Follow IG : renitaria7796
Aran Odelia Courtney seorang raja berkuasa yang menyukai gadis bernama Sara Helowit. Raja menginginkan Sara menjadi selir keempat puluh satu. Namun sayangnya Sara sudah memiliki seorang kekasih.
Bagaimana Aran akan menaklukkan Sara? Lalu mampukah sang kekasih menyelamatkan Sara dari belenggu Aran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berburu
Utusan dari kerajaan lain datang ke ruang perjamuan, termasuk kedua ratu kerajaan Whiteland. Jessica yang sudah dikenal sebagi ratu dan putri seorang bangsawan, cepat berbaur bersama ratu serta istri dari duta kerajaan lain.
Pengawal bersuara nyaring di saat sepasang raja dan ratu memasuki ruangan. Duta, putra mahkota serta ratu memberi hormat, sedangkan raja lain meletakkan tangan ke dada sebagai bentuk penghormatan.
Sara langsung menghampiri keempat bangsawan yang telah duduk di hadapan meja bulat. Dayang Esme menarik kursi, dan mempersilakan Sara untuk duduk.
"Selamat malam, Ratu dan duta," ucap Sara.
"Malam juga, Ratu. Oh, aku sangat senang dengan kamar yang dihias. Aku merasa tetap berada di kamarku," kata Aleca, ratu dari Elskar.
Sara tersenyum, "Itu bukan apa-apa."
"Kamu cepat belajar, Ratu. Padahal kamu hanya selir rendahan," sela Izzy.
"Apa Ratu Sara bukan dari keluarga bangsawan?" tanya Monica, istri dari duta kerajaan barat.
"Dia rakyat biasa," sambung Jessica.
Sara berdehem, "Aku memang dari rakyat biasa, tetapi diangkat menjadi seorang ratu, dan menjadi kesayangan raja Aran."
"Pantas saja Ratu baru yang menyambut kami. Ya, Anda sangat cantik dan luar biasa. Wajar saja raja Aran berpaling," kata Aleca.
Monica berdehem untuk menghentikan Aleca bicara. Tanpa sengaja ratu dari Elskar itu bicara semaunya tanpa melihat situasi dan kondisi. Aleca memang dikenal sebagai seorang putri yang suka bicara ceplas-ceplos.
Aleca terkesiap saat melihat kode mata dari Monica. Ia tersenyum tidak enak karena telah menyinggung kedua ratu Whiteland.
"Lebih baik kita makan malam dulu. Kebetulan pelayan datang untuk menghidangkan makanan," kata Sara, beralasan mencairkan suasana tegang.
Wajah dari Izzy dan Jessica sama sekali tidak enak dipandang. Sara, Monica, dan Aleca berusaha untuk mencairkan suasana dengan membahas masalah kerajaan. Namun, kedua ratu memang tidak berniat untuk bergabung.
"Maafkan aku, Ratu. Aku merasa tidak enak badan, dan ingin kembali ke kamar." Jessica beranjak dari duduknya, memberi hormat kemudian pergi dari ruang perjamuan.
"Aku permisi." Izzy juga sama, pergi dari ruang perjamuan.
Aran yang berada di meja berbeda, melihat kedua ratunya pergi. Ia tersenyum paksa ketika duta dan pangeran mahkota melihat kedua ratu pergi dari perjamuan. Bisa saja utusan kerajaan itu beranggapan ada konflik di antara ratu-ratunya.
"Lebih baik kita makan malam saja," kata Aran kepada tamunya.
Aleca dan Monica merasa tidak enak telah membuat kedua hati sang ratu tersinggung. Mereka adalah tamu, tetapi tidak bisa menjaga tata krama.
"Yang Mulia Ratu Sara. Aku benar-benar tidak bermaksud," ucap Aleca.
"Jangan dipikirkan, Ratu Elskar. Kita makan malam saja," sahut Sara.
Tidak disangka, hanya dengan pancingan sedikit, Aleca berkata menyinggung perasaan Izzy dan Jessica. Sara sudah tahu sifat dari Aleca yang memang tidak bisa menjaga mulutnya. Keberuntungan, Sara menghina lawannya dengan bantuan orang lain.
"Aku memang tidak bisa menjaga bibirku ini, tetapi aku malah menjadi Ratu," kata Aleca.
"Raja Elskar sangat mencintai Anda pasti," sahut Monica.
"Raja Elskar memang mencintaiku. Dia menganggapku lucu dan menggemaskan."
Sara tidak heran jika raja Elskar memilih ratu cerewet seperti Aleca. Raja itu sangat tidak mudah tersenyum, wajahnya kaku, dan kehadiran Aleca, pasti bisa membuat pria itu menyunggingkan bibir.
...****************...
"Apa maksudmu pergi begitu saja meninggalkan ruang perjamuan? Kamu tidak tahu apa yang dipikirkan oleh utusan kerajaan?" Aran berdecak, lalu menambahkan, "kamu sama saja seperti Izzy!"
"Oh, jadi, aku harus menahan segala hinaan yang dilontarkan oleh pasangan tamu itu? Mereka menghinaku! Kamu tahu itu!" teriak Jessica.
"Pelankan suaramu! Beraninya berteriak di hadapan raja!"
Jessica tertawa, "Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba kira Yang Mulia datang sebagai seorang suami." Jessica berlutut. "Mohon Yang Mulia penggal kepala saya."
"Jessica! Jangan membuatku marah!" bentak Aran.
Sang ratu terdiam. Aran menenangkan diri agar ia tidak emosi terhadap istri yang tengah berlutut di hadapannya.
"Tetap berada di dalam kamarmu sampai aku mengizinkanmu untuk keluar. Kamu dilarang untuk bertemu pangeran Alister serta kerabatmu. Renungkan semua kesalahamu," ucap Aran, lalu melangkah pergi.
Pintu kamar ditutup setelah Aran pergi. Terdengar suara pintu yang digembok oleh pengawal. Jessica dihukum atas kelancangannya sendiri.
...****************...
Hari kompetisi berburu tiba. Sara dan Aran telah siap dengan pakaian berburu mereka. Di tangan sudah ada busur panah yang akan dijadikan senjata dalam menaklukkan binatang di dalam hutan sana.
"Semakin banyak hewan, maka kesempatan untuk menang akan semakin besar," kata Aran.
"Siapa takut. Aku akan membawa hewan itu kepadamu," jawab Sara.
"Kamu sangat bersemangat, Sayang."
"Karena aku ingin hadiahnya. Kamu sudah berjanji akan mengabulkan satu permintaanku," kata Sara.
"Baiklah. Ayo, kita bersiap."
Ada delapan orang yang akan ikut kompetisi persahabatan. Leonard dan saudaranya Mc Kenny. Duta Henry, Alexander Felipe, Aran dan Sara. Thunder dan juga Frederick.
"Apa ratu itu akan berburu?" bisik Leonard.
"Kamu tidak lihat dia berpakaian seperti itu?" kata Mc Kenny.
"Terserah dia mau ikut. Toh, hanya mendamping raja Aran saja," sahut Alexander.
Perdana menteri Solos siap menjadi juri dalam pertandingan ini. Semua bersiap dengan menaiki kuda masing-masing. Bendera merah dikibarkan, lalu tali pembatas area hutan dipotong. Kuda-kuda yang dinaiki oleh raja serta duta, berlari memasuki hutan.
Sara mengendarai kudanya dengan pelan. Ia tetap bersama Aran yang berada di sampingnya. Sara memperhatikan hutan, menghirup aroma pepohonan yang sudah lama tidak ia kunjungi.
"Ini hidupku sebenarnya," gumam Sara.
"Apa?" tanya Aran.
Sara tersentak, "Tidak, Sayang. Kita harus bersiap memanah jika ada hewan yang datang."
Sara teringat saat ia bersama Elios. Masa-masa mereka berburu bersama dan itu merupakan pekerjaan sehari-hari kekasihnya. Setelah mendapat hasil buruan, maka Sara dan Elios akan menjualnya ke pasar.
Sara menirukan suara burung. Aran kaget dan juga merasa takjub. Burung-burung itu beterbangan ke arah barat.
"Suaramu membuat mereka takut," kata Aran.
Sara tertawa, "Ayo, kita ikuti arah mereka terbang."
"Untuk apa?"
"Mencari hewan buruan. Mereka akan berpindah tempat baru. Kita harus menemukan tanaman muda atau yang baru tumbuh. Biasanya kijang atau rusa berada di sana untuk mencari makan," kata Sara.
Arah burung terbang ke barat, Sara dan Aran berjalan ke sana. Mendapati suatu danau dengan tumbuhan yang baru muncul.
Keduanya turun dari kuda. Berjalan mengendap-endap, seperti pencuri. Sara kembali menirukan suara seperti hewan kijang betina yang memanggil si penjantan.
"Berapa banyak hewan yang bisa kamu tiru suaranya?" bisik Aran.
Sara meletakkan jari telunjuknya di bibir Aran. "Diam, mereka akan keluar?"
Apa yang Sara katakan ada benarnya. Kijang itu keluar mencari-cari suara sang betina. Kemudian muncul kawanan lain dari semak dekat danau.
"Mereka muncul."
"Kijang itu pasti dari meminum air." Sera menyiapkan busurnya, membidik salah satu kijang yang berada dalam kelompoknya. Anak panah dilepas, dan itu tepat mengenai perut si kijang. "Ayo, kita kejar."
Sera berlari mengejar kijang yang terluka. Aran geleng-geleng kepala karena dengan mudah Sara sudah mendapatkan hasil buruannya.
Bersambung
Krn istana bukan cuma rumah utk suami, istri dan anak, tp ada bnyk kehidupan didalamnya yg saling menjatuhkan utk bertahan hidup
Jessica juga yg jadi penyebab kematian ibunya sara