NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Luna

Tangan Queenora terasa kaku, membeku di udara beberapa senti di atas tumpukan surat yang diikat pita sutra pudar itu.

Aroma kertas tua dan parfum yang nyaris menguap menguar dari kotak kayu, hantu dari masa lalu yang tiba-tiba menjadi begitu nyata. Queenora menatap Adreine, mencari semacam izin atau peringatan, tetapi yang ia temukan hanyalah sorot mata yang lembut dan penuh pengertian.

“Bacalah, Nak,” bisik Adreine, suaranya seperti beludru hangat.

“Kau berhak tahu. Supaya kau tidak lagi bertarung melawan bayangan.”

Dengan jari-jari yang sedikit gemetar, Queenora mengangkat setumpuk surat itu dari kotaknya. Pitanya terasa rapuh di bawah sentuhannya.

Dengan tangan gemetar Queenora melepaskan simpulnya dengan hati-hati, seolah sedang menangani artefak suci. Surat pertama ada di atas, kertasnya tebal dengan semburat warna gading, dan tulisan tangan yang miring dan elegan memenuhi halamannya. Tulisan tangan.

Queenora mulai membaca.

Awalnya, kata-kata itu terasa asing, menceritakan pesta-pesta mewah, perjalanan ke luar negeri, dan gaun-gaun adibusana. Dunia yang tak terjangkau. Namun, semakin dalam ia membaca, semakin tipis lapisan kemewahan itu terkikis, menampakkan inti yang rapuh dan penuh keputusasaan.

Ibu, aku tahu Darian adalah pria yang baik. Terhormat, bertanggung jawab, semua yang Ayah dan Ibu inginkan. Tapi kebaikannya terasa seperti sangkar. Ia memberiku segalanya, kecuali dirinya sendiri. Kami berbicara tentang bisnis, tentang jadwal sosial, tentang cuaca. Kami tidak pernah berbicara tentang mimpi, atau ketakutan, atau apa yang membuat jantung kami berdebar di tengah malam.

Queenora menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia mengambil surat berikutnya.

Hari ini aku melihatnya lagi, Bu. Dari seberang jalan. Dia tampak lebih kurus. Aku ingin berlari menyeberang dan memeluknya, menanyakan apakah ia makan dengan baik. Tapi kemudian aku melihat pantulan diriku di etalase toko. Nyonya Darian dan kakiku seolah terpaku di trotoar. Ibu Estrel benar, aku sudah membuat pilihanku. Tapi kenapa pilihan yang benar terasa seperti hukuman seumur hidup?

Satu per satu, surat itu membuka sebuah narasi yang sama sekali berbeda dari yang Queenora bayangkan.

Pernikahan Darian dan Luna bukanlah dongeng yang berakhir tragis. Itu adalah sebuah kontrak bisnis, sebuah aliansi antara dua keluarga kuat yang dikorbankan di atas altar kewajiban. Darian, yang terikat oleh janji pada ayahnya, dan Luna, yang ditekan oleh obsesi Estrel akan status sosial.

Dan ada pria lain. Seorang seniman, namanya tidak pernah ditulis, hanya diinisialkan ‘R’. Pria yang Luna cintai dengan segenap jiwa, tetapi terpaksa ia tinggalkan karena dianggap ‘tidak sepadan’.

Rasa sesak di dada Queenora bukanlah cemburu. Rasa empati yang dalam dan menyakitkan untuk wanita yang fotonya terpajang di seluruh rumah ini. Wanita yang tersenyum sempurna di setiap bingkai, tetapi menangis dalam diam di atas kertas suratnya.

Sebuah kesadaran menghantamnya dengan kekuatan badai. Duka Darian. Itu bukan hanya duka karena kehilangan seorang istri.

Itu adalah duka yang jauh lebih rumit, berlapis-lapis dengan rasa bersalah. Bersalah karena tidak pernah bisa mencintai Luna seperti seharusnya. Bersalah karena telah menjadi bagian dari sangkar emas yang memenjarakannya. Bersalah karena kematian Luna mungkin memberinya kebebasan yang tidak pernah berani ia minta.

Beban yang selama ini menekan pundak Queenora, perasaan bahwa ia adalah pengganti, penyusup yang mencemari kenangan suci, terangkat begitu saja.

Queenora tidak sedang bersaing dengan hantu cinta sejati. Ia justru sedang menyembuhkan seorang pria yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya mencintai dengan bebas.

Queenora meletakkan surat terakhir di atas meja saat mendengar langkah kaki mendekat. Darian masuk ke ruang keluarga, wajahnya tampak lelah tetapi tatapannya melembut saat melihat Queenora.

Namun, senyumnya memudar saat matanya tertuju pada kotak kayu dan surat-surat yang berserakan di meja.

“Ibu…” Darian memulai, suaranya terdengar tegang.

“Ini waktunya, Darian,” potong Adreine dengan lembut namun tegas.

“Dia harus tahu.”

Darian menatap Queenora, matanya mencari tanda-tanda penghakiman atau kekecewaan. Tapi yang ia lihat hanyalah pemahaman.

“Jadi, kau sudah tahu,” bisik Darian, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.

Pria berjalan mendekat dan duduk di sofa di seberang Queenora. Keangkuhan yang biasa menyelimutinya kini luruh, meninggalkan seorang pria yang tampak rentan.

“Aku tahu kau menikahinya karena kewajiban,” kata Queenora pelan.

“Aku tahu… tentang ‘R’.”

Darian tersenyum getir, senyum yang tidak mencapai matanya.

“Dia tidak pernah memberitahuku namanya. Aku menghormatinya untuk itu. Itu satu-satunya hal yang benar-benar miliknya, yang tidak bisa disentuh olehku atau Estrel.”

Keheningan menyelimuti mereka, hanya terganggu oleh detak jam kakek di sudut ruangan.

“Kau pasti berpikir aku monster,” kata Darian akhirnya, suaranya serak.

“Menikahi wanita yang tidak kucintai, menjebaknya dalam kehidupan yang tidak ia inginkan.”

“Tidak,” jawab Queenora cepat, menggelengkan kepalanya.

“Aku pikir kau juga terjebak.”

Mata Darian terangkat menatapnya, terkejut.

“Luna adalah wanita yang luar biasa. Cerdas, anggun, baik hati. Siapa pun akan beruntung memilikinya. Tapi aku… aku tidak bisa memberinya apa yang paling ia butuhkan. Aku menghormatinya, aku menyayanginya sebagai partner, tapi aku tidak pernah bisa memberikan hatiku untuknya. Setiap hari aku bangun dengan rasa bersalah itu. Dan ketika ia meninggal saat melahirkan Elios…” Suara Darian pecah.

“Rasa bersalah itu berubah menjadi racun. Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku menyalahkan Elios. Aku pikir, andai saja aku bisa mencintainya dengan benar, mungkin takdir akan berbeda.”

Air mata menggenang di mata Queenora. Ia bangkit, pindah ke sofa Darian, dan duduk di sampingnya. Ia tidak menyentuhnya, hanya memberinya ruang untuk bernapas di tengah pengakuannya.

“Itu bukan salahmu, Darian,” bisiknya.

Darian menoleh, menatap lurus ke dalam mata Queenora. Intensitas dalam tatapannya membuat Queenora menahan napas.

“Tapi denganmu… semuanya berbeda. Sejak awal, aku mencoba membencimu. Aku mencoba melihatmu sebagai karyawan, sebagai masalah, sebagai gangguan. Tapi aku tidak bisa. Setiap kali kau memeluk Elios, setiap kali kau tersenyum, rasanya seperti bagian dari diriku yang sudah lama mati dipaksa untuk hidup kembali. Itu menakutkan.”

Darian meraih tangan Queenora, menggenggamnya erat. Tangannya hangat dan kuat.

“Aku terikat pada Luna oleh janji dan penyesalan. Tapi aku terikat padamu oleh sesuatu yang lain, Queenora. Sesuatu yang nyata. Sesuatu yang tidak bisa kuberi nama, tapi aku rela kehilangan segalanya untuk melindunginya.”

Darian mendekatkan wajahnya, napasnya hangat di pipi Queenora.

“Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak ingin mencintaimu di dalam sangkar kewajiban atau rasa bersalah.” Darian berhenti sejenak, matanya menyapu setiap detail wajah Queenora seolah sedang menghafalnya.

“Aku ingin mencintaimu, Queenora, dengan bebas.”

Hati Queenora terasa seperti akan meledak. Inilah yang ia inginkan. Bukan pengakuan cinta yang berbunga-bunga, melainkan sebuah janji kejujuran. Sebuah awal yang baru, tanpa bayang-bayang masa lalu.

“Darian,” bisiknya, air mata haru mulai jatuh.

“Tunggu,” kata Darian tiba-tiba, seolah sebuah pikiran baru saja terlintas. Ia melepaskan tangan Queenora dan beralih ke laptopnya yang tergeletak di meja.

“Aku ingin kau mengerti dunia seperti apa yang menjebak Luna, yang hampir menjebakku juga.”

Darian membuka laptopnya dan beberapa kali mengklik, membuka sebuah folder berisi foto-foto lama.

“Ini adalah pesta pertunangan kami. Lihatlah wajah-wajah ini. Mereka bukan teman. Mereka adalah aliansi, aset, pion dalam permainan yang diatur oleh Estrel dan ayahku.”

Layar itu menampilkan foto-foto Darian yang lebih muda, tersenyum kaku di tengah kerumunan pria berjas mahal. Queenora menatap sekilas, tetapi matanya hanya tertuju pada Darian. Sampai Darian menggeser ke foto berikutnya.

Sebuah foto yang lebih kasual. Darian dan tiga pria lain tertawa, merangkul satu sama lain, gelas sampanye terangkat di tangan mereka.

Napas Queenora tercekat di tenggorokan. Udara seolah tersedot keluar dari paru-parunya. Waktu berhenti.

Ia menunjuk layar itu dengan jari yang gemetar hebat.

Di sana, berdiri tepat di samping Darian, dengan lengan melingkar akrab di bahu suaminya di masa depan, adalah wajah yang menghantui setiap mimpi buruknya. Senyumnya yang sombong, matanya yang kejam. Salah satu pria yang…

“Kenapa?” suara Darian terdengar seperti dari kejauhan, penuh kebingungan melihat reaksi Queenora yang tiba-tiba pucat pasi.

“Queenora, ada apa? Kau kenal dia?”

1
Nar Sih
lanjutt kakk 💪💪
Nar Sih
ahir nya queen up lgi
Nar Sih
💪💪kak lanjutt
Nar Sih
ya ampun. kasihan luna waktu itu ya ,punya ibu yg jht banget
Nar Sih
semangatt queen 💪tunjukan klau kebenaran tentang diri mu yg jdi korban bisa menang melawan kejhtn mereka
Nar Sih
ahir nya rencana mu berhasil queenora kakakdan ibu mu tertangkap sdh
Nar Sih
lanjutt kakk ,cerita smakin seru👍
Realrf: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Nar Sih
💪💪darian dan queen
Nar Sih
ini pasti ulah si mantan ibu mertua jht mu darian
Jj^
semangat update Thor 🤗
Realrf: ma aciwww 😍😍😍😘
total 1 replies
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!