Ava Serenity Williams, putri bungsu Axton Brave Williams, jatuh cinta pada seorang pria bernama Ryan Dome. Ia mencintainya sejak berada di bangku sekolah. Ava bahkan rela menjadi seseorang yang bukan dirinya karena Ryan seakan menuntut bahwa yang akan menjadi kekasih dan istrinya nanti adalah seorang wanita sempurna. Ryan Dome, putra Freddy Dome, salah satu rekan bisnis Axton Williams. Freddy berencana menjodohkan Ryan dengan Ava, hingga menjadikan Ava sebagai sekretaris putranya sendiri. Namun, siapa yang menyangka jika Ryan terus memperlakukan Ava layaknya seorang sekretaris, bahkan pembantunya. Ia menganggap Ava tak pantas untuk dirinya. Ryan bahkan memiliki kekasih saat dirinya dalam status tunangan dengan Ava. Hingga akhirnya Ava memilih mundur dari kehidupan Ryan. Ia mencari ketenangan dan jati dirinya yang hilang, hingga akhirnya ia bisa jatuh cinta sekali lagi. Apakah cinta itu untuk Ryan yang berharap Ava kembali? Ataukah ada pria lain yang siap mencintai Ava drngan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MABUK
Mario masuk kembali ke dalam ballroom setelah menerima panggilan dari Devian. Ia melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari Ava, tapi ia tak menemukannya. Ia malah menangkap sosok mantan atasannya yang datang bersama dengan putri Keluarga Phillips.
Tak terlalu peduli dengan hal itu, Mario justru mencari keberadaan Ava. Meskipun ia tahu Ava tak lagi peduli Ryan bersama dengan siapa, tapi Mario tidak tahu bagaimana perasaan Ava yang terdalam. Bisa saja gadis itu masih menyimpan rasa yang akan membuatnya bersedih.
“Kamu di mana, Va?” batin Mario yang terus menoleh ke kiri dan ke kanan.
Sementara itu, Ava yang tadi mendengar ucapan Mario, akhirnya pergi meninggalkan acara. Ia tak kembali ke hotel tempatnya menginap, tapi justru mengarahkan langkahnya ke sebuah klub yang ada di hotel di mana acara amal diselenggarakan.
“Jadi benar dugaanku selama ini. Kak Mario melakukan semuanya dan perhatian padaku hanya karena aku adalah sepupu Kak Nala. Ia mencintai Kak Nala. Aku bukanlah siapa siapa. Tak ada pria yang benar benar tulus mencintaiku,” batin Ava.
Ava duduk di sebuah kursi tinggi tepat di hadapan seorang bartender. Ia tahu ia tak kuat minum, toleransinya pada alkohol begitu rendah. Namun ntah mengapa ia ingin menghilangkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Tak perlu waktu lama, Ava mulai sedikit mabuk dan mulai meracau. Ia hanya meminum dua gelas dan kepalanya sudah terasa pusing. Bayangan Ryan dan Mario seakan berseliweran secara bergantian di dalam kepalanya.
Ava menggerakkan tangannya, seakan menghapus semua bayangan yang muncul di kepalanya.
“Va!”
Mario langsung menghampiri Ava saat melihat kondisi gadis itu. Ia berpikir dan berpikir mengapa Ava malah mabuk.
“Ada apa denganmu, Va? Kita pulang,” ucap Mario.
“Tak ada pria yang mencintaiku. Mereka semua sama saja. Ia mencintai wanita lain, mengapa ia memberi perhatian padaku? Apa aku terlalu bodoh dan terlalu percaya akan cinta?” racau Ava.
Mario mulai yakin akan apa yang ia pikirkan. Keberadaan Ryan di dalam acara amal bersama putri Tuan Phillips tadi pasti mempengaruhi perasaan Ava. Tiba tiba saja hati Mario merasa kacau. Ia sedang mencoba membuka hatinya kembali dan kesempatan itu jatuh pada Ava.
Namun, sepertinya untuk kesekian kalinya ia harus menelan kekecewaan. Aca pasti begitu mencintai Ryan. Tak ada sedikit pun celah untuk dirinya masuk ke dalam hati Ava.
Ava menyipitkan matanya dan melihat ke arah Mario lalu berkata, “pulang? Tak mau! Aku tak mau pulang.”
“Va.”
Ava tersenyum sambil menatap Mario, “Mengapa kamu mencintai wanita lain? Apa aku bukan tipemu? Apa akubegitu buruk sehingga tak pantas dicintai?”
Ava tertawa kecil kemudian melanjutkan ucapannya, “berikan aku satu kesempatan, ya satu kesempatan. Bolehkah?”
“Kamu mabuk, Va,” ucap Mario.
“Mabuk? Tidak, aku tidak mabuk. Siapa yang mengatakan padamu aku mabuk?” Ava masih saja meracau.
Ia memutar sedikit tubuhnya hingga berhadapan dengan Mario. Ava kembali tersenyum kemudian menangkup wajah pria di hadapannya itu.
“Aku mencintaimu.”
Cuppp
Ava mengecup bibir Mario. Dengan mata setengah tertutup dan senyum di wajahnya, Ava kembali menautkan bibir mereka berdua.
Cuppp
“Aku mencintaimu.”
Jantung Mario berdetak dengan sangat cepat. Ntah apa yang merasukinya, Mario kini yang berinisiatif menempelkan bibirnya pada bibir Ava. Keduanya merasakan getaran di dalam tubuh mereka yang tak seperti biasanya.
Ava membuka mulutnya dan dengan mudah Mario mulai bermain dengan lidahnya. Ia menyesap dan melum mat dalam.
Setelah beberapa saat, tautan itu terlepas dan Mario menempelkan keningnya pada kening Ava. Nafas keduanya seakan memburu. Mario menggendong Ava lalu membawanya keluar dari klub di hotel tersebut. Ia menuju ke bagian resepsionis untuk memesan salah satu kamar.
*****
Rasa sakit di kepala membuat Ava memijat pelipisnya. Sinar mentari yang masuk melalui celah gorden membuat matanya silau hingga ia harus menyipitkan kedua matanya.
“Kepalaku sakit sekali,” gumam Ava.
Ava memegang kepalanya dan mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Ia berusaha keras tapi ia tak mampu mengingatnya.
Ia menatap ke sekeliling dan merasa bahwa itu bukanlah kamar hotel yang ia tenpati sebelumnya. Ava melihat dirinya sendiri, lalu bernafas dengan lega karena ia masih berpakaian dengan lengkap.
“Kamu sudah bangun?” Sebuah suara membuat Ava menoleh.
“Kak, apa yang terjadi?” tanya Ava.
“Kamu mabuk, jadi aku membawamu ke sini,” jawab Mario.
Flashback On
Mario yang telah mendapatkan kartu pun membawa Ava naik menuju kamar hotel yang ia pesan. Gejolam di dalam dirinya terasa begitu luar biasa, membuatnya tak mau melepaskan Ava, ataupun menyia nyiakan kesempatan yang ada.
Setelah Mario berhasil membuka pintu, ia kembali menautkan bibirnya pada bibir Ava. Ia membawa gadis itu hingga ke atas tempat tidur. Mario seakan buta dan tak memikirkan hal yang lain.
“Ahhh …,” suara des sahan yang begitu merdu keluar dari bibir Ava, membuat hasr at dalam tubuh Mario semakin menggila.
Mario adalah pria dewasa, yang pasti membutuhkan pemenuhan kebutuhan biologis. Di hadapannya kini ada seseorang yang pastinga akan mampu membantunya. Seorang gadis yang ntah kapan telah masuk ke dalam hatinya dan berdiam di dalam sana. Hati Mario seakan memiliki tempat khusus untuk Ava.
“Aku mencintaimu, Va. Aku menyayangimu,” bisik Mario dengan lembut.
Mario mengungkung tubuh Ava. Ia bahkan sudah melabuhkan ciumannya di leher Ava, meskipun ia tak meninggalkan jejak apapun di sana. Hampir saja ia mau membuka pakaiannya, pintu kamar hotel tersebut diketuk dari luar. Mario seakan tersadar dari semua has rat dan naf fsu yang baru saja menguasainya. Ia segera turun dan tak lupa menyelimuti tubuh Ava dengan selimut, lalu melangkah ke arah pintu.
“Siapa?” tanya Mario saat melihat seorang pria dengan pakaian hitam hitam berdiri di depan pintu.
“Apa Nona Ava ada di dalam?” tanya pria itu.
“Ya, ia mabuk dan saat ini sedang beristirahat,” jawab Mario.
Pria itu menekan suatu alat di telinganya kemudian berbicara ntah dengan siapa.
“Saya akan masuk dan memeriksanya,” pria itu masuk tanpa menunggu Mario memberinya izin. Setelah memastikan kondisi Ava, pria itu pun keluar.
Setelah kepergian pria berpakaian hitam hitam itu, Marii menutup pintu lalu duduk di salah satu kursi. Ia menatap ke arah Ava yang berbaring di atas tempat tidur.
“Gila! Aku sudah gila! Seharusnya aku tak melakukan hal seperti tadi. Ava adalah putri dari pemilik tempatmu bekerja, Mar. Sadarlah!” ucap Mario pada dirinya sendiri, “Ia mencintai Tuan Ryan Dome. Kamu tak boleh mengambil kesempatan di saat ia mabuk.”
Mario menghela nafasnya dalam kemudian ia beranjak pergi ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan dirinya.
Flashback Off
“Mandilah dan ganti pakaianmu,” ucap Mario.
Ava menatap dalam ke arah Mario. Ia kembali teringat bahwa semalam ia mendengar bagaimana Mario mengakui bahwa pria itu mencintai kakak sepupunya, Nala.
“Terima kasih,” ucap Ava kemudian meraih paperbag yang dipegang oleh Mario.
Saat melihat Ava telah masuk ke kamar mandi, lagi lagiMario menghela nafasnya dalam. Ia teringat akan ciumann mereka semalam. Ia bahkan tak bisa tidur karena ingin merasakannya lagi dan lagi.
“Mudah mudahan ia tak mengingatnya,” batin Mario, “ia tak akan mengingatnya, ia sedang mabuk.”
🧡🧡🧡
terima kasih Thor dengan ceritanya yang keren
terima kasih kakak Author 🙏🙏
semoga kakak Author selalu sehat, selalu semangat dan selalu sukses dalam berkarya aamiin...
ditunggu karya berikutnya ❤️🙏💪💪💪
semangat tour semoga sehat selalu ditunggu up karya yang baru💪💪💪🥰
trimadong Nia jangan sia sialan kesempatan yg ada di depan mata