NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siluet Bimbang dan Arah yang Ditemukan

​Dalam rentang kehidupan, manusia kerap dihadapkan pada persimpangan baik berupa pilihan ganda yang membingungkan maupun pilihan tunggal yang menuntut keberanian. Antara menuruti kata hati atau menunduk pada pertimbangan akal, setiap keputusan senantiasa membawa bobot risiko dan konsekuensinya masing-masing.

​Dilema itulah yang kini menyinggahi benak Aira. Usai merampungkan ujian praktik pada pekan lalu, ia dituntut kembali bergelut dengan persiapan Ujian Nasional awal bulan depan. Namun, bukan rimba soal ujian yang menyita kedamaian pikirannya belakangan ini, melainkan sebentuk kebingungan yang lebih mendasar ke mana ia harus melangkahkan kaki untuk melanjutkan pendidikan tingginya, serta jurusan apa yang sungguh-sungguh ingin ia geluti.

​Kondisi tersebut bertolak belakang dengan Zara, sahabatnya. Berbekal impian yang terpatri sejak lama, dipadu pencapaian akademis yang gemilang, Zara telah ditunjuk oleh wali kelas untuk mengikuti jalur beasiswa. Sahabatnya itu melangkah mantap menuju cita-cita lamanya yaitu jurusan kedokteran.

​"Aira! Aku mencarimu ke mana-mana sampai mengelilingi sekolah, ternyata kamu malah di bawah pohon mangga!" seru Zara dengan napas terengah-engah, memecah keheningan di area belakang sekolah.

​Aira yang duduk terpaku hanya menatap Zara dengan sepasang mata suram. Sejak jam istirahat bergulir, ia memang sengaja menyendiri di bawah rindangnya pohon mangga, berharap keheningan mampu menghadirkan secercah petunjuk atau ide.

​"Masih memikirkan soal kuliah? Mending kita mengobrol baik-baik. Lagipula, duduk terdiam di bawah pohon seperti ini belum tentu memberikan jawaban. Yang ada justru kamu bisa kena masalah kalau bolos pelajaran," tambah Zara prihatin.

​Mendengar teguran masuk akal dari sahabatnya, Aira akhirnya bergeming dan bangkit berdiri.

​"Aku sungguh tidak paham dengan jalan pikiranmu. Mencari petunjuk masa depan kok di bawah pohon mangga," gerutu Zara saat mereka mulai melangkah.

​"Sudahlah, Zara... Aku ini sedang mengalami kebingungan tingkat dewa," sahut Aira lesu, melangkah lemah menuju ruang kelas.

​Langkah Zara mendadak terhenti. Ia memutar tubuhnya dan menatap Aira lekat-lekat. "Ikut aku sekarang."

​Tanpa menunggu persetujuan, Zara menarik pergelangan tangan Aira. Aira hanya pasrah membiarkan tubuhnya diseret. Seminggu terakhir ini kepalanya terlampau penuh oleh keraguan, ditambah lagi pesan singkat yang ia kirimkan kepada Arkan sejak kemarin belum jua mendapat balasan.

​"Nah, supaya kamu tidak makin linglung, kemarin anak-anak OSIS menempelkan beberapa brosur universitas di mading. Kamu baca dulu baik-baik," ujar Zara seraya menghentikan langkah di depan papan informasi.

​Aira mendekat, mengamati lembaran-lembaran kertas penuh warna yang terpajang di mading. Matanya menelusuri deskripsi kampus satu per satu, sementara Zara sibuk merapikan letak kerudungnya di sebelah.

​"Bagaimana?" tanya Zara antusias.

​"Sepertinya aku ingin meminta brosurnya saja langsung ke pembina OSIS," gumam Aira.

​Zara mengangguk setuju. Namun, saat mereka baru berbalik hendak kembali ke kelas, sebuah tangan mendadak terulur dan merangkul bahu Aira dengan santai.

​"Hai, Aira!"

​"Bayu! Lepaskan tanganmu, berat!" seru Aira spontan berusaha mengibaskan tangan itu.

​Aira terkejut bukan main atas kelakuan ketua kelasnya itu. Bahkan dengan sengaja, Bayu mendorong bahu Zara yang berjalan di sisi Aira agar posisinya lebih leluasa untuk merangkul pundak sang gadis.

​"Bayu, kamu jangan kurang ajar, ya!" omel Zara dengan raut berang.

​"Kurang ajar dari mana? Ini cuma merangkul pundak teman," balas Bayu tanpa rasa dosa.

​"Kamu merangkul pundak Aira tanpa izin, itu sangat tidak sopan!" tegas Zara lagi.

​"Astaga, Zara, aku cuma memegang pundak Aira, bukan melakukan hal yang berlebihan!"

​Saat Zara dan Bayu berdebat sengit, Aira yang kepalanya makin berdenyut riuh memilih mengabaikan mereka berdua. Ia melanjutkan langkah menuju kelas, meninggalkan dua kawan sekelasnya yang masih saling melempar argumen di koridor.

​"Punya ketua kelas sungguh tidak ada sopan santunnya!" gerutu Zara seraya menyusul Aira.

​"Ya ampun, Zara, justru kamu yang tidak ada sopan-sopannya pada ketua kelas sendiri!" sahut Bayu tak mau kalah dari belakang.

𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋

​Lonceng kepulangan akhirnya berdentang nyaring. Diiringi langkah Zara, Aira memilih menyambangi ruangan pembina OSIS terlebih dahulu untuk meminta brosur cetak yang tadi sempat ia lihat di papan informasi.

​"Bagaimana, Pak? Apakah brosurnya masih ada?" tanya Aira penuh harap.

​Guru pembina OSIS menggeledah tumpukan kertas di mejanya sejenak sebelum menatap Aira prihatin. "Tinggal tersisa satu brosur universitas ini, Nak. Universitas yang lainnya sudah diambil oleh siswa-siswa yang datang lebih awal."

​Raut kecewa tak dapat disembunyikan dari wajah Aira saat menerima lembaran brosur terakhir itu. Padahal, ia berharap bisa membawa pulang beragam opsi dari berbagai perguruan tinggi sebagai bahan pertimbangan. Ia merutuki keterlambatannya sendiri.

​"Sebenarnya universitas ini sangat bagus. Banyak alumni SMA kita yang melanjutkan studi di sana," tutur sang pembina OSIS mencoba menghibur. "Namun, pada akhirnya semua kembali pada minat dan bakatmu sendiri. Memilih perguruan tinggi itu tidak sama dengan memilih SMA. Kamu harus memijakkan pilihan pada apa yang kamu inginkan, kenyamanan yang kamu cari, serta keahlian yang ingin kamu kembangkan di sana."

​Aira mengukir senyum tipis seraya mengangguk penuh hormat. Usai menyampaikan terima kasih, ia dan Zara melangkah keluar meninggalkan ruangan.

​"Harusnya aku meminta brosur itu sejak tadi. Ah, sial, aku terlambat!" keluh Aira muram.

​"Kamu mau mengumpulkan brosur sebanyak itu untuk apa, sih? Untuk koleksi?" tegur Zara halus.

​"Zara, kamu kan tahu aku sedang bingung menentukan jurusan dan kampus. Bagiku, lembaran petunjuk dari tiap universitas itu sangat berarti," balas Aira defensif.

​Zara mendadak menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuh menghadap Aira, lalu menyandarkan kedua tangannya di bahu sahabatnya itu dengan tatapan hangat.

​"Dengarkan aku, Aira. Akar masalah yang kamu hadapi saat ini bukan terletak pada seberapa banyak brosur kampus yang berhasil kamu kumpulkan. Percuma kamu memiliki setumpuk brosur jika kamu sendiri belum tahu apa yang sungguh-sungguh kamu inginkan dan bagaimana rencana masa depanmu."

​"Tapi setidaknya aku punya sedikit gambaran..." bisik Aira lirih.

​"Antara gambaran di atas kertas dan kenyataan itu sangat jauh berbeda," potong Zara lembut namun tegas. "Dunia perkuliahan itu bukan sekadar memilih jurusan populer atau kampus ternama, melainkan tentang panggilan hati kamu, pengalaman yang ingin kamu dapat, serta potensi diri yang ingin kamu kembangkan. Sekarang, sebaiknya kamu pulang, tenangkan pikiran, dan diskusikan ini baik-baik dengan Mamamu. Ujian Nasional sudah di depan mata, jangan biarkan fokusmu terpecah hanya karena merisaukan hal yang belum pasti."

​Usai menepuk pelan bahu Aira, Zara meminta izin untuk pulang lebih dahulu.

​Aira berdiri mematungi lembaran brosur di genggamannya. Berada di rumah dalam kondisi batin yang kalut dirasanya bukan pilihan bijak. Ia membutuhkan ruang netral untuk mengurai benang kusut di kepalanya. Kakinya kemudian melangkah menuju sebuah kafe langganan yang berjarak cukup jauh dari sekolah.

​Siang itu terik matahari menyengat. Biasanya Aira memanfaatkan jasa transportasi daring, namun kali ini ia memilih berjalan kaki, membiarkan peluh mengucur demi mengulur waktu. Di sepanjang trotoar, ia mengabaikan sapaan dan kelakar jenaka dari teman-teman prianya yang melintas mengendarai sepeda motor.

​"Woi, Aira! Seorang preman sekolah pulang jalan kaki? Lagi tidak dapat uang kompas, ya?" teriak salah satu teman seangkatannya sembari tertawa dari atas motor.

​Aira memilih tak acuh. Julukan preman sekolah yang disematkan padanya memang sudah menjadi hal lumrah. Pembawaannya yang cenderung tomboi dan ceplas-ceplos sering kali disalahartikan, padahal ia tak pernah sekalipun memalak siapa pun. Ia hanya dimintai bantuan oleh bendahara kelas untuk menagih uang kas dari siswa laki-laki yang membandel.

​Hampir sepuluh menit berlalu, tungkai kakinya mulai terasa pegal. Saat ia menyeberangi jalan menuju tempat tujuannya, langkahnya mendadak terhenti. Plang di depan kafe itu menunjukkan status tutup. Aira memejamkan mata erat-erat rasanya kemalangan sedang bersekutu melawannya hari ini.

​Ditiup rasa jengkel, ia menendang kerikil-kerikil kecil di tepi jalan. Sudah melangkah sedemikian jauh, tempat tujuannya justru tidak beroperasi. Saat ia berdiri ragu di bahu jalan, raungan klakson sepeda motor mendadak memecah lamunannya.

​Terkejut, Aira bergeser sedikit ke tepi trotoar dan memilih melanjutkan langkah tanpa arah. Namun, deru mesin dan bunyi klakson itu tak kunjung menjauh. Motor tersebut merayap perlahan tepat di belakangnya.

​Rasa cemas perlahan merayapi dada Aira. Sosok pengendara yang mengenakan jaket tebal, helm tertutup, serta masker itu tampak mencurigakan. Takut menjadi sasaran kejahatan, Aira mempercepat langkah kakinya. Namun, sepeda motor itu justru memotong jalur dan berhenti tepat di hadapannya, membuat Aira terperanjat hingga hampir berteriak.

​"Mau apa kamu?!" seru Aira refleks dengan nada tinggi, pasang kuda-kuda.

​Pengendara itu menghentikan mesin motornya, perlahan melepaskan helm dan menurunkan maskernya.

​"Dari tadi saya membunyikan klakson, kenapa kamu malah makin cepat berjalannya?"

​Mata Aira membelalak seketika. "Kak Arkan?!"

​Di hadapannya, Arkan tampil begitu kasual dengan balutan celana chino dan jaket hoodie. Tanpa atribut medisnya, pria berusia 26 tahun itu tampak berbelas tahun lebih muda, layaknya remaja belasan tahun.

​"Sedang apa kamu berjalan sendirian di sini? Kenapa tidak langsung pulang?" tanya Arkan heran.

​"Aira... Aira tadinya ingin ke kafe, tapi ternyata kafenya tutup," sahut Aira dengan nada suara yang perlahan memelan dan lesu.

​"Lalu sekarang mau ke mana? Berbahaya berjalan sendirian di bahu jalan seperti ini. Lebih baik kamu pulang."

​Bukannya menuruti imbauan itu, pertahanan batin Aira yang sudah rentan sejak pagi akhirnya runtuh total. Di hadapan Arkan, tangisnya pecah begitu saja. Arkan terperanjat hebat ia merasa tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, tetapi gadis di depannya justru menangis terisak-isak.

​Rasa bimbang akan masa depan, kelelahan fisik, serta teguran bertubi-tubi agar ia segera pulang membuat perasaan Aira membuncah tak tertampung.

​"Aira, tolong jangan menangis di sini. Saya hanya menyuruhmu pulang," ucap Arkan panik. Beberapa pengguna jalan yang melintas mulai menoleh curiga, mengira Arkan telah berbuat jahat pada gadis berseragam sekolah tersebut.

​"Enggak Kak Arkan, enggak Zara... Kalian sama saja! Terus-terusan menyuruh Aira pulang, padahal kalian tidak pernah mengerti bagaimana perasaan Aira!" isaknya makin kencang, persis seperti anak kecil yang dilarang membeli es krim favoritnya.

​Kepanikan Arkan mencapai puncak. Demi menghindari kesalahpahaman publik yang makin meluas, secara refleks Arkan mengulurkan jemarinya dan membekap pelan mulut Aira. Tepi mata Aira yang basah membelalak terkejut atas tindakan impulsif itu.

​"Jangan menangis di sini. Orang-orang bisa berpikir saya sedang berbuat jahat padamu," bisik Arkan tepat di depan wajahnya.

​Sambil tersengal menyesuaikan napas, Aira menyapu air matanya. Ia menatap Arkan dengan raut wajah yang masih memerah.

​"Kak Arkan sendiri... kenapa bisa ada di sini?" tanya Aira serak.

​"Saya kebetulan melintas dan melihat kamu berjalan sendirian seperti anak hilang. Makanya saya berhenti," terang Arkan menghela napas lega setelah melepaskan tangannya.

​"Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar anak hilang," gumam Aira muram.

​Arkan menatapnya dalam-dalam. "Kamu sedang ada masalah?"

​Aira mengangguk perlahan. Ia menyodorkan lembaran brosur yang sejak tadi diremasnya kepada Arkan.

​"Aira bingung harus melanjutkan kuliah di mana dan mengambil jurusan apa. Hari ini cuma dapat satu brosur dari sekolah. Niat hati ingin menenangkan diri di kafe, tapi tempatnya malah tutup. Hari ini Aira benar-benar sial," keluhnya beruntun dengan bibir melengkung ke bawah.

​Arkan menerima brosur tersebut, mengamatinya sejenak, lalu kembali menatap gadis yang kini menunduk lesu di hadapannya.

​"Lalu, sekarang kamu mau ke mana?"

​Aira menggeleng pelan, melempar pandangan hampa pada lalu lintas kendaraan yang berseliweran.

​Arkan menghela napas panjang, mengalah pada keadaan. "Ya sudah, naik ke motor saya sekarang."

​"Ke mana?"

​"Tidak usah banyak bertanya. Naik saja, saya tidak akan menculikmu."

​Aira menarik napas dalam-dalam, memutuskan untuk mengikutinya. Arkan membuka bagasi motor, mengeluarkan sebuah helm cadangan, dan menyerahkannya pada Aira.

​"Dokter Arkan membawa dua helm? Sekarang sedang menyambi jadi pengemudi ojek online, ya?" tuduh Aira spontan, sifat jahilnya mendadak kembali.

​Arkan menatapnya datar. "Mau naik, atau saya tinggal?"

​Khawatir ditinggalkan di tepi jalan, Aira bergegas naik ke pembonceng dengan posisi duduk menyamping. Ini merupakan kali pertama ia dibonceng mengendarai sepeda motor oleh Arkan, sebab biasanya pria itu selalu membawa kendaraan roda empatnya.

𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋

​Beberapa puluh menit membelah jalanan, sepeda motor Arkan berhenti di pelataran sebuah mall megah. Aira turun, lalu menyerahkan kembali helmnya kepada Arkan.

​"Kak Arkan kenapa mengajak Aira ke mall?" tanya Aira heran.

​Tanpa memberikan jawaban verbal, Arkan menyimpan helm dan melangkah masuk ke area mall. Aira bergegas menyusul dari belakang.

​"Kak Arkan kalau mau mengajak Aira ke sini harusnya bilang-bilang dulu. Aira kan masih pakai seragam sekolah, jadi tidak estetis," celoteh Aira lagi.

​Arkan tetap bergeming, menyusuri koridor mall dengan kedua tangan terbenam di saku jaketnya. Aira memanyunkan bibir, merasa idenya mengekor Arkan mungkin bukan keputusan yang tepat sebab pria itu tampak acuh tak acuh.

​Langkah Arkan mendadak terhenti di depan sebuah toko busana wanita ternama. Ia memutar tubuh menghadap Aira.

​"Sekarang, pilih pakaian yang kamu suka untuk berganti baju. Saya hanya tidak ingin kamu menangis lagi hanya karena seragam sekolahmu kotor atau berbau keringat hari ini," ujar Arkan tenang.

​Aira melotot tak terima. "Enak saja! Aira masih wangi, ya! Tapi... Kak Arkan serius membelikan baju di sini?"

​"Cepat pilih dan langsung ganti. Kita hanya punya waktu lima belas menit," potong Arkan dingin.

​Aira mengepalkan tangannya gemas, namun tetap melangkah mengitari rak-rak pakaian. Tak butuh waktu lama, pilihannya jatuh pada sehelai celana cargo dan kaus putih polos kombinasi yang amat pas dipadukan dengan jaket denim yang kebetulan dibawanya di dalam tas. Usai berganti pakaian di kamar ganti, Aira melangkah keluar dengan penampilan baru, sementara seragam sekolahnya telah tersimpan rapi.

​"Bagaimana, Kak?" tanya Aira seraya berputar kecil.

​"Sangat berbanding terbalik dengan gadis yang saya temui di tepi jalan tadi yang menangis persis balita," komentar Arkan datar, sebelum melangkah menuju kasir untuk melakukan pembayaran.

​"Segitu imutkah Aira sampai disamakan dengan balita?" goda Aira menepuk-nepuk pipinya yang chubby.

​"Jangan terlalu percaya diri. Sikapmu yang ceroboh itu yang mirip balita," pangkas Arkan dingin seraya menyematkan kembali kartu debitnya ke dalam dompet.

​Aira mengekor langkah Arkan tanpa tahu ke mana pria itu akan membawanya lagi. Langkah mereka baru terhenti saat Arkan berdiri di depan loket bioskop.

​"Kak Arkan serius mengajak Aira menonton?"

​"Kamu tidak mau? Kalau tidak mau, kamu bisa menunggu saya di luar sampai filmnya selesai," balas Arkan tanpa ekspresi.

​"Eh! Mau, mau!" sahut Aira cepat.

​Arkan langsung memesan dua tiket beserta satu ember popcorn dan minuman. Aira tak berani bertanya film apa yang dipilah Arkan, ia hanya pasrah mengekor masuk ke dalam ruang teater yang remang.

𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋

​Dua jam berlalu. Sejak tiga puluh menit pertama film bergenre action itu diputar, Aira sudah terlelap membentur sandaran kursi. Sebuah sentilan pelan di keningnya membuat gadis itu tersentak kaget. Ketika mengusap matanya, ia menyadari studio bioskop telah hampir kosong melompong.

​"Percuma saya membelikan dua tiket kalau kamu hanya menumpang tidur di sini," cetus Arkan sewot saat mereka berjalan keluar.

​"Ma-maaf, Kak... Aira tidak paham alur cerita film laga seperti itu," gumam Aira merasa bersalah.

​Arkan memandu langkah mereka menuju area food court untuk mengisi perut. Pria itu memesan semangkuk soto hangat, sementara Aira memilih semangkuk nasi goreng seafood. Seluruh hidangan tersebut tentu saja ditanggung oleh Arkan.

​Namun, ketika pesanan telah disajikan di atas meja, Aira tak kunjung menyentuh sendoknya. Ia justru mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan seraya menatap hampa ke permukaan meja.

​"Kenapa? Kamu tidak senang saya ajak jalan-jalan ke sini?" tanya Arkan membuka percakapan.

​Aira menghela napas panjang, menatap Arkan dengan raut muram. "Aira masih kepikiran... Aira bingung harus mengambil jurusan kuliah apa."

​Arkan meletakkan garpunya perlahan, lalu menatap gadis di hadapannya dengan raut serius. "Apa hal yang sungguh-sungguh kamu sukai?"

​"Kak Arkan," sahut Aira polos tanpa ragu.

​"Saya bertanya dengan serius, Aira. Apa kegemaran atau hal yang kamu minati?" tegur Arkan dengan intonasi dingin.

​Aira terdiam sejenak, menggali ingatan dan hasrat di dalam dadanya.

​"Aira sebenarnya suka menggambar dan melukis, tapi kemampuan Aira masih taraf pemula. Aira juga suka fotografi dan ingin mendalaminya. Tapi... menurut Aira itu semua cuma sebatas hobi, bukan panggilan cita-cita."

​Arkan mengamati ekspresi Aira beberapa saat sebelum kembali menyuap makanannya.

​"Dulu, sewaktu saya masih kecil, saya sangat ingin menjadi seorang polisi seperti om saya," tutur Arkan tiba-tiba, membuat Aira menatapnya tak berkedip. Ini kali pertama Arkan membuka kisah masa lalunya. "Saya melatih fisik dan disiplin sejak dini agar bisa lolos seleksi. Namun, seluruh tatanan itu berubah saat saya menduduki bangku SMA."

​Arkan menghentikan suapannya, pandangannya menerawang jauh.

​"Mama saya punya sakit dan mendadak drop hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Tak lama kemudian, beliau dinyatakan meninggal dunia. Saya sangat terpukul dan kehilangan arah."

​Aira menyimak dalam keheningan, mengamati air muka Arkan yang perlahan mengeras menahan gelombang emosi.

​"Saat itu, impian saya runtuh. Mama saya adalah sosok pendukung utama dalam hidup saya. Sampai akhirnya, seseorang membimbing saya untuk bangkit dan mengambil keputusan baru. Saya memilih jalan kedokteran. Saya ingin membantu orang-orang agar bisa pulih, agar tidak ada lagi tangis pilu keluarga yang harus kehilangan orang-orang tercinta seperti yang pernah saya rasakan."

​Ada kilat kedukaan yang pekat di mata Arkan luka masa lalu akibat kehilangan sang ibu, yang disusul oleh luka pengkhianatan dari mantan tunangannya di kemudian hari.

​"Saya menceritakan ini bukan untuk meminta rasa kasihan darimu," lanjut Arkan tenang. "Saya hanya ingin memberi tahu bahwa apa yang kita inginkan saat ini belum tentu merupakan hal terbaik untuk masa depan kita. Terkadang, takdir menghadirkan jalan tak terduga yang merombak seluruh tatanan hidup. Jangan mengambil keputusan hanya didasari rasa penasaran, melainkan karena kamu memiliki alasan yang kuat untuk memperjuangkannya."

​Aira mengamati wajah Arkan lekat-lekat. Senyum manis nan tulus perlahan terukir di bibirnya.

​"Kak Arkan... terima kasih, ya."

​Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa? Kamu sudah menemukan pilihanmu?"

​Aira menggeleng pelan, namun binar di matanya terpancar makin terang.

​"Aira memang belum menentukan kampus mana yang dituju, tapi hari ini Aira merasa mendapatkan sudut pandang baru. Terlebih karena Dokter Arkan mau berbagi kisah masa lalu dengan Aira. Aira yakin, Dokter Arkan jarang sekali bercerita hal personal seperti ini kepada orang lain. Terima kasih karena sudah memercayai Aira."

​Arkan tertegun sejenak. Ia tidak bisa menampik kebenaran ucapan gadis itu, memang tidak ada orang luar yang pernah mendengar kisah trauma masa lalunya secara langsung.

​"Oh ya! Sebenarnya Aira sudah punya satu pilihan jurusan sejak lama, tapi Aira sempat ragu. Setelah mendengar cerita Dokter Arkan, Aira jadi makin mantap!" seru Aira bersemangat.

​"Jurusan apa yang ingin kamu ambil?" tanya Arkan penasaran.

​Aira menyunggingkan senyum misterius. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan selembar catatan kecil dan brosur, lalu menggesernya ke hadapan Arkan.

​Arkan membaca tulisan di lembaran tersebut, lalu menatap Aira tak percaya. "Kamu yakin dengan pilihan ini?"

​Aira mengangguk mantap. "Sangat yakin! Tapi... Dokter Arkan jangan memberi tahu siapa-siapa dulu, ya! Aira mau mendiskusikannya dengan Mama terlebih dahulu."

​Arkan menyodorkan kembali kertas tersebut. Sungguh di luar dugaannya, ternyata gadis yang tampak urakan dan ceroboh ini telah menyimpan cita-cita yang begitu menyentuh sejak lama. Keraguan yang menggelayuti Aira sejak pagi mendadak lenyap, berganti dengan binar ketetapan hati.

𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋ 𓏲𓍢ִ໋

​Santapan di meja telah kandas. Mereka masih bertahan di kursi food court, menikmati hidangan penutup sembari mendiskusikan pilihan jurusan Aira.

​"Kenapa kamu memandang saya seperti itu?" tegur Arkan menyadari tatapan lekat Aira.

​"Aira cuma bingung. Es krim ini rasanya kurang manis, tapi begitu melihat wajah Dokter Arkan, rasanya langsung berubah jadi manis banget," goda Aira tanpa ragu.

​PUKK!!!

​Sebuah sentilan pelan mendarat di dahi Aira dari jemari Arkan. Aira meringis kecil sembari mengelus dahinya yang merona.

​"Kak Arkan! Kita belum menikah tapi sudah ada tindakan kekerasan! Ini pelanggaran hukum, nanti Aira laporkan ke polisi!" ocehnya seraya menyuap kembali es krim cokelatnya.

​Arkan menggeleng-gelengkan kepala. "Saya masih heran dengan jalan pikiranmu. Tapi... saya penasaran, kenapa kamu memilih jurusan itu?"

​Aira meletakkan sendok plastiknya, menatap Arkan dengan waja berseri-seri.

​"Sebenarnya, dari dulu Aira sangat ingin menjadi seorang guru atau konselor anak. Tapi impian itu tidak pernah Aira tekuni secara serius karena takut tidak mendapat persetujuan, terutama dari Bang Reyhan. Aira pernah mengutarakannya dulu, dan Bang Reyhan menolak keras."

​"Kenapa abangmu menolak?"

​"Katanya profesi itu tidak cocok dengan karakter dan kepribadian Aira yang liar ini. Bang Reyhan ingin Aira mengambil jurusan yang prospek kerjanya dinilai lebih menjamin. Dia bahkan menyarankan Aira masuk jurusan kedokteran atau tenaga kesehatan lainnya."

​Arkan terdiam sejenak, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu secara teratur.

​"Saya rasa pertimbangan Reyhan tidak sepenuhnya salah. Sebagai seorang kakak, dia hanya ingin memastikan masa depanmu terjamin. Namun pada akhirnya, pilihan hidup ada di tanganmu sendiri. Orang lain hanya bisa memberikan masukan, bukan menentukan jalan hidupmu."

​Aira mengangguk setuju. Ia tahu abangnya berniat baik, hanya saja cara pandang mereka berbeda.

​"Lantas, apa alasan utamamu memilih jurusan ini?" tanyakan Arkan lagi.

​Binar mata Aira makin terang saat menjawab, "Dari dulu Aira sangat menyukai anak-anak. Walaupun kelakuan Aira seperti ini, Aira tidak pernah tega menjahili atau berbuat kasar pada anak kecil. Menurut Aira, mereka itu makhluk yang sangat polos dan menggemaskan. Mungin karena Aira tidak punya adik, jadi Aira selalu bahagia jika berada di sekitar anak-anak."

​Aira menghentikan ucapannya sejenak. Pandangannya mengarah pada sebuah keluarga kecil di sudut food court ada sepasang suami istri yang tengah bersenda gurau dengan dua buah hati mereka yang berusia balita.

​"Aira ingin bisa mendampingi mereka, membagikan ilmu, menggambar bersama lalu menempelkan hasilnya di dinding kelas. Aira ingin mengajari mereka membaca dan berhitung dari nol, serta menyaksikan tumbuh kembang mereka dari dekat. Terlebih untuk anak-anak berkebutuhan khusus... Mereka sering kali dipandang sebelah mata hanya karena memiliki perbedaan, padahal itu bukan pilihan mereka saat dilahirkan. Aira ingin hadir untuk mereka. Bagi orang lain ini mungkin cita-cita yang biasa saja, tapi bagi Aira, ini adalah panggilan jiwa."

​Arkan menaikkan sebelah alisnya, menatap Aira dengan cara pandang yang sama sekali baru.

​"Saya tidak pernah menyangka gadis serampangan seperti kamu memiliki cita-cita mulia untuk menjadi seorang pendidik. Tapi... itu pilihan yang sangat bagus. Di zaman sekarang, jarang ada anak muda yang memiliki keteguhan niat seperti itu."

​"Jadi Kak Arkan mendukung pilihan Aira?" tanya Aira penuh pendar harapan.

​Sudut bibir Arkan terangkat sedikit, mengukir senyum tipis yang amat langka. "Saya hanya penasaran, bagaimana jadinya jika gadis ceroboh seperti kamu harus menangani anak-anak kecil kelak. Saya akan menunggu saat itu tiba."

​Mendengar dukungan tersebut, dada Aira meletupkan rasa bahagia yang membuncah. Dukungan singkat dari Arkan sudah lebih dari cukup untuk mengukuhkan langkahnya.

​"Karena Aira sangat suka anak-anak, nanti kalau kita sudah menikah, kita bikin anak yang banyak, ya! Supaya rumah kita ramai!" seru Aira polos tanpa beban.

​Mata Arkan membelalak kaget. Tanpa ba-bi-bu, ia menyambar selembar tisu meja dan melemparkannya tepat ke wajah Aira.

​"Tidak usah bicara sembarangan! Habiskan es krimmu, hari sudah makin malam dan saya harus segera ke rumah sakit."

​"Tahu begitu kenapa tadi mengajak Aira ke sini..." gumam Aira memanyunkan bibirnya, lalu kembali melahap es krimnya yang mulai meleleh.

​Bersambung__

_____

ini contoh stylenya yaa👍kalau punya pandangan sendiri tidak apa-apa✨

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!