Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Teh, sudah berapa lama nggak pulang ke kampung halaman?" tanya Rifki membuka obrolan.
"Sudah lama sekali, A. Kira-kira tujuh bulanan lah!" jawab Mia dengan suara agak keras, takut tak terdengar oleh bisingnya knalpot motor Rifki sendiri.
"Nggak kangen sama keluarga?!" Suara Rifki juga meninggi bersamaan dengan suara motornya yang mengaum.
"Kangen, A. Tapi gimana, mau pulang juga susah ngambil libur. Belum punya tabungan juga."
"Hm, iya juga, ya, Teh. Aku pun sama kayak Teteh. Pengen pulang ke Gedebage, tapi ya begitu... susah ngambil libur. Apalagi sekarang di OW lagi banyak banget produksi sekaligus pengiriman."
"Iya, A. Ditahan aja rasa kangennya sampai lebaran tiba," kekeh Mia.
Rifki terkekeh di balik helm-nya, sebelum menyahuti perkataan Mia dengan kata, "Iya."
Tak terasa, perjalanan mereka akhirnya sampai di kawasan industri tempat mereka mencari nafkah. Rifki memperlambat laju motornya sebelum berhenti tepat di depan gerbang pabrik Lexa Garment. "Sudah sampai, Teh."
"Oh, iya." Mia sedikit tersentak, seolah baru tersadar dari lamunannya. Ia segera turun dari motor dengan hati-hati. Setelah berdiri tegak, Mia melepas helm biru muda yang sejak tadi dikenakannya. Ia menyerahkannya kepada Rifki. "Ini, A. Terima kasih banyak atas tumpangannya."
Rifki menerima helm tersebut sambil tersenyum. "Sama-sama, Teh. Nggak usah sungkan."
Mia mengangguk kecil. "Aku masuk dulu, ya, A. Takut keburu bel."
"Iya. Hati-hati, Teh."
Mia kembali mengangguk. "A Iki juga hati-hati." Setelah itu, Mia berbalik dan berjalan menuju gerbang pabrik. Langkahnya sedikit tergesa. Begitu melewati gerbang, ia sempat menoleh sebentar ke belakang. Rifki masih berada di atas motornya. Mata mereka bertemu. Mia memberikan senyum tipis sebelum akhirnya kembali melangkah masuk. Tak lama kemudian, sosoknya bercampur dengan para pekerja lain yang juga baru tiba.
Rifki masih diam di tempat. Pandangannya terus mengikuti langkah Mia. Ia baru tersadar setelah perempuan itu benar-benar menghilang di balik pintu masuk gedung. "Hm..." Rifki mengembuskan napas pelan.
Tangannya kemudian memutar gas. Motor kembali melaju meninggalkan gerbang pabrik LG menuju pabrik tempatnya bekerja yang berada tak jauh dari sana.
Sesampainya di pabrik, Rifki memarkirkan motornya di area yang sudah disediakan untuk para karyawan. Ia mematikan mesin, lalu turun dari kendaraan. Sebelum masuk, tanpa sadar ia kembali teringat pada Mia. "Semoga pekerjaan Teh Mia lancar," gumamnya lirih. Setelah itu, Rifki menggeleng kecil seperti menyadari sesuatu, terkekeh sendiri, kemudian berjalan masuk ke dalam pabrik.
"Mia tunggu!"
Langkah kaki Mia yang akan mencapai ambang pintu pabrik terhenti. Perempuan berkerudung itu menoleh ke belakangnya. Senyum canggung ia lemparkan sebelum menyapa perempuan berpakaian rapi yang barusan memanggilnya. "Ada apa, Bu Susan?"
Susan, HRD di Lexa Garment melangkah mendekati Mia. Berdeham pelan gadis berblazer hitam dan celana sewarna itu sebelum menjawab pertanyaan Mia. "Bisa ikut saya sebentar."
"Bisa, Bu." Walaupun heran, Mia tetap mengiyakan.
Susan mengajak Mia ke dekat musala. Mereka berdiri berhadapan.
"Ada apa ya, Bu?" Mia bertanya lagi. Agak was-was dia diajak berbicara empat mata oleh atasannya itu.
"Mm... saya cuma mau tanya, barusan kamu berangkat bareng sama Rifki OW ya?"
"Ohh..." Mia menelan ludah. "Iya, Bu." Ia mengangguk. Tak ingin ada salah paham, Mia segera menjelaskan tanpa diminta. "Tadi kan di jalan utama ada kecelakaan beruntun. Nah, kata tetangga kontrakan saya, A Jamal yang baru pulang kerja shift malam... jalan utama macet parah. Terus dia menyarankan ke saya untuk tidak naik angkot karena pasti bakal kesiangan sampai di pabriknya. Kebetulan A Iki belum berangkat, jadi dia mengajak saya berangkat bersama. Karena sudah siang, ya saya mengiyakan. Begitu, Bu."
Bibir Susan membulat. Matanya berkedip dua kali. "Tapi kamu nggak ada hubungan apa pun sama Rifki, kan?"
Mia menggelengkan kepala cepat. "Tidak, Bu. Saya dan A Iki hanya kenal biasa. Sebatas tetangga kontrakan."
"Syukurlah," gumam Susan. Wajahnya nampak lega.
"Iya, Bu."
Senyum Susan mengembang menghiasi giginya yang dibehel. "Maaf ya, kalau saya tanya-tanya."
Mia tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Bu."
"Ya sudah, kamu boleh masuk," titah Susan mempersilakan.
"Iya, Bu. Permisi." Mia undur diri, kemudian berlari masuk ke pabrik. "Huh! Sepertinya Bu Susan suka sama A Iki. Aduh, aku jadi nggak enak hati. Nggak lagi-lagi deh ikut nebeng sama A Iki," monolog Mia mempercepat langkah.
_______
Sambil mengunyah nasi dan ayam goreng, Edo berbalas pesan dengan Salma. Sesekali lelaki itu memperlihatkan layar ponselnya kepada Ohang yang duduk di sebelahnya.
"Anjir, si Salma beneran kelepek-kelepek sama lo, Do. Ngebet banget nih janda pengen ketemuan." Cekikikan Ohang di akhir ucapannya.
"Iya, Hang. Kayaknya dia udah gatel deh. Pengen digaruk sama tongkat gue yang keras ini," bisik Edo seraya terkekeh.
"Haha... jangan buang-buang waktu, Do. Buruan jawab iya, aja," desak Ohang mengusulkan.
"Iya, Hang. Iya. Ini gue juga mau jawab iya." Edo menggerakkan jarinya di layar Iphone 5S kebanggaannya. "Tuh udah!" Ia kembali menunjukan layar ponselnya pada Ohang.
"Sip!" Ohang mengangkat jempol. "Kalau bisa, nanti malam lo langsung aja bujuk si Salma supaya mau anu sama lo," bisiknya.
"Iya, Hang. Oke. Tapi tergantung situasi juga. Gue takut digrebek ah!" Edo bergidik menyudahi santap siangnya.
"Nggak akan, Do. Rumah si Salma, kan jauh dari rumah warga yang lain. Jadi bakal aman."
"Tapi kan ada anaknya, Hang."
"Anaknya kalau malam suka ngaji, Do. Pulangnya jam sembilanan," beritahu Ohang meyakinkan.
"Kok lo tahu sih?" Edo menukikkan alisnya.
"Ya tahu lah. Gue kan udah nyari informasi dari seseorang, hehe..."
"Ah, dasar lo. Ngebet banget ya, pengen balas dendam ke si janda."
"Ya ngebet lah, Do. Gue sakit hati banget sama dia. Makanya, gue berharap lo berhasil merekam video lo sama si Salma. Biar gue bisa mengancam dia dengan video itu dan membuat si Salma bertekuk lutut sama gue," ujar Ohang dengan berapi-api.
Edo mengangguk-anggukan kepalanya. "Oke, Hang. Tapi tambahin dong uang taruhannya. Jangan cuma sejuta doang," bujuknya.
"Itu mah gampang, Do. Yang penting lo berhasil dulu. Nanti gue bakal tambahin."
Bersorak heboh Edo. "Oke, Hang!" Lelaki itu pun kembali membalas pesan dari Salma.
Salma: Jam delapan ya, Do. Aku tunggu.
"Oke, Teteh cantik. Aku pasti datang." Bibir Edo menyeringai. "Pus, nanti malam kita masuk lubang baru lagi nih kayaknya," batinnya sumringah menatap ke tonjolan di balik celananya.
_______
"Lembur lagi, Mi." Neneng menepuk bahu Mia pelan.
"Iya, Teh. Alhamdulillah." Mia menyahut sumringah. "Untungnya Teteh juga lembur. Jadi aku ada teman, hehe..."
"Iya." Neneng menyengir. "Kita jajan yuk, ah. Laper nih."
Mia menggigit bibir. Ia juga lapar. Tapi teringat lagi uang di dompetnya tinggal sedikit. "Mm... aku-"
"Jangan banyak alasan!" sela Neneng dengan cepat. "Hayu!" Neneng menarik tangan Mia.
"Baiklah, Teh." Mia menyerah. "Tapi jangan ngajak jajan yang mahal-mahal ya, Teh. Uang bekalku tinggal seuprit." Menyengir Mia di akhir perkataannya.
"Iya. Kita jajan batagor aja," kata Neneng.
"Iya."
Kedua orang itu keluar dari pabrik untuk mengisi perut sebelum menjalani lembur.
Lain Mia, lain Edo. Lelaki itu kini tengah bersiap di kamar Ohang. Mematut dirinya di cermin sambil bergaya dengan Ohang yang menjadi penilainya. "Gimana, Hang? Penampilan gue udah keren belum?"
"Keren banget, Do!" Ohang mengangkat kedua jempolnya.
Dua lelaki itu tertawa bersama. Di tengah keseruan itu, ponsel Edo yang disimpan di atas bantal berbunyi. Edo menoleh, "Aduh, mama gue nelepon, Hang. Pasti dia mau nagih duit yang tadi gue janjikan."
"Angkat aja, Do. Bilang aja bentar lagi lo bakal transfer. Biar gue yang transfer ke ibu lo. Itung-itung uang muka lah."
Senyum Edo mengembang. "Makasih, sobat. Lo emang paling bisa diandalkan."
"Sip!"
Edo mengangkat panggilan itu, dan mengatakan persis seperti yang diucapkan Ohang.
Baru saja ia menurunkan ponsel dari telinga, benda pipih itu kembali berbunyi. Edo sedikit membeliakan mata. "Salma nelepon, Hang," katanya memberitahu.
Ohang yang tengah rebahan sontak bangun. "Angkat, Do. Loudspeaker!"
"Oke!" Edo mengangkat panggilan itu dan menyapa Salma. "Halo, Teteh cantik?"
Suara Salma mengalun lembut. "Edo, ketemuannya sekarang aja, yuk. Teteh udah di rumah nih. Kamu jangan bawa motor. Naik ojek saja. Nanti ongkosnya Teteh ganti. Mumpung anak Teteh lagi nginep di rumah neneknya."
Tanpa membuang waktu dan berbasa-basi, Edo segera menjawab, "Siap, Teh. Aku ke sana sekarang."
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪