NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:608.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

***

Di sudut lain kota Jakarta, di dalam menara kaca Hadiwinata Group yang masih benderang meski hari mulai gelap, seorang wanita muda bernama Vanya sedang berdiri di depan cermin toilet eksekutif. Ia merapikan rok span hitamnya yang sedikit di atas lutut, lalu memoleskan lipstik merah tipis yang membuatnya tampak elegan namun menggoda.

Vanya adalah sekretaris junior yang baru direkrut dua minggu lalu untuk membantu tugas-tugas administratif saat Aldi sedang sering ditugaskan keluar kantor. Ia cantik, penurut, dan memiliki aura profesional yang sempurna setidaknya itu yang dilihat Raditya. Namun di balik mata indahnya, ada ambisi yang merayap seperti ular.

Vanya melangkah masuk ke ruangan kerja Raditya yang kosong karena sang bos sedang meninjau divisi lain. Ia membawa setumpuk berkas, namun tujuannya bukan sekadar meletakkan kertas. Matanya melirik kursi kebesaran Raditya, lalu beralih ke meja jati yang tadi beberapa waktu yang lalu menjadi saksi bisu kemesraan Raditya dan Nadia.

Vanya tidak tahu apa yang terjadi siang itu, tapi ia bisa merasakan sisa aura hangat di ruangan itu yang membuatnya iri setengah mati.

Dengan gerakan cepat dan halus, ia mengeluarkan botol parfum kecil dari sakunya. Itu bukan parfum wanita. Itu adalah parfum pria dengan aroma musk dan sandalwood yang sangat mirip dengan favorit Raditya, namun dengan konsentrasi yang jauh lebih menyengat. Vanya menyemprotkannya ke arah kursi, meja, bahkan sedikit ke udara di sekitar meja kerja.

"Sedikit kenang-kenangan agar istrimu tahu, ada kehadiran lain di sini," bisiknya licik. Ia tahu Raditya adalah pria yang sangat sibuk dan jarang memperhatikan detail aroma ruangan jika ia sudah kelelahan.

**

Berbanding terbalik dengan suasana dingin di kantor, dapur Mansion Hadiwinata sore itu justru terasa sangat hidup. Nadia, dengan perut buncitnya yang menggemaskan, duduk dengan nyaman di kursi bar dapur. Ia mengenakan daster sutra longgar berwarna biru muda.

Di hadapannya, tiga orang asisten rumah tangga sedang sibuk dengan pekerjaan mereka ada yang mencuci buah berry impor, menata sayuran organik ke dalam kulkas, dan menyiapkan air infus. Namun, tangan mereka yang sibuk tidak menghalangi mulut mereka untuk bergerak.

"Terus ya Bu, katanya si Siti ART-nya komplek sebelah itu, majikannya ketahuan selingkuh sama guru les anaknya! Wah, geger satu komplek, Bu!" seru salah satu pelayan dengan semangat.

Nadia tertawa renyah, ia menyuapkan sebuah stroberi Jepang yang besar dan merah merona ke dalam mulutnya. Pipinya menggembung saat mengunyah, membuatnya tampak seperti kelinci yang sedang berpesta.

"Masa sih? Wah, itu mah gurunya yang nggak tahu diri atau majikannya yang emang gatal?" timpal Nadia santai. Jiwa Aurelia yang dulunya memang senang bersosialisasi membuatnya sangat mudah berbaur dengan para pelayan. Baginya, mereka adalah sumber informasi dan hiburan terbaik daripada jurnal kehamilan yang membosankan itu.

"Dua-duanya kayaknya, Bu! Makanya ya Bu, laki-laki modelan spek dewa kayak Pak Raditya itu harus dijaga ketat. Ibu jangan terlalu santai, di luar sana banyak ulat keket yang mau jadi kupu-kupu di hati Tuan," sahut Bi Sum sambil tersenyum menggoda.

Nadia mendengus lucu. "Ulat keket kayak Siska maksudnya? Tenang aja Bi, ulat kayak gitu mah sekali saya semprot baygon juga pingsan."

Para pelayan tertawa serentak. Suasana begitu hangat dan penuh tawa, hingga tiba-tiba... keheningan jatuh seketika. Para pelayan mendadak tegak, tangan mereka bergerak dua kali lebih cepat, dan kepala mereka tertunduk dalam.

Nadia tahu perubahan atmosfer ini. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma maskulin yang tajam dan sedikit aneh menyeruak masuk ke dapur.

"Mas Radit, udah pulang?" tanya Nadia sambil berusaha bangkit dari kursinya dengan sedikit kepayahan karena badannya terasa berat.

Raditya berdiri di ambang pintu dapur. Wajahnya datar, matanya menatap tajam ke arah kerumunan pelayan yang tadi asyik bergosip. "Apa yang kamu lakukan di sini, Nadia? Kenapa tidak istirahat di kamar?"

"Duduk, Mas. Lagi makan stroberi sambil dengerin berita komplek," jawab Nadia tanpa dosa.

Raditya mendekat, ia tidak suka melihat istrinya terlalu dekat dengan para pekerja karena ia ingin Nadia tetap dalam perlindungan dan privasi yang ketat. "Ck, ayo kembali ke kamar. Udara di sini terlalu banyak aroma bumbu, tidak baik untuk mualmu."

Raditya menarik lembut tangan Nadia. Sebelum Nadia menghilang di balik pintu dapur mengikuti tarikan suaminya, ia sempat menoleh ke arah para pelayan dan memasang wajah "minta tolong" yang sedih sekaligus lucu. Para pelayan hanya bisa memberikan kepalan tangan kecil di bawah meja sebagai tanda "semangat, Bu!" karena mereka tahu hanya Nadia yang bisa menjinakkan singa kaku itu.

**

Sesampainya di kamar, Raditya melepaskan tas kerjanya. Nadia, yang meski mengeluh lemas, tetap menjalankan tugasnya sebagai istri yang baru ia pelajari. Ia mendekat untuk membantu Raditya melepaskan jas mahalnya.

"Sini, biar aku yang bawa jasnya," ucap Nadia.

Namun, baru saja tangan Nadia meraih kerah jas Raditya, hidungnya mencium sesuatu. Bukan aroma maskulin Raditya yang biasanya menenangkan. Ada aroma musk yang sangat tajam, menusuk, dan terasa "asing" bercampur dengan aroma asli suaminya.

Ugh.

Wajah Nadia mendadak pucat. Perutnya bergejolak hebat. Rasa mual yang tadi sempat hilang karena stroberi, kini kembali menghantam dengan kekuatan dua kali lipat.

"Huekk!" Nadia menutup mulutnya dengan tangan, menjauhkan jas itu seolah-olah jas itu adalah tumpukan sampah medis.

Raditya terkejut. Ia segera menangkap bahu Nadia. "Nadia? Ada apa? Kamu mual lagi?"

"Mas... Mas ganti parfum?" tanya Nadia dengan suara sengau karena menutup hidung. "Baunya... baunya nggak enak banget! Bau kayak orang sengaja numpahin minyak wangi di ruangan tertutup. Mas habis dari mana sih?!"

Raditya mengerutkan keningnya, ia mengangkat lengannya sendiri dan mengendusnya. "Saya tidak ganti parfum. Masih yang biasa kamu suka."

"Nggak mungkin! Ini baunya tajam banget, bikin kepala pusing!" Nadia melangkah mundur, matanya mulai berair karena menahan mual. "Jangan dekat-dekat dulu! Jasnya... jasnya taruh di luar sekarang!"

Raditya tertegun. Ia merasa ada yang aneh. Seingatnya, ia tadi memang sempat lembur sebentar menyelesaikan berkas yang dibawa oleh Vanya, sekretaris barunya. Ia ingat Vanya sempat mondar-mandir di ruangannya, tapi ia tidak merasa ada yang salah.

"Tunggu, saya mandi sekarang," ucap Raditya dengan suara rendah. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kenapa aromanya bisa setajam itu sampai membuat Nadia bereaksi sekeras ini?

Nadia terduduk di pinggir ranjang, wajahnya cemberut dan penuh curiga. "Mas... tadi di kantor ada siapa aja? Aldi kan pergi ke Singapura hari ini?"

Raditya terhenti di depan pintu kamar mandi. Ia tidak ingin membuat Nadia khawatir, apalagi dengan kondisinya yang sensitif. "Ada beberapa staf administrasi. Dan... sekretaris pengganti Aldi untuk sementara."

Nadia menyipitkan mata. Jiwa "detektif" Aurelia langsung aktif. "Sekretaris pengganti? Siapa? Cowok atau cewek?"

Raditya berdeham, berusaha tetap tenang meski hatinya mulai was-was. "Perempuan. Namanya Vanya. Tapi dia hanya profesional, Nadia. Jangan berpikir macam-macam."

"Profesional ya..." gumam Nadia dengan nada sarkas. Ia menatap jas Raditya yang tergeletak di lantai. "Profesional tapi baunya nempel sampai ke rumah kayak gini? Mas... kayaknya aku perlu mampir ke kantor besok lagi. Kali ini, tanpa pemberitahuan."

Raditya menelan saliva. Ia tahu, jika Nadia sudah bicara seperti itu, maka "perang" baru akan segera dimulai. Sementara itu, di dalam kepalanya, Raditya mulai mencurigai Vanya.

Bagaimana mungkin parfumnya bisa menempel begitu kuat jika Vanya tidak sengaja melakukan sesuatu di ruangannya?

"Terserah kamu," sahut Raditya singkat sebelum masuk ke kamar mandi, mencoba menghilangkan aroma "ular" yang tanpa ia sadari telah menempel di tubuhnya.

Nadia mendengus pelan, tangannya mengelus perutnya. "Sabar ya nak, besok Mama mau cari tahu, ulat jenis apa lagi yang mau coba-coba masuk ke wilayah kita."

****

Bersambung

1
Noey Aprilia
Abs ni s tua bngka msti siap2 dpt hkuman....stlh khilangn gigi,mngkn khilangn tngan jg....yg pst ga bkln d bkin mati dlu sblm d siksa smp pts asa....
Ramayanti Karnasta
lanjuttt
falea sezi
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
lanjut mantap
Atun TuchiZhama
waduhhhhh 🤣🤣🤣🤣
baru ini koment guys 🤭🤭
ingat waktu ngelahirin anak² aku
Bundo yenti
mantap saya suka pemeran utamanya kaya gini!!!!
kiu kiu
memang benar...hormon ibu hamil itu sering berubah ubah.kadang sendu..kadang gembira..kadang pula meledak ledak...betul itu.si author belajar darimna sih...kok tahu...🤭🤭🤭
partini
jujurly ini kaya lagi konsultasi Ama dokter di rumah sakit
Noey Aprilia
Naahhh....gtu doongg....
kl mau damai sjhtera,trutin aja prntah sng ratu....lgian,cma bli martabak doang kn????🤣🤣🤣
yunita
lnjutttt
Soraya
mampir thor
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aldi bukannya lg diluar kota ato negeri? 🤔
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
koq siska udah nyampe duluan🤔
Noey Aprilia
Busyeettt....
yg puasa 2 bln....ga pduli dmna,yg pnting bs jenguk anknya.....🤭🤭🤭
Wardah Saiful
serruuuu neeh ,baru baca saya juga❤️💪
neng ade
hadir thor. seru banget awal ceritanya 😁
Umahnendy Alisia
🤣🤣🤣lanjut Rode kedua bumil
yunita
lnjutttt
Noey Aprilia
Spa sruh td mlm nantangin....skrng mlah d serang lg,mna d ruang tamu pula.....🤭🤭🤭
Ida Royana
saya sudah mules duluan 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!