Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 : PERHATIAN YANG MEMBUAT LAURA CANGGUNG
Mobil yang membawa Laura akhirnya berhenti di halaman rumah singgah milik Hero. Setelah mesin mobil dimatikan, Hero segera turun dan berjalan menuju sisi Laura. dia membuka pintu untuknya, lalu mengulurkan tangan.
“Pelan-pelan. Kepalamu masih terluka,” ujar Hero sambil memperhatikan Laura yang hendak turun.
Laura menerima tangan itu dan turun dari mobil. Ia kemudian tersenyum kecil melihat Hero yang terus mengkhawatirkannya. “Aku masih bisa berjalan sendiri, Hero. Lukanya juga tidak separah yang kamu pikirkan.”
“Aku tahu kamu bisa berjalan sendiri,” jawab Hero. “Tapi kamu baru saja terluka. Jadi untuk sementara, biarkan aku yang menjagamu.”
Laura hanya bisa menghela napas dia belum terbiasa mendapatkan perhatian sebanyak itu. Bahkan untuk luka kecil di kepalanya, Hero memperlakukannya seolah-olah Laura adalah seseorang yang sangat berharga.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan yang berada di ruang tengah langsung menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang, Tuan,” sapa salah seorang pelayan. Ketika melihat luka di kepala Laura, dia langsung menunjukkan wajah khawatir. “Nona Laura terluka?”
“Tidak terlalu parah,” jawab Hero sebelum Laura sempat menjawab. “Tolong siapkan kotak obat dan makanan untuknya.”
“Baik, Tuan.”
Hero kemudian membawa Laura menuju sofa. dia memastikan Laura duduk dengan nyaman sebelum mengambil tempat di sampingnya.
“Sekarang biar aku lihat lukanya,” kata Hero.
Laura sedikit terkejut. “Kamu sendiri yang mau mengobatinya?”
Hero membuka kotak obat yang diberikan pelayan. “Memangnya kenapa? Aku bisa melakukannya.”
“Aku hanya tidak menyangka kamu mau repot-repot mengobati lukaku sendiri,” jawab Laura sambil tersenyum tipis.
Hero mengambil kapas dan obat luka. “Kalau untukmu, aku tidak merasa sedang direpotkan.”
Laura terdiam mendengar jawaban itu membiarkan Hero membersihkan luka di kepalanya dengan hati-hati. Namun, ketika kapas menyentuh bagian yang terluka, Laura sedikit meringis.
Hero langsung menghentikan tangannya. “Sakit?”
“Sedikit. Tapi masih bisa ditahan,” jawab Laura.
“Kalau sakit, bilang. Jangan selalu mengatakan masih bisa ditahan.”
Laura menatap Hero beberapa saat. “Aku sudah terbiasa menahan rasa sakit.”
Mendengar itu, Hero terdiam. Tatapannya berubah serius sebelum kembali mengobati luka Laura dengan gerakan yang lebih lembut.
“Mulai sekarang jangan biasakan lagi,” ujar Hero. “Kalau kamu sakit, katakan. Kalau kamu sedih, katakan. Kalau ada sesuatu yang membuatmu takut, ceritakan kepadaku. Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian lagi.”
Laura menundukkan wajahnya. Ada sesuatu dari perkataan Hero yang membuat dadanya terasa hangat.
Setelah selesai mengobati luka tersebut, Hero menyimpan kembali kotak obat. Tidak lama kemudian, pelayan datang membawa makanan dan meletakkannya di atas meja.
“Makan dulu,” ujar Hero sambil mendorong piring itu mendekati Laura.
Laura melihat makanan tersebut, lalu menatap Hero. “Kamu tidak makan?”
“Nanti.” jawab hero.
“Kenapa nanti?” tanya Laura dengan bingung.
“Aku mau memastikan kamu makan dulu.”
Laura menggeleng kecil. “Kamu ini seperti orang tua saja. Aku bukan anak kecil yang harus diawasi ketika makan.”
Hero tertawa pelan. “Aku tahu kamu bukan anak kecil. Tapi aku tetap ingin memastikan kamu makan dengan baik.”
Laura akhirnya mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya. Hero masih duduk di hadapannya, membuat Laura beberapa kali melirik karena merasa terus diperhatikan.
“Kamu kenapa melihatku terus?” tanya Laura akhirnya.
Hero tidak mengalihkan pandangan. “Karena aku ingin memastikan kamu benar-benar makan.”
“Aku sudah makan.”
“Baru beberapa suap.”
Laura menghela napas. “Kamu memang tidak bisa berhenti mengkhawatirkanku, ya?”
“Tidak bisa,” jawab Hero sambil tersenyum tipis.
Laura terdiam dia kembali menatap makanannya karena merasa wajahnya mulai terasa hangat.
Hero yang menyadari hal itu justru terlihat semakin senang. “Kamu malu?”
“Tidak.”
“Wajahmu merah.”
Laura langsung mencari alasan. “Ruangan ini panas.”
Hero melirik pendingin ruangan yang menyala. “Padahal di sini cukup dingin.”
Laura menatapnya dengan kesal. “Sudahlah, jangan menggodaku.”
Hero tertawa kecil. “Baiklah. Makan saja.”
Laura kembali menyantap makanannya. Meskipun masih merasa canggung, tanpa disadarinya perhatian Hero perlahan membuat suasana terasa nyaman.
Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki dari arah pintu. Valen muncul sambil membawa sebuah map hitam di tangannya.
“Permisi, Tuan,” ujar Valen sambil mendekat. “Saya sudah menyelesaikan semua berkas yang Anda minta.”
Hero mengangguk dan menunjuk meja. “Taruh di sana.”
Valen meletakkan map tersebut di atas meja. Namun, sebelum beranjak, dia sempat memperhatikan Hero dan Laura. Senyum kecil muncul di wajahnya.
Hero langsung menyadarinya. “Kenapa?”
“Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya hanya merasa sedikit heran melihat Anda sekarang,” jawab Valen.
Hero mengangkat alis. “Heran dengan apa?”
Valen melirik Laura sebentar sebelum kembali menatap Hero. “Biasanya Anda sangat serius ketika bekerja. Tidak banyak orang yang berani mengganggu Anda. Tapi sekarang Anda justru duduk di sini hanya untuk memastikan Nona Laura makan.”
Laura yang mendengar perkataan itu ikut menatap Hero. “Memangnya kamu memang seserius itu kalau sedang bekerja?”
Valen hendak menjawab, tetapi Hero lebih dulu meliriknya.
“Valen.”
Valen menahan senyum. “Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat, Tuan.”
Laura terkekeh kecil. “Tidak apa-apa. Aku juga ingin tahu.”
Valen kemudian menjawab dengan santai, “Tuan Hero memang sangat serius kalau sedang bekerja. Beliau juga terkenal sulit didekati. Tapi sejak bertemu dengan Anda, Nona Laura, saya melihat beliau jauh lebih santai.”
Laura kembali menatap Hero. “Jadi kamu memang berubah kalau bersamaku?”
Hero menghela napas kecil. “Jangan terlalu mendengarkan Valen. Dia memang suka berbicara terlalu banyak.”
Valen tersenyum. “Kalau saya tidak mengatakannya, siapa yang akan memberitahu Nona Laura?”
Laura akhirnya tertawa kecil. Melihat itu, Hero hanya menggeleng, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat.
Setelah suasana kembali tenang, Hero mengambil map hitam yang dibawa Valen dia membuka beberapa dokumen dan memeriksanya sekilas.
“Bagaimana semuanya?” tanya Hero.
Valen langsung kembali serius. “Semuanya sudah selesai, Tuan. Dokumen yang berkaitan dengan Laura sudah lengkap. Tidak ada lagi masalah yang perlu dikhawatirkan dari pihak keluarga Prayoga.”
Laura yang mendengar hal itu langsung berhenti makan. “Jadi semuanya benar-benar sudah selesai?”
“Sudah,” jawab Valen sambil mengangguk. “Semua dokumen sudah diperiksa dan dipastikan lengkap.”
Laura menarik napas panjang. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya. Selama bertahun-tahun, dia merasa seperti tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Sekarang, untuk pertama kalinya, dia bisa menentukan kehidupannya tanpa harus terus bergantung kepada keluarganya.
Hero memperhatikan wajah Laura yang mulai tenang. “Mulai sekarang, kamu tidak perlu memikirkan mereka lagi. Fokus saja pada kuliah dan kehidupanmu sendiri. Untuk masalah lainnya, biarkan aku yang mengurus.”
Laura menatap Hero cukup lama. “Terima kasih. Aku benar-benar tidak tahu harus membalas semua yang sudah kamu lakukan untukku.”
“Kamu tidak perlu membalasnya,” jawab Hero. “Aku melakukan semua ini karena aku memang ingin.”
Laura tersenyum kecil. “Kamu selalu mengatakan itu.”
“Karena memang begitu.”
Percakapan mereka kembali terhenti ketika Valen melihat jam tangannya. dia kemudian berdeham pelan.
“Tuan, ada satu hal lagi.”
Hero menoleh. “Apa?”
“Pertemuan dengan beberapa pengusaha sudah dimulai. Mereka semua sudah menunggu kedatangan Anda.”
Hero melihat jam tangannya sendiri. dia menghela napas sebelum kembali melihat Laura.
“Sudah mulai?”
“Sudah beberapa menit yang lalu,” jawab Valen.
Hero kemudian menatap Laura. “Aku harus pergi sebentar. Ada beberapa pengusaha yang sudah menungguku.”
Laura mengangguk sambil tersenyum kecil. “Pergilah. Kalau mereka sudah menunggu, jangan membuat mereka menunggu lebih lama.”
Hero masih terlihat ragu. “Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkanmu sendirian setelah kejadian tadi.”
“Aku tidak sendirian,” jawab Laura sambil melihat beberapa pelayan yang masih berada di ruangan. “Ada mereka di sini. Aku juga hanya akan beristirahat, jadi kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku.”
Hero masih diam beberapa saat. dia kemudian memastikan perban di kepala Laura masih terpasang dengan baik.
“Kalau kepalamu kembali sakit, segera bilang kepada pelayan. Jangan ditahan,” ujar Hero. “Kalau ada sesuatu yang terjadi, langsung hubungi aku.”
Laura mengangguk. “Iya, aku mengerti. Kamu memang terlalu khawatir.”
“Memangnya salah kalau aku khawatir?” balas Hero sambil tersenyum tipis.
Laura terdiam sebentar sebelum menjawab, “Tidak salah. Aku hanya belum terbiasa mendapatkan perhatian seperti ini.”
Hero menatapnya lembut. “Kalau begitu, mulai sekarang kamu harus terbiasa.”
Laura hanya tersenyum kecil. “Kamu memang keras kepala.”
“Untuk urusan kamu, memang.”
Hero akhirnya berdiri dan merapikan jasnya. Valen yang sejak tadi menunggu di dekat pintu ikut bersiap.
“Aku pergi dulu,” ujar Hero. “Aku akan pulang secepat mungkin.”
Laura mengangguk. “Hati-hati. Aku akan menunggumu.”
Hero sempat terdiam mendengar jawaban itu. Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum dia berjalan menuju pintu bersama Valen. Namun, sebelum keluar, dia kembali menoleh kepada Laura.
“Laura.”
Laura mengangkat wajahnya. “Iya?”
“Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Jangan menunggu sampai aku pulang.”
Laura tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Hero. “Iya. Aku akan menghubungimu kalau memang ada sesuatu. Sekarang pergilah, Valen sudah menunggumu.”
Valen yang berdiri di dekat pintu akhirnya ikut berbicara. “Tuan, kalau Anda masih terus memperhatikan Nona Laura seperti itu, saya rasa pertemuannya akan selesai sebelum Anda sampai.”
Hero langsung menoleh kepadanya. “Valen.”
“Saya hanya mengingatkan, Tuan,” balas Valen santai sambil menahan senyum.
Laura yang mendengar percakapan mereka akhirnya tertawa kecil. Hero menggeleng melihatnya, tetapi ia juga tersenyum sebelum akhirnya keluar bersama Valen.
Pintu rumah kemudian tertutup.
Laura masih duduk di sofa sambil memandangi pintu tersebut. Untuk beberapa saat, dia tidak bergerak. Rumah yang biasanya terasa begitu luas dan sepi mendadak terasa berbeda setelah Hero pergi.
Laura menundukkan wajahnya sambil memainkan ujung bajunya. dia teringat bagaimana Hero mengobati lukanya, memaksanya makan, mengingatkannya untuk berhati-hati, bahkan berkali-kali memastikan dirinya baik-baik saja.
Dulu, Laura terbiasa mengurus semuanya seorang diri. Tidak ada yang menanyakan apakah dia sudah makan atau apakah dia sedang terluka. Tidak ada pula seseorang yang merasa khawatir ketika dia pergi.
Namun sekarang, ada seseorang yang bahkan sebelum meninggalkannya masih berulang kali mengingatkan agar Laura segera menghubunginya jika terjadi sesuatu.
Laura tersenyum kecil tanpa sadar.
“Kenapa aku mulai terbiasa dengan perhatianmu, Hero?” gumam Laura pelan.
dia sendiri tidak tahu sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh yang Laura tahu, kehadiran Hero perlahan membuat sesuatu yang selama ini kosong di dalam dirinya terasa mulai terisi.