Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 20
KEBERUNTUNGAN DAN KEWASPADAAN
Sebuah pistol sudah mengarah ke wajah Soraya, ketakutan dan wajah tegang terlihat jelas. Hingga Rodrigo nampak ikut kesal akan tindakan Luis.
“Luis... dia masih kakakmu, ampuni dia dan maafkan dia, ibu yakin... Elizabeth akan ditemukan, ibu mohon jangan lakukan itu Luis... jangan lakukan itu.” kata Esperance yang berdiri di dekat Soraya untuk menjadi dinding penghalang.
Tak tinggal diam, Rodrigo juga ikut menghampiri mereka dengan tegas. “Luis... Sebaiknya kau— ”
Darr... Dar... Dar...
Tembakan yang membabi buat telah dilepaskan ke arah Rodrigo dengan teganya. Luis yang sudah benar-benar marah dan gelap mata, dia tak peduli siapa yang ia habisi.
Esperance terbelalak kaget begitu juga dengan Soraya. bagaimana tidak? Mereka melihat sendiri bagaimana Luis menghabisi pamannya sendiri. sementara Luis? Pria itu berdiri menatap paman nya yang tergeletak dengan bersimbah darah tanpa peduli dan hanya berekspresi datar.
“RODRIGO—”
Esperance menutup mulutnya sendiri dengan tangan gemetar saking kagetnya. Kakinya melemas, nyaris ikut terjatuh, andai Esperance tidak reflek menahannya.
“Ya Tuhan… Ya tuhan...” bisiknya, nyaris tak bersuara.
Luis masih berdiri di tempatnya. Pistol di tangannya belum turun. Asap tipis mengepul dari moncongnya, sementara wajahnya kosong—tidak marah, tidak puas, tidak menyesal. Hanya… hampa. Seolah yang baru saja ia lakukan hanyalah menyingkirkan sebuah benda yang menghalangi jalannya.
Soraya menatap adiknya dengan mata penuh air mata dan ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
“Kau… kau membunuhnya…” suaranya pecah.
“Dia paman kita, Luis…”
Luis mengalihkan pandangan padanya.
Tatapan itu membuat Soraya mundur setapak.
“Dia menghalangiku,” jawab Luis datar. “Dan siapa pun yang menghalangiku… akan bernasib sama. Bukankah seharusnya kau yang harus ku singkirkan huh? Setelah apa yang kau lakukan.”
Soraya terbungkam, ia ingin bicara banyak memarahi adiknya, namun dia tak ingin bernasib sama seperti Elizabeth ataupun paman Rodrigo. Esperance menggigil. Ia melangkah ke depan, lututnya bergetar, menatap putranya seolah menatap orang asing.
“Apa yang sudah kau lakukan…” suaranya bergetar hebat.
“Luis, ini sudah terlalu jauh…”
Luis menoleh padanya perlahan saat kata mereka bertemu, dimana Esperance nampak menahan mata airnya.
“Kau juga sebaiknya tidak berdiri di depanku sekarang.”
Soraya langsung memeluk Esperance dari samping. “Jangan dengarkan dia, Ibu…” bisiknya panik.
Namun Luis sudah berpaling.
Ia menjatuhkan pistol ke tanah, lalu menatap para anak buah yang berdiri kaku sejak tadi, wajah mereka pucat.
“TEMUKAN ELIZABETH!” Tak ada yang bergerak. “NOW!...(SEKARANG)...,” tekan Luis pelan, namun mematikan.
Mereka tersentak.
“Sebar ke seluruh kota. Tutup semua jalan keluar. Pelabuhan, stasiun, hotel, klub malam, rumah sakit. Cari setiap sudut Birmingham.” Tegas Luis yang benar-benar tak ingin bertemu Vale sialan itu.
Mobil hitam itu melaju meninggalkan cahaya kota, menembus jalan sempit yang diapit pepohonan tinggi. Hutan merapat seperti dinding gelap, menelan suara mesin hingga hanya tersisa desir ban di atas aspal basah.
Beberapa menit kemudian, sebuah mansion minimalis muncul di balik pepohonan.
Tidak megah. Tidak mencolok.
Bangunannya sederhana, modern, dengan dinding batu gelap dan kaca tinggi yang memantulkan cahaya lampu luar seperti mata dingin yang terjaga. Sunyi. Terisolasi. Seolah dunia lain yang sengaja disembunyikan dari peta.
Mobil berhenti di halaman berbatu.
Vale turun lebih dulu.
Ia berdiri membelakangi mobil, mantel hitamnya berkibar tertiup angin malam. Udara hutan menusuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua.
Ia tidak langsung melangkah. Alisnya berkerut. Ada sesuatu. Perasaan tipis, namun tajam—seperti naluri pemburu yang mencium napas makhluk lain di wilayahnya.
“Ada seseorang di bagasi mobil ku.” kata Vale yang mengejutkan anak buahnya termasuk Lou sendiri.
“Keluarkan dia dan bawa dia menemuiku.” Pinta pria itu yang mulai melenggang masuk ke Mansion lamanya itu.
Tentu, Lou terdiam beberapa detik, sampai akhirnya ia ingin memastikannya sendiri dan langsung membuka bagasi mobilnya. Terkejut? Tidak begitu terkejut, namun melihat kondisi wanita bernama Elizabeth itu membuat Lou dan anak buah Vale yang lainnya sedikit berkerut alis terheran-heran
Tanpa pikir panjang Lou membawanya keluar dari mobil, mencengkram lengan kirinya tanpa peduli luka yang juga ada di lengan tersebut.
“Tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud jahat, Tuan.” Rintih Eliza yang menahan tubuhnya agar tidak dibawa ataupun di bunuh.
“Kau bisa mengatakannya kepada bos kami.” Tegas Lou yang masih menyeret Eliza dengan cara mencengkram lengan kirinya dan membawanya masuk ke mansion tersebut.
Anak buah Vale yang lainnya hanya diam memperhatikan bagaimana wanita cantik itu terluka parah.
Di ruangan tengah, nampak pria berkemeja hitam berdiri membelakangi pintu dan menatap ke foto keluarganya, foto yang sama seperti yang Eliza lihat di rumah Luis Holloway.
“Tuan Vale!” panggil Lou rendah namun cukup ditoleh oleh Vale ketika Elizabeth didorong maju tepat di belakang Nathaniel Vale.
Tentu, Eliza berdegup kencang, dia benar-benar ketakutan dan gemetar berada di antara orang-orang sangar seperti Vale dan Lou.
“Who are you? (Siapa kau)?” tanya Vale yang lebih dingin sehingga Eliza menelan ludah dan tak bisa berpikir jernih selain mencoba menenangkan dirinya.
“Ak-aku... Aku bu-bukan seorang penjahat. Aku... Maafkan aku karena telah bersembunyi di mobil Anda Tuan Vale— ”
“Who... Are you?” sekali lagi ucapan itu keluar dari mulut Vale hingga pria itu berbalik menatapnya tegas dan berkerut alis.
Melihatnya lebih dekat membuat Eliza semakin canggung dan sesak nafas. Pria itu benar-benar lebih gelap auranya daripada suaminya.
Lou yang masih di sana, dia memperhatikan Eliza dan bosnya dengan tatapan tegas.
Kontak mata mereka bertemu, dan Vale seolah tak begitu mempedulikan kondisi Eliza saat ini.
“Tidak menjawab artinya kau seorang musuh.” Kata Vale yang mengatakannya Tampa ragu sehingga Eliza menggeleng menahan rasa takutnya.
“Aku bukan... ” wanita itu tak bisa berkata-kata dan menunduk menahan sedih sambil menatap ke kedua tangannya yang bergelut.
Tak ada jawaban dari lawan bicaranya, Vale kembali berbalik menatap bingkai foto besar yang menempel di dinding tepat di atas perapian. “Bawa dia pergi dari sini, kemanapun.” pinta Vale.
Brugh!
Seketika suara jatuhnya Elizabeth membuat kedua pria di sana menatapnya.
Vale berkerut alis saat melihat wanita tadi seketika jatuh pingsan tak sadarkan diri. Bagaimana tidak? Kondisinya terlihat tidak baik-baik saja.
“Tuan, dia terluka parah. Apa Anda ingin saya membuangnya di tengah hutan?” tanya Lou saat memeriksa denyut nadi Eliza yang masih berdetak.
Pria itu cukup lama memandangi wajah malang Elizabeth. Tatapannya masih tegas dan tajam, wataknya sedikit angkuh namun hatinya...
“Bawa dia ke kamar.” Pintanya yang langsung melangkah pergi dari sana.
Lou mengangguk dan segera melaksanakan perintah bosnya tanpa memperdulikan siapa wanita asing itu.
...°°°...
Hai Guyssss!!!! Udah sampai sini aja nihhh, mana semangat kalian???!!! Kasih semangat juga untukku uyyyy, dan semoga kalian suka dengan ceritanya 😁
Jangan lupa tinggalkan jejak semangatnya!!!
Thanks and See Ya ^•^
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl