Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
Areksa berdiri cukup lama di hadapan lemari yang berisi barang-barang mendiang Aruna.
Baju-baju istrinya masih tertata rapi. Beberapa tas dan sepatu juga masih tersimpan seperti ketika Aruna masih tinggal di rumah ini.
Tidak ada satu pun yang benar-benar ingin ia buang.
Beberapa waktu lalu, Soraya sempat menghubunginya. Ia mengetahui bahwa setelah menikah dengan Adira, mereka bahkan belum benar-benar menjalani kehidupan sebagai suami istri. Barang-barang Adira pun masih tersimpan di kamar yang berada di lantai bawah.
Soraya tidak pernah meminta Areksa melupakan Aruna begitu saja.
Tidak pula meminta semua barang peninggalan putrinya dimasukkan ke gudang.
Karena itu, Areksa memilih memindahkan sebagian besar pakaian dan barang Aruna ke ruang walk-in closet.
Di sana masih tersedia cukup banyak ruang penyimpanan. Dengan begitu, barang-barang Aruna tetap terawat, sementara barang-barang Adira perlahan mulai menempati kamar yang kini mereka gunakan bersama. Lagi pula, barang milik Adira tidak banyak.
Areksa mengusap salah satu pakaian Aruna yang masih terlipat rapi.
“Maafkan Mas, Aruna.” Suaranya lirih.
“Mas sudah menikah lagi dengan Adira. Itu tidak pernah ada dalam rencana Mas.”
Matanya mulai berkaca-kaca. “Mas masih menyayangi kamu. Sampai sekarang pun kenangan tentang kamu masih ada.”
Areksa menarik napas panjang. “Tapi jujur... perlahan, Adira mulai mengisi kekosongan di hati Mas.”
Kalimat itu terasa berat untuk diucapkan. Namun, Areksa berani mengakuinya.
Di belakangnya, Bik Tini yang sejak tadi membantu merapikan barang-barang Aruna mendekat.
“Tuan, maaf.”
Areksa segera mengusap sudut matanya. “Ada apa, Bik?”
“Ini ada beberapa barang pribadi milik Non Aruna. Saya simpan di mana ya?”
“Yang lainnya bagaimana?”
“Baju, sepatu, dan tas sudah saya rapikan, Tuan.”
“Baik. Terima kasih, Bik.”
Areksa menerima sebuah kotak kecil dari tangan Bik Tini.
“Untuk barang-barang pribadi Aruna, biar saya yang menyimpannya.”
“Iya, Tuan. Saya permisi.”
Bik Tini kemudian meninggalkan ruangan.
Areksa kembali menatap kotak yang berada di tangannya.
Perlahan ia membukanya.
Benda pertama yang menarik perhatiannya adalah beberapa foto polaroid.
Foto dirinya bersama Aruna.
Areksa mengambil salah satunya. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Kenangan-kenangan lama berputar kembali di kepalanya.
Beberapa tahun sebelumnya.
Areksa yang saat itu masih muda sedang mengendarai mobil ketika tanpa sengaja hampir menabrak seorang perempuan yang baru saja menyeberang sepulang kuliah.
Ia langsung menginjak rem.
Perempuan itu menatapnya kesal. “Gimana sih? Bawa kendaraan tapi nggak lihat kalau ada orang menyeberang.”
Areksa segera turun. “Maaf. Kamu luka?”
“Nggak.”
“Serius?”
“Iya.”
Areksa menghela napas lega. “Maaf ya. Saya tadi buru-buru.”
Perempuan itu masih memasang wajah kesal. “Besok-besok kalau naik kendaraan jangan ngebut. Bukan cuma kamu yang bisa celaka. Orang lain juga bisa kena.”
Areksa hanya mengangguk. “Iya. Saya janji lebih hati-hati.”
Pertemuan itu seharusnya selesai sampai di sana. Namun ternyata mereka kembali bertemu.
Ayah mereka ternyata merupakan rekan bisnis.
Sejak saat itu, Areksa dan Aruna mulai sering bertemu.
Awalnya hanya sebagai teman.
Sampai suatu hari, Areksa melihat sesuatu yang membuatnya membeku.
Aruna datang dengan jepitan rambut berbentuk mawar.
Di lehernya juga tergantung sebuah liontin kecil dengan bentuk yang sama, Mawar.
Areksa menatap kedua benda itu cukup lama. Ingatan tentang masa kecilnya tiba-tiba muncul begitu jelas.
Tentang seorang gadis kecil yang sangat menyukai mawar.
Gadis kecil yang pernah ia sukai sejak pertemuan pertama mereka.
Gadis kecil yang selama bertahun-tahun ia cari.
Dan dua benda itu bukan benda biasa.
Areksa mengenalinya. Ia sendiri yang pernah memesan sekaligus mendesainnya khusus untuk gadis kecil tersebut.
Jantungnya berdegup kencang.
“Aruna...”
“Iya?”
Areksa menatapnya penuh keyakinan. “Apa kamu my little girl?”
Aruna mengerutkan kening. “Maksudnya Kak Reksa apa?”
“Kamu pasti my little girl!”
Tanpa berpikir panjang, Areksa langsung memeluk Aruna. “Akhirnya aku menemukan kamu.”
Aruna yang tidak mengerti hanya berdiri kaku dalam pelukannya. “Kak Reksa...?”
Areksa melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar. “I'm your big boy. Kamu ingat kan?"
Aruna semakin tidak memahami perkataan pria itu.
Namun karena ia juga menyukai Areksa, ia memilih tidak memperdebatkannya.
Sejak hari itu, Areksa semakin yakin bahwa Aruna adalah gadis kecil yang selama ini ia cari.
Padahal ada satu hal yang tidak pernah ia ketahui.
Aruna sebenarnya tidak menyukai bunga mawar. Ia bahkan tidak terlalu menyukai bunga.
Namun karena ia menyukai Areksa, setiap kali pria itu membicarakan mawar, Aruna akan ikut tersenyum dan berpura-pura menyukainya.
Ia ingin memiliki kesukaan yang sama dengan pria yang dicintainya.
Tiga bulan setelah mereka kembali dekat, Areksa akhirnya menikahi Aruna.
Dalam pikirannya saat itu, semuanya terasa sederhana.
Ia telah menemukan my little girl. Dan Aruna adalah perempuan yang ingin ia cintai seumur hidup.
Areksa kembali tersadar.
Foto polaroid itu masih berada di tangannya.
Senyumnya perlahan menghilang. Ia kemudian melihat ke dalam kotak.
Di sana masih tersimpan jepitan rambut berbentuk mawar dan sebuah liontin kecil dengan bentuk yang sama.
Areksa mengambil keduanya. Tatapannya terpaku pada benda-benda tersebut.
Dulu, dua benda itu menjadi bukti yang membuatnya yakin bahwa Aruna adalah gadis kecil yang ia cari.
Tatapan Areksa kemudian beralih pada sebuah buku bersampul sederhana yang berada di dasar kotak.
Diary Aruna.
Areksa menatapnya cukup lama.
Selama Aruna masih hidup, ia tidak pernah sekalipun membuka buku itu. Aruna selalu membawanya ke mana pun, tetapi Areksa menghargai privasinya dan tidak pernah merasa perlu mengetahui apa yang ditulis istrinya.
Namun hari ini, entah mengapa tangannya tergerak mengambil buku tersebut.
Ia membukanya perlahan.
Satu halaman. Lalu halaman berikutnya.
Areksa membaca tulisan-tulisan Aruna dengan hati-hati. Ada cerita tentang kesehariannya, hal-hal kecil yang membuatnya bahagia, tentang pekerjaan, keluarga, dan juga kenangan-kenangan mereka.
Sesekali Areksa tersenyum kecil. Sesekali matanya terasa panas.
Ia terus membaca hingga sampai pada beberapa halaman terakhir.
Baru saja matanya hendak membaca tulisan di halaman berikutnya—
“Uwaa...” Tangisan Aretha terdengar dari kamar.
Areksa langsung menoleh. Ia menutup diary itu.
Untuk beberapa saat, pandangannya masih tertuju pada buku tersebut sebelum akhirnya ia memasukkannya kembali ke dalam kotak dan menutupnya dengan hati-hati.
Areksa segera menghampiri putrinya.
Aretha sudah terbangun dan mulai tengkurap di atas kasur. Kedua tangan kecilnya bergerak-gerak, seolah meminta seseorang mengangkatnya.
“Udah bangun ya?”
Begitu melihat ayahnya, tangisan Aretha justru semakin terdengar.
Areksa tersenyum. “Iya, iya. Sini sama Papa.”
Ia mengangkat Aretha ke dalam pelukannya.
Tangisan bayi itu perlahan mereda.
Areksa mengecup pipinya beberapa kali. “Ih, Aretha asem, ah.”
Aretha hanya menggeliat kecil.
“Waktunya mandi ya. Sebentar Papa panggilkan Mama Adira dulu.”
Areksa mendadak berhenti. Ia menatap Aretha.
“Mama?”
Beberapa detik ia hanya memandangi putrinya, seolah baru menyadari kata yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri.
Kemudian sudut bibirnya terangkat. Ia terkekeh kecil. “Papa barusan bilang Mama, ya?”
Aretha tentu saja tidak menjawab.
Namun entah kenapa, panggilan itu tidak lagi terasa asing di telinga Areksa.
“Mama Adira...” Ia mengulanginya pelan.
Lalu tersenyum sambil mengusap kepala putrinya. “Kayaknya Papa mulai terbiasa.”
***
“Tuan, saya tidur di kamar bawah saja.”
Areksa yang sedang berdiri di dekat lemari menoleh. “Tapi barang-barang kamu sudah ada di lemari kamar saya.”
“Tidak apa-apa. Saya masih punya beberapa baju di bawah.”
Areksa memperhatikannya beberapa detik. “Jadi... tidak kamu pindahkan semuanya?”
“Hah?” Adira tampak salah tingkah. “Hem... saya—”
“Kenapa, Adira?”
“Kamar saya dari awal memang di bawah, Tuan.”
“Lalu?” Areksa menaikkan alis. “Kamu mau melarang permintaan Mama?”
“Saya rasa Nyonya tidak akan keberatan.”
“Oh, ya?” Areksa tersenyum tipis. “Kalau begitu, biar saya tanya Mama dan Papa. Kalau mereka—”
“Oke.” Adira buru-buru memotong ucapannya.
“Saya tidur di kamar atas.”
“Bagus.”
“Tapi saya di sofa saja.”
Areksa menghela napas pendek, tetapi akhirnya mengangguk. “Boleh. Asalkan kamu berhenti memanggil saya Tuan.”
Adira menatapnya. “Tuan terlalu banyak permintaan.”
“Terserah kamu.”
“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa.”
Senyum di wajah Areksa perlahan menghilang. Ia menatap Adira dengan tatapan yang lebih serius.
“Saya suami kamu, Adira.”
Adira menundukkan pandangan sejenak sebelum kembali menatapnya. “Itu hanya keadaan, Tuan. Bukan karena kita sama-sama menginginkannya. Jadi... saya masih belum terbiasa menganggap Tuan sebagai suami saya.”
Kalimat itu membuat Areksa terdiam beberapa saat.
Ia tau Adira tidak sedang bermaksud menyakitinya. Perempuan itu hanya sedang berusaha menjaga batas yang membuatnya merasa aman.
“Baik,” akhirnya Areksa berkata. “Kalau begitu, saya tidak akan memaksa.”
Adira sedikit terkejut mendengarnya.
“Tapi suatu hari nanti,” lanjut Areksa, “saya berharap kamu bisa memanggil saya bukan karena terpaksa.”
Adira tidak menjawab.
Untuk saat ini, baginya, kata suami masih terasa terlalu asing untuk disematkan kepada Areksa.
Sementara bagi Areksa, mungkin pernikahan itu sudah mulai terasa lebih nyata daripada yang ingin ia akui.
***
Adira sudah bersiap untuk tidur di sofa.
Untungnya, sofa itu cukup panjang untuk tubuhnya. Ia bisa berbaring dengan nyaman tanpa harus menekuk kaki.
Berbeda dengan Areksa yang beberapa malam terakhir tidur di sana. Tubuhnya yang lebih tinggi membuat kedua kakinya selalu sedikit bergelantungan di ujung sofa.
Setiap kali melihat itu, Adira merasa tidak enak.
Sudah beberapa hari Areksa tidur di sofa hanya karena ingin memberinya ruang.
Adira baru saja menarik selimut ketika menyadari Areksa berdiri di depannya.
Ia mengangkat wajah. “Kenapa Tuan ke sini?”
Areksa tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada sofa yang sudah ditempati Adira.
“Kalau kamu tidur di sofa, saya juga.”
Adira mengerutkan kening. “Kalau begitu saya yang pindah.”
“Enggak perlu.”
“Kenapa begitu?”
Areksa mengambil bantalnya yang tadi ia letakkan di kursi. “Sudah, jangan berisik. Nanti Aretha bangun.”
Adira segera bangkit. “Tuan, lebih baik Tuan pindah ke kasur.”
“Kamu juga pindah.”
“Saya enggak mau.”
“Saya juga enggak mau.”
Adira menghela napas panjang. “Tuan...”
Areksa meletakkan bantal di ujung sofa. “Kita sudah beberapa hari seperti ini. Kamu selalu lebih dulu tidur di sofa, dan sekarang saya juga tidur di sofa.”
“Terus saya harus tidur di mana kalau Tuan di sini?”
“Ya seharusnya kamu di kasur.”
“Saya enggak mau.”
“Kenapa?”
Adira terdiam sebentar. “Karena saya belum nyaman.”
Areksa mengangguk pelan. Kali ini suaranya terdengar lebih tenang.
“Oke. Gimana caranya supaya kamu nyaman?”
“Ya... enggak seranjang dengan Tuan.”
Adira menarik napas. “Kalau bisa, saya tidur di kamar saya yang bawah.”
Areksa menatapnya beberapa saat. “Adira, kenapa kamu sungguh keras kepala sekali?”
“Karena Tuan juga terus memaksa saya.”
“Saya enggak memaksa.”
Areksa mengusap wajahnya sebentar. “Sudah dua minggu kita menikah dan kamu masih enggak nyaman berada satu kamar dengan saya?”
Adira menatapnya datar. “Ya, menurut Tuan aja.”
Jawaban itu membuat Areksa kehilangan kata-kata sejenak.
Ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah berniat membuat Adira merasa tertekan. Ia hanya ingin mereka perlahan terbiasa dengan status baru mereka.
Namun, sebelum sempat menjelaskan, Areksa teringat sesuatu. “Kamu tau? Mama yang selalu bawel soal kamu—”
“Oh.” Adira langsung menyela. “Jadi karena Nyonya Soraya?”
“Bukan begitu—”
“Baiklah.”
Adira mengambil napas panjang, lalu berjalan menuju ranjang. “Saya tidur di ranjang.”
Ia naik ke atas kasur dan menarik selimut. “Sudah puas, kan?”
Areksa menghela napas. “Adira, bukan begitu maksud saya.”
“Apa lagi?”
Adira membalikkan tubuhnya, membelakangi Areksa.
“Saya ngantuk.”
Areksa hanya bisa menatap punggungnya.
Ia tau percakapan mereka belum selesai.
Tapi malam itu, memaksakan penjelasan hanya akan membuat Adira semakin tidak nyaman.
Akhirnya, Areksa mengambil bantalnya dan kembali ke sofa. “Tidur saja.”
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰