Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Kedatangan yang Tidak Diundang dan Bukti yang Belum Lengkap
Reza tidak duduk. Dia berdiri di dekat perapian yang tidak menyala. “Kakek saya mengenali Aira. Dia bilang Aira adalah putri keluarga Hadi yang hilang bertahun-tahun. Ada wasiat... Aira hanya bisa menjadi pewaris jika menikah dengan saya.”
Keheningan yang mengikuti kalimat itu hampir mencekam. Raka berdiri perlahan. “Kamu serius?”
“Saya serius. Dokumen wasiat sudah dicek. Kakek saya tidak bercanda soal hal seperti ini.”
Keenan berhenti memeriksa, jari masih di pergelangan Aira. “Jadi perjodohan yang kamu benci… ternyata adalah dia?”
Reza mengangguk sekali. Aira menatap lantai kayu. “Saya tidak ingat apa-apa soal keluarga Hadi. Tidak ada wajah, nama, atau rumah. Tiba-tiba saya disuruh percaya bahwa saya putri orang kaya yang hilang, dan cara saya mendapatkan kembali apa yang seharusnya milik saya adalah dengan menikahi Reza.”
Raka mengusap wajah dengan kedua tangan. “Ini gila.”
“Lebih gila lagi,” lanjut Aira, “uang yang kamu transfer kemarin. Jumlahnya terlalu besar. Saya tidak tahu harus berbuat apa dengannya.”
Raka mengerutkan kening. “Itu hadiah balapan. Saya bilang untukmu. Pakailah.”
“Saya tidak terbiasa punya sebanyak itu tanpa menghitung hari.” Aira mengangkat wajah. “Dan sekarang ada warisan yang bahkan lebih besar, dengan syarat pernikahan. Saya merasa seperti ditawar.”
Keenan menarik kursi dan duduk. “Kamu tidak harus memutuskan apa pun sekarang. Tubuhmu belum pulih. Identitas baru ini… butuh bukti lebih dari sekadar wasiat dan kata kakek.”
Reza mengangguk. “Saya sudah minta dokumen lengkap. Foto keluarga. Catatan hilangnya Aira Hadi. Kakek bilang akan dikirim hari ini.”
Raka berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang sempit. “Jadi selama ini kamu menyembunyikannya di sini karena perintah kakek, sementara kami hampir gila mencari.”
“Ya.”
“Dan kamu senang,” Raka berhenti tepat di depan Reza. “Karena tiba-tiba tunangan yang dipaksakan ternyata orang yang kamu sukai.”
Reza tidak mengelak. “Saya lega. Bukan hanya senang. Karena saya tidak perlu memilih antara keluarga dan dia.”
Aira menghela napas panjang. Nyeri di rusuknya naik sebentar. “Kalian bertiga berbicara seolah saya tidak ada di ruangan. Saya masih Aira yang sama. Yang bertarung di arena dan menghitung uang hanya untuk beli mi instan. Nama Hadi terasa seperti baju orang lain yang dipaksakan ke tubuh saya.”
Keenan menatapnya. “Kalau dokumen itu benar, kamu punya pilihan. Menerima warisan dan menikah, atau menolak dan tetap seperti sekarang. Tapi dengan uang dari Raka, kamu tidak akan langsung kelaparan.”
“Uang Raka adalah hutang,” kata Aira tegas. “Saya akan kembalikan pelan-pelan.”
Raka berlutut lagi di depannya. “Bukan hutang. Saya tidak pernah menganggapnya hutang.”
“Saya menganggapnya hutang. Itu bedanya.”
Reza berbicara pelan, “Kakek saya bilang keluarga Hadi sudah mencari Aira bertahun-tahun. Ada alasan kenapa dia disembunyikan. Alasan itu belum diceritakan lengkap karena saya datang lebih dulu.”
Aira menatapnya. “Kalau alasan itu berbahaya, saya ingin tahu sekarang. Bukan nanti.”
“Saya akan desak kakek.”
Raka berdiri, menyilangkan tangan. “Sementara itu, saya tidak akan pergi. Keenan juga. Kalau lokasi ini milik kakekmu, biarkan dia marah. Kami tetap di sini sampai Aira memutuskan sendiri.”
Reza menatap keduanya. “Kakek tidak akan suka.”
“Kakekmu sudah banyak mengatur,” balas Raka. “Sekarang giliran Aira.”
Aira memejamkan mata sebentar. Di balik kelopak matanya, angka rekening masih terbayang, bercampur dengan kata-kata wasiat dan wajah pria tua yang memanggil namanya seolah mengenalinya sejak lama.
“Saya ingin melihat foto itu,” katanya akhirnya. “Foto keluarga Hadi. Foto saya kecil kalau ada. Kalau wajahnya tidak mirip sama sekali, kita hentikan pembicaraan ini.”
Reza mengangguk. “Akan saya minta segera.”
Keenan membuka tas medis. “Sementara menunggu, saya cek luka lagi. Kamu pucat.”
Aira membiarkan Keenan membuka perban dengan gerakan hati-hati. Raka berdiri di dekat jendela, sesekali menatap gelap di luar. Reza mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan singkat ke nomor kakeknya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang canggung. Hanya bunyi gunting kecil Keenan saat memotong perban baru dan hembusan angin di antara pohon pinus. Aira menatap tangan Keenan yang bekerja. Jari-jari itu stabil, profesional, tapi sesekali menekan terlalu lama di kulit yang tidak cedera.
“Kamu khawatir,” kata Aira pelan.
Keenan tidak mengangkat wajah. “Dokter selalu khawatir pada pasien yang suka memaksakan diri.”
“Bukan hanya itu.”
Keenan akhirnya menatapnya. “Tidak. Bukan hanya itu.” Dia menutup perban dengan rapi. “Kamu membuat pekerjaan saya berantakan. Jadwal saya, fokus saya, bahkan cara saya memandang pasien lain. Semuanya berantakan sejak kamu masuk IGD malam itu.”
Raka yang mendengar dari dekat jendela hanya mendengus pelan. Reza tetap menatap layar ponsel, menunggu balasan yang belum datang.
Aira menggeser tubuhnya di kursi, mencoba mencari posisi yang tidak terlalu menekan rusuk. “Kalau dokumen itu datang dan wajahnya mirip… saya tetap tidak tahu harus berbuat apa. Menjadi Aira Hadi berarti saya punya masa lalu yang tidak saya ingat. Berarti ada orang yang memutuskan untuk menghapus saya dari keluarga itu. Atau menyembunyikan saya karena sesuatu yang lebih berbahaya dari organisasi yang sekarang memburu saya.”
Reza menyimpan ponsel. “Kakek bilang dokumen sedang dalam perjalanan. Satu jam lagi paling lambat.”
“Satu jam,” ulang Aira. “Dalam satu jam saya mungkin harus memutuskan apakah saya mau menjadi orang lain.”
Raka kembali mendekat, bersandar di tepi meja kayu. “Kamu tidak harus menjadi orang lain. Kamu bisa ambil uang warisan itu kalau memang milikmu, lalu pergi. Tanpa menikah atau nama besar.”
“Wasiatnya jelas,” kata Reza. “Hanya berlaku jika ada pernikahan.”
“Wasiat bisa digugat,” sahut Raka. “Saya punya pengacara.”
Aira menggeleng pelan. “Saya tidak mau berperang di pengadilan. Saya bahkan tidak mau berperang di arena lagi kalau bisa. Saya hanya ingin… tidak lapar. Dan tidak berhutang pada siapa pun.”
Keenan menutup tas medis. “Untuk saat ini, kamu tidak lapar. Uang Raka cukup untuk membuatmu tidak perlu memikirkan mi instan selama berbulan-bulan. Gunakan waktu itu untuk mencari tahu siapa dirimu sebenarnya. Bukan untuk memutuskan pernikahan.”
Aira menatap ketiga pria itu satu per satu. Raka yang masih marah tapi matanya khawatir. Keenan yang lelah tapi tidak mau pergi. Reza yang berdiri tegak seolah siap menahan apa pun yang datang, termasuk kemarahan kakeknya sendiri.
“Kalian bertiga merepotkan,” katanya akhirnya. “Tapi… terima kasih sudah datang.”
Raka tersenyum kecil untuk pertama kalinya sejak masuk. “Akhirnya bilang terima kasih tanpa menagih.”
“Jangan terbiasa. Besok saya tagih lagi.”
Di luar, di antara pohon yang semakin gelap karena awan, pria yang mengawasi menekan earpiece sekali lagi.
“Dokumen sedang dikirim ke rumah itu,” lapornya pelan. “Bos bilang tunggu sampai mereka melihat isinya. Setelah itu… kita ambil keputusan.”
Angin pinus berembus lebih kencang, membawa bau hujan yang belum jatuh. Di dalam rumah, Aira menatap pintu utama seolah menunggu sesuatu yang lebih besar dari sekadar dokumen.