangkit dari kursinya. Tubuhnya gemetar. Bukan karena marah. Karena terkejut. Karena ribuan tahun keyakinannya runtuh dalam satu momen.

Itu...suaranya bergetar. Itu kekuatan yang dicari orang tuamu. Mereka menemukannya. Tapi mereka tidak sempat menyempurnakannya. Dan kau... kau membawanya sejak lahir.

Xuanyuan menoleh. Matanya lembut, tanpa kebencian.

"Mereka tidak mati karena gagal. Mereka mati agar aku bisa tumbuh cukup besar untuk memegang ini. Mereka tidak meninggalkan beban. Mereka meninggalkan kunci."

Cahaya di ruangan itu semakin terang, namun tidak menyilaukan. Ia hangat. Seperti pelukan ibu yang lama hilang.

Gerbang Kekosongan Purba kini berdiri terbuka bukan karena dipaksa, tapi karena diundang. Di baliknya, bukan kehampaan yang menakutkan. Ada tanah. Ada langit. Ada kehidupan yang belum lahir. Kekosongan itu bukan neraka. Ia adalah tempat lahir yang menunggu diisi.

Tian Jue menutup matanya. Air mata jatuh di pipi yang tidak pernah menangis selama ribuan tahun.

Selama ribuan tahun... aku menjadi monster agar dunia selamat. Padahal... dunia tidak butuh monster pelindungnya. Dunia butuh harapan yang dipeluknya.

Ia berlutut di depan Xuanyuan. Bukan sebagai tanda kalah. Sebagai tanda penyerahan diri yang tulus.

Aku salah. Seluruh jalan yang kuambil... salah. Dan aku tidak berhak meminta maaf atas ribuan nyawa yang kuhancurkan. Tapi aku bisa menebusnya.

Tian Jue mengangkat tangan kanannya. Cahaya keemasan keluar dari dadanya inti kekuatan, ingatan, dan kehendak seluruh klan Tian. Ia menawarkan itu kepada Xuanyuan.

Ambil. Satukan empat keluarga di bawah satu kehendak yang benar. Biarkan aku berjalan di antara jiwa-jiwa yang korbankan. Biarkan aku menjadi jembatan di antara mereka dan dunia yang selamat. Itu satu-satunya penebusan yang kumiliki.

Xuanyuan menerima cahaya itu. Tidak dengan kemenangan. Dengan rasa hormat yang dalam.

"Kau tidak akan sendirian. Mereka yang kau korbankan... mereka sudah memaafkanmu. Lihatlah."

Tian Jue membuka matanya. Di sekelilingnya, ribuan wajah yang dulunya kosong kini tersenyum. Mereka mengangguk. Mereka mengulurkan tangan. Dan perlahan, satu per satu, mereka menyatu dengan cahaya dari tubuh Xuanyuan menjadi bagian dari harapan, bukan beban lagi.

"Siklus pengorbanan berakhir hari ini. Mulai sekarang, kita tidak menahan kegelapan dengan darah. Kita menerangi kegelapan dengan harapan."

Xuanyuan menoleh ke arah Lian Yue dan Jian Qing yang berdiri di ambang pintu, menatap dengan mata berbinar air mata.

"Misi kita selesai. Bukan dengan pedang terhunus. Tapi dengan hati yang terbuka."

Namun di saat yang sama, di kejauhan, di tempat yang tidak bisa dijangkau mata mana pun, di kedalaman Kekosongan yang belum tersentuh, sesuatu bergerak. Sesuatu yang bukan musuh, bukan kawan. Sesuatu yang hanya menunggu.

Dan suara lembut, seperti bisik angin di padang pasir yang tak berujung, bergema di telinga Xuanyuan hanya dia yang mendengarnya.

"Kau mengisi kekosongan dengan harapan. Indah. Tapi harapan membutuhkan waktu. Dan waktu... adalah senjata yang paling tajam. Sampai jumpa, Liu Xuanyuan. Sampai kita bertemu di tempat di mana waktu belum lahir."

Xuanyuan menegang. Tapi saat ia menatap kembali ke gerbang yang kini bersinar terang dan damai, ia tersenyum.

"Biarkan ia menunggu. Selama ada satu orang yang masih berharap... ia tidak akan pernah menang."

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!