NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PETROMAKS, LIDI DAN RUMUS DI LANTAI TANAH - PANDE SIKEK 1975

Perintah Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang itu tidak pernah dilanggar oleh Arya Arsyad Sikumbang satu hari pun, bahkan ketika hujan lebat turun membasahi seluruh lereng Gunung Singgalang dan pematang sawah berubah menjadi kubangan lumpur yang licin.

Setiap sore, tepat setelah pulang dari SD Inpres Pande Sikek jam satu siang, ketika anak-anak lain berlarian ke lapangan tanah dekat surau kayu untuk bermain kelereng, galah dan layang-layang kertas minyak, Arya tidak pernah ikut. Ia berjalan cepat menembus jalan setapak yang masih becek, dengan tas karung goni yang sudah dijahit ulang oleh ibunya, Siti Aminah Sikumbang, tergantung di punggung kurusnya. Seragam putih merahnya yang sudah lusuh di bagian kerah dan sobek sedikit di sikut karena jatuh saat latihan, ia ganti begitu sampai di rumah gadang beratap seng berkarat itu.

Ia hanya mengenakan kaos putih tipis yang sudah agak menguning karena sering dicuci dengan sabun colek dan celana pendek kain katun kasar warna hitam yang lututnya sudah menipis. Lalu ia membantu ayahnya, Abdullah Bin Rais Payobadar, di serambi belakang. Ayahnya yang sejak awal 1974 memutuskan untuk tidak merantau lagi dan kembali bersawah dan berkebun cengkeh itu, kini duduk bersila di atas tikar pandan usang. Di depannya terbentang papan kayu surian pilihan yang sudah dikeringkan berbulan-bulan. Dengan pahat kecil bergagang kayu nangka dan palu kayu kecil, tangannya yang kapalan dan penuh luka goresan bergerak berirama, tak... tak... tak... mengukir motif Kaluak Paku. Arya membantu ayahnya mengamplas papan, membersihkan serbuk kayu, dan menyusun hasil ukiran.

Baru setelah azan ashar berkumandang sayup-sayup dari surau kayu di Pos Satu, dibawa angin lembah, ia menyelinap sendirian ke balik kebun cengkeh di belakang rumah. Tidak ada yang boleh mengikutinya. Itu pesan Mamak Usman. Latihan khusus ini harus dilakukan sendirian.

Di sana, di atas tanah gembur yang tertutup rapat oleh serasah daun cengkeh kering yang berbau harum menyengat, ia menjalankan tiga perintah maut itu sendirian, tanpa ada yang melihat kecuali burung-burung pipit dan tupai.

Pertama, ia berlari menyusuri pematang sawah pusako milik ayahnya di lurah bawah. Pematang itu adalah pematang warisan nenek moyang, sempitnya hanya sejengkal kaki orang dewasa, licin karena lumut hijau yang tumbuh tebal, dan di kanan kirinya adalah lumpur sawah yang dalam sedalam lutut orang dewasa, lumpur hitam yang bau dan lengket. Tugasnya adalah lima kali putaran penuh mengelilingi petak sawah yang luas itu tanpa berhenti sama sekali. Napasnya harus diatur seperti yang diajarkan Mamak Usman, napas dari dada, dalam dan panjang, bukan dari mulut yang akan membuatnya cepat lelah. Matanya harus fokus ke depan, ke ujung pematang, bukan ke kaki. Kalau ia terpeleset dan matanya melihat ke bawah, ia pasti akan jatuh ke lumpur dan semua harus diulang dari awal. Pada minggu pertama, ia jatuh tiga kali sehari, bajunya penuh lumpur sampai ibunya Siti Aminah memarahinya pelan. Pada minggu kedua, ia hanya jatuh sekali. Pada minggu ketiga tahun 1975 ini, ia sudah bisa berlari lima kali tanpa jatuh, dengan tempo yang konstan seperti jam dinding.

Kedua, setelah kakinya gemetar hebat dan napasnya memburu seperti kerbau habis membajak, ia tidak boleh istirahat lama. Ia masuk ke sudut gudang belakang rumah yang gelap dan pengap, tempat cangkul, sabit dan karung-karung cengkeh disimpan. Di sudut paling gelap ada sebuah guci besi kecil peninggalan niniak moyangnya, guci yang tingginya hanya sejengkal, tapi beratnya hampir dua kilo karena besi cor tua. Guci itu berkarat di beberapa bagian. Ia isi air dari tempayan dengan gayung batok kelapa sampai setengah penuh. Lalu ia mengambil minyak kelapa murni dari botol kaca di dapur ibunya, minyak yang biasa dipakai ibunya untuk menggoreng dan untuk rambut, dan ia lumuri bibir guci itu sampai licin mengkilap, licin seperti belut sawah.

Tugasnya adalah mencengkeram bibir guci yang licin itu hanya dengan ujung-ujung jari, ujung jari telunjuk sampai kelingking, bukan dengan telapak tangan penuh. Lalu mengangkatnya setinggi dada, menahan selama sepuluh hitungan penuh, satu... dua... sampai sepuluh, dengan napas ditahan. Lalu turunkan pelan. Ulangi sepuluh kali. Pada awalnya, guci itu selalu terlepas di hitungan keempat, jatuh berdebam dan airnya tumpah membasahi lantai tanah gudang. Jari-jari anak 10 tahun itu merah, perih, kulitnya hampir lecet dan kapalan. Tapi ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menangis. Ia hanya mengambil guci itu lagi, melumuri minyak lagi, dan mencoba lagi. Mamak Usman pernah berkata, "Jari nan kuat bisa mancangkam baju lawan dan mamatahkan sandi." Arya memegang kata-kata itu.

Ketiga, latihan yang paling menyiksa bagi anak kecil. Ia manjalo kaki. Setelah berlari dan mengangkat guci, ia duduk di tanah kebun cengkeh yang lembab, menyatukan kedua telapak kakinya di depan dada dalam posisi bersila terbalik, yang orang Pande Sikek sebut basila baliak. Lalu, dengan kekuatan kakinya sendiri, tanpa bantuan tangan orang lain, tanpa didorong oleh siapa pun, ia harus menekan kedua lututnya perlahan-lahan ke bawah sampai benar-benar menyentuh permukaan tanah. Otot paha dalam dan pangkal pahanya terasa seperti ditarik dan dibakar dari dalam. Panas, perih dan linu menjalar sampai ke pinggang. Banyak pemuda berusia 17 tahun yang dilatih Mamak Usman di lereng bawah menangis dan menyerah saat latihan ini. Tapi Arya hanya menggigit bibir bawahnya yang sudah pecah-pecah karena dingin gunung, memejamkan mata, dan menahan. Ia tahu tubuhnya yang masih kecil adalah masa emas untuk membentuk kelenturan. Kalau lewat 12 tahun, tidak akan bisa lagi.

Baru setelah azan maghrib berkumandang panjang dan kabut turun tebal menutupi kebun cengkeh, ritual pertama itu selesai. Ia pulang ke rumah dengan kaki yang masih gemetar dan telapak tangan yang masih berbau minyak kelapa.

Dan baru setelah maghrib, ketika lampu petromaks di rumahnya mulai dinyalakan, ritual kedua dimulai. Ritual yang berbeda, tapi sama beratnya, dan tidak kalah penting.

Lampu petromaks itu adalah kebanggaan baru keluarga Abdullah Bin Rais Payobadar. Lampu itu dibeli dari hasil panen cengkeh pertama yang laku mahal di Pasar Atas Bukittinggi pada awal 1975. Bukan lagi lampu minyak sumbu kecil yang redup, berasap hitam dan membuat mata perih. Petromaks itu kacanya baru, mengkilap, dan cahayanya kuning terang benderang, menerangi seluruh ruang tengah rumah papan itu sampai ke sudut-sudut. Tapi lampu itu harus dipompa dulu dengan pompa kecil di sampingnya, berbunyi ces... ces... ces... sampai tekanannya penuh, dan mendesis keras seperti ular, ssssssttt... sepanjang malam.

Di ruang tengah yang lantainya masih tanah yang sudah dipadatkan dengan air dan disapu setiap pagi oleh Siti Aminah, tikar pandan usang yang anyamannya sudah banyak lepas digelar. Siti Aminah masih duduk di depan panta, alat tenun tradisional kayu peninggalan ibunya. Suara bangkak panta yang ditarik dan dihentakkan berirama konstan, duk... duk... duk..., menemani ketukan pahat suaminya yang masih mengukir di serambi. Di atas panta itu, benang-benang kapas warna merah tua, hitam dan benang emas perlahan menjadi kain tenun Pandai Sikek yang megah. Abdullah duduk di sudut dekat tungku, menghitung hasil kebun cengkeh dan kopi hari itu dengan lidi-lidi kecil yang ia potong dari bambu.

Dan di tengah tikar, tepat di bawah cahaya petromaks yang paling terang, tiga bersaudara duduk melingkar dengan buku-buku pinjaman yang sampulnya sudah lecek.

Andi Rajo Alam Sikumbang, kakak sulungnya yang berusia 17 tahun, Kelas 3 SMA Negeri 1 X Koto. Anak sulung itu memang terkenal pandai dan cerdas di sekolahnya, selalu ranking satu sejak SD, dan menjadi andalan guru-gurunya untuk lomba cerdas cermat. Ia memakai kacamata bulat yang gagangnya sudah diikat kawat, kacamata yang ia dapat dari bantuan sekolah. Arlan Rasyad Sikumbang, kakaknya yang kedua, 12 tahun, SD Kelas 6 seperti Arya, yang tekun, rapi, pendiam dan tidak pernah putus asa, mirip sekali dengan ayahnya dalam hal kesabaran. Dan Arya Arsyad Sikumbang, si bungsu 10 tahun, yang baru saja selesai ditempa lumpur sawah dan guci besi licin, yang kaosnya masih bau tanah dan minyak kelapa.

Setiap malam, Andi Rajo Alam yang mengambil alih sebagai guru, karena ia tahu adik kecilnya ini akan menghadapi soal SMA Kelas 10 dan 11 seminggu lagi di ruang Kepala Sekolah Drs. Syafrianto yang penuh dengan guru-guru senior. Ia tidak mengajari dengan cara guru sekolah yang menyuruh menghafal rumus di papan tulis hitam.

Ia mengambil lidi-lidi kecil bekas hitungan ayahnya yang berserakan di tikar dan beberapa butir cengkeh kering yang masih ada tangkainya dari karung di gudang.

"Coba lihat, Ya," kata Andi dengan suara pelan dan sabar, sambil menyusun lidi di atas tikar pandan yang diterangi petromaks. "Ini rumus Hukum Kekekalan Energi yang tadi siang kau baca di buku Fisika pinjaman dari SMA itu. Guru Fisikamu di buku itu bilang E \= m.c^2 itu susah, rumus Einstein, pusing. Padahal indak susah, Ya. Bayangkan saja ini karung cengkeh ayah yang di gudang. Karung itu punya berat, itu namanya $m$, massa. Kalau karung itu jatuh dari atas loteng gudang ke bawah, jatuhnya makin cepat, kecepatannya itu $c$. Jadi energinya itu gabungan dari berat karung dan cepat jatuhnya. Kalau beratnya nambah, energinya nambah. Kalau jatuhnya makin kencang, energinya juga nambah. Paham?"

Arya Arsyad Sikumbang yang duduk bersila, memperhatikan setiap pelajaran yang diajarkan kakak sulungnya itu tanpa berkedip sama sekali. Matanya yang tadi siang di kebun cengkeh tajam menatap bayangan harimau khayalan dan menjaga keseimbangan di pematang licin, kini tajam menatap lidi-lidi yang disusun Andi. Keringat di dahinya yang belum kering karena lari sore tadi, kini bercampur dengan fokus yang luar biasa. Otaknya yang cerdas istimewa, yang oleh Mamak Usman dikatakan bekerja lebih cepat dari anak-anak lain seusianya, itu tidak hanya mendengarkan, ia mengolah, ia memutar, ia membayangkan.

Arlan yang duduk di sebelahnya membantu dengan caranya sendiri yang khas. Kalau Andi yang berusia 17 tahun menjelaskan konsep besarnya dengan analogi karung cengkeh, Arlan yang 12 tahun yang tekun itu yang menuliskan kembali rumus itu dengan tulisan tangan yang sangat rapi, lurus dan bersih di atas kertas karbon bekas pembungkus semen yang sudah dibalik, agar adiknya yang 10 tahun tidak lupa. Arlan menulis pelan, satu-satu, huruf demi huruf, seperti ayahnya mencangkul sawah, tidak ada satu petak pun yang terlewat. Tulisan Arlan adalah tulisan terbaik di antara mereka bertiga.

"Kalau Stoikiometri itu, Ya, jangan kau hafal mol-mol itu pusing-pusing," lanjut Andi lagi, kali ini mengambil butir cengkeh kering yang harum itu dan meletakkannya di atas tikar. "Buku Kimia itu bikin pusing dengan angka 6,02 x 10 pangkat 23. Buang itu dulu. Satu butir cengkeh ini kita anggap satu mol. Gampang kan? Kalau ayah punya 10 butir cengkeh di tangan, berarti ayah punya 10 mol. Kalau untuk membuat 1 bungkus hantaran sirih butuh 2 butir cengkeh, berarti kalau ayah punya 10 butir, jadinya 5 bungkus hantaran. Itu saja namanya reaksi. Jangan dibikin pusing sama buku yang tebal itu. Nanti kalau sudah paham yang gampang ini, baru kita masukkan angka-angka sulitnya."

Arya mengangguk pelan, matanya berbinar. Lalu ia mencoba mengolahnya dengan caranya sendiri, cara anak 10 tahun yang cerdas. Ia mengambil lidi-lidi itu, ia susun ulang menjadi bentuk lain, ia balik-balik. Ia yang tadi sore melatih keseimbangan kaki di pematang sawah yang licin agar tidak jatuh ke lumpur, kini melatih keseimbangan logika di atas tikar pandan agar tidak jatuh dalam kebingungan rumus. Ia menyusun lidi menjadi jembatan, menjadi timbangan, menjadi gerobak.

Dan saat itulah, kakak sulungnya pun kagum, benar-benar kagum.

Andi Rajo Alam Sikumbang melihat adik kecilnya yang baru 10 tahun itu, yang tangannya masih merah dan sedikit bengkak karena mencengkeram guci besi berminyak yang licin di gudang, tapi jari-jarinya kini dengan lincah dan cepat menyusun lidi dan butir cengkeh menjadi sebuah persamaan reaksi kimia yang bahkan anak Kelas 1 SMA pun yang sudah belajar tiga bulan belum tentu bisa menyusunnya dengan benar.

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, Arya sudah bisa menjelaskan kembali rumus Hukum Kekekalan Energi dan Stoikiometri yang baru saja diajarkan Andi, bahkan dengan contoh yang lebih sederhana lagi, dengan contoh yang ia buat sendiri, dengan contoh gerobak dorong ayahnya yang membawa kayu surian dari hutan dan contoh ember air yang ia angkat dari sumur.

Ia tidak hanya menghafal, ia sudah memahami dan menciptakan kembali.

Andi menatap Arlan, kakak keduanya, dengan mata terbelalak tidak percaya. Arlan yang tekun itu juga menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum.

"Hebat ang, Ya," bisik Andi dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh ayah dan ibunya yang sedang bekerja, sambil menepuk pundak adiknya yang kurus dan masih basah oleh keringat sore tadi. "Mamak Usman melatih kaki dan tangan ang di kebun cengkeh sore hari supaya kuat, supaya seimbang, supaya tidak jatuh ke lumpur sawah. Abang melatih otak ang malam hari di bawah petromaks ini supaya tidak bingung, supaya tidak jatuh dalam soal-soal ujian. Ternyata, keduanya sama-sama masuk ke dalam diri ang. Pantas saja Mamak Usman bilang di surau, otak ang bekerja lebih cepat dari anak-anak lain seumur ang. Dan ayah benar, kalau sawah pusako digarap tekun hasilnya elok, kalau pelajaran diolah tekun dengan lidi dan cengkeh hasilnya juga elok. Ang gabungan dari keduanya, Ya. Kuat fisik dari Mamak Usman, kuat otak dari tekunnya ayah dan ibu."

Malam itu, di rumah papan beratap seng berkarat yang diterangi satu lampu petromaks National yang mendesis keras dan harus dipompa lagi setiap satu jam, di antara suara ketukan pahat kayu surian ayahnya yang berirama tak... tak... tak... dan hentakan alat tenun panta ibunya yang berirama duk... duk... duk..., tiga bersaudara itu terus belajar sampai minyak petromaks hampir habis dan kaca petromaks mulai menghitam. Satu melatih fisik di sore hari sendirian di balik kebun cengkeh, dua kakaknya menjaga dan mengajari di malam hari bersama-sama di atas tikar pandan. Dari sinilah, dari lantai tanah, dari lidi bambu, dari butir cengkeh dan dari cahaya petromaks itulah, seorang anak 10 tahun bernama Arya Arsyad Sikumbang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi soal-soal SMA Kelas 10 dan 11 yang akan diujikan oleh Bapak Drs. Syafrianto seminggu Lalu ,soal yang membuat seluruh dewan guru SMP Negeri Pande Sikek terdiam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!