Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15.Jerat sangkar
Suara hempasan pintu kayu bergema begitu keras di dalam ruangan yang sempit itu, menyisakan keheningan yang tebal dan mencekik. Aruna terpaku di atas tempat tidur. Tubuhnya gemetaran hebat, jemarinya membeku di udara sementara botol salep kecil yang baru saja terjatuh menggelinding pelan hingga berhenti tepat di dekat ujung sepatu kulit Kaivan.
Napas Kaivan terdengar berat dan teratur—sebuah keteraturan yang berbahaya, menandakan amarah yang sedang ditahan mati-matian agar tidak meledak menjadi kekerasan fisik. Pria itu menunduk sebentar, menatap botol salep murah di dekat kakinya, lalu menginjaknya hingga terdengar bunyi krek pelan yang memecahkan kesunyian.
"P-Pak Kaivan..." cicit Aruna dengan suara yang hampir tenggelam oleh rasa takut. Kedua tangannya secara refleks bergerak ke belakang punggungnya, berusaha menyembunyikan luka bakar membengkak di punggung tangan kanannya dari pandangan pria itu.
Kaivan melangkah mendekati tempat tidur dengan gerakan pelan namun mengintimidasi. Setiap pijakan kakinya di atas lantai seolah menjadi ketukan lonceng kematian bagi ketenangan jiwa Aruna. Pria bertubuh jangkung itu berhenti tepat di hadapan Aruna, menatap gadis ringkih itu dari atas dengan tatapan penuh cemoohan yang sangat dingin.
"Kau pikir kau sangat pintar, Aruna?" tanya Kaivan dengan suara rendah, nyaris seperti berbisik, namun mengandung daya hancur yang amat dahsyat.
Aruna menggelengkan kepala perlahan dalam tangisan yang mulai merebak kembali di pelupuk matanya.
"Saya... saya tidak mengerti maksud Pak Kaivan..."
"Tidak mengerti?!" Kaivan terkehut sinis. Pria itu tiba-tiba mencengkeram dagu Aruna dengan jemarinya yang kuat, memaksa wajah pucat gadis itu mendongak menatap lurus ke dalam matanya yang merah membara.
"Jangan berakting lugu di depanku! Ayahmu baru saja meneleponku! Rendra Rasyara dengan tanpa malu meminta uang tambahan lima puluh miliar lagi!"
DEG.
Darah di tubuh Aruna serasa berhenti mengalir. Matanya membelalak menatap Kaivan dengan rasa tidak percaya yang amat sangat. "M-apa? Ayah... meminta uang lagi?"
"Ya! Lima puluh miliar!" desis Kaivan tepat di hadapan wajah Aruna, mencengkeram dagu gadis itu sedikit lebih erat hingga Aruna meringis menahan sakit.
"Dan kau tahu apa alasannya? Dia bilang karena kau sudah 'bahagia' di rumah ini! Dia menggunakan berita pernikahan sampah yang ibumu sebar kemarin untuk memeras perusahaanku lebih jauh!"
Air mata Aruna menetes deras membasahi jemari Kaivan yang mencengkeram wajahnya. Rasa syok, malu, dan hancur berkecamuk hebat di dalam dadanya. Ayahnya... tega melakukan hal serendah itu? Menggunakan dirinya yang sudah dipatutkan sebagai jaminan utang untuk meminta puluhan miliar lagi dari pria berhati dingin ini?
"Pak Kaivan... demi Allah, saya tidak tahu apa-apa..." isak Aruna terbata-bata, suaranya tersendat oleh rasa sesak yang kian melilit dadanya.
"Saya tidak pernah berhubungan dengan Ayah sejak datang ke sini... Saya tidak pernah menyuruh Ayah menelepon Pak Kaivan..."
"Kau pikir aku percaya?!" Kaivan menghempaskan cengkeraman tangannya di dagu Aruna hingga kepala gadis itu terlempar ke samping. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, melontarkan kata-kata berbisa dengan nada penuh kebencian.
"Kalian semua sudah mengatur pembagian tugas dengan sangat rapi, bukan? Kau bertugas berakting menjadi gadis malang, pura-pura sakit, menangis, dan bersikap manis penurut agar aku luluh dan kasihan padamu. Sementara orang tuamu di luar sana bertugas memeras hartaku begitu melihat aku mulai melunak!"
"Tidak, Pak Kaivan! Itu tidak benar!" jerit Aruna dalam tangisnya yang makin pecah. Gadis itu memberanikan diri menatap Kaivan, memohon dengan mata yang basah dan penuh penderitaan tulus.
"Saya tidak pernah berniat memeras Pak Kaivan... Saya sungguh-sungguh minta maaf atas tindakan Ayah dan Ibu... Tapi tolong percaya pada saya, saya tidak berkongkalikong dengan mereka..."
"Cukup!" bentak Kaivan, suaranya meninggi menembus kesunyian kamar. Pria itu menunjuk wajah Aruna dengan jari telunjuk yang bergetar karena emosi.
"Aku sudah muak dengan air mata palsumu itu! Setiap kali kau menangis, rasanya sangat menjijikkan karena aku tahu di balik wajah polos ini, ada darah Rasyara yang serakah dan licik!"
Kata 'menjijikkan' dan 'licik' yang keluar dari mulut Kaivan menghantam ulu hati Aruna bagai pukulan godam yang amat berat. Seluruh pertahanan mentalnya runtuh seketika. Tubuh ringkih yang baru saja pulih dari demam tinggi itu kini bergetar hebat di bawah serangan panik yang luar biasa.
Aruna meremas dadanya sendiri yang terasa sangat sempit dan menyakitkan. Napasnya mulai memburu kencang, terengah-engah seperti orang yang tenggelam di dasar laut.
"P-Pak Kaivan... p-tolong..." bisik Aruna dengan suara parau, pandangannya mulai kabur dan berkunang-kunang.
Namun, Kaivan yang sedang dibutakan oleh rasa marah dan dendam atas pengkhianatan keluarga Rasyara sama sekali tidak memedulikan kondisi fisik Aruna. Bagi Kaivan yang dipenuhi prasangka, ini hanyalah kelanjutan dari 'akting sakit' Aruna yang kemarin sempat berhasil menipunya.
"Jangan coba-coba berakting pingsan lagi di depanku!" omel Kaivan ketus, matanya menatap Aruna dengan penuh celaan kaku.
"Trik murahmu itu tidak akan mempan untuk kedua kalinya! Kau mau napasmu sesak? Kau mau mati sekalian? Lakukan saja! Aku tidak akan pernah memanggilkan dokter pribadi lagi untuk wanita penipu seperti dirimu!"
Aruna memejamkan matanya rapat-rapat, mengatupkan bibirnya yang semakin memutih. Setiap kata beracun yang dilontarkan Kaivan terasa memutus urat-urat harapannya satu per satu. Rasa sakit hati yang amat dalam berbaur dengan serangan sesak napas, membuat tubuhnya benar-benar kehilangan daya untuk bertahan.
Melihat Aruna hanya diam terpaku sambil memegangi dadanya dengan mata terpejam, Kaivan mendengus dingin. Pria itu merasa telah menang mempertahankan gengsi dan barikade hatinya dari manipulasi Aruna.
"Dengarkan aku baik-baik, Aruna," kata Kaivan dengan suara kaku yang tak terabaikan, berdiri menjulang tinggi di samping tempat tidur.
"Hari ini juga, aku akan memastikan perusahaan ayahmu benar-benar rata dengan tanah. Aku akan menarik seluruh aset dan menutup semua jalan bisnis Rendra Rasyara sampai dia mengemis di jalanan. Dan untukmu..."
Kaivan jeda sejenak, menatap Aruna dengan sorot mata membeku tanpa belas kasihan.
"...kau akan tetap berada di rumah ini sebagai jaminan atas uang tiga puluh miliar yang sudah telanjur masuk ke kantong keluargamu. Kau tidak akan pernah punya akses ke dunia luar, kau tidak boleh keluar dari rumah ini tanpa izinku, dan jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan perlakuan manis dari siapa pun di sini!"
Selesai mengucapkan kalimat hukuman tersebut, Kaivan berbalik dengan gerakan kaku. Pria itu melangkah menuju pintu tanpa sudi menoleh sedikit pun ke belakang.
"Nikmati sangkar emasmu, Aruna," gumam Kaivan dingin sebelum melangkah keluar dari kamar.
BRAK!
Pintu kayu itu kembali dibanting keras dari luar, disusul oleh suara kunci putar yang berputar dari arah koridor. Kaivan mengunci pintu kamar Aruna dari luar.
Di dalam kamar yang kembali gelap dan sepi, Aruna terkulai lemas di atas kasur. Tangannya yang gemetar perlahan terlepas dari dadanya, jatuh tak berdaya di atas seprai. Air mata terakhirnya meleleh pelan, melewati pipinya yang dingin dan hinggap di bibirnya yang pecah-pecah.
Gadis itu tidak lagi menangis bersuara. Tangisannya telah bungkam, tergantikan oleh kehampaan yang teramat sangat. Pintu yang terkunci dari luar itu seolah menjadi simbol bahwa hidupnya kini benar-benar telah mati—terperangkap di dalam sangkar dingin milik pria yang sangat membencinya.
Di luar kamar, Kaivan memasukkan kunci cadangan ke dalam saku jas kerjanya dengan gerakan kasar. Pria itu berdiri kaku di depan pintu yang terkunci rapat selama beberapa detik. Napasnya masih memburu, namun kepalan tangannya di samping tubuh perlahan-lahan mengendur.
Kemarahan liar yang tadi membakar dadanya perlahan menyusut, meninggalkan rasa hampa dan ketidaknyamanan yang sangat asing di dalam jiwanya.
Kaivan menatap pintu kayu polos itu. Bayangan wajah Aruna yang meremas dadanya sambil memohon ketakutan tadi pagi kembali melintas di benaknya. Tatapan mata Aruna saat Kaivan menghempaskan dagunya... tidak memancarkan kebencian atau liciknya seorang penipu, melainkan keputusasaan murni dari seorang manusia yang sudah hancur tak berbekas.
Kenapa... kenapa hatiku terasa sangat tidak enak? batin Kaivan, memegangi dadanya sendiri yang mendadak terasa agak berat.
"Tidak," gumam Kaivan cepat, menggelengkan kepalanya keras-keras untuk mengusir keraguan tersebut.
"Aku benar. Aku harus tegas. Kalau aku tidak menguncinya dan bersikap keras, dia dan keluarganya akan terus memanfaatkan kebaikanku."
Kaivan membalikkan badan dan melangkah menyusuri koridor lantai dua menuju tangga utama. Namun, baru tiga langkah ia berjalan, rasa gelisah yang aneh terus merayapi pikirannya.
Saat Kaivan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, ia berpapasan dengan Bi Asih asisten rumah tangga paruh baya yang baru saja selesai membersihkan area ruang tamu.
"P-Pak Kaivan..." sapa Bi Asih agak ragu, membungkuk sopan saat melihat raut wajah majikannya yang sangat menakutkan pagi ini.
Kaivan menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Pria itu menatap Bi Asih dengan raut kaku, lalu berdehem pelan untuk menutupi kegelisahan di matanya.
"Bi Asih," panggil Kaivan dengan nada suara yang sengaja dibuat sedingin dan seformal mungkin.
"Iya, Pak Kaivan?"
"Pintu kamar wanita di ujung koridor lantai dua sudah aku kunci dari luar," kata Kaivan datar.
"Jangan ada yang berani membuka pintu itu atau mengantarkan makanan ke sana sebelum aku pulang kantor nanti sore. Biarkan dia merenungkan kesalahannya."
Bi Asih tertegun, matanya membelalak kaget mendengar perintah tajam tersebut. "T-tapi Pak... Nona Aruna kan baru saja sembuh dari demam tinggi kemarin... Kalau tidak diberi makan dan minum sampai sore"
"Aku tidak minta pendapatmu, Bi Asih!" potong Kaivan tegas dengan nada mengomeli yang ketus. "Lakukan saja apa yang kukatakan! Dia bukan putri raja yang harus dimanja di rumah ini. Kalau dia kelaparan, itu salahnya sendiri karena terus membuat masalah!"
Bi Asih menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani membantah lagi karena takut dipecat. "B-baik, Pak Kaivan..."
Kaivan mendengus kasar, lalu berjalan kaku melewati Bi Asih menuju pintu keluar rumah.
Namun, sebelum kakinya benar-benar melangkah keluar dari pelataran rumah menuju mobil mewahnya yang sudah bersiap, Kaivan menghentikan langkahnya sejenak. Pria itu melirik kembali ke arah jendela lantai dua tempat kamar Aruna berada.
Ada pergolakan hebat di balik dada Kaivan. Logikanya berteriak bahwa tindakan mengunci dan mengisolasi Aruna adalah hal yang tepat untuk memberi pelajaran pada keluarga Rasyara. Namun, nuraninya yang selama ini tersembunyi jauh di balik sikap gengsi dan kasar merasa bahwa ada sesuatu yang sangat salah dari amarahnya pagi ini.
"Kau yang memilih jalan ini, Aruna," gumam Kaivan sangat pelan pada angin pagi yang dingin, berusaha membentengi hatinya dari rasa iba yang mulai merayap naik.
"Jangan salahkan aku kalau aku harus menjadi monster di hidupmu."
Pria itu menyambar pintu mobilnya, masuk ke dalam kabin yang dingin, dan menyuruh sopirnya melaju kencang menuju kantor—meninggalkan Aruna sendirian dalam kegelapan kamar yang terkunci rapat dan kesunyian yang kian mencekik jiwa.
_Bersambung