Mata kecil itu berpendar melawan rasa bosan di tengah hiruk pikuk orang dewasa, hingga matanya berbinar melihat seorang gadis cantik, terlihat anggun dengan raut keibuan. Ini dia yang di carinya.
Kaki kecilnya melangkah dengan tatapan tak lepas dari gadis bergaun bercorak bunga dengan bagian atas di balut jas berwarna senada dengan warna bunga di gaunnya.
Menarik rok gadis tersebut dan memiringkan wajah dengan mata mengerjap imut.
"Mom.. Kau.. Aku ingin kau menjadi Mommyku.."
"Anak kecil kau bicara apa.. Ayo aku bantu mencari Ibumu.."
"Tidak, Ibuku sudah tiada, dan aku ingin kau yang menjadi Mommy ku."
"Baiklah siapa namamu?."
"Namaku Daren, Daren Mikhael Wilson aku anak dari orang terkenal dan kaya di kota ini, jadi jika kau menikah dengan Daddyku kau tidak akan miskin dan akan hidup senang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TW 34: Tiga Kata Yang Berarti
Piter tak habis pikir dengan apa yang Willy katakan. Isa, gadis itu adalah gadis yang baik dan tulus bagaimana bisa dia hanya mempermainkannya saja. Apa Willy sudah benar- benar mati rasa, tidak bisakah dia membuka hati dan mencintai orang lain selain Joana.
Piter tidak akan menghakimi jika Willy masih mencintai Joana, tentu saja Willy berhak karen Joana adalah mendiang istrinya. Tapi, saat seseorang sudah tiada kita juga harus tetap berjalan ke depan bukan terkurung dalam kenangan masa lalu.
Ada banyak ruang di dalam hati, tidak bisakah Willy membuka hatinya dan belajar mencintai wanita lain?
"Pikirkanlah, Wil. Jika tidak lebih baik jangan memulainya sama sekali. Di saat Dia sudah berharap maka akan semakin sakit hatinya saat mengetahui kebenarannya."
"Aku menyarankan mu sebagai seorang sahabat Will, jangan sampai kau menyesal kelak." Piter menunduk hormat lalu pergi dari ruangan Willy.
Selepas kepergian Piter Willy menunduk dengan mata memejam, dia tahu mungkin dia akan menyakiti Isa, dan benar Willy adalah pria paling brengsek di dunia ini karena sudah menjerat Isa dan memanfaatkan gadis itu. Tapi, sudah Willy katakan Willy akan memperlakukan Isa dengan baik, layaknya kekasih sesungguhnya.
Willy menghela nafasnya lalu memilih melanjutkan pekerjaannya, dia tak ingin berlarut dalam pemikirannya tentang Isa, dia yakin bisa membuat Isa bahagia meski tidak memiliki cintanya.
Willy juga tak boleh terkecoh untuk sekarang ini, karena seseorang sudah mulai mengusik ketenangan keluarganya.
Willy harus lebih waspada karena mungkin saja kedatangan Clara benar- benar memiliki niat buruk.
...
Isa mengikuti langkah Clara dan Daren di depannya, dia sengaja berjalan di belakang Clara dan Daren karena sudah berjanji akan mendekatkan Clara dan Daren meski nyatanya hati Isa tidak rela melihat kedekatan Clara dan Daren. Tapi, bagaimana lagi dia harus melihat sejauh apa Clara berusaha, dia juga harus melihat kesungguhan Clara, benarkah dia tidak baik. Lalu apa tujuan Clara sebenarnya?
Mereka pergi ke kedai eskrim juga pergi ke wahana permainan anak di sebuah Mall, tentu saja yang jadi bintangnya adalah Clara dan Daren sedangkan Isa hanya mengikuti dari belakang.
Daren sesekali akan menengok ke belakang dan memastikan Isa masih ada di belakangnya lalu bocah itu kembali bermain dengan Clara.
...
Isa menghela nafasnya sambil berdiri di balkon kamarnya di pikirannya sedang berkecamuk tentang perasaannya pada Willy tentang Clara juga tentang Daren.
Tiga orang itu membuat pikiran Isa kacau akhir- akhir ini. Terutama Willy pria itu semakin gencar mendekatinya bahkan mereka sudah tidur di ranjang yang sama. Meski hanya sekedar tidur saja, tapi sukses membuat Isa merasakan denyar aneh di hatinya semakin membuncah, dan Isa menyadari jika dia mulai jatuh cinta.
Udara malam yang dingin membuat Isa merapatkan sweater rajut yang ia kenakan, sambil menatap bintang Isa tersenyum dengan pipi merona membayangkan bagaimana Willy memeluknya juga menciumnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Isa tertegun saat tiba- tiba Willy memeluknya dari belakang, pria itu juga menyampirkan selimut di bahunya hingga Isa menghangat. Apa ini mimpi, dia baru saja membayangkan pelukan pria itu, dan sekarang Willy sungguh ada di belakangnya dan memeluknya. "Disini dingin.." Isa merona saat merasakan pelukan Willy mengerat lalu pria itu memberi kecupan di pipinya.
"Aku suka disini."
Isa diam tak melawan atau menghindar dari pelukan Willy, Isa merasa hangat saat Willy mendekapnya seperti sekarang. Dan Isa rasa dia sudah mulai terbiasa dengan perlakuan Willy saat pria itu memeluknya atau menciumnya tiba- tiba, apalagi rasanya sangat nyaman saat berada di pelukan pria itu, bibir Isa bahkan menyunggingkan senyuman saat ini.
"Baiklah, tapi jangan terlalu lama kau bisa sakit." Isa mengangguk mengerti, lalu tatapannya kembali mengarah ke depan dimana banyak bintang yang bertaburan di langit malam.
Isa merasakan tubuh Willy semakin mendekapnya erat, tubuh jangkung Willy seolah menenggelamkannya. Dengan tinggi badannya sebatas dada Willy, Isa merasa terkurung dalam dekapan pria itu, Isa kembali tersenyum, saat ini yang ada di pikiran Isa adalah alasan pria itu menginginkannya menjadi Istrinya, selain karena Daren menyukainya, apakah Willy juga mencintainya.
"Aku menemani Daren dan Clara tadi siang." Willy tak menjawab, Isa tahu Willy pasti sudah mengetahuinya tapi Isa hanya ingin mengetahui bagaimana reaksi Willy, dan saat Willy tak menjawab Isa membalik tubuhnya hingga kini mereka berdiri berhadapan "Sebenarnya siapa Clara? Kenapa menurutmu dia tidak baik?"
"Kenapa kamu tidak menghindarinya?" bukan menjawab Willy malah bertanya kembali, kenapa Isa tidak menuruti perkataannya tentang menjauhi Clara.
Willy tahu kegiatan apa saja yang Isa lakukan hari ini, tapi Willy masih diam karena Isa dan Daren masih aman.
"Aku hanya ingin memastikan apakah yang kau katakan benar?"
"Kau tidak percaya padaku?" Isa menggeleng cepat.
"Bukan begitu, tapi kenapa kamu tidak mengenal dia lebih jauh siapa tahu dia tidak seburuk yang kamu ketahui. Bukankah jika kamu menemukan sosok yang sempurna, aku bisa pergi dengan tenang." Isa tahu Willy pria yang dingin dengan kepedulian terhadap sekitar yang minim, hanya pada Daren saja Willy berlaku lembut, dan akhir- akhir ini Willy juga memperlakukannya sama seperti memperlakukan Daren. Mungkin saja jika Willy membuka hati pada Clara dia akan melihat jika Clara adalah wanita yang baik, meski resiko sakit hatinya lebih besar jika Willy benar- benar memilih Clara, tapi Isa juga butuh kepastian tentang dirinya apa yang Willy katakan sungguh- sungguh, bahwa dia akan menjadikan Isa istri sekaligus Ibu untuk Daren, lalu pria itu melakukannya atas dasar apa?, apakah karena perasaan yang sama seperti yang Isa rasakan?
Mata Isa menatap penuh harap, dan menunggu Willy mengatakan kata- kata yang dia harapkan, " Aku sudah menemukan sosok yang sempurna dan itu kamu. Aku menginginkanmu karena 'Aku mencintai mu'." hanya tiga kata yang Isa tunggu dan Isa akan meyakinkan hatinya untuk menerima Willy, namun sepertinya bayangan ucapan Willy itu tidak akan pernah terwujud, karena justru Willy mengerutkan kening tak suka dengan ucapan Isa "Menurutmu itu hanya alasanku. kamu sungguh ingin aku bersama Clara? Atau kamu memang tak ingin menjadi Ibu untuk Daren?"
Isa mendongak menatap Willy hatinya terasa tak nyaman sekarang, kenapa Willy menangkap ucapannya seperti itu, apa caranya bicara salah?
"Kau sungguh ingin mengakhiri kontrak ini dan meninggalkan kami?" Isa menegang melihat tatapan Willy begitu mengerikan, pria itu terlihat mengeraskan rahangnya dan terlihat sangat marah.
"Kau sungguh tak ingin menjadi Istriku?" Willy melangkah mundur, entah mengapa hatinya sakit mengetahui Isa tak ingin menjadi Istrinya dan memilih pergi.
"Bukan.." Baru saja Isa membuka mulutnya, dari dalam kamarnya terdengar teriakan Daren, membuat Willy dan Isa menegang dan berjalan masuk dengan segera..
"Kau jahat Mom!, kau sungguh tak mau menjadi Ibuku.." Isa tertegun menatap Daren sudah berderai air mata "Kau berjanji tidak akan pergi!"
"Daren.." Isa berjalan mendekat untuk meraih Daren tapi bocah itu justru menjauh, melihat tatapan kecewa yang Daren layangkan padanya membuat Isa merasakan sakit luar biasa, kenapa Daren bisa mendengar percakapannya dan Willy, Isa kira Daren sudah tidur tadi "Kau tidak menyayangiku?, kau sungguh berbohong? Kau akan pergi meninggalkan aku"
Isa menggeleng dengan cepat lalu berjongkok dan memegang baru Daren "Tidak, Mom sungguh menyayangimu.." Daren menepis tangan Isa.
"Kau bohong!, kau jahat!, Dad jahat, kalian jahat!" Daren berlari keluar dari kamar Isa, meninggalkan Isa yang masih berjongkok tak berdaya.
"Salahku, karena tidak menanyakannya secara langsung, aku kira aku memang sudah memilikimu.." Isa mendongak menatap Willy yang juga menatapnya dengan penuh rasa kecewa.
"Bukan begitu, Willy.." Isa berdiri dan meraih tangan Willy yang justru menepisnya dengan kasar "Kau boleh pergi.. Dan jangan khawatir kau tidak akan merugi karena ini, kerja sama akan terus berlangsung. Begitu bukan keinginanmu?" Willy berkata dengan dingin lalu meninggalkan Isa yang terduduk lesu di lantai.
Tidak! seharusnya bukan begini, kenapa sulit sekali memancing Willy agar mengatakan perasaannya, apa pria itu mencintainya atau tidak?
Apa yang Isa lakukan justru menyakiti hati Daren, dan juga hatinya.. Kenapa bagi Isa pengakuan Willy begitu penting, tidak bisakah dia diam saja dan menikmati perlakuan Willy padanya dan menerima dengan bahagia.
Bukankah terkadang Cinta memang tidak perlu di ungkapkan, apa dia begitu tak tahu diri?
Tapi Isa tak tahu jika apa yang dia lakukan memang sia- sia, Willy pria itu memang tidak mencintainya dan tidak akan mengucapkan tiga kata yang menurut Isa berarti..
...
kau dtg kerana urusan bisnes bukan utk urusan hati.. teguh pendirian.. ingat perjanjian