NovelToon NovelToon
Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Pelakor / Selingkuh / Cinta Terlarang / Kaya Raya / Playboy
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ocean Na Vinli

Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.

Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.

Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...

Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Terduga

"Sebenarnya aku dan Norman—"

"Mona!"

Mona belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Norman langsung menyela.

Tatapannya berubah tajam saat mengarah kepada Mona.

"Kenapa kau masih di sini? Bukankah masih ada pekerjaan? Mengapa kau keluar?" kata Norman.

Mona sama sekali tak menyadari kehadiran Norman. Mona malah terdiam. Wajahnya yang semula hendak mengatakan sesuatu langsung berubah gugup. Ada sedikit rasa kesal karena Norman sengaja memotong perkataannya, tetapi dia tidak mungkin memperdebatkannya di hadapan Grace.

"Oh, iya. Aku masih punya pekerjaan," jawab Mona pelan lalu melirik Grace.

"Saya permisi masuk dulu, bu Grace."

Grace hanya mengangguk singkat. Mona pun berbalik dan meninggalkan mereka.

Grace memperhatikan kepergian Mona tanpa mengatakan apa pun. Dia tahu apa yang hendak dikatakan wanita itu. Namun, Grace memilih berpura-pura tidak tahu.

Sementara itu, Norman mengembuskan napas pelan sebelum berjalan mendekati Grace.

"Sayang, aku minta maaf kalau akhir-akhir ini aku jarang berada di sisimu."

Grace menoleh. "Oh, ya. Tidak apa-apa."

Norman terdiam sejenak. Ada sesuatu yang sebenarnya ingin dia katakan. Dia memperhatikan wajah Grace beberapa detik sebelum akhirnya bersuara.

"Sayang, aku merasa kau banyak berubah sekarang."

Kening Grace berkerut samar. "Berubah bagaimana?"

"Entahlah. Kau hanya terlihat sedikit berbeda dari biasanya."

Grace menatap Norman tanpa menunjukkan perubahan apa pun pada wajahnya. "Menurutmu aku berubah?"

"Ya. Kau lebih ..." Norman menggantung kalimatnya. "Pokoknya, kau tidak seperti dulu."

Grace tersenyum tipis. "Ya beginilah aku. Tidak ada yang berubah."

Norman masih memandangi Grace.

Namun, Grace segera mengalihkan pandangan. "Kalau begitu, aku pergi dulu, Norman."

Grace berbalik dan meninggalkan Norman.

Norman hanya berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti punggung istrinya yang semakin menjauh.

Entah mengapa, akhir-akhir ini Grace memang terasa berbeda. Namun, Norman tidak menaruh curiga sedikit pun. Dia hanya mengira istrinya sedang mengalami perubahan. Justru dirinya sendiri yang mulai merasa takut.

Bagaimana jika semua yang selama ini dia sembunyikan akhirnya terbongkar?

Norman menelan ludah, berharap perselingkuhannya dan Mona tak pernah terkuak. Dia tidak tahu bahwa wanita yang baru saja meninggalkannya itu sudah mengetahui jauh lebih banyak daripada yang dia bayangkan.

***

Beberapa hari kemudian, hari ulang tahun Allison Turner akhirnya tiba. Pesta ulang tahun tersebut digelar di sebuah hotel mewah di California.

Grace telah memastikan seluruh persiapan berjalan dengan baik.

Ballroom hotel dihias dengan begitu mewah. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit, meja-meja bundar telah tersusun rapi, dan berbagai hidangan telah dipersiapkan untuk para tamu undangan.

Acara akan dimulai sekitar tiga puluh menit lagi. Namun, para tamu sudah mulai berdatangan.

Malam itu, Allison menetapkan dress code berwarna putih. Para wanita mengenakan gaun putih dengan berbagai model, sedangkan para pria mengenakan jas atau pakaian formal berwarna putih dan warna-warna terang.

Tamu yang hadir bukanlah orang sembarangan. Ada pejabat pemerintahan, para pengusaha besar, kolega bisnis Sierra Sunworks, keluarga-keluarga kaya, sosialita, sahabat dekat Allison, serta berbagai relasi bisnis keluarga Turner.

Tidak mengherankan jika sejumlah wartawan juga hadir. Nama keluarga Turner memang tidak pernah jauh dari sorotan media. Terlebih lagi, pemberitaan mengenai Norman dan Mona masih menjadi bahan pembicaraan hangat.

Para wartawan berdiri di sekitar pintu masuk hotel sambil memotret satu per satu tamu yang datang.

Beberapa saat kemudian, perhatian mereka tertuju kepada sebuah mobil yang baru saja berhenti.

"Hei, bukankah itu Julian Sinclair?"

Beberapa wartawan langsung mengarahkan kamera.

Julian Sinclair keluar dari mobil dengan tenang. Walau kepala sudah memutih, tapi dia masih terlihat gagah dan tinggi.

Pria itu hanya memberikan senyum tipis kepada para wartawan sebelum berjalan masuk ke dalam hotel.

"Dia benar-benar datang."

"Sudah lama aku tidak melihatnya menghadiri acara keluarga Turner."

"Bagaimana mungkin tidak datang? Hubungan keluarga Sinclair dan Turner cukup dekat."

Beberapa wartawan kembali mengambil gambar.

Julian merupakan salah satu tokoh yang sangat dikenal di kalangan orang-orang kaya Amerika. Keluarga Sinclair memiliki kekayaan besar dan pengaruh yang luas.

Tidak lama kemudian, Julian menghilang di balik pintu hotel.

Beberapa menit setelah itu, mobil lain kembali memasuki area hotel.

Kali ini, Norman Turner datang bersama Mona. Namun, keduanya tidak berjalan berdampingan.

Ada jarak di antara mereka.

Mona berjalan sedikit di belakang Norman, sementara beberapa wartawan langsung menyadari keberadaan mereka.

Klik!

Klik!

Klik!

Kamera kembali berbunyi.

"Norman Turner datang bersama seorang wanita, siapakah dia?"

"Mungkin asisten, tidak mungkin istrinya. Mereka bahkan tidak bergandengan."

"Menurutmu video itu memang palsu?"

"Entahlah. Sampai sekarang masih banyak yang percaya video itu asli."

Beberapa wartawan saling berpandangan.

Skandal tersebut memang belum sepenuhnya menghilang dari pemberitaan.

Sebagian orang percaya bahwa video yang beredar adalah hasil manipulasi seperti yang diklaim Norman dan keluarganya. Namun, sebagian lainnya masih meyakini bahwa video tersebut benar.

Norman berusaha tidak memedulikan sorotan kamera. Dia terus berjalan memasuki hotel.

Tak lama kemudian, sebuah mobil lain datang membawa keluarga Turner. Allison turun bersama Henry, Edmund, Ruby dan Jacob.

Jacob datang tanpa istrinya karena istrinya sedang berada di luar negeri. Begitu mereka turun dari mobil, tepuk tangan langsung terdengar dari beberapa tamu yang sudah berada di sekitar pintu masuk.

"Selamat ulang tahun, Nyonya Allison!"

"Selamat ulang tahun!"

Allison tersenyum lebar. Dia memang menyukai perhatian seperti itu. Ruby berjalan di samping ibunya dengan senyum penuh percaya diri. Sementara itu, Edmund dan Henry juga telah tiba dan berada tidak jauh dari mereka.

Keluarga Turner kemudian berjalan menuju pintu masuk hotel. Namun, sebelum mereka benar-benar masuk, sebuah mobil hitam mewah kembali berhenti di depan hotel.

Para wartawan yang semula sedang memperhatikan keluarga Turner langsung mengalihkan kamera.

"Siapa yang datang?"

"Mobil siapa itu?"

Pintu mobil terbuka.

Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang keluar. Kemudian sebuah kaki jenjang turun dari mobil.

Kulitnya terlihat bersih dan terawat.

Sepasang sepatu hak tinggi menyentuh lantai. Sesaat kemudian, seorang wanita keluar dari dalam mobil.

Grace.

Wanita itu mengenakan gaun hitam dengan potongan berbentuk V pada bagian dada. Gaun tersebut jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan kesan elegan sekaligus berani. Rambut merahnya ditata dengan sempurna. Wajahnya dipoles dengan riasan yang membuat sorot matanya semakin tajam.

Dan yang paling mencolok adalah warna gaunnya, berwarna hitam.

Di tengah lautan tamu yang mengenakan pakaian putih, Grace tampak seperti satu-satunya noda hitam yang justru berhasil menarik seluruh perhatian.

Para wartawan terdiam sesaat.

Kemudian suara kamera kembali terdengar bertubi-tubi.

Klik!

Klik!

Klik!

"Nah, itu Nona Grace!"

"Terakhir kali aku melihatnya beberapa tahun lalu. Aku tidak akan lupa wajahnya!"

"Dia semakin cantik."

"Gila, aku hampir tidak mengenalinya."

Beberapa wartawan mulai berbisik.

"Kalau melihat istrinya seperti itu, aku benar-benar tidak mengerti mengapa Norman sampai dikaitkan dengan wanita lain."

"Aku juga berpikir begitu."

Namun, seorang wartawan di samping mereka terkekeh kecil.

"Jangan terlalu cepat menilai. Laki-laki terkadang memang tidak pernah puas dengan apa yang sudah mereka miliki."

Beberapa orang tertawa kecil.

"Benar juga."

Grace yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum tipis. Dia sama sekali tidak terlihat terganggu. Seolah-olah semua perkataan itu tidak ada artinya baginya.

Dari kejauhan, Norman yang masih berada di area pintu masuk akhirnya melihat Grace. Langkahnya terhenti.

Mata Norman terpaku pada Grace.

"Cantik sekali ..." gumam Norman tanpa sadar.

Mona yang berdiri tidak jauh darinya langsung melirik. Kemudian dia menyikut lengan Norman.

Norman tersentak. "Ada apa?"

Mona hanya mengangkat alis.

Norman mengikuti arah pandangannya. Barulah dia sadar bahwa dirinya terlalu lama memperhatikan Grace. Norman kemudian berjalan mendekati istrinya.

"Ayo, Sayang."

Grace menoleh. Dia memberikan senyum kecil kepada Norman. Mereka pun berjalan masuk ke dalam hotel.

Tak lama kemudian, para tamu lainnya juga mulai mengikuti.

Lima belas menit kemudian, pesta ulang tahun Allison resmi dimulai.

Acara diawali dengan sambutan dari pembawa acara.

Beberapa orang memberikan ucapan selamat kepada Allison. Setelah itu, lampu ballroom sedikit diredupkan. Kue ulang tahun besar dibawa ke tengah ruangan. Semua tamu berkumpul.

"Selamat ulang tahun, Nyonya Allison!"

Allison tersenyum sambil berdiri di depan kue. Lilin-lilin yang menyala di atas kue membuat suasana semakin meriah.

Setelah semua orang menyanyikan lagu ulang tahun, Allison memejamkan mata dan membuat permohonan sebelum meniup lilin. Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan dan percakapan santai.

Para tamu mulai menempati meja masing-masing. Salah satu meja bundar berukuran besar diisi oleh beberapa orang yang cukup berpengaruh.

Grace duduk di samping Norman. Mona duduk di sisi lain Norman. Allison juga berada di meja yang sama bersama Ruby.

Edmund duduk tidak jauh dari Allison, sementara Julian Sinclair berada di sisi meja lainnya. Beberapa sosialita yang dikenal dekat dengan keluarga Turner juga ikut bergabung.

Salah satunya adalah Nyonya Vivian Montgomery, seorang sosialita yang sudah cukup lama berada dalam lingkaran pergaulan keluarga Turner. Di sampingnya duduk Nyonya Helena Crawford.

Percakapan ringan mulai terdengar.

Grace sesekali ikut menanggapi pembicaraan.

Namun, tidak lama kemudian, suara kedua wanita itu terdengar dari seberang meja.

Mereka berbicara dengan suara pelan, tetapi masih cukup terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka.

"Kenapa wanita itu ada di sini?" bisik Vivian sambil melirik ke arah seseorang.

Helena ikut menoleh. "Siapa?"

"Itu."

Helena memperhatikan wanita yang dimaksud.

"Ah ..."

Vivian menggeleng pelan lalu tersenyum sinis."Apa dia tidak punya muka malu?"

Helena terkekeh kecil. "Ya, namanya juga orang yang berselingkuh. Pasti tidak punya muka malu."

Mona yang sedang memegang gelas tiba-tiba terdiam. Dia melirik Norman sekilas. Ekspresinya sedikit berubah.

Ucapan kedua wanita itu jelas terdengar seperti sindiran. Mona mengalihkan pandangan dan kembali memainkan gelas di tangannya, berusaha seolah tidak mendengar apa pun.

Sementara itu, Grace mulai penasaran.

Siapa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan?

Grace mengikuti arah pandangan kedua wanita tersebut.

Dan saat itulah matanya berhenti pada seorang wanita yang sedang berjalan mendekati meja mereka.

Grace terdiam. Wanita itu tampak lebih tua darinya. Wajahnya terlihat dewasa dan tenang, tetapi Grace langsung mengenali tatapan matanya.

'Eva?'

Selama ini, setiap kali bertemu dengannya, Eva hampir selalu mengenakan topi.

Dulu Grace sempat berpikir Eva sengaja mengenakan topi untuk menutupi rambutnya.

Namun, malam ini tidak ada topi yang menutupi kepalanya. Barulah Grace bisa melihat dengan jelas bahwa rambut wanita itu memang pendek.

Grace menatapnya beberapa saat.Tidak mungkin dia salah mengenali wanita itu.

Itu Eva.

Informan yang selama ini memberinya informasi. Sosok yang diam-diam selalu dia anggap seperti kakaknya. Namun, malam ini Eva datang bukan sebagai Eva.

Bagi orang-orang di ruangan ini, dia adalah Mia Fallen. Putri dari Tuan Fallen pemilik Firma Fallen Investigation Agency.

"Apa dia pikir kita lupa dengan kejadian delapan tahun lalu masih sering dibicarakan?" Hellena kembali berbicara dengan nada sinis.

"Benar. Aku tidak menyangka dia berani muncul lagi di hadapan orang-orang seperti ini," timpal Vivian.

Grace tetap diam.

'Mia Fallen.'

Nama itu membuat Grace semakin yakin.Itu memang Eva. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat sekarang.

Selama ini, komunikasi mereka memang telah berhenti. Setelah informasi terakhir yang diberikan Eva, Grace tidak menyangka mereka akan bertemu lagi. Namun, tiba-tiba Grace teringat kalimat terakhir yang pernah diucapkan wanita itu kepadanya.

"Sampai jumpa lagi."

Saat itu, Grace mengira ucapan tersebut hanyalah kalimat perpisahan biasa.

Kini, semuanya terasa berbeda.

'Oh, jadi ini maksudmu ketika mengatakan sampai jumpa lagi.' batin Grace sejenak.

Grace baru memahami maksudnya. Eva memang sudah tahu bahwa mereka akan bertemu kembali. Dan pertemuan itu terjadi di tempat yang sama sekali tidak pernah Grace duga.

Grace segera mengendalikan ekspresinya.

Dia tidak ingin siapa pun di meja itu mengetahui bahwa dirinya mengenal Mia.

Wanita itu semakin mendekat.

Mia berhenti tepat di samping meja mereka.

"Selamat malam. Maaf mengganggu waktunya."

Semua orang di meja menoleh sambil melempar senyum palsu, kecuali Grace.

Mia tersenyum kepada Allison. "Selamat ulang tahun, Nyonya Allison. Ini hadiah untukmu."

Dia menyerahkan sebuah kotak hadiah kepada Allison.

"Terima kasih, Nyonya Mia," jawab Allison.

"Sama-sama."

Mia kemudian menoleh kepada Grace.

"Selamat malam, Nona Grace."

Grace sedikit terdiam. "Selamat malam."

Mia tersenyum tipis.

"Aku juga ingin menyampaikan permintaan maaf dari papaku karena beliau tidak bisa hadir malam ini."

Allison mengangguk.

"Oh, tidak apa-apa. Sampaikan salamku kepada Tuan Fallen."

"Tentu."

Mia kemudian melirik kursi kosong di meja tersebut.

"Bolehkah aku duduk di sini?"

"Tentu, silakan," jawab Allison.

Mia menarik kursi lalu duduk.

Grace memperhatikannya dalam diam.

Tatapan mereka bertemu. Kali ini, senyum tipis muncul di sudut bibir Mia.

Grace membalasnya dengan senyum yang sama. Namun, keduanya sama-sama tahu bahwa pertemuan ini bukanlah kebetulan.

Obrolan kecil pun kembali berlanjut. Namun, kali ini dengan suasan yang terasa canggung.

"Nona Grace ternyata Anda kalau dilihat langsung Anda sangat cantik," kata Mia seketika

"Terima kasih." Grace menanggapi dengan sebuah senyuman tipis.

"Kau pria beruntung Tuan Norman," lanjut Mia kembali sambil melirik ke arah Norman.

Norman pun membalas sambil tersenyum lebar,"Tentu, istriku ini paling cantik di ruangan ini."

Mona yang mendengar hal itu, hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja.

"Ya, bagus kalau Anda sadar Tuan Norman. Aku harap Tuan setia dengan istri Anda, karena kalau Anda menduakan Nona Grace, maka Anda benar-benar pria yang bodoh," kata Mia sambil mengeluarkan tawa pelan.

Norman tertawa hambar. Semua orang yang di meja tersebut, saling lempar pandang sambil tersenyum kecil.

"Bicara soal setia, memangnya kau setia Nyonya Mia? Jangan kau pikir, kami akan melupakan kejadian delapan tahun lalu." Vivian tiba-tiba menimpali dengan alis mata sebelah kiri sedikit terangkat.

Dengan pelan Mia menolehkan mata ke arah Vivian. Senyuman masih terlihat jelas. "Astaga, aku tidak menyadari kalau ada Nyonya Vivian di sini."

Vivian hanya memutar mata malas ke atas.

Melihat ekspresi Vivian, senyum Mia langsung memudar.

"Apa kau punya bukti aku berselingkuh?"

Vivian mendadak diam, hanya melirik ke arah Helena.

"Sepertinya kau termakan informasi sampah. Anda harus tahu satu hal, aku tidak pernah berselingkuh. Mantan um maksudku laki-laki bajingan itu lah berselingkuh dariku. Dia lah yang memutar balikkan fakta."

Mia dengan berkata dengan nada tenang. Namun, entah mengapa sorot matanya menusuk sang lawan bicara.

Vivian yang tadinya terlihat angkuh, kini tampak salah tingkah. Dia dan Helena hanya bisa saling sikut menyikut.

Suasana di meja pun kian tak nyaman.

"Kasihan sekali, Nyonya Mia, kau baik-baik saja, 'kan?" Demi mengurangi rasa canggung yang menggantung di udara, Grace segera membuka suara.

Mia menoleh lalu mengulum senyum. "Setelah membuat selingkuhan mantan suamiku menderita, aku merasa sangat baik Nona Grace," katanya diakhiri tawa rendah sambil mengedarkan pandangan di sekitar.

Kumpulan manusia di meja terpaksa tertawa kecil.

Mona yang mendengar tersenyum kecut dan sesekali melirik ke arah Norman.

"Jadi, Nona Grace, apa yang akan Anda lakukan jika Norman mengkhianati Anda?" Mia melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat kumpulan manusia di meja tampak penasaran juga.

Grace tak segera menjawab, menggerakkan kepalanya ke samping lalu menyentuh telapak tangan Norman di meja dengan lembut.

"Aku sudah pernah mengatakan hal ini dengan suamiku, Nyonya Mia. Jika dia berselingkuh aku akan membunuhnya," kata Grace sambil tersenyum lebar pada Norman.

Norman menegang. Namun, memaksakan diri untuk tersenyum. Semua manusia di meja tak kalah terkejutnya kecuali Mia tampak menikmati pemanfangam

"Bukan hanya membunuhnya, aku akan memotong-motong tubuhnya menjadi beberapa bagian lalu memberi potongannya akan aku berikan pada anjing penjaga di rumahku," lanjut Grace.

Kening Norman mulai berkeringat dingin sekarang.

"Kau hanya membunuh Norman tidak selingkuhannya? Wah tidak asik." Mia menimpali lagi dengan bibir cemberut.

Grace melirik ke arah Mia tanpa melepaskan tangan Norman. "Tentu saja aku akan membunuh selingkuhan Norman. Bukan hanya selingkuhannya, jika ada orang yang mengetahui perselingkuhan suamiku. Aku akan melakukan hal yang sama, membunuh mereka satu persatu."

Mendengar hal itu, Mona, Allison dan Ruby saling lempar pandang sembari tersenyum kaku.

"Um maaf menimpali, tapi Nona Grace apa kau tidak takut di penjara?" Hellena tiba-tiba angkat bicara.

Hellena dan Vivian tidak mengetahui perselingkuhan Norman.

"Aku sama sekali tidak takut masuk penjara, asal aku puas melampiaskan kekecewaanku, lagipula tinggal di balik jeruji besi tidak buruk juga, aku bisa makan dan tidur tanpa harus berkerja," kata Grace.

Hellena hanya mengangguk samar-samar.

Grace tiba-tiba menoleh ke arah Norman. "Tapi aku percaya suamiku ini pria yang setia, Nyonya Mia. Kalau sampai dia mengingkari janjinya, kupastikan dia tidak akan melihat matahari besok pagi," lanjutnya sambil mengulas senyum.

"Hehe, Nona Grace lucu juga ya, lihatlah Tuan Norman jadi tegang itu," timpal Vivian.

Semua orang di meja terpaksa tertawa.

Mendengar hal itu, senyuman Norman makin kecut. "Iya, istriku ini memang lucu," katanya sambil melirik ke arah lain, melihat seseorang dari kejauhan.

"Sayang, aku permisi dulu, sepertinya ada seseorang yang mencariku."

Grace mengangguk.

Di kala kumpulan manusia di meja melanjutkan berbincang kecil. Norman tiba-tiba pamit dan berjalan cepat ke sisi lain.

Selepas kepergian Norman, Grace melirik ke arah Mia yang saat ini diajak Vivian dan Hellena berbicara.

"Nyonya Mia, aku minta maaf jika menyakiti perasaanmu tadi," kata Vivian.

"Iya, aku juga minta maaf, kami memang tidak punya bukti kau selingkuh dan mudah termakan oleh informasi yang beredar," timpal Hellena.

"Tak apa, aku juga minta atas ucapanku yang kasar tadi," balas Mia.

"Tapi aku tidak bohong kalau aku sudah membuat selingkuhan mantanku menderita," lanjutnya.

Vivian dan Hellena terbelalak. "Maksudmu kau tidak bercanda?"

Mia mengangguk sambil tersenyum jenaka. "Iya, aku menusuk selingkuhan mantan suamiku sampai dia mati," katanya sambil melirik Mona sekilas.

"Apa?" Hellena dan Vivian serempak terkejut.

"Saya permisi ke toilet dulu ya semua." Dan Mona merasa tak nyaman, tiba-tiba beranjak dan berjalan ke arah toilet.

Grace memandang kepergian Mona dengan menatap datar punggungnya.

"Sayang."

Grace terperanjat kala mendengar suara Norman di belakang. Secepat kilat dia menoleh ke belakang. Melihat Norman bersama seorang pria tinggi, besar.

"Iya?" Grace langsung bangkit lalu memperhatikan pria itu dengan seksama. Mata, bibir, hidung dan wajahnya terlihat sempurna. Tuxedo putih yang membalut tubuhnya membuatnya hampir seperti pangeran di negeri kahayangan.

"Perkenalkan ini Kevin Cloud, putra dari kolegaku yang berasal dari Indonesia." Norman mulai memperkenalkan.

"Tuan Kevin, aku undang untuk mengungkapkan siapa yang menerorku dan membuat rumah tangga kita hampir hancur kemarin sayang, dia seorang hacker."

1
Ma Em
Ayo Grace kalau kamu sdh mau bercerai dgn Norman lbh baik dipercepat saja TDK usah mikir yg lain lagi , lbh baik Grace segera bebas dari suami yg tukang selingkuh dan cari kebahagiaanmu Grace , semoga Grace cepat dapat pengganti nya Norman buaya buntung .
Susan Paulina
up lagi thor
Susan Paulina
iya kenapa di anaknya ya
Adinda
bukannya edmund kakek norman thor
mery harwati
Nah kan ngaku sendiri Mona pada Grace, sekalian bilang klo ada anak lahir dari rahimmu Mona, tapi jangan keceplosan kalo anak itu bukan anak kandung Norman 😜🤣
Oma Gavin
wkwkwk koplak yg Norman bilang ngga ada hubungan yg mona bilang saling mencintai 🤣🤣🤣
Dew666
Lanjuttttt
Ma Em
Grace sdh tuntaskan dan bongkar saja semua langsung bahwa Grace sdh tau tentang hubungan Norman dgn Mona , jgn ditunggu lagi lalu Grace berpisah dgn Norman .
mery harwati
Jangan² si Edmund ketua Turner juga tukang selingkuh 😜
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Adinda
mona selingkuhan hanry dan jacob🤣🤣🤣
Ma Em
Rekaman siapa itu punya Norman atau Alison yg sdh terpampang dilayar .
Ma Em
ayo cepatlah Grace hancurkan Norman dan selingkuhan nya .
Adinda
kevin jodohmu grace🤣🤣🤣
Ma Em
Semoga saja Kevin tdk membocorkan siapa yg telah meneror Norman dan tdk mengatakan nama Grace pada Norman .
Adinda
kevin berpihak pada grace biar mampus norman🤣
Ma Em
Ayo Mona kasih tau Grace bahwa kamu dan Norman punya hubungan bahkan sampai punya anak agar Grace gampang gugat cerai Norman .
mery harwati
Mona Mona tak sadar kalo kau dimanfaatkan Grace untuk membongkar kebusukan keluarga besar Turner 😜
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣
mery harwati
Curiga sama Julian Sinclair? Apakah Eva salah satu anak buah Sinclair yang dikirim untuk membantu Grace?
Ma Em
Itu kebenaran Norman dan keluarganya yg cuma pencitraan agar terlihat baik Dimata orang padahal kelakuan nya bejad semua dan sdh jelas Grace ketahui semuanya , Ayo Grace buat Norman dan keluarganya pusing dan stres
mery harwati
Penuh intrik & rahasia keluarga Turner 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!