NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Taksi yang ditumpangi Nisa dan Ojan berhenti di depan gang rumah Nisa. Gadis yang sudah berganti sepatu dengan miliknya sendiri itu, mengucap terimakasih pada driver lalu membuka pintu.

"Mbak."

Panggilan Ojan membuat Nisa yang hendak keluar, menoleh.

"Pertimbangkan lagi ya, Mbak." Ojan memasang wajah mengiba.

"Enggak. Aku gak mau sama berondong." Nisa keluar, lalu menutup pintu kembali.

Ojan membuka kaca mobil, menatap Nisa dari sana. "Mbak, Luna Maya dan Maxim beda 10 tahun loh, sementara kita cuma 1 tahun."

"Hampir 2 tahun." Nisa mengoreksi.

"1 tahun 8 bulan, Mbak. Bisalah."

"Enggak." Nisa balik badan lalu melenggang pergi tanpa perasaan.

Mendengar suara orang tertawa, Ojan langsung menatap spion tengah.

"Ditolak ya, Mas?" Driver tersebut menatap Ojan dari center mirror.

"Bukan ditolak, tapi belum diterima aja," elak Ojan.

"Emang beda ya?"

"Banget. Tunggu disini bentar ya, Pak." Ojan membuka pintu.

"Jangan lama-lama Mas, saya rugi nanti."

"Tenang, nanti saya kasih tips besar. Saya driver ojol, fahamlah." Ia keluar, lalu berlari mengejar Nisa. "Mbak!" Teriaknya di keheningan malam, membuat cicak di dinding yang mau menerkam nyamuk, langsung kaget.

Nisa yang menoleh, membuang nafas kasar melihat Ojan berlari ke arahnya. Mau ngapain lagi cowok itu? Benar-benar ya, pantang menyerah.

"Mbak, pertimbangkan lagi ya." Ojan mensejajari langkah Nisa, nafasnya sedikit ngos-ngosan.

"Sekali enggak ya enggak." Nisa terus berjalan. Gang sudah sepi, sekarang hampir pukul 11 malam. Hanya mereka berdua yang kelihatan masih terjaga.

"Mbak, Andika pratama sama Ussy langgeng sampai puluhan tahun loh, sampai punya anak banyak."

"Bukan urusanku."

"Mbak..." Ojan merengek.

"Aku gak suka cowok yang kekanak-kanakan."

Ojan melangkah cepat, menghadang jalan Nisa dengan berdiri tepat di hadapannya. "Mbak, tolong dipertimbangkan!" Ia bicara lantang dengan suara baritonnya. Sangat tegas dan lugas bahkan, mirip tentara tamtama yang melapor pada jendral. Tak pelak, Nisa langsung ketawa cekikikan.

"Ya sudah, aku pertimbangkan lagi."

"Yess!" Ojan berteriak sambil melompat, mirip bocil kegirangan yang menang game.

Cup

Mata Nisa melotot, Ojan mengecup bibirnya. "OJAN!" pekiknya.

"So, sorry Mbak, kelepasan. Kabuuurrr!" Ojan berlari kencang menuju taksi yang menunggunya di depan gang. Ia bernafas lega saat telah masuk dan menjatuhkan bobot tubuhnya di bangku belakang. Jemarinya menyentuh bibir sambil senyum-senyum sendiri.

"Gimana, Mas?" tanya driver taksi.

"Apanya?"

"Masih ditolak?"

"Gak lihat saya senyum-senyum? Ya diterimalah," ujarnya bangga.

"Ah, kok saya gak yakin."

Ojan melotot sambil berdecak kesal.

Sesampainya di kamar, Nisa langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Memijat pelan betis yang pegal sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan Ojan tiba-tiba melintas, ia tersenyum sambil sebelah tangan reflek menyentuh bibir. "Astaga!" Ia buru-buru mengenyahkan bayangan Ojan. Bisa-bisanya ia tiba-tiba memikirkan cowok itu. Cowok kurang ajar yang baru beberapa saat lalu menciumnya di gang.

...----------------...

Aroma nasi goreng menguar dari dapur saat Naina masuk kesana. Terlihat ibunya sedang sibuk di depan kompor, membuat nasi goreng untuk sarapan. Ia mengambil segelas air putih dari dispenser, meneguk pelan dengan mata melirik sang Ibu. Ia tidak tahu apa tadi malam, Nisa sudah sempat cerita soal dia dan Sandi atau belum.

"Nai, mau sarapan sekarang?"

Naina yang sedang melamun, kaget dan langsung tersedak.

Huk huk huk

Air sampai keluar dari hidungnya, sakit sekali.

"Kamu kenapa sih, ditanyain langsung keselek?"

"Eng, enggak, Bu." Setelah hidung dan tenggorokannya tak lagi sakit, Naina menghabiskan sisa air minumnya. Sepertinya ibunya belum tahu. Ia berjalan menuju wastafel, meletakkan gelas bekas minumnya disana.

"Langsung dicuci!" teriak Nisa yang baru masuk dapur. "Jangan biasakan jadi benalu, bisanya cuma merepotkan!"

"Kamu itu ngomong apa sih, Mbak?" Naina mendengus kesal. Ia biarkan saja gelasnya tergeletak, lalu beranjak dari depan wastafel. Namun langkahnya terhenti saat lengannya di cekal Nisa.

"Cuci!" Nisa mendelik tajam. "Kamu bukan ratu di rumah ini, jangan seenaknya. Kalau tak mau disebut benalu, jangan merepotkan, jangan apa-apa minta dibantu."

"Ish, lepas!" Naina menarik kasar tangannya. "Benalu?" Ia tersenyum sinis. "Eh Mbak, aku tiap bulan ngasih duit Ibu lebih banyak daripada kamu. Dua kali lipat bahkan. "Telunjuknya mendorong bahu Nisa. "Ya kalau kamu harus bantu Ibu masak dan cuci piring ya wajar, aku lebih banyak ngasih uang daripada kamu."

Bu Wiwik segera mematikan kompor saat situasi terasa semakin tegang. "Sudah, sudah, kalian ini apa-apaan sih? Sesama saudara jangan bertengkar!" Menarik lengan Naina sedikit menjauh dari Nisa. "Nanti biar Ibu aja yang cuci gelasnya, Nis," menatap Nisa, mengajak negosiasi.

"Ibu terlalu manjain dia." Nisa menunjuk wajah Naina. "Jangan merasa wah karena sekarang kamu bisa ngasih uang keluarga ini lebih banyak. Ingat Nai, kamu bisa jadi sarjana, bisa dapat kerja enak, itu karena aku. Aku yang bayar uang UKT kamu tiap semester."

"Astaga, pakai ngungkit-ngungkit." Naina tersenyum sinis, kedua lenganya dilipat di dada. "Jadi kamu gak ikhlas, Mbak?"

"Nis, gak baik kayak gitu." Bu Wiwik menasehati. "Sesama saudara saling bantu itu wajar. Jangan suka ungkit-ungkit, takutnya malah gak jadi pahala buat kamu. Sudahlah, toh Naina kuliah dengan baik, dia juga termasuk lulusan terbaik, sekarang dapat kerja enak, bisa bantu ekonomi keluarga. Gak sia-sia kok, kamu bantu biayain dia kuliah."

Nisa tersenyum kecut. "Aku juga gak akan ngungkit Bu, kalau dia itu tahu diri." Menatap Naina tajam.

"Sudahlah, masalah nyuci gelas atau piring, biar Ibu aja yang kerjain kalau kamu keberatan. Sudah ya." Bu Wiwik menepuk pelan lengan Nisa."Jangan masalah sepele dibesar-besarkan. Kalian hanya dua bersaudara, jangan sampai berantem. Sekarang mending kalian berdua sarapan." Ia mengambil dua buah piring di rak, mengisi Masing-masing nasi goreng lalu menyerahkan pada Nisa dan Naina. "Telur dadarnya ada di meja, kalian ambil sendiri-sendiri."

Nisa dan Naina, keduanya mengambil sepotong telur, bergantian, sambil saling melempar tatapan sengit.

"Oh iya, Nai. Apa nanti malam, pacar kamu jadi kesini?" tanya Bu Wiwik.

Ekspresi wajah Naina sedikit tegang, ia melirik Nisa yang duduk di kursi makan, menikmati nasi gorengnya. Di rumah mereka, meja makan terletak di dapur, satu ruangan.

"InsyaAllah jadi, Bu." Naina tak mau duduk semeja dengan Nisa, ia memutuskan untuk melangkah keluar, mau makan di depan TV saja.

"Ibu penasaran sekali dengan pacar kamu."

"Gak usah penasaran, Bu," celetuk Nisa. "Ibu udah kenal kok."

Langkah kaki Naina seketika terhenti, ia tampak gelisah.

"Sudah kenal? Siapa?" Bu Wiwik makin penasaran.

"Kamu atau aku Nai, yang harus ngasih tahu Ibu?" Nisa tersenyum getir, menunduk dan terus makan.

"Na, nanti Ibu juga tahu." Naina lanjut melangkah meninggalkan dapur.

"Siapa sih, Nis, Ibu penasaran?" Bu Wiwik mendekati Nisa yang duduk di kursi makan.

"Lihat saja nanti malam, Bu."

1
Mawar
eeeeh udsh tamat aja gk kerasa bacanya.
Kapten Rajo Devi
amjaaayyyy lebih MURAH.... ngena bgt
Threezia Purnama Dewi
menurut aku karya ka yutantia yg paling keren " Rahasia dibalik wajah innocent "
Sri Wulandari
senengnya punya mertua sebaik orangtuanya Ojan yg menganggap menantunya sprti anak sendiri smua serba d perhatiin serasa d manja hidup Nisa sm mertuanya.,..bahagia sllu Nisa tinggal d pondok mertua indah😍🤗🤗
Yani Suryani
oh iya
aku liat cerita ini kok gak up ya tapi ternyata 🤦
aku sampai lupa ternyata sudah tamat 🤦🤦🤦🤦🤦
adek kelana
bagus
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
selamat otor 🎊🎉🎊🎉
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ojan banget ini mah
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
udah 3 taon aja si kembar ukulele
arniya
luar biasa kak
muthia
ada k kisa Ule dan Ula versi remaja dewasa 🙏
Ari Atik
lucu sekali kalian si kembar😁....
thank's thor..sudah menemani hari2ku yg gabut🤭🤣🤣

meluncur ke kamar baru....
yulianti90
ada extra part ula sama ule gak, ihh masih pengen baca kerandoman ule sama manjanya ula deh😍😍😍
Rismawati Damhoeri
i love you ula dan uler...🤭🤣🤣🤣
Diana Fitri.N
makasih kak dengan karya kakak,sudah menemani hari² para pembaca,,seneng banget dengan alur cerita nya.semangat kakak semangat 🥰
Gia Nasgia
yah ternyata udah end aja🥹😍 terimakasih kk Othor alurnya sangat menghibur😘👍
Mamah Nisa
novel kak tia maah bagus semua....tp kayaknya ini yg paling panjang....makasih ya kak udah bikin cerita yg menghibur....bertemu lg di novel berikutnya...😍😍😍😍😍
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍
tata sugandhi
terimakasih cerita terbaiknya y Thor...sukses sll 😍
Endah Puji Lestari
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!