Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.
pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.
SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 20
Setelah semua keinginan Ana telah ia penuhi. Hansen segera membawa Ana kembali ke mansion, meski sebelum nya kepala keluarga satria, sempat meminta Ana untuk tinggal. Namun Hansen menolak nya dengan tegas dan langsung membawa Ana pergi dari kediaman satria.
Sikap Ana yang enggan pergi namun tidak bisa menolak semakin membuat om satria yakin kalau Ana telah di paksa oleh Hansen.
Namun yang membuat keluarga satria bingung adalah, Ana yang hanya gadis biasa mengapa bisa berhubungan dengan Hansen yang seorang bos mafia besar. Perbedaan nya sangat jauh antara mereka berdua dan sulit jika untuk mereka saling bertemu meski dunia ini kecil. Jika itu bukan di sengaja.
Tante mei yang merasa sangat cemas pada Ana hanya bisa melihat nya pergi bersama orang yang kejam.
Tante mei terisak dalam pelukan suami nya,
"Aku khawatir dengan Ana, dia gadis yang malang.." tangis nya. Tersedu-sedu.
"Sayang, jangan menangis, aku akan cari cara untuk bisa bertemu dengan Ana. Aku akan pastikan sendiri semua nya!" Ucap om satria. Menenangkan istri nya.
Di sisi lain.. Rumah sakit kota.
Risa yang saat itu sedang ada kegiatan kampus malam. Bergegas pergi ke rumah sakit setalah mendapat pesan dari sopir nya.
Sebelum nya ia juga tidak tahu kalau Ana dalam masalah ketika dalam perjalanan ke kota. sebab saat itu setalah kejadian perampokan yang di alami sang sopir. Ia di paksa berbohong oleh Ares. Untuk mengirim pesan, kalau mereka saat ini akan terlambat karena macet.
Awal nya Risa percaya dan tidak curiga. Namun setelah beberpa jam. Ia mendapat pesan lagi dari sopir nya. Kali ini isi pesan berbeda dari sebelum nya.
Saat itu sang sopir terus di jaga ketat oleh Ares agar ia tidak bisa menghubungi siapapun tentang kejadian hari itu. Tapi ketika Ares lengah ia mengambil ponsel milik nya lalu dengan cepat mengirim pesan pada Risa, yang mengatakan keberadaan nya di rumah sakit dan juga Ana yang di bawa oleh Hansen.
Langkah Risa menghentak cepat di koridor rumah sakit. Ia terlihat sangat emosi.
Di ujung lorong rumah sakit dari kejauhan ia melihat sosok Ares yang baru keluar dari ruang rawat.
Risa mempercepat langkah nya, ketika jarak mereka sudah dekat, dengan cepat Risa memasang kuda-kuda untuk menyerang Ares dengan tendangan nya Yang tiba-tiba.
Insting Ares yang tajam membuat nya dengan cepat menangkis tendangan yang hampir menghantam wajah nya.
Tidak selesai di situ, Risa masih terus menyerang nya beberpa kali. Ares hanya terus menangkis serangan yang ia terima sebab prinsip nya dalam bertarung ia tidak menyerang seorang wanita.
Karena sudah terpojok hingga ke ujung lorong, ia hanya bisa melumpuhkan serangan Risa kali ini.
Ares menangkap pergelangan tangan Risa lalu memutar pelan kebelakang punggungnya agar tidak menyakiti hingga gerakan nya terkunci.
Posisi nya saat ini kedua siku Risa menekuk ke punggung tertahan oleh Ares yang berada di belakang nya. Ia tidak menakan nya Dengan kuat. Namun tetap bisa melumpuhkan Risa.
Tapi Risa tidak kehabisan Akal, ia akan membenturkan kepala nya ke wajah Ares. Tapi untung nya Ares dengan cepat menghindari lalu menekan bahu Risa agar ia benar-benar tidak bisa melawan lagi.
"Tenang lah nona Risa, kita bicara baik-baik jangan seperti ini!" Ucap Ares.
"Lepaskan aku!" Sentak nya memberontak.
"Akan aku lepaskan jika, kamu berjanji tidak menyerang ku lagi!"
Risa melirik sinis pada Ares, "Pengecut, apa kamu tidak Berani melawan ku!" Tantang nya.
"Nona, aku tidak melawan Seorang wanita!"
"Omong kosong, hadapi aku jika kamu memang berani, kenapa malah menculik teman ku!" Maki nya.
"Hei.. itu bukan aku, tapi bos ku yang membawa nya pergi!"
"Jangan beralasan! Lepaskan aku kalau memang kamu bukan seorang pengecut!" Berontak nya.
Ares mengernyit kesal melihat Risa yang tidak bisa di ajak bicara baik-baik. " Maaf nona, aku terpaksa melakukan ini!" ia mengangkat tangan nya memukul tengkuk Risa. Untuk membuat nya pingsan.
Risa tertegun kaget ketika tengkuk nya di pukul oleh Ares hingga akhirnya ia jatuh pingsan.
Ares menggendong tubuh Risa masuk ke dalam ruang rawat di mana sang sopir berada. Ia melatakan nya di atas sofa.
"Pak, nona mu sulit di kendalikan, aku terpaksa membuat nya pingsan. Katakan permintaan maaf ku, jika dia bangun nanti!" Ucap Ares, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan.
Setelah setengah jam, akhirnya Risa sadar. Ia beranjak bangun sambil menahan sakit di tengkuk nya. Pandangan nya langsung menangkap sang sopir yang terbaring di atas ranjang Dengan luka yang cukup serius. Di beberpa bagian tubuh nya termasuk kaki nya yang patah.
Risa beranjak cepat dari sofa dengan wajah cemas melihat, sopir nya yang tak berdaya, "pak, kanapa luka mu separah ini?" Tanya nya , khawatir.
"Aku baik-baik saja nona, anda tidak perlu khawatir. Sebaik nya nona selamatkan nona Ana! Dia di bawa oleh tuan Hansen.," balas nya, lemah
Risa mengepal erat genggaman nya ia sangat marah dengan kejadian ini. "Pak jaga diri mu baik-baik, aku akan pergi menyelamatkan Ana!" Risa beranjak pergi untuk menyelamatkan Ana.
Malam itu ia tidak langsung pergi mencari Ana, ia terlebih dahulu pulang ke rumah nya untuk mengatakan kejadian yang menimpa Ana pada kedua orang tua nya. Yang sebenar nya sudah tau lebih awal dari diri nya.
Pagi itu. Di mansion.
Ana duduk di atas ranjang dengan wajah muram, ia memperhatikan dua orang pelayan dan satu perias wajah yang sibuk menyiapkan gaun untuk nya.
setalah pulang dari kediaman keluarga satria malam itu, Hansen sudah memutuskan akan menikahi nya hari ini.
Ana hanya terduduk sedih, ia tidak senang dengan pernikahan nya yang di paksa.
Hansen masuk ke dalam kamar nya untuk melihat calon pengantin nya. Ia mengisyaratkan para pelayan dan perias untuk keluar.
Langkah nya mendekat pada ana yang terduduk di atas ranjang, Hansen berdiri tepat di depan Ana menatap pada nya yang masih belum menyiapkan diri.
"Kenapa belum bersiap?" Tanya nya datar.
Ana memalingkan wajah nya dari Hansen.
Namun Hansen tidak terima itu, ia mengangkat paksa dagu ana berbalik. "Jangan pernah berpaling, saat aku bicara!" Perintah nya, dingin.
Ana memalingkan wajah dengan kasar. "Jangan sentuh aku!"
Hansen memaksa nya tetap berbalik lalu mencium nya dengan paksa. "Sudah aku katakan jangan berpaling saat aku bicara!"
Ana terpaku diam tangan nya gemetar meremas seprai, bukan karena takut tapi kerna ia marah tidak bisa melawan atau membantah sikap Hansen yang selalu memaksa.
Hansen mengusap bibir Ana dengan jari nya " Cepat pakai gaun mu, jangan biarkan semua orang menunggu!" Ucap nya, sambil merapihkan jas.
"Aku tidak mau menikah!" Bantah Ana.
Hansen tertegun marah mendengar ucapan Ana. "Jangan paksa aku bersikap kasar!" Ancam nya.
Ana terdiam mendengar ancaman Hansen, mata nya berkaca ia menahan agar tidak menangis, "Dengar Hansen, aku tidak mencin.. umhh.."
Hansen menutup mulut Ana dengan ciuman kasar . Ia marah, nafas nya memburu, tubuh nya menekan ana di atas ranjang, melumat bibir dan leher Ana dengan kasar.
Ana tidak bisa melawan kebuasan Hansen. Bahkan sampai ia merobek paksa baju yang menempel di tubuh Ana. Ia hanya bisa menangis mendapat perlakuan kasar dari Hansen.
Sifat nya yang mendominasi membuatnya kesulitan mengendalikan emosi saat Ana membuat nya kesal.
ia melepaskan Ana ketika melihat tangis nya pecah.
Hansen beranjak dari tubuh Ana yang sudah berantakan akibat ulah nya.
ia menarik nafas panjang. mencoba menenangkan diri nya sendiri.
Ia tidak tega melihat ana yang masih berbaring menangis di atas ranjang, ia meriah tubuh Ana lalu memeluk nya.
"Maaf, aku menyakiti mu!" Ucap nya pelan, mengusap punggung Ana agar ia diam.
Ana menangis dalam pelukan Hansen, ia ingin mendorong nya tapi tidak Berani, ia ingin melawan, memberontak bahkan pergi dari sisi nya. Namun ia tidak punya keberanian itu.
"Ana, aku hanya ingin kamu berada di sisi ku, apakah sesulit itu bagimu!" Ucap nya, sedih.
Ana ingin sekali membantah kalimat itu tapi ia takut itu akan membuat Hansen semakin gila. Ia hanya memilih diam tanpa kata.
"Baiklah, aku tidak butuh jawaban apapun dari mu! Aku akan bantu kamu memakai gaun!" Hansen membawa Ana beranjak dari ranjang.
Ana tidak membantah atau pun menolak. Ia tidak punya keberanian itu ia membiarkan apapun yang di inginkan Hansen.
Ana melepas seluruh baju nya di depan Hansen, tidak ada rasa malu yang ia miliki saat ini karena itu tidak akan berlaku di hadapan Hansen.
Lagi pula Sebelum nya seluruh tubuh nya sudah terlihat semua oleh Hansen.
Lekuk tubuh Ana yang indah dan kulit yang putih bersih tanpa ada cacat sedikit pun, membuat Hansen berhasrat ingin menerkam nya. Ia menelan ludah mata nya liat menatap dari ujung kepala hingga kaki.
Langkah nya mendekat ia memeluk Ana dari belakang yang tanpa sehelai kain pun yang menempel di tubuh nya.
Hansen mencium bahu Ana yang wangi aroma sabun. Ana hanya diam dengan wajah datar saat Hansen terangsang oleh nya.
Ana tersentak kaget saat Hansen meremas dadanya dari belakang sambil terus menjilat dan mengecup punggung nya.
"Kalau kamu terus begini, kamu akan meninggalkan bekas di tubuh ku, bagaimana aku menghadapai para tamu yang hadir nanti!" Ucap Ana datar, menyadarkan Hansen yang terbuai oleh nafsu.
Hansen tersadar kalau hari ini adalah hari penting untuk nya, ia menarik diri menahan keinginan nya.
Ia segera mengambil gaun pengantin yang tergantung lalu membantu Ana memakai nya. Ia melihat ada bekas yang ia tinggalan. Di punggung Ana. Hansen mengambil bedak di meja rias untuk menutupi bekas yang terlihat..
Hansen menatap kagum ana yang memakai gaun pengantin dengan senyum bahagia. " Kamu sangat cantik dengan gaun ini, tunggu sebentar!" ucap nya, berjalan keluar meminta perias untuk masuk.
Ana hanya terus terdiam dengan wajah datar menatap diri nya di depan cermin.
Seorang perias masuk untuk merias wajah nya. Hansen terus menunggu nya di sana sampai perias itu selesai dengan tugas nya. Ia terlalu takut jika ana melarikan diri di hari pernikahan mereka.
Setalah selesai, Mereka pergi menuju tempat di mana akan melaksanakan pernikahan. Yang di adakan di gedung pernikahan yang sudah di siapkan sebelum nya oleh Hansen.
Hansen membantu Ana keluar dari mobil, ia melingkari tangan ana di lengan nya, lalu berjalan menuju pintu aula pernikahan.
Saat pintu terbuka, semua orang yang hadir langsung menatap kagum pada mereka kecuali keluarga satria yang di paksa datang dengan ancaman.
ana tertegun kaget ketika melihat keluarga satria hadir di acara pernikahan nya. Ana yang awal murung, Dengan cepat mengubah Expresi nya dengan senyum bahagia. Agar tidak membuat Om satria dan yang lain khawatir dengan nya.
Hansen tersenyum kecil ketika melihat ana tersenyum. Ia sengaja mengundang keluarga satria agar Ana menunjukan wajah bahagia di acar pernikahan mereka.
ia tau kelemahan nya adalah keluarga satria, ia selalu tidak ingin keluarga itu cemas menghawatirkan hidup nya. Sehingga ia harus terlihat bahagia agar tidak membuat mereka cemas.
Ana dan Hansen naik ke altar pernikahan, mereka melakukan proses pernikahan hingga selesai. Bahkan ada acara pelemparan bunga yang bahkan tidak di rencanakan oleh Hansen saat itu. Ana melakukan nya atas keinginan nya sendiri, agar membuat keluarga satria yakin jika ia bahagia berada di sisi hansen.
Saat ia siap akan melempar bunga, ada beberpa gadis di bawah menunggu untuk mendapatkan bunga pengantin.
buang yang sengaja di lempar sambil menghadap ke belakang oleh Ana tiba-tiba jatuh di tangan Ares yang saat itu sedang berdiri di sisi kira bawah altar.
Ana tidak menyangka bunga itu malah jatuh ke tangan anak buah Hansen yang, menurut nya menyebalkan.
Ana melirik kesal pada Ares kerena bunga milik nya jatuh di tangan Ares.
Hansen yang melihat reaksi Ana, langsung menatap tajam Ares agar ia melepaskan bunga itu.
sontak Ares langsung melempar bunga itu, gadis-gadis yang saat itu terlihat kecewa langsung berebutan. Setelah melihat Ares kembali melempar bunga di tangan nya.
.
.
.
.
bersambung.