Sekelompok anak muda beranggotakan Rey Anne dan Nabila merupakan pecinta sepak bola dan sudah tergabung ke kelompok suporter sejak lama sejak mereka bertiga masih satu sekolah SMK yang sama
Mereka bertiga sama-sama tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena terbentur biaya kala itu Akhirnya Anne melamar kerja ke sebuah outlet yang menjual sparepart atau aksesories handphone Sedangkan Rey dan Nabila mereka berdua melamar ke perusahaan jasa percetakan
Waktu terus berlanjut ketika team kesayangan mereka mengadakan pertandingan away dengan lawannya di Surabaya Mereka pun akhirnya berangkat juga ke Surabaya hanya demi mendukung team kesayangannya bertanding
Mereka berangkat dengan menumpang kereta kelas ekonomi karena tarifnya yang cukup terjangkau Cukuplah bagi mereka yang mempunyai dana pas-pasan
Ketika sudah sampai tujuan yaitu stadion Gelora Bung Tomo hal yang terduga terjadi temannya Mas Dwi yang merupakan anggota kelompok suporter hijau itu naksir Anne temannya Rey.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanyrosa93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Video Call Bersama Orang Tua
Setelah badannya Mas Yuda dirasa enteng dan sudah tidak pegal lagi, orang tuanya yang berada di Surabaya menghubunginya melalui sambungan video call. Wajah kedua orang tuanya muncul di layar ponselnya, tampak lega melihat anak mereka yang terlihat lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya.
"Masih sakit, Le?" tanya ibunya dengan nada penuh perhatian.
Yuda tersenyum dan menggeleng. "Alhamdulillah, Bu, sudah mendingan. Cuma masih agak lemas dikit."
Ayahnya yang duduk di sebelah ibu Yuda ikut angkat bicara. "Kamu jangan terlalu capek. Kerja boleh, tapi kesehatan tetap yang utama."
"Iya, Yah. Aku sudah istirahat cukup kok."
Ibunya mengangguk pelan. "Terus, lingkungan di sana gimana? Aman-aman saja, kan? Ibu khawatir kalau di kota besar banyak kejadian yang nggak diinginkan."
Yuda memahami kekhawatiran ibunya. Sejak dia merantau ke kota ini demi pekerjaan, ibunya sering kali bertanya tentang kondisi lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
"Aman kok, Bu. Tetangga juga baik-baik. Kalau ada apa-apa, mereka saling bantu. Lagipula, aku juga hati-hati kalau keluar malam."
Ibunya tampak lega mendengar jawaban itu. Namun, raut wajahnya kemudian berubah penasaran. Ayahnya pun tersenyum kecil seakan sudah menebak arah pembicaraan yang akan dibawa istrinya.
"Terus, gimana hubungan kamu sama Anne?" tanya ibunya sambil menyipitkan mata, seolah ingin meneliti ekspresi anaknya.
Yuda terkekeh pelan. "Baik, Bu. Kami masih sering ketemu, kok."
"Anne baik, kan?"
"Baik banget. Dia perhatian, sabar, dan pengertian juga."
Ayahnya yang sedari tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Sudah ada rencana serius belum?" tanyanya santai, tapi ada nada harapan dalam suaranya.
Yuda menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kami masih jalanin dulu, Yah. Tapi kalau memang jodoh, pasti ada jalannya."
Ibunya tersenyum tipis. "Ya kalau memang niat, jangan kelamaan. Ibu sama ayah sudah ingin mantu."
Yuda tersenyum kecil, merasa malu tapi juga tersentuh dengan perhatian orang tuanya. Ia memang serius dengan Anne, tapi membicarakan rencana besar seperti pernikahan masih terasa mendebarkan baginya.
Tiba-tiba, suara notifikasi terdengar dari ponselnya, menandakan ada pesan masuk. Saat Yuda melirik ke layar, ternyata pesan itu dari Anne.
"Anne ngabarin?" tanya ibunya yang tampak memperhatikan layar ponsel Yuda.
Yuda mengangguk. "Iya, Bu. Dia tanya aku sudah makan apa belum."
Ibunya tersenyum penuh arti. "Anak itu perhatian sekali. Jangan sampai lepas, Le."
Yuda hanya tertawa kecil. "Iya, Bu, Yah. Doain aja yang terbaik."
Percakapan pun berlanjut dengan obrolan ringan lainnya sebelum akhirnya panggilan itu diakhiri. Setelahnya, Yuda membaca pesan Anne dan membalasnya dengan senyum di wajahnya.
Yuda
[ Sudah, sayang. Kamu sendiri udah makan belum?]
Tak lama kemudian, balasan dari Anne masuk.
Anne
[ Udah, tapi aku masih kepikiran kamu. Beneran udah sehat?]
Yuda tersenyum. Hatinya terasa hangat.
Yuda
[ Beneran. Kalau nggak percaya, besok kita ketemu ya?]
Anne mengirimkan emoji tersenyum.
Anne
[ Oke, tapi jangan maksa kalau masih lemas.]
Yuda menghela napas lega. Ia bersyukur memiliki Anne, dan lebih bersyukur lagi karena orang tuanya juga menyukai gadis itu. Mungkin, dalam waktu dekat, ia harus mulai memikirkan masa depan yang lebih serius bersama Anne.
Setelah selesai video call dengan orang tua dan saling membalas pesan WhatsApp dengan pacarnya, Yuda pun lapar. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi, tapi karena sibuk mengobrol dengan ibunya, ia menahan rasa laparnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari kost dan mencari makan di sekitar warung-warung kaki lima yang berjajar di sepanjang jalan dekat tempat tinggalnya.
Angin malam terasa sejuk saat Yuda melangkah keluar dari gerbang kost. Jalanan masih cukup ramai, maklum, daerah ini memang terkenal dengan anak-anak kos yang sering keluar malam untuk mencari makan. Motor-motor lalu lalang di jalan sempit, sementara aroma makanan yang menggugah selera menyeruak dari berbagai warung tenda. Ada yang menjual nasi goreng, sate ayam, pecel lele, hingga bubur ayam.
Yuda berjalan pelan sambil memperhatikan deretan warung yang ada. Ia belum memutuskan ingin makan apa malam ini. Biasanya, kalau sedang malas memilih, ia akan mampir ke warung pecel lele langganannya. Tapi malam ini, ia ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Matanya tertuju pada sebuah warung tenda dengan spanduk bertuliskan “Nasi Goreng & Mie Goreng Bang Udin – Pedas Level Dewa!”
"Nasi goreng kelihatannya enak, nih," gumamnya sambil mendekati warung.
Ia melihat beberapa orang sedang duduk di bangku panjang, menikmati makanan mereka. Ada yang sibuk mengaduk mie goreng dengan sumpit, ada pula yang meniup-niup sendok sebelum menyuap nasi goreng panas. Pelayan warung yang mengenakan kaos hitam dan celemek biru tampak sibuk mengaduk wajan besar, menciptakan suara gemerincing spatula yang khas.
"Bang, nasi goreng satu, pedas sedang ya," kata Yuda setelah menunggu beberapa saat di depan warung.
"Siap, Mas!" jawab si abang penjual sambil mulai menumis bumbu di atas wajan panas.
Yuda memilih duduk di salah satu bangku kosong, tepat di samping seorang pria yang sepertinya juga anak kost. Ia melihat pria itu sedang asyik menonton sesuatu di layar ponselnya sambil sesekali menyuap mie goreng.
Tak lama kemudian, sepiring nasi goreng yang masih mengepul disajikan di hadapannya. Aroma bawang putih dan kecap manis langsung menggoda selera. Yuda mengambil sendok dan mencicipi suapan pertama. Rasa gurih dengan sedikit tendangan pedas langsung menyebar di lidahnya.
"Enak juga," gumamnya puas.
Sambil makan, ia membuka kembali WhatsApp dan melihat pesan dari ibunya.
Mom
[ Jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatan, ya!] Pesan sederhana itu membuatnya tersenyum. Walaupun jauh dari rumah, ia tahu bahwa ibunya selalu memikirkan dirinya.
Setelah menghabiskan makanannya, Yuda membayar dan beranjak pulang ke kost. Perutnya kenyang, hatinya pun terasa lebih tenang. Malam ini, ia bisa tidur dengan nyenyak.
Yuda pun akhirnya tertidur nyenyak hingga adzan subuh berkumandang. Hari ini lebih semangat tidak seperti biasanya. Yuda sudah punya tekad ingin menyeriusi dengan kekasihnya, karena Yuda sudah mendapatkan lampu hijau dari orang tuanya yang menandakan orang tuanya ingin segera melihat Yuda bersanding dengan wanita pujaannya.
***
Pagi-pagi sekali Yuda sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya, mengingat hari ini team kerja Yuda akan mengadakan rapat. Para pimpinan sudah tiba lebih dulu di kantornya.
Setibanya di kantor, Yuda langsung menuju ruang rapat dengan langkah penuh semangat. Rekan-rekannya sudah berkumpul, menatap layar proyektor yang menampilkan agenda rapat hari ini.
"Yuda, kamu terlihat berbeda pagi ini," ujar Raka, salah satu rekan kerjanya, dengan nada menggoda.
Yuda tersenyum kecil. "Mungkin karena aku punya motivasi baru," jawabnya singkat.
Rapat pun dimulai, membahas strategi baru untuk proyek perusahaan. Meskipun serius, pikiran Yuda sesekali melayang pada rencana masa depannya bersama sang kekasih. Ia yakin, perjalanan baru dalam hidupnya akan segera dimulai.
***